MasukDi atas langit yang tak tersentuh dunia fana, Zalleon berdiri di arena para malaikat, sebuah lapangan luas yang dipenuhi cahaya abadi dan ketenangan surgawi. Jubah-jubah putih para malaikat berkibar lembut tertiup angin, sementara awan berkilauan membentang megah di sekelilingnya. Pagi itu, suasana terasa sedikit berbeda, meski tidak ada satu pun yang menyadarinya.
Zalleon bersiap berlatih bersama dua sahabatnya, Carlo dan Rafello. Pertarungan itu hanyalah latihan persahabatan, namun tetap dilakukan dengan kesungguhan seperti biasa. “Leon, siap-siap!” seru Carlo penuh semangat. Rafello mengangguk tenang. “Kita lihat seberapa kuat kita hari ini.” Zalleon tersenyum tipis. Ia selalu menjaga keseimbangan dalam dirinya, antara cahaya suci yang dianugerahkan kepadanya dan kekuatan gelap yang pernah menjadi bagian dari takdirnya. Apa pun yang terjadi, ia percaya dirinya mampu mengendalikannya. “Mulai!” Dalam sekejap, ketiganya melesat cepat. Carlo menyerang lebih dulu dengan gelombang energi biru yang menghantam tanah hingga bergetar. Rafello membalas dengan pusaran api merah yang menyala terang, membelah udara dengan panas yang menyengat. Zalleon bergerak anggun di antara serangan-serangan itu, menghindar dengan lincah sebelum membalas menggunakan semburan cahaya lembut yang bergetar kuat. Latihan itu berlangsung sengit, hingga sesuatu yang tak terduga terjadi. Salah satu serangan Carlo melenceng dari arah semula. Energi itu melesat tak terkendali dan menghantam tepat ke lambang bercahaya di pergelangan tangan Zalleon. Dentuman keras menggema di seluruh arena. Cahaya di lambang itu padam seketika. Tubuh Zalleon terhempas ke tanah. Rasa kosong tiba-tiba menyelimuti dirinya, seolah sebagian dari jiwanya tercabut paksa. Dengan napas tertahan, ia menatap pergelangan tangannya. Lambang itu telah menghilang. “Leon!” teriak Carlo panik. Rafello berlari mendekat, wajahnya tegang. Namun Zalleon hanya bisa menatap kosong tangannya sendiri. “Kok bisa hilang?” bisiknya lemah. Carlo dan Rafello saling berpandangan. Mereka sama-sama tahu ini bukan sekadar kesalahan dalam latihan. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Zalleon bangkit perlahan. Perasaan tidak tenang menggerogoti dadanya. Tanpa banyak kata, ia memutuskan untuk menghadap Sang Dewa, satu-satunya yang mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tak lama kemudian, di hadapan cahaya agung yang menyelimuti seluruh ruang ilahi, Zalleon berlutut dengan kepala tertunduk. “Dewa, mengapa lambang dan kekuatanku menghilang?” Suara Sang Dewa menggema, dalam dan penuh wibawa, namun tetap terasa menenangkan. “Ini adalah ujian untukmu, Zalleon.” Zalleon terdiam, mencoba memahami makna kata-kata itu. “Kekuatanmu tidak benar-benar lenyap,” lanjut suara itu. “Ia terpisah darimu dan kini berada di dunia manusia.” Zalleon mendongak, terkejut. “Dunia manusia?” “Seseorang di sana kini terikat pada lambangmu. Dalam waktu seratus hari, kau harus menemukannya sebelum kekuatan itu direbut sepenuhnya oleh Sang Iblis. Jika kau gagal, segalanya akan berubah.” Jantung Zalleon bergetar. Nama itu bukan sesuatu yang asing baginya. “Sang Iblis telah lama menunggumu lengah,” ujar Sang Dewa lagi. “Ujian ini akan menentukan ketulusan dan pilihan hatimu.” Zalleon mengepalkan tangan. Meski hatinya dipenuhi kebingungan, tekadnya tak goyah. “Aku akan melakukannya.” Cahaya surgawi pun menyelimutinya, hangat namun kuat. Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari alam ilahi dan jatuh menuju dunia manusia. Ia mendarat di sebuah pulau yang sunyi. Angin laut menyambutnya dengan aroma asin yang asing di inderanya. Langit tampak berbeda dari surga yang biasa ia lihat. Kini ia mengenakan pakaian sederhana, bagian dari penyamarannya sebagai manusia. Saat ia mencoba memahami keadaan sekitarnya, cahaya terang turun dari langit dan berhenti tepat di hadapannya. “Apa itu?” gumamnya pelan. Cahaya itu bersinar lembut, lalu terdengar suara yang familiar. “Wahai malaikat Zalleon, aku adalah cahaya yang dikirim Dewa untuk menuntunmu selama di dunia manusia.” Zalleon tersenyum kecil. “Jadi kamu yang membawaku ke sini?” “Benar. Dan Dewa telah menyiapkan tempat tinggal untukmu.” Dalam sekejap, pandangannya berubah. Ia kini berdiri di dalam sebuah bangunan megah dengan pilar tinggi dan lantai marmer berkilau. Segalanya tampak asing, namun nyaman. Zalleon