Share

Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen
Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen
Author: Paus

1 - Si Dosen Rupawan

Author: Paus
last update Last Updated: 2025-11-19 17:36:04

“Kamu ini bodoh, ya? Hutangmu tidak akan lunas kalau kamu malas-malasan seperti ini! Cepat bekerja!”

Seruan kasar itu membuat Ivy tersentak dari lamunannya.

Mata Ivy segera beralih dari para pengunjung bar yang sedang berkumpul, kepada pria tinggi besar yang memandangnya bringas.

“Baik, Paman.” Ivy menundukkan kepalanya patuh.

“Jangan bermalasan seperti orang bodoh. Walaupun kamu memandangi mereka sampai matamu terlepas, posisi kalian tidak akan tertukar.”

Samson berbicara sarkastik pada Ivy yang sejak tadi memandangi pengunjung bar. Mereka semua anak muda. Berkumpul di sebuah sofa dengan banyak alkohol di hadapan mereka.

Denting-denting gelas terdengar dibarengi dengan suara tawa kegirangan. Jelas sangat bertolak belakang dengan kondisi Ivy yang menjadi budak tempat tersebut.

Ivy— wanita berusia di awal 20-an yang berasal dari keluarga sederhana. Ibunya sudah meninggal lama, dan dia hanya hidup dengan ayahnya.

Mungkin beruntung kalau ayahnya waras, tapi pria itu adalah kumpulan dari definisi keburukan. Dia pemabuk, penjudi, seringkali melakukan kekerasan kepada Ivy, dan memiliki banyak sekali hutang.

Seolah tak cukup dengan hal itu, ayah Ivy menyerahkan putrinya sendiri kepada Samson, sang debt collector, sebagai jaminan.

Sebagai gantinya, Ivy harus bekerja di bar sesuai perintah Samson sampai hutang-hutang ayahnya lunas.

Samson benar. Tidak peduli betapa pun Ivy mendambakan kebebasan penuh di sekelilingnya, dirinya tidak akan pernah bertukar tempat dengan keberuntungan milik mereka. Tempatnya hanyalah pada kemalangan.

“Ikut denganku. Ada pekerjaan yang bayarannya besar, lakukan dengan baik.” Samson berbicara lagi.

Dia tidak memberi penawaran, langsung menyeret lengan Ivy untuk menjauh dari lantai utama bar tersebut menuju tempat lainnya yang lebih private.

“Ke mana, Paman…?”

Ivy dibuat membelalak saat Samson membuka salah satu pintu pada lorong panjang dengan pencahayaan temaram. Biasanya, ruangan di balik barisan pintu itu digunakan oleh sebagai tempat prostitusi.

“Layani pria di dalam sana. Diam saja dan turuti perintahnya.”

Tubuh Ivy kaku di depan pintu. Dia menggelengkan kepalanya ketakutan.

“Tidak, tidak usah, Paman. Saya akan kembali ke depan saja.” Ivy bermaksud berbalik pergi ke lantai utama bar, tapi Samson langsung menyambar lengannya.

“Mau kemana kamu? Kerja yang becus. Lakukan apa yang aku katakan!”

Samsung menyeret tangan Ivy dengan kasar dan mendorong tubuhnya masuk ke dalam ruangan. Blam! Langsung menutup pintunya tanpa sempat Ivy berbalik untuk kabur.

“Wah, cantik juga mainannya.”

Ivy menelan ludahnya sambil berbalik kaku. Seorang pria yang usianya jauh di atas Ivy duduk dengan kedua tangan bertengger pada sofa. Kedua kakinya menyilang di depan. Bibirnya menyeringai lebar.

Sentakan bangga tergambar di wajahnya penuh gairah—seolah baru mendapatkan apa yang diinginkannya.

Ivy mundur menjauh saat pria itu bangkit dari posisi duduk untuk mendekatinya.

“Berapa umurmu? Masih muda sekali kelihatannya.”

“Ma-maaf, sepertinya saya salah ruangan,” gagap Ivy, ingin meraih gagang pintu, tapi pria itu menarik tangannya.

“Heh, mana ada salah ruangan? Samson mengantarmu ke sini untuk melayaniku.”

Ivy terlonjak saat merasakan sentuhan halus pada bokongnya. Ia mundur, tapi cekalan di pergelangan tangannya tidak mau lepas.

“Maaf, Tuan. Tapi saya tidak melakukan pekerjaan seperti itu,” kata Ivy gemetar, berusaha menjaga bicaranya agar tetap sopan.

Pria itu cuma terkekeh. “Ah, jadi benar ini pertama kali bagimu? Aku bayar dua kali lipat untuk gadis perawan. Biasanya, aku ditipu, jadi aku harus memastikan...”

Tangannya mulai meremas bokong Ivy dengan mesum, satu ujung jarinya menelisik melewati kemeja Ivy.

“Ayo… kita cek apa benar kamu masih perawan?”

Sekujur badan Ivy merinding dan gemetar luar biasa.

“Tidak!” serunya, melepaskan cengkraman dan berlari ke arah pintu, tapi pria itu menyambar rambutnya. Membuat Ivy berteriak kesakitan. “Aahh! Tolong!”

Pria itu mengencangkan jambakan dan menghempas kasar tubuh Ivy ke atas sofa. “Sudah kukatakan, aku membayar mahal untuk tubuhmu. Ayo, cantik, sekarang buka kakimu.”

Ivy meronta saat pria itu menindih tubuhnya. Panik, tangan Ivy meraba-raba meja dan menyambar sebuah botol alkohol dari sana.

Langsung saja, Ivy memukulkan botol itu ke kepala pria di atasnya. Prang! Botol itu pecah berhamburan di lantai.

“ARGHH!” Pria itu mundur menjauh, memegangi kepalanya yang berdarah. Memberi kesempatan untuk Ivy menjauh.

“Dasar jalang kurang ajar!”

Pria itu menatap Ivy dengan pandangan garang yang menyala-nyala. Ivy sudah berlari meninggalkan ruangan sebelum pria itu bergerak menyambar tubuhnya lagi.

“Kembali ke sini kau, jalang! Aku akan membunuhmu!”

***

“Astaga, kamu berantakan banget, Ivy? Kamu tidak tidur semalaman atau bagaimana?” Clara—teman kuliah Ivy bertanya saat mereka berdua berjalan beriringan di selasar kampus.

Ivy tertawa kecil. “Begitulah, hanya kurang tidur saja.”

Atau karena Ivy memang hampir tidak tidur. Karena masalah yang disebabkannya di bar, Ivy tidak berani pulang ke rumah dan terpaksa tidur di sebuah taman. Di rumah pohon yang biasa dijadikan tempat mainan anak-anak.

“Semalaman begadang mengerjakan tugas, ya? Gara-gara telat masuk kelas Pak Damian waktu itu?” tebak Clara.

“Iya,” Ivy mengangguk, dengan lancarnya berbohong.

“Eh, omong-omong, soal Pak Damian…”

Sekarang Clara agak berbisik, memperhatikan sekitarnya, memastikan tidak ada orang di dekat mereka.

“Kamu tahu tidak, anak bimbingan Pak Damian, kating perempuan yang sangat populer itu?”

Ivy mengangguk, sedikit tertarik. Tentu Ivy tahu. Mahasiswi itu terkenal sekali di seluruh penjuru kampus saking cantiknya.

“Dengar-dengar, dia sering tidur sama dosen demi nilai.”

Ivy memandang ngeri temannya. “Jangan bercanda begitu. Kalau ada yang mendengar bagaimana?”

Tapi Clara mengangkat bahunya enteng. “Yah, itu ‘kan rumor yang aku dengar.”

“Kita tidak tahu kebenarannya, Clara. Kalau rumor itu tidak benar, bisa jadi fitnah, tahu.”

Clara hanya manyun, mengetahui kalau temannya memang tidak asik diajak bergosip.

“Terus, soal tugas yang tadi, kamu mau ke perpustakaan dulu tidak buat cari referensi?”

Ivy menggeleng. “Aku duluan, harus ke ruangan Pak Damian untuk mengumpulkan tugas.”

Mendengar nama dosen yang barusan dibicarakan itu, senyum jahil Clara mengembang. “Ah, kamu ini, anak kesayangan Pak Damian!”

“Mana ada anak kesayangan,” balas Ivy datar. Dosen dingin yang tak kenal ampun itu, sudah beberapa kali memberi hukuman pada Ivy, hingga tugasnya tak ada yang pernah selesai.

“Ya sudah, ya sudah. Sana, Pak Damian menunggu.”

Ivy hanya menghela napas, sebelum pergi meninggalkan temannya itu.

Kantor dosen ada di gedung lain. Di depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup, Ivy hendak mengetuk saat pintu itu sudah berayun terbuka.

Seorang perempuan keluar dari sana dengan penampilan berantakan. Kancing atas kemejanya terbuka dan rambutnya kusut. Menyadari keberadaan Ivy, dia berdeham dan buru-buru melangkah pergi.

Perempuan itu adalah Jasmine. Kating yang tadi dibicarakan oleh temannya.

Apa yang dilakukannya di dalam ruangan dosen sampai penampilannya seperti itu?

Ivy berusaha mengenyahkan pikiran buruknya dan langsung melayangkan ketukan pada pintu.

“Masuk.” Suara berat dan dalam itu menyambut di ujung sana. Ivy langsung mendorong pintu terbuka.

