Share

4 - Pertolongan Damian

Penulis: Paus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 17:38:17

Matilah Ivy!

Setelah Evan pergi meninggalkan mereka berdua, Ivy masih membeku dalam syok dan keheningan ruangan yang mencekam.

Dia menyadari tatapan tajam Damian yang masih mengulitinya.

Sontak, Ivy membungkukkan badannya dalam-dalam di hadapan Damian.

“Pak, saya benar-benar minta maaf!”

Sekujur badan Ivy gemetar ketakutan.

Bagaimana kalau Damian benar-benar melaporkannya atas pencemaran nama baik? Hancur sudah semua usahanya selama ini.

Namun, Damian hanya menatap Ivy datar, seperti biasa. Ada dengusan tak ramah yang ditangkap Ivy dari pria itu.

“Jadi? Kamu sudah sadar kalau kamu hanya menuduh saya sembarangan?”

“Ya, Pak, saya benar-benar menyesal!” jawab Ivy panik.

“Dan apa kamu sadar, kamu bukan hanya mencemarkan nama baik, kamu juga berniat melakukan pemerasan?”

“S-saya benar-benar tidak berniat melakukannya! Saya mohon maaf!”

Ivy segera mencerocos panjang. “Saya akan melakukan apa pun untuk menebus kesalahan saya ini. Tapi tolong jangan laporkan saya, saya tidak bisa kehilangan beasiswa ini. Saya… saya…”

Ivy menggigit bibir yang gemetar, menahan tangis. Dia merasa begitu bodoh sudah membuat keputusan yang salah.

Melihat gadis rapuh yang bodoh dan ceroboh di depannya, sudut bibir Damian terangkat.

“Kalau begitu, bekerjalah untuk saya.”

Ivy terdiam, lalu mendongak dengan bingung.

“Apa?”

***

“Heh, di situ kau rupanya,” Samson berucap pelan sambil menatap Ivy yang berjalan keluar area kampus. Bibirnya tersenyum puas.

Tampaknya, Ivy tidak menyadari kehadiran Samson, sehingga pria itu dengan mudah menyambar lengan gadis itu.

“Kamu pikir kamu bisa kabur dariku? Ke lubang semut pun pasti akan aku cari sampai ketemu!”

Ivy terkejut, tidak sempat melarikan diri.

Seharusnya Ivy tahu bahwa dirinya tidak akan bisa lari dari Samson. Hanya karena dirinya tidak datang ke bar, bukan berarti pria itu tidak mencarinya.

“P-Paman, kenapa Paman ke sini?” Ivy menoleh ke sekitar dengan cemas. Tidak ingin pemandangan itu dilihat orang lain.

“Kenapa lagi? Karena kamu kabur meninggalkan masalah untukku di bar.”

Tangan Ivy ditarik lebih dekat. Samson berbisik dengan ancaman halus.

“Kamu tahu? Aku bisa membunuh ayahmu sekarang juga. Hanya tinggal menghubungi orang suruhanku dan mereka akan langsung mencincangnya sampai habis.”

Wajah Ivy memucat mendengarnya.

“Tidak! Tolong jangan lakukan itu, Paman!” mohonnya panik.

“Kalau begitu, bereskan masalahmu,” gertaknya dengan wajah sangar itu sambil menarik Ivy yang terseok-seok di belakangnya.

Area kampus itu sepi di petang hari. Kebanyakan aktivitas kampus sudah selesai sejak sore.

Tetapi, pemandangan itu terlihat oleh pria yang baru saja melewati gerbang depan.

“Ivy?”

Suara itu sontak membuat Ivy dan Samson menoleh. Damian sudah melangkah mendekat, membuat Samson diam-diam berdecih.

Sedangkan Ivy merasa terancam karena kehadirannya yang begitu tiba-tiba.

Kenapa dia tiba-tiba muncul di tengah situasi pelik ini?

“Ivy, ada apa ini? Siapa ini?” tanya Damian.

Ivy kelabakan. Dia tidak bisa memberi tahu tentang dirinya yang bekerja di bar, apalagi berurusan dengan penagih hutang. Bahkan, Ivy merasakan pegangan Samson yang erat sebagai ancaman.