menunduk dengan penuh rasa syukur. “Terima kasih, Dewa.” Kemudian ia kembali menatap cahaya itu. “Bagaimana aku menemukan manusia yang membawa kekuatanku?” “Ketika kau berpapasan dengannya, hatimu akan bergetar dan dadamu akan terasa sakit. Itu tanda bahwa lambangmu ada padanya.” Zalleon mengangguk pelan. “Manusia itu bersekolah di SMA Starlight Academy,” lanjut sang cahaya. Zalleon terdiam beberapa saat. “Sekolah?” “Ya. Kau harus menyamar sebagai murid agar dapat mendekatinya.” Ia menghela napas panjang, mencoba menerima kenyataan bahwa ia, seorang malaikat, kini harus hidup sebagai siswa manusia. “Baiklah.” Cahaya itu kemudian menyerahkan sebuah berkas. “Ini identitas barumu.” Zalleon membacanya dan sedikit terkejut. “Leo Aegrev Ravenskay?” “Itu namamu di dunia manusia. Ingatlah peranmu.” Zalleon tersenyum tipis. “Baik. Aku akan menjalani peran ini.” Beberapa hari kemudian, ia menerima pemberitahuan bahwa dirinya telah diterima di SMA Starlight Academy. Hari Senin akan menjadi awal dari ujian seratus harinya di dunia fana. Ia belum tahu apa yang akan menunggunya di sana. BERSAMBUNGUdara pagi masih terasa dingin saat Zira melangkah menuju sekolah. Bayangan kejadian kemarin, tatapan Zalleon dan sikapnya, masih belum sepenuhnya hilang dari pikirannya. Namun hari ini bukan hari untuk hanyut dalam perasaan. Hari terakhir ujian akhirnya tiba. Meski langit tampak mendung, suasana di sekolah justru terasa lebih ringan. Wajah-wajah murid terlihat lega, beberapa bahkan sudah mulai berbincang santai tentang liburan, study tour, atau rencana berkumpul bersama teman. Jam ujian pun berlangsung hingga akhirnya mendekati akhir. Zira duduk di bangkunya, menyelesaikan soal terakhir dengan fokus. Setelah yakin, ia meletakkan pensilnya perlahan dan menatap jendela kelas sejenak. “Akhirnya… selesai juga,” gumamnya, diiringi hembusan napas panjang. “Zira!” panggil Manda dari barisan belakang. “Kamu dengar nggak, kabarnya pengumuman study tour ditempel hari ini!” Zira menoleh, matanya berbinar. “Serius? Emang ke mana sih?” "Katanya sih ke Pulau Seruni. Ada pantai, bukit, dan vi
Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Zira, menyapu perlahan wajahnya yang masih lelap. Dentingan jam weker di samping ranjang membangunkannya. Dengan malas, Zira mengusap wajahnya lalu duduk di tepi ranjang. Hari ini adalah hari ujian, dan seperti biasa, dia bersiap lebih awal. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah, Zira berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang masih sedikit lembap. Saat hendak berbalik, pandangannya tiba-tiba tertahan pada sebuah benda di atas meja belajarnya. Sebuah kaca spion motor. Kaca spion milik Brayen. Zira terdiam sejenak, menatap benda itu dengan perasaan yang tak nyaman, rasa bersalah bercampur khawatir yang perlahan mengendap di dadanya. "Aduh... gimana aku ngembaliin ini? Apa Brayen bakal marah?" gumamnya pelan sambil menghela napas berat. Jantungnya berdegup tak tenang. Kecemasan mulai merayap, membentuk kepanikan kecil dalam dirinya. Ia lalu membuka tasnya dan dengan hati-hati memasukkan kaca spion itu
Suasana kelas menjadi hening, hanya terdengar suara gesekan pena di atas kertas ujian dan detak jarum jam di dinding. Zira mencoba fokus, tapi pikirannya masih saja berputar pada luka di wajah Zalleon. Sekilas, ia melirik ke belakang, melihat Zalleon yang duduk dengan tenang, tapi jelas terlihat lelah. Zira menghela napas, mencoba mengalihkan pikirannya kembali ke soal. Beberapa menit berlalu, dan akhirnya kringgg! Bel pulang berbunyi nyaring, memecah kesunyian ruangan. Para siswa mulai merapikan kertas ujian dan perlengkapan mereka. Zira juga perlahan memasukkan bukunya ke dalam tas, bersama pulpen dan penghapus yang tadi ia pakai. Saat ia hendak berdiri dari bangku, tiba-tiba ada bayangan berdiri di depannya. Zira mendongak. Itu Zalleon. Jantungnya langsung berdegup cepat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Masih ada amarah kecil yang tersisa dari pagi tadi, tapi juga ada kekhawatiran dan rindu yang diam-diam menyelusup ke dalam hatinya. Zalleon menatapnya lembut dan berkata pe
Langkah kaki Brayen terdengar berat dan teratur saat ia meninggalkan taman sekolah. Wajahnya tak lagi menampilkan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan pada semua orang. Kali ini, ada sesuatu yang mengendap dalam tatapannya, gