Beranda / Romansa / Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen / 5 - Jerat Obat Perangsang (18+)

Share

5 - Jerat Obat Perangsang (18+)

Penulis: Paus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 17:39:10

Suara yang memanggil Ivy itu terdengar familier, tapi Ivy tak sanggup mengangkat kepala.

Ivy hanya mendengar seruan pria mesum itu, suara pukulan dan tubuh yang menghantam meja dengan keras.

Lalu, tubuh Ivy diangkat dengan lembut. Ada wangi segar yang maskulin sekaligus menenangkan memenuhi indera penciumannya.

“Ivy, kamu mendengar saya?” Damian menepuk-nepuk pipi Ivy yang mulai memejam dan terbuka tidak beraturan.

“Pak Damian?”

Apa dia bermimpi? Kenapa dosennya itu ada di sana?

Pria itu sedang membopong Ivy dan membawanya keluar dari area bar. Sekilas, Ivy bisa menangkap sang pria mesum yang terkapar di lantai dengan kondisi babak belur.

“Ya, ini saya. Kita harus pergi dari sini sekarang juga. Apa kamu baik-baik saja?”

“Kok, Pak Damian di sini…?”

Suara Ivy sangat serak dan lirih, hampir tidak bisa dimengerti.

“Saya mengikuti kamu. Soalnya, pria yang menjemputmu tadi terlihat mencurigakan. Dia bukan pamanmu, ‘kan?” balas Damian.

Ivy tidak bisa mendengarkan dengan jelas. Kepalanya terasa sangat pusing. Tapi bukan itu yang sangat mengganggu, melainkan perasaan panas yang menjalari seluruh tubuhnya.

Ivy mengeratkan kedua lengannya pada leher Damian, membenamkan wajahnya ke ceruk leher pria itu.

“Pak Damian…”

“Ya?”

“Mmm… rasanya aneh…”

Gairah. Itu jenis perasaan yang tidak pernah Ivy rasakan sebelumnya. Rasa panas membakar seluruh tubuhnya, menyebar ke segala arah di waktu bersamaan.

Tidak ada yang tahu bahwa pada alkohol yang Ivy minum sebelumnya, terdapat obat perangsang sudah dimasukkan ke dalam gelasnya.

“Tolong… tolong sentuh saya!” mohon Ivy—memaksa dengan napas terengah-engah.

Tubuh Damian menegang, pegangannya pada tubuh Ivy mengerat. Tetapi, dia berkata dengan tegas.

“Kamu sedang di bawah pengaruh alkohol. Sadarlah, Ivy.”

Tapi Ivy terus menggeliat. Rasa panas itu tak nyaman, perlu dipadamkan dengan sentuhan.

Bruk! Tubuh Ivy dimasukkan dengan kasar ke dalam sebuah mobil. Aroma isi mobil itu seperti aroma Damian, dan membuat isi pikiran Ivy semakin kacau.

“Ahh, Pak Damian … Sentuh saya …” racau Ivy dengan tubuh menggeliat.

Damian tak menjawab. Dia memasangkan sabuk pengaman kepada Ivy dan menepuk-nepuk pipi Ivy yang hampir hilang kesadaran.

“Beritahu saya di mana rumah kamu. Saya bakal antar kamu pulang.”

Ivy menggelengkan kepala. “Tidak bisa… Banyak orang berbahaya … Kita akan mati!”

Kening Damian berkerut, entah percaya atau tidak pada ucapan tak jelas gadis itu. Dia menutup pintu mobil dan memutari mobil untuk duduk di balik kemudi.

Mesin mobil dinyalakan, dan mulai berjalan meninggalkan distrik hiburan itu.

“Saya bawa kamu ke apartemen saya.”

***

Petugas keamanan dan petugas resepsionis nampak kebingungan melihat Damian membawa seorang wanita di tengah malam seperti itu.

Keduanya pergi menuju lift. Damian berulang kali menahan napas mendengar Ivy yang terus melenguh sambil bergumam tidak jelas. Suasana kamarnya gelap gulita saat dirinya membuka pintu.