Pria berkemeja rapi dan bertubuh kekar di dalam ruangan menatapnya dengan mata memicing.

“Lagi-lagi, kamu terlambat mengumpulkan tugas.”

Damian—si dosen berwajah dewa—berbicara tegas.

Pria itu tengah duduk di kursinya. Tubuhnya tegap dengan dada bilang, wajahnya memiliki paras tampan, rahangnya tegas dengan balutan tatapan dingin mengintimidasi.

Siapa pun itu, setiap kali berhadapan dengan Damian pasti akan terpana oleh seberapa sempurnanya pria itu. Dosen muda terpopuler di kampus.

Ivy menelan ludah. “Maaf, Pak.”

“Ini maaf yang keberapa, Ivy?”

“Saya tahu saya—”

“Sering terlambat mengumpulkan tugas, terlambat masuk kelas, dan nilai-nilai juga turun. Begitu maksudmu?”

Ivy menggigit bibir bawahnya. Tidak berani membantah.

Damian mengangkat satu tangan, Ivy reflek mendekat dan langsung meletakkan makalah di tangan dosennya itu. Damian membukanya sejenak kemudian berbicara.

“Terjemahkan karya ilmiah yang kita bahas Minggu lalu. Kumpulkan siang ini juga kalau mau memperbaiki nilai-nilai kamu.”

Ivy langsung ternganga.

“Pak, saya minta maaf untuk keterlambatan tugas ini. Tapi, waktunya tidak akan cukup kalau siang ini. Saya—”

“Kamu tidak sanggup?”

Ivy terdiam, spontan menunduk menyadari tatapan tajam pria itu.

Damian bersandar santai pada kursinya. “Memangnya kamu bisa lakukan apalagi untuk memperbaiki nilai? Apa kamu bisa menawarkan jasa lain kepada saya?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   83 - Jangan-jangan...

    Kegiatan kampus sesibuk biasanya. Bedanya, yang selalunya membuat Ivy lelah dan seringkali mengembuskan napas, kali ini suasananya terasa begitu baik. Itu bukan karena tidak ada tugas apa pun dari dosen, bukan juga karena tidak ada materi yang membuatnya pusing, melainkan karena dorongan semalam yang sampai terbawa ke kampus.Tentu, apa yang dilakukan oleh Damian membuat tubuhnya sakit. Tapi pengalaman kedua itu sama seperti pengalaman pertama. Ivy tidak bisa mengabaikan betapa dirinya menikmati membiarkan tubuhnya menyatu dengan tubuh milik Damian.Ya, mau bagaimana lagi? Pria itu adalah dosen hot kampus yang menjadi incaran semua orang, tapi fakta mengejutkannya adalah Damian tidur dengan gadis kumuh seperti dirinya. Sudah dua kali. Bagaimana Ivy bisa mengabaikan hal itu?Clara juga nampak menyadarinya saat bertemu dengannya.“Rasanya hari ini kamu terlihat ceria sekali,” komentar Clara memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri memperhatikan Ivy. “Benarkah? Aku rasa biasa saja.” Ivy

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   82 - Maaf Untuk Semalam

    Entah berapa kali mereka melakukannya. Bahkan rasa lelah dan napas yang tidak lagi beraturan tidak membuat mereka berhenti. Atau lebih tepatnya tidak membuat Damian berhenti.Ivy meminta, tapi segera setelahnya langsung dibukam oleh milik Damian yang menembus masuk ke dalam tubuhnya. Lagi dan lagi.Saat pagi akhirnya menyambut mereka, Damian menjadi orang pertama yang membuka mata. Tubuhnya terasa pegal dan Damian memperbaiki posisinya menjadi telentang.Napasnya berhembus kasar. Sinar matahari yang baru pecah berwarna kemerahan menembus jendelanya. Masih ada waktu, Damian menyimpulkannya saat melihat jam dinding.Di situlah tatapannya beralih pada Ivy yang meringkuk di samping tubuhnya. Masih terlelap dengan rambut panjangnya yang sedikit menutupi wajah.Damian menyingkirkan rambut itu kemudian mendekat untuk menaikkan selimut. Tapi Damian terkesiap.“Astaga, apa yang sudah saya lakukan?” Damian malah mencengkeram selimut itu saat melihat banyak sekali tanda yang ditinggalkannya di t

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   81 - Pelampiasan Panas (21+)

