Share

87 - Hangat Menenangkan

Penulis: Paus
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 19:39:09

Ivy tidak tahu itu jam berapa. Suasananya masih gelap. Bagian jendela Damian belum menunjukkan tanda-tanda pagi akan datang, tapi kedua mata Ivy terbuka.

Dua tangannya meraba bagian perutnya yang berbunyi lagi. Terasa perih. Ivy menelan liur sambil menekan perutnya itu. Tiba-tiba dirinya lapar.

“Apa karena aku hanya memakan daging mahal itu?” Ivy bertanya kepada dirinya sendiri sambil membayangkan daging yang tadi dimakannya bersama Damian di restoran.

Daging mahal sialan itu bahkan bukan hanya tidak jauh lebih enak daripada masakan Damian, tapi tidak juga mengenyangkan.

Ivy hanya tahu bahwa dirinya tidak akan bisa tidur lagi kalau sudah terbangun karena rasa lapar seperti itu. Tapi yang menjadi pertanyaannya, apakah ada sesuatu yang bisa dimakan olehnya di dapur? Pria itu juga bukan tipikal yang suka membeli camilan. Ivy tidak pernah melihatnya.

Kalau menunggu sampai pagi rasa-rasanya Ivy tidak akan sanggup.

Ditatapnya Damian yang terlelap disampingnya. Tubuh Ivy menempel dengan tub
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   88 - Kecelakaan Tidak Terduga

    Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasanya. Tidak istimewa atau berubah.Ivy bangun dalam pelukan Damian dan pria itu bersikap seolah mereka sudah terbiasa. Setelahnya Ivy bersiap-siap pergi ke kampus. Berpisah dengan Damian.Pria itu memberinya uang saku dan berpesan hati-hati di jalan. Ivy hanya menerimanya dan pergi ke kampus menggunakan bus. Tapi lucunya jarak yang terbentang itu membuat Ivy tiba-tiba sudah merasa ingin bertemu lagi dengan Damian.Bus penuh sesak seperti hari-hari sebelumnya. Itu berhenti di halte yang tak jauh dari kampusnya. Ada seorang wanita tua ketika Ivy turun. Ingin naik ke dalam bus.Wanita tua itu sendirian. Tidak ada penumpang lain yang ingin naik. Dia membawa banyak barang. Terlihat kerepotan.“Biar saya bantu membawanya masuk,” kata Ivy menawarkan dan wanita itu langsung menarik senyumnya.Buru-buru Ivy membantu barang-barangnya naik ke dalam bus dan meletakkannya di dekat wanita itu duduk. Wanita tua itu berterima kasih dan Ivy langsung turun kemba

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   87 - Hangat Menenangkan

    Ivy tidak tahu itu jam berapa. Suasananya masih gelap. Bagian jendela Damian belum menunjukkan tanda-tanda pagi akan datang, tapi kedua mata Ivy terbuka. Dua tangannya meraba bagian perutnya yang berbunyi lagi. Terasa perih. Ivy menelan liur sambil menekan perutnya itu. Tiba-tiba dirinya lapar.“Apa karena aku hanya memakan daging mahal itu?” Ivy bertanya kepada dirinya sendiri sambil membayangkan daging yang tadi dimakannya bersama Damian di restoran.Daging mahal sialan itu bahkan bukan hanya tidak jauh lebih enak daripada masakan Damian, tapi tidak juga mengenyangkan.Ivy hanya tahu bahwa dirinya tidak akan bisa tidur lagi kalau sudah terbangun karena rasa lapar seperti itu. Tapi yang menjadi pertanyaannya, apakah ada sesuatu yang bisa dimakan olehnya di dapur? Pria itu juga bukan tipikal yang suka membeli camilan. Ivy tidak pernah melihatnya.Kalau menunggu sampai pagi rasa-rasanya Ivy tidak akan sanggup.Ditatapnya Damian yang terlelap disampingnya. Tubuh Ivy menempel dengan tub

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   86 - Kamu Itu Penghangat Ranjang