Damian membawa Ivy masuk. Susah payah melepaskan Ivy yang memeluknya seperti koala. Damian menghempas tubuh Ivy ke atas ranjang. Mengabaikan lenguhan yang terus datang.

“Pak Damian …” panggil Ivy serak.

Damian tidak menjawab, sibuk memunggungi Ivy sambil melepaskan jasnya.

Punggung lebar Damian itu tampak begitu menggoda. Otot-ototnya tercetak pada kemeja putih yang pas di badannya. Dari belakang saja, pria itu sudah jelas begitu tampan.

Ivy tak kuasa disajikan pemandangan seperti itu, panas di badannya sudah merajalela. Ivy butuh sentuhannya!

“Ahh … Pak Damian…”

Tangan Ivy turun menyusuri badannya sendiri. Turun sampai ke bawah, menurunkan celananya. Hingga menyentuh bagian paling sensitif yang kini sudah basah. Bagian itu berkedut parah, meminta diberi makan.

Tanpa pikir lagi, Ivy mencoba memasukkan satu jarinya ke dalam sana. Tubuhnya mengejang dengan mata terpejam.

Bukan nikmat, malahan … sakit!

“Arghhh….” Ivy menggigit bibir bawahnya kuat.

Ivy tidak pernah memuaskan dirinya sendiri seperti ini. Dia hanya berpikir, mungkin akan terasa enak jika memasukkan lebih dalam.

Namun, belum sempat mencapai rasa puas itu, Damian sudah berbalik, kaget melihat pemandangan itu. Tangan besarnya segera mencekal pergelangan Ivy dan menariknya menjauh dari celah kedua pahanya.

“Tidak di sini. Tidak di rumah saya,” titahnya tegas, lalu melemparkan tangan Ivy dengan sembarang, mengundang erangan protes dari gadis itu.

“Bapak ‘kan yang membantu saya keluar dari tempat itu, jadi jangan lakukan setengah-setengah!”

“Bukan berarti saya akan meniduri kamu.”

“Saya … tidak bisa menahannya lagi, Pak! Eunghhh….”

Sekilas, Ivy melihat badan Damian yang menegang saat mendengarnya melenguh manja seperti itu. Setelahnya, dengan wajah gelap pria itu menarik Ivy dari kasur, lalu mendorongnya ke depan pintu kamar mandi.

“Mandi. Segarkan pikiranmu.”

“Tidak!”

Ivy justru mencengkeram lengan Damian kuat. Menyusurinya ke atas. Sampai jemarinya menyentuh otot biceps Damian yang keras. “Saya cuma butuh Bapak!”

Dengan keras kepala, Ivy terus bergantung padanya dengan pegangan putus asa. Sekujur tubuhnya bergetar, napasnya terasa panas.

Ivy menempelkan diri pada Damian, menggesekkan badannya demi memuaskan rasa tak nyaman itu.

“Saya mohon…”

Damian tidak menjawab, mendorong Ivy hingga dia akhirnya masuk ke ruang kamar mandi yang lembab dan basah, kontras dengan tubuh Ivy yang membara.

Rasa dingin itu tidak lebih menusuk dibandingkan tatapan dingin Damian.

Ivy baru menyadarinya, ternyata ini pesona seorang Damian yang kerap dibicarakan sepenjuru kampus itu? Tenang pembawaannya memang merupakan serangan yang menggetarkan.

“Apa karena saya tidak cantik?”

Suara Ivy lirih, diikuti isakan menyedihkan. Ivy mengusap matanya yang berair dengan lengan baju.

“Hiks… Bapak tidak mau tidur sama perempuan jelek seperti saya, ya…”

Bahkan tangisan Ivy itu tidak menggerakkan Damian yang masih berekspresi dingin.

“Mandi. Atau saya usir kamu sekarang.”

Dengan masih terisak, Ivy mulai melepaskan kancing bajunya satu per satu.

Di depan pintu, Damian segera membuang muka. Ivy tidak tahu bahwa Damian tidak pernah membawa seorang wanita ke tempatnya. Apalagi yang sedang mabuk dan terangsang seperti ini.

“Saya tunggu kamu selesai. Akan saya beri baju ganti.”

Begitu saja, Damian menutup pintu kamar mandi itu. Meninggalkan Ivy yang berdiri sambil terisak di kamar mandi.

Segera setelah menanggalkan seluruh pakaiannya, Ivy menatap pantulan tubuhnya di cermian.

Menurut Ivy, badannya memang bukan tipikal yang menarik. Lekukan tubuhnya tidak begitu kentara. Dia hanya gadis kurus yang sejak kecil kekurangan gizi karena miskin.

Pandangan Ivy turun ke bagian bawahnya yang sudah basah.

Perlahan, tangannya diarahkan ke bagian itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   83 - Jangan-jangan...

    Kegiatan kampus sesibuk biasanya. Bedanya, yang selalunya membuat Ivy lelah dan seringkali mengembuskan napas, kali ini suasananya terasa begitu baik. Itu bukan karena tidak ada tugas apa pun dari dosen, bukan juga karena tidak ada materi yang membuatnya pusing, melainkan karena dorongan semalam yang sampai terbawa ke kampus.Tentu, apa yang dilakukan oleh Damian membuat tubuhnya sakit. Tapi pengalaman kedua itu sama seperti pengalaman pertama. Ivy tidak bisa mengabaikan betapa dirinya menikmati membiarkan tubuhnya menyatu dengan tubuh milik Damian.Ya, mau bagaimana lagi? Pria itu adalah dosen hot kampus yang menjadi incaran semua orang, tapi fakta mengejutkannya adalah Damian tidur dengan gadis kumuh seperti dirinya. Sudah dua kali. Bagaimana Ivy bisa mengabaikan hal itu?Clara juga nampak menyadarinya saat bertemu dengannya.“Rasanya hari ini kamu terlihat ceria sekali,” komentar Clara memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri memperhatikan Ivy. “Benarkah? Aku rasa biasa saja.” Ivy

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   82 - Maaf Untuk Semalam

    Entah berapa kali mereka melakukannya. Bahkan rasa lelah dan napas yang tidak lagi beraturan tidak membuat mereka berhenti. Atau lebih tepatnya tidak membuat Damian berhenti.Ivy meminta, tapi segera setelahnya langsung dibukam oleh milik Damian yang menembus masuk ke dalam tubuhnya. Lagi dan lagi.Saat pagi akhirnya menyambut mereka, Damian menjadi orang pertama yang membuka mata. Tubuhnya terasa pegal dan Damian memperbaiki posisinya menjadi telentang.Napasnya berhembus kasar. Sinar matahari yang baru pecah berwarna kemerahan menembus jendelanya. Masih ada waktu, Damian menyimpulkannya saat melihat jam dinding.Di situlah tatapannya beralih pada Ivy yang meringkuk di samping tubuhnya. Masih terlelap dengan rambut panjangnya yang sedikit menutupi wajah.Damian menyingkirkan rambut itu kemudian mendekat untuk menaikkan selimut. Tapi Damian terkesiap.“Astaga, apa yang sudah saya lakukan?” Damian malah mencengkeram selimut itu saat melihat banyak sekali tanda yang ditinggalkannya di t

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   81 - Pelampiasan Panas (21+)

    Damian bimbang. Ancaman ayahnya yang mengatakan akan menyingkirkan Ivy ternyata mengganggu Damian lebih dari yang Damian duga.Damian merasa marah sekaligus cemas. Tujuan melindungi yang dipilih olehnya sejak awal sekarang berubah menjadi ancaman serius. Dengan menjaga Ivy di sampingnya, mempertahankan gadis itu, sekarang bukan lagi berisi aman, tapi bisa saja malah membahayakan.Saat tiba di depan pintu kamarnya, Damian merasa ragu. Kemarahan itu masih berkumpul di dadanya. Membuatnya banyak mengepalkan tangan selama perjalanan. Tapi Damian tahu pergi juga tidak akan menjadi solusi apa pun.Sebuah kartu dikeluarkan dari dompetnya oleh Damian dan pintu itu didorong terbuka.Damian melepaskan sepatu pantofel miliknya, lantas memperbaiki posisi tas di bahu kirinya. Melangkah semakin jauh, matanya segera bertemu pandang dengan milik Ivy yang sedang duduk di sofa.“Saya pikir Bapak tidak pulang,” kata Ivy berdiri dari sofa. Menatap Damian dari posisinya. “Biasanya Bapak tidak pulang sam