    Damian bimbang. Ancaman ayahnya yang mengatakan akan menyingkirkan Ivy ternyata mengganggu Damian lebih dari yang Damian duga.Damian merasa marah sekaligus cemas. Tujuan melindungi yang dipilih olehnya sejak awal sekarang berubah menjadi ancaman serius. Dengan menjaga Ivy di sampingnya, mempertahankan gadis itu, sekarang bukan lagi berisi aman, tapi bisa saja malah membahayakan.Saat tiba di depan pintu kamarnya, Damian merasa ragu. Kemarahan itu masih berkumpul di dadanya. Membuatnya banyak mengepalkan tangan selama perjalanan. Tapi Damian tahu pergi juga tidak akan menjadi solusi apa pun.Sebuah kartu dikeluarkan dari dompetnya oleh Damian dan pintu itu didorong terbuka.Damian melepaskan sepatu pantofel miliknya, lantas memperbaiki posisi tas di bahu kirinya. Melangkah semakin jauh, matanya segera bertemu pandang dengan milik Ivy yang sedang duduk di sofa.“Saya pikir Bapak tidak pulang,” kata Ivy berdiri dari sofa. Menatap Damian dari posisinya. “Biasanya Bapak tidak pulang sam

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   80 - Ancaman Ayah Damian

    Hari sudah malam saat Damian akhirnya tiba di rumah orang tuanya. Gerbang besar itu langsung terbuka hanya dengan satu klakson kecil darinya.Damian langsung menjalankan mobilnya dan memarkirkannya di halaman utama. Tubuhnya disandarkan pada jok mobil. Malas sekaligus enggan untuk memasuki rumah itu. Terlalu muak, terlalu lelah.Tapi tidak ada pilihan. Ditekannya rasa muak dan lelah itu sampai Damian memilih turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.Saat akhirnya mendorong pintu itu terbuka, bukan pulang berisi tenang yang ditemukan oleh Damian, seperti anak-anak sudah berkelana jauh dan akhirnya kembali ke rumah. Tidak ada perasaan seperti itu.Yang ada hanya asing dan dingin yang menusuk. Setelah sekian lama memutuskan meninggalkan rumah tersebut, rumah megah nan besar itu rasanya tidak bisa dijadikan tempat pulang.Seorang wanita berlari bersemangat dari ruang utama. Ibu Damian. Maria. Senyumnya sangat hangat. Seperti seorang ibu yang begitu merindukan putranya.“Astaga, ke

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   79 - Gadis Pengadu

    Saat membuka matanya, Ivy merasakan sesuatu yang agak keras sekaligus kenyal menempel di bagian belakang lehernya. Saat tubuhnya dimiringkan, tangannya menyentuh hal lainnya yang teksturnya terasa sama.Ivy menggerak-gerakan tangannya itu seperti meremas. Seperti dirinya mengenal tekstur tersebut. Lalu kemudian matanya pelan-pelan terbuka. Langsung membelalak saat menyadari bahwa dirinya sedang menyentuh dada Damian.Ivy melipat bibirnya dan menjauhkan tangannya, tapi tidak sadar bahwa Damian juga sudah bangun. Pria itu malah menyambar tangan Ivy yang hendak dijauhkan. Membuat Ivy terkesiap dan mendongak menatap Damian.“Ternyata tanganmu nakal juga,” kata Damian. Akhirnya langsung melepaskan tangan Ivy.“M-maaf, Pak. Saya tidak bermaksud melakukan hal itu.” Ivy berusaha menjelaskannya. Damian tidak menjawabnya dan hanya tertawa kecil.Ivy cepat beringsut bangun dengan terburu-buru, sampai membuat kepalanya tiba-tiba pening karena gerakan cepatnya itu. Damian ikutan bangun juga dan se

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   78 - Penghangat Ranjang

    “Apa Bapak bercanda?” Ivy bertanya setengah ternganga.Damian baru saja mengatakan bahwa pria itu terbiasa tidur dengan memeluk sesuatu. Pakai ekspresi wajahnya yang datar dan tenang itu. Bagaimana mungkin Ivy tidak kaget?“Apa saya pernah bercanda?” Damian malah balik bertanya dengan satu alis terangkat.Tidak, Ivy tahu pria itu tidak pernah bercanda. Semua kalimat yang terucap dari mulutnya selalu berisi keseriusan dan ketegasan. Bahkan Ivy tidak yakin apa Damian tahu caranya bercanda atau tidak.Tapi ‘kan tetap saja jantungnya tidak aman kalau Damian mengatakan hal-hal seperti itu.“Sudahlah, cepat rapikan tugas-tugas itu dan ikut saya. Saya tahu kamu juga sudah mengantuk.”Ivy tidak sempat menjawab apa-apa lagi karena Damian sudah berbalik dan masuk ke kamarnya. Meninggalkan pintu kamar terbuka untuk IvySebelum datang perintah lain yang lebih tegas, Ivy buru-buru merapikan semua tugas di atas meja. Mematikan lampu di ruang utama dan menyusul masuk ke kamar Damian.Di tangan Ivy t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status