MasukJasa lain? Kepala Ivy penuh dengan kebingungan. Jenis jasa lain apa yang dimaksudkan agar dirinya bisa memperbaiki nilai?
Ivy tidak bisa memikirkannya. Satu-satunya pilihan yang ada hanyalah mengambil hukuman itu. "Baik, Pak. Saya akan menyerahkan tugasnya hari ini juga. Tapi bisakah saya meminta tenggat lebih? Saya akan menyelesaikannya malam ini." Bukan apa-apa, tapi tugas lainnya juga banyak. Ivy yakin seluruh jemarinya akan bengkok saking lelahnya dipaksa mengerjakan tugas. “Baiklah kalau begitu.” Damian akhirnya berkompromi. “Saya tunggu paling lambat malam ini. Lebih dari itu, saya tidak akan beri keringanan untuk memperbaiki semua nilaimu.” “Baik, Pak.” Ivy menjawabnya lagi, sudah pasrah. “Kalau begitu permisi.” Setelah mendapatkan anggukan singkat dari dosennya, Ivy berbalik dan segera keluar dari ruangan. Sisa hari berjalan menyebalkan. Tugas tidak hanya datang dari Damian saja, tapi dari dosen lainnya juga. Saat kelas terakhir selesai, rasa lelah menyerang Ivy. Parahnya, Ivy juga tidak bisa pulang karena apa yang terjadi semalam di dalam bar. Pria tua bangka itu pasti melaporkannya. Kalau dirinya kembali ke kos-kosan kumuhnya yang berada di area pemukiman bar, bisa saja para penagih hutang sudah menunggunya di sana untuk menghabisinya. Ivy memilih menghubungi temannya. “Hei, Clara. Aku ingin tanya … Apa boleh aku menginap di rumahmu malam ini? Aku sedang tidak bisa pulang …” Di ujung telepon, Ivy bisa mendengar Clara yang meringis. “Ah, Ivy, maafkan aku. Ibuku tidak akan mengizinkan. Sebenarnya aku sedang dihukum karena membolos kemarin lusa.” “Oh, begitu. Baiklah, tidak masalah. Maaf sudah mengganggu, Clara.” Lalu panggilan berhenti di sana. Wajah Ivy muram. Tidak ada pilihan, dirinya harus tidur di kampus. Itu lebih baik daripada tidur di taman lagi. Ivy berbalik ke gedung untuk mulai mengerjakan tugas tambahannya terlebih dahulu. Mati-matian Ivy menahan matanya tetap terbuka. Ivy tidak ingat waktu sudah bergulir berapa lama. Hari sudah gelap. Sebelum laptop bututnya benar-benar mati karena kehabisan daya, Ivy memboyong tubuhnya untuk pergi ke toko percetakan sebelum tutup. “Semoga Pak Damian belum pulang...” Ivy bergumam kepada dirinya sendiri. Ivy buru-buru melangkah ke kampus, menuju kantor dosen. Kampus sudah sepi. Sudah tidak ada mahasiswa di gedung pada waktu-waktu seperti sekarang. Tapi kenapa dirinya seperti mendengar suara seseorang? Samar-samar, Ivy mendengar suara itu datang dari arah lab komputer yang dilaluinnya. “Ahh, Pak… Eunghhh….” Ivy mengernyitkan dahi. Barusan itu apa? Suara hantu? Tapi suara itu terlalu nyata untuk disebut hantu. Pemandangan yang dilihatnya pun jauh lebih mengerikan daripada hantu. Dari jendela, Ivy bisa melihat seorang wanita yang sedang disetubuhi oleh seorang pria. Syok, hampir Ivy menutup mulutnya rapat-rapat. Seluruh badannya lemas. Dia menyaksikan dua orang sedang bercinta di kampus! “Pak, eunghhh ... pelan-pelan ...,” desah wanita itu. Dia … adalah Jasmine. Si kating populer yang merupakan ratu kampus. Ternyata gosip itu benar! Sementara pria yang bergerak di atas Jasmine, yang mengenakan kemeja biru gelap itu … Ivy tidak percaya apa yang dilihatnya. Damian! Pria itu—dosen yang seharusnya menerima tugasnya sekarang! Wajahnya memang tidak terlihat jelas, tapi Ivy yakin, kemeja itu adalah kemeja yang sama yang dikenakan oleh Damian siang ini. “Ahhh, Pak. Saya—” Jasmine