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   80 - Ancaman Ayah Damian

    Hari sudah malam saat Damian akhirnya tiba di rumah orang tuanya. Gerbang besar itu langsung terbuka hanya dengan satu klakson kecil darinya.Damian langsung menjalankan mobilnya dan memarkirkannya di halaman utama. Tubuhnya disandarkan pada jok mobil. Malas sekaligus enggan untuk memasuki rumah itu. Terlalu muak, terlalu lelah.Tapi tidak ada pilihan. Ditekannya rasa muak dan lelah itu sampai Damian memilih turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.Saat akhirnya mendorong pintu itu terbuka, bukan pulang berisi tenang yang ditemukan oleh Damian, seperti anak-anak sudah berkelana jauh dan akhirnya kembali ke rumah. Tidak ada perasaan seperti itu.Yang ada hanya asing dan dingin yang menusuk. Setelah sekian lama memutuskan meninggalkan rumah tersebut, rumah megah nan besar itu rasanya tidak bisa dijadikan tempat pulang.Seorang wanita berlari bersemangat dari ruang utama. Ibu Damian. Maria. Senyumnya sangat hangat. Seperti seorang ibu yang begitu merindukan putranya.“Astaga, ke

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   79 - Gadis Pengadu

    Saat membuka matanya, Ivy merasakan sesuatu yang agak keras sekaligus kenyal menempel di bagian belakang lehernya. Saat tubuhnya dimiringkan, tangannya menyentuh hal lainnya yang teksturnya terasa sama.Ivy menggerak-gerakan tangannya itu seperti meremas. Seperti dirinya mengenal tekstur tersebut. Lalu kemudian matanya pelan-pelan terbuka. Langsung membelalak saat menyadari bahwa dirinya sedang menyentuh dada Damian.Ivy melipat bibirnya dan menjauhkan tangannya, tapi tidak sadar bahwa Damian juga sudah bangun. Pria itu malah menyambar tangan Ivy yang hendak dijauhkan. Membuat Ivy terkesiap dan mendongak menatap Damian.“Ternyata tanganmu nakal juga,” kata Damian. Akhirnya langsung melepaskan tangan Ivy.“M-maaf, Pak. Saya tidak bermaksud melakukan hal itu.” Ivy berusaha menjelaskannya. Damian tidak menjawabnya dan hanya tertawa kecil.Ivy cepat beringsut bangun dengan terburu-buru, sampai membuat kepalanya tiba-tiba pening karena gerakan cepatnya itu. Damian ikutan bangun juga dan se

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   78 - Penghangat Ranjang

    “Apa Bapak bercanda?” Ivy bertanya setengah ternganga.Damian baru saja mengatakan bahwa pria itu terbiasa tidur dengan memeluk sesuatu. Pakai ekspresi wajahnya yang datar dan tenang itu. Bagaimana mungkin Ivy tidak kaget?“Apa saya pernah bercanda?” Damian malah balik bertanya dengan satu alis terangkat.Tidak, Ivy tahu pria itu tidak pernah bercanda. Semua kalimat yang terucap dari mulutnya selalu berisi keseriusan dan ketegasan. Bahkan Ivy tidak yakin apa Damian tahu caranya bercanda atau tidak.Tapi ‘kan tetap saja jantungnya tidak aman kalau Damian mengatakan hal-hal seperti itu.“Sudahlah, cepat rapikan tugas-tugas itu dan ikut saya. Saya tahu kamu juga sudah mengantuk.”Ivy tidak sempat menjawab apa-apa lagi karena Damian sudah berbalik dan masuk ke kamarnya. Meninggalkan pintu kamar terbuka untuk IvySebelum datang perintah lain yang lebih tegas, Ivy buru-buru merapikan semua tugas di atas meja. Mematikan lampu di ruang utama dan menyusul masuk ke kamar Damian.Di tangan Ivy t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status