    Catherine mengepal garpu dan pisau yang digenggamnya kuat-kuat. Menusuk dan memotong daging di atas piringnya berantakan. Sama sekali tidak minat untuk menikmatinya lagi.Matanya tidak teralihkan dari Damian dan Ivy yang sudah mencapai pintu. Pria itu membukakan pintu untuk Ivy. Membiarkannya Ivy lewat lebih dulu baru Damian sendiri yang menyusulnya.“Gadis sialan itu, aku harus mencakar wajahnya dengan garpu,” gerutu Catherine.Teman perempuan Catherine yang makan bersamanya langsung kebingungan melihat Catherine seperti itu. “Ada apa?” Dia bertanya mengikuti arah pandang Catherine.“Ada Damian di sini dan dia bersama wanita sialan itu.” Catherine menjawabnya.“Wow, tunanganmu itu?” Temannya bertanya dan berusaha mencari-cari, tapi Damian dan Ivy sudah terlanjur hilang. “Lagi pula kenapa sih kamu begitu tertarik dengan pria itu? Karirmu bagus dan kamu juga sangat cantik. Salah satu orang pria menolakmu, kamu bisa mendapatkan 1000 yang jauh lebih baik.”Catherine mendelik kepada tema

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   85 - ATM Berjalan

    Tubuh Ivy membeku mendengar bisikan tersebut dari Damian. Bagaimana embusan pria itu terasa mengenai bagian telinga dan lehernya membuat bulu kuduknya berdiri.“Jadi anggap saja ini bayaran untuk tanda yang belum kamu dapatkan itu,” sambung Damian menjauhkan diri.Ivy hanya bisa berdeham dan menggeser posisinya agak jauh dari Damian. Agar bisa mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba menjadi sangat kuat.Damian mengeluarkan kartu untuk membayar semua rangkaian skin care dan make up Ivy. Seperti baru mengeluarkan uang puluhan ribu saja, dia menerima struk pembayaran beserta kartunya kembali dengan wajah sangat tenang.Mereka keluar dari area toko setelah itu. Tapi seolah belum cukup membuat Ivy nyaris gila karena dimanjakan seperti itu, Damian malah berbelok di sebuah toko sepatu tak lama setelah itu.“Pak!” Ivy protes. Kali ini tidak bisa menerimanya. “Kita datang ke sini karena mau beli sepatu untuk bapak, 'kan?”“Bukan. Untukmu.” Lagi-lagi Damian menjawabnya santai dan memasuki

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   84 - Bukan Tanda Terakhir

    Ivy ingin tahu, kira-kira membutuhkan waktu berapa lama untuk membuat tanda-tanda semacam ‘itu’ menghilang? Selama ini dirinya tidak pernah berhubungan dengan pria manapun apalagi sampai memiliki kekasih, jadi Ivy tidak tahu apakah tanda bekas ciuman seperti itu akan bertahan lama atau tidak.Warnanya sudah agak memudar, tapi masih tetap terlihat. Bahkan sudah ditutupi rambut saja Clara masih bisa melihatnya. Kalau membutuhkan waktu sampai berhari-hari, itu akan membuatnya kesulitan ke depannya.Ia harus menemukan cara. Setidaknya itulah yang dipikirkan Ivy saat memperhatikan tanda di lehernya karena ulah Damian.Cermin kecil yang dipegangnya itu memantulkan warna kemerahan di dekat tulang selangka. Ivy tidak tahu sudah memperhatikannya berapa lama, baru ketika pintu apartemen terbuka dari luar, buru-buru dirinya menurunkan cermin.Ivy memasang senyumnya saat Damian masuk ke apartemen. Ia menurunkan rambut untuk menutupi bagian leher.Tapi Damian melihatnya. Cermin kecil di tangan Iv

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   83 - Jangan-jangan...

    Kegiatan kampus sesibuk biasanya. Bedanya, yang selalunya membuat Ivy lelah dan seringkali mengembuskan napas, kali ini suasananya terasa begitu baik. Itu bukan karena tidak ada tugas apa pun dari dosen, bukan juga karena tidak ada materi yang membuatnya pusing, melainkan karena dorongan semalam yang sampai terbawa ke kampus.Tentu, apa yang dilakukan oleh Damian membuat tubuhnya sakit. Tapi pengalaman kedua itu sama seperti pengalaman pertama. Ivy tidak bisa mengabaikan betapa dirinya menikmati membiarkan tubuhnya menyatu dengan tubuh milik Damian.Ya, mau bagaimana lagi? Pria itu adalah dosen hot kampus yang menjadi incaran semua orang, tapi fakta mengejutkannya adalah Damian tidur dengan gadis kumuh seperti dirinya. Sudah dua kali. Bagaimana Ivy bisa mengabaikan hal itu?Clara juga nampak menyadarinya saat bertemu dengannya.“Rasanya hari ini kamu terlihat ceria sekali,” komentar Clara memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri memperhatikan Ivy. “Benarkah? Aku rasa biasa saja.” Ivy

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status