“I-ini adalah Paman saya, Pak.” Ivy berusaha terdengar meyakinkan. “Paman saya datang untuk menjemput saya.”

Samson hanya melayangkan senyum miring ke arah Damian, dan langsung menyeret paksa tubuh Ivy, mendorongnya masuk ke mobilnya yang terparkir masuk di tepi jalan.

***

“Sekarang bereskan semua masalah yang kamu buat.”

Samson berujar sambil mendorong tubuh Ivy ke dalam bar yang baru saja buka malam itu.

Bar masih sepi, belum banyak berkunjung. Tapi, seorang pria bertubuh tambun duduk di salah satu kursi. Pria yang dipukul Ivy di malam itu.

Sebelum Ivy sempat kabur lagi, Samson sudah menarik Ivy dan menekannya agar berlutut di hadapan pria itu.

“Hai, gadis kecil, masih ingat aku?”

Pria itu menyapa dengan seringai lebar, sangat puas karena berhasil mendapatkan buruan yang sempat kabur.

“Apa kamu tahu berapa jahitan yang aku dapatkan di kepalaku?” Pria itu menunjuk-nunjuk kepalanya yang masih terlapis perban.

Ivy menelan ludah. Suaranya bergetar. “Maafkan saya, Tuan…”

“Memangnya permintaan maafmu bisa merapatkan kembali kepalaku yang robek?” cibir pria itu, sebelum tersenyum miring. “Aku ingin ganti rugi. Lima belas juta dan kau harus membayarnya saat ini juga.”

Mulut Ivy langsung terbuka lebar mendengar nominal yang gila itu. “Li-lima belas… S-saya tidak punya uang sebanyak itu!”

“Yah, kalau begitu bayar dengan cara lain.” Pria itu menjilat bibirnya, tatapannya menelanjangi Ivy dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Ivy kian bergetar, melirik ke arah Samson di sisinya yang dengan santainya menghisap rokok.

“P-Paman…”

Pria tambun itu mengikuti arah mata Ivy yang menatap Samson. “Hei, bagaimana? Kau tahu sendiri berapa kerugian karena ulah perempuanmu, Samson!”

Samson menghembuskan asap rokok sambil mengulurkan satu tangannya. “Tambahan lima juta untuk ongkos kirim ke sini.”

“Ck, dasar mata duitan. Padahal aku langganan bar ini.” Si pria tambun berdecak, langsung merogoh kantong dan menyerahkan segepok uang yang diikat karet.

Samson menghitung jumlah uang itu sambil melambaikan tangan dan berlalu begitu saja. Ivy terhenyak. Dia baru saja dijual!

Sebelum kehilangan Samson, Ivy bangkit dan hendak mengekorinya, tapi tangan pria mesum itu sudah mencekalnya duluan.

“Heh, kau tidak boleh pergi, kau milikku sekarang!”

Pria itu mendudukan Ivy di atas kursi, kemudian mengambil segelas minuman beralkohol dari atas meja. Kalau gadis itu tidak mau mengikutinya, hanya perlu dicekoki sampai dia mengemis ingin dipuaskan.

“Minum.” Pria itu memerintah, tapi Ivy menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“S-saya tidak minum alkohol, Tuan…”

“Aku sudah membayarmu, jadi lakukan perintahku! Minum!” bentaknya.

“S-saya akan bertanggung jawab, tapi tidak dengan cara seperti ini, saya akan usahakan uangnya, saya janji!”

“Minum kubilang, sialan!” Pria itu berseru jengkel dan menyambar rahang Ivy. Memaksanya untuk membuka mulut.

“Tidak, Tuan! Saya mohon—hmmph!”

Bibir gelas yang dipegangnya langsung dituangkan ke mulut Ivy. Cairan itu membanjiri wajah Ivy.

“Buka mulutmu yang lebar! Telan semuanya! Harga segelas ini mahal, tahu?”

Dengan mata mendelik, leher Ivy naik turun terpaksa menelan cairan itu masuk ke lehernya.

Minuman itu masuk semakin banyak. Terasa panas dan pahit mencekik lehernya. Sakit!

Ivy memejamkan mata kuat-kuat sambil memukul-mukul lengan pria itu.

“Bagus.” Pria itu tertawa sambil meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja.

“Uhuk, uhuk!” Ivy terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Rasa pusing mendera kepalanya, pandangannya terasa berputar.