terengah-engah di dalam sana, mereka berdua mendesah diselingi suara sentakan kasar yang terburu-buru. Suara itu membuat darah Ivy mendidih. Antara cemas dan marah. Bisa-bisanya pria itu berhubungan seks saat dirinya kewalahan dengan tugas? Ivy mengeluarkan ponsel dari saku celananya dengan tubuh gemetar. Pemandangan itu harus direkam! Ivy tidak bisa membiarkannya. Akan dirinya laporkan pria itu. Damian pasti akan langsung dipecat dengan tidak hormat dari kampus. Diangkatnya ponsel itu ke bagian jendela. Jendela transparan itu sedikit menghalangi, tapi pemandangan di baliknya tetap terlihat jelas. Sejelas telinga Ivy yang mendengar tubuh yang beradu, bersama suara desah kenikmatan terpuaskan. “Kira-kira bagaimana ya, kalau video ini tersebar?”Bertahun-tahun kemudian. Sore di kantor Damian selalu sama. Kelelahan menggantung hampir di setiap pasang mata yang ditemui oleh Damian. Atmosfer semangat yang diperlihatkan semua orang saat pagi hari, berubah dengan sangat intens saat sudah sore hari. Setiap kali Damian menyusuri lorong, setiap langkahnya dipenuhi dengan sapaan dari semua orang. Sopan dan penuh hormat. Mereka semua membungkukkan kepala kepadanya. Hal yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Damian. Masuk ke dalam lift, tidak ada siapa pun yang berani ikut bersamanya. Tidak ada siapa pun yang merasa pantas untuk berada di satu lift bersamanya. Lift itu berhenti di lantai dasar dan beberapa staf yang sudah mau pulang juga menyambut Damian di sana. “Selamat sore, Pak.” Sapaan serupa didengar lagi oleh Damian. Dan Damian sekali lagi hanya membalasnya dengan anggukan kepala kecil. Petugas resepsionis tersenyum kepadanya saat Damian menoleh ke sana. Tidak dibalas oleh Damian. Di luar kantor, ada petugas keamanan
Waktu bergulir begitu saja. Terasa begitu cepat berlalu untuk Ivy yang nyaris tidak tahu apa saja pencapaian yang sudah didapatkan olehnya.Kadang ada hari-hari di mana Ivy hampir menyerah, kesulitan dengan beberapa hal, tapi ternyata itu selalu bisa dilewati.Kehidupan kampus masih menyibukkan dan membuatnya beberapa kali sempat jatuh sakit, tapi sama seperti orang lain, akhirnya Ivy berhasil tiba di posisi itu.Suasana kampus hari itu ramai riuh. Hari kelulusan dilangsungkan dengan lancar.Beberapa orang melemparkan topi toga mereka ke udara sebagai bentuk kebebasan yang akhirnya mereka dapatkan setelah tahun-tahun berat yang mencekik mereka.Beberapa lainnya sibuk menerima hadiah atau saling berpelukan dan tertawa ceria bersama teman dan keluarga mereka. Hal serupa yang begitu sederhana dan juga dilakukan oleh Clara, teman Ivy.Tapi bahkan untuk hal sederhana itu, Ivy sama sekali tidak bisa melakukannya. Saat semua orang dikelilingi oleh keluarga mereka yang memberikan selamat deng
Pagi ketika Ivy membuka mata, dirinya mendapati Damian sedang memeluknya. Ivy menarik senyum geli. Berbantalkan lengan Damian dan dada hangat pria itu yang bisa disentuh olehnya, juga pemandangan wajah Damian yang pertama dilihat olehnya saat membuka mata, tidak disangka Ivy ternyata begitu merindukannya.Satu tangannya tanpa sadar terangkat dan bergerak menyentuh dahi Damian yang sedang tidur miring dengan wajah mengarah padanya. Ivy menggerakkan jari telunjuknya itu menyusuri bagian wajah Damian. Lurus dari bagian dahi sampai ke hidung. Terus turun sampai ke bagian bibir.Tapi tidak diduga tiba-tiba bibir itu terlihat seperti tersenyum. Ivy tercekat saat Damian membuka mulutnya kemudian menggigit jari telunjuknya pelan.Pria itu membuka mata dan bersitatap dengannya. Tatapan hangat yang dulu begitu didamba oleh Ivy, tapi sekarang selalu diperlihatkan oleh Damian, yang tidak pernah sekalipun membuat Ivy merasa kebosanan.“Dasar nakal,” kata Damian masih dengan posisi menggigit jari
Damian membelalak dan refleks langsung melingkarkan satu tangannya pada pinggang Ivy. Satu lainnya bergerak ke bagian belakang tulang belakang Ivy dan menariknya lebih dekat. Menerima ciuman balasan itu dengan sukarela.Keduanya saling merapatkan tubuh dengan keinginan sama besarnya. Seperti mereka sudah tidak pernah bertemu bertahun-tahun lamanya. Kerinduan itu nyata, terlihat dari keinginan besar kulit mereka untuk saling menyatu. Lewat bibir yang saling mengecap satu sama lain tidak kuasa untuk melepaskannya.Keduanya hanya saling bertumpu pada tubuh satu sama lain, pada sofa yang terasa sudah tidak bisa lagi menampung mereka. Saat cengkraman Ivy pada tangan Damian mulai menguat, Damian mengerti bahwa gadis itu mulai kehabisan napas.Tapi anehnya mereka tidak mau menjauh. Damian terus meraup kasar ranum merah muda itu. Tidak memberi Ivy kesempatan untuk sekedar menghirup udara. Barulah ketika cengkeraman itu berubah menjadi sebuah cakaran, Damian mengalah dan menjauhkan diri sejen
“Jadi bagaimana? Kita pulang sekarang?” Damian bertanya setelah Ivy menurunkan tangannya yang membalas lambaian Clara.Ivy hanya mengangguk pelan. Membuat Damian berbalik dan langsung membuka pintu mobil yang tadi menjadi sandarannya. Damian mempersilahkan Ivy untuk masuk lebih dulu, baru kemudian dirinya menyusul masuk ke kursi kemudi.“Dia adalah teman yang baik,” kata Damian setelah mobil meninggalkan area cafe.“Benar.” Ivy tersenyum menanggapi komentar Damian. “Clara memang seorang teman yang baik. Saya tidak akan menemukan teman seperti dia lagi.”Damian manggut-manggut. Merasa senang juga untuk hal itu. Ivy mungkin tidak memiliki banyak teman, tapi Damian lega gadis itu memiliki satu yang selalu bersamanya dan mendukungnya tentang semua hal yang dilakukannya.Itu lebih dari cukup dibandingkan apa pun.Pembicaraan selanjutnya hanyalah pembicaraan santai mengenai keseharian keduanya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalan raya dengan cara paling nyaman. Sampai itu b
“Aku benar-benar kaget tadi waktu kamu mengatakan Pak Damian meneruskan perusahaan orang tuanya. Aku pikir kamu itu memang biang gosip yang tahu semuanya.”Clara tertawa mendengar ucapan Ivy. Satu tangannya menggerakkan sedotan dengan gerakan memutar di dalam gelas.Saat itu mereka sedang berada di cafe. Sengaja memilih untuk menghabiskan waktu di luar setelah kelas berakhir.“Karena memang begitu kenyataannya?” Clara menaikan satu alis.Ivy menundukkan kepala dengan senyum kecil kemudian mengangguk pelan. “Aku mendengarnya sendiri dari Pak Damian. Aku pikir beliau akan mencari kampus lain, tapi ternyata tidak.”“Ah, ternyata Pak Damian mengatakannya langsung kepadamu?” Clara memandangi Ivy dengan senyum menjengkelkan yang selalu membuat Ivy kesal. Karena setelah itu pasti Clara akan menggodanya. “Seperti orang yang berpacaran saja sampai membicarakan hal-hal pribadi seperti itu.”“Berhenti mengatakan hal konyol. Seorang teman pun bisa membicarakan hal-hal seperti itu, ‘kan?” Ivy mem