“Sekarang, kemarilah.”

Pria itu menarik tengkuk leher Ivy, berniat ingin menciumnya. Dengan kesadaran yang hampir hilang karena efek alkohol, Ivy bergerak menjauh, jatuh terduduk ke lantai dan mulai merangkak pergi.

“Gadis bodoh, kamu tidak akan bisa ke mana-mana.”

Pria itu menyambar salah satu kaki Ivy dan menariknya kembali.

“Tidak… tolong… tolong aku…” raung Ivy lemah.

Tubuh Ivy dibalik begitu saja, dan dengan senyum mesum yang menjijikan, pria itu mengangkat tangannya hendak menggerayangi tubuh Ivy.

Brak!

Pintu yang tertutup di ujung sana tiba-tiba terbuka.

“Ivy!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   83 - Jangan-jangan...

    Kegiatan kampus sesibuk biasanya. Bedanya, yang selalunya membuat Ivy lelah dan seringkali mengembuskan napas, kali ini suasananya terasa begitu baik. Itu bukan karena tidak ada tugas apa pun dari dosen, bukan juga karena tidak ada materi yang membuatnya pusing, melainkan karena dorongan semalam yang sampai terbawa ke kampus.Tentu, apa yang dilakukan oleh Damian membuat tubuhnya sakit. Tapi pengalaman kedua itu sama seperti pengalaman pertama. Ivy tidak bisa mengabaikan betapa dirinya menikmati membiarkan tubuhnya menyatu dengan tubuh milik Damian.Ya, mau bagaimana lagi? Pria itu adalah dosen hot kampus yang menjadi incaran semua orang, tapi fakta mengejutkannya adalah Damian tidur dengan gadis kumuh seperti dirinya. Sudah dua kali. Bagaimana Ivy bisa mengabaikan hal itu?Clara juga nampak menyadarinya saat bertemu dengannya.“Rasanya hari ini kamu terlihat ceria sekali,” komentar Clara memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri memperhatikan Ivy. “Benarkah? Aku rasa biasa saja.” Ivy

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   82 - Maaf Untuk Semalam

    Entah berapa kali mereka melakukannya. Bahkan rasa lelah dan napas yang tidak lagi beraturan tidak membuat mereka berhenti. Atau lebih tepatnya tidak membuat Damian berhenti.Ivy meminta, tapi segera setelahnya langsung dibukam oleh milik Damian yang menembus masuk ke dalam tubuhnya. Lagi dan lagi.Saat pagi akhirnya menyambut mereka, Damian menjadi orang pertama yang membuka mata. Tubuhnya terasa pegal dan Damian memperbaiki posisinya menjadi telentang.Napasnya berhembus kasar. Sinar matahari yang baru pecah berwarna kemerahan menembus jendelanya. Masih ada waktu, Damian menyimpulkannya saat melihat jam dinding.Di situlah tatapannya beralih pada Ivy yang meringkuk di samping tubuhnya. Masih terlelap dengan rambut panjangnya yang sedikit menutupi wajah.Damian menyingkirkan rambut itu kemudian mendekat untuk menaikkan selimut. Tapi Damian terkesiap.“Astaga, apa yang sudah saya lakukan?” Damian malah mencengkeram selimut itu saat melihat banyak sekali tanda yang ditinggalkannya di t

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   81 - Pelampiasan Panas (21+)

    Damian bimbang. Ancaman ayahnya yang mengatakan akan menyingkirkan Ivy ternyata mengganggu Damian lebih dari yang Damian duga.Damian merasa marah sekaligus cemas. Tujuan melindungi yang dipilih olehnya sejak awal sekarang berubah menjadi ancaman serius. Dengan menjaga Ivy di sampingnya, mempertahankan gadis itu, sekarang bukan lagi berisi aman, tapi bisa saja malah membahayakan.Saat tiba di depan pintu kamarnya, Damian merasa ragu. Kemarahan itu masih berkumpul di dadanya. Membuatnya banyak mengepalkan tangan selama perjalanan. Tapi Damian tahu pergi juga tidak akan menjadi solusi apa pun.Sebuah kartu dikeluarkan dari dompetnya oleh Damian dan pintu itu didorong terbuka.Damian melepaskan sepatu pantofel miliknya, lantas memperbaiki posisi tas di bahu kirinya. Melangkah semakin jauh, matanya segera bertemu pandang dengan milik Ivy yang sedang duduk di sofa.“Saya pikir Bapak tidak pulang,” kata Ivy berdiri dari sofa. Menatap Damian dari posisinya. “Biasanya Bapak tidak pulang sam

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   80 - Ancaman Ayah Damian

    Hari sudah malam saat Damian akhirnya tiba di rumah orang tuanya. Gerbang besar itu langsung terbuka hanya dengan satu klakson kecil darinya.Damian langsung menjalankan mobilnya dan memarkirkannya di halaman utama. Tubuhnya disandarkan pada jok mobil. Malas sekaligus enggan untuk memasuki rumah itu. Terlalu muak, terlalu lelah.Tapi tidak ada pilihan. Ditekannya rasa muak dan lelah itu sampai Damian memilih turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.Saat akhirnya mendorong pintu itu terbuka, bukan pulang berisi tenang yang ditemukan oleh Damian, seperti anak-anak sudah berkelana jauh dan akhirnya kembali ke rumah. Tidak ada perasaan seperti itu.Yang ada hanya asing dan dingin yang menusuk. Setelah sekian lama memutuskan meninggalkan rumah tersebut, rumah megah nan besar itu rasanya tidak bisa dijadikan tempat pulang.Seorang wanita berlari bersemangat dari ruang utama. Ibu Damian. Maria. Senyumnya sangat hangat. Seperti seorang ibu yang begitu merindukan putranya.“Astaga, ke

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   79 - Gadis Pengadu

    Saat membuka matanya, Ivy merasakan sesuatu yang agak keras sekaligus kenyal menempel di bagian belakang lehernya. Saat tubuhnya dimiringkan, tangannya menyentuh hal lainnya yang teksturnya terasa sama.Ivy menggerak-gerakan tangannya itu seperti meremas. Seperti dirinya mengenal tekstur tersebut. Lalu kemudian matanya pelan-pelan terbuka. Langsung membelalak saat menyadari bahwa dirinya sedang menyentuh dada Damian.Ivy melipat bibirnya dan menjauhkan tangannya, tapi tidak sadar bahwa Damian juga sudah bangun. Pria itu malah menyambar tangan Ivy yang hendak dijauhkan. Membuat Ivy terkesiap dan mendongak menatap Damian.“Ternyata tanganmu nakal juga,” kata Damian. Akhirnya langsung melepaskan tangan Ivy.“M-maaf, Pak. Saya tidak bermaksud melakukan hal itu.” Ivy berusaha menjelaskannya. Damian tidak menjawabnya dan hanya tertawa kecil.Ivy cepat beringsut bangun dengan terburu-buru, sampai membuat kepalanya tiba-tiba pening karena gerakan cepatnya itu. Damian ikutan bangun juga dan se

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   78 - Penghangat Ranjang

    “Apa Bapak bercanda?” Ivy bertanya setengah ternganga.Damian baru saja mengatakan bahwa pria itu terbiasa tidur dengan memeluk sesuatu. Pakai ekspresi wajahnya yang datar dan tenang itu. Bagaimana mungkin Ivy tidak kaget?“Apa saya pernah bercanda?” Damian malah balik bertanya dengan satu alis terangkat.Tidak, Ivy tahu pria itu tidak pernah bercanda. Semua kalimat yang terucap dari mulutnya selalu berisi keseriusan dan ketegasan. Bahkan Ivy tidak yakin apa Damian tahu caranya bercanda atau tidak.Tapi ‘kan tetap saja jantungnya tidak aman kalau Damian mengatakan hal-hal seperti itu.“Sudahlah, cepat rapikan tugas-tugas itu dan ikut saya. Saya tahu kamu juga sudah mengantuk.”Ivy tidak sempat menjawab apa-apa lagi karena Damian sudah berbalik dan masuk ke kamarnya. Meninggalkan pintu kamar terbuka untuk IvySebelum datang perintah lain yang lebih tegas, Ivy buru-buru merapikan semua tugas di atas meja. Mematikan lampu di ruang utama dan menyusul masuk ke kamar Damian.Di tangan Ivy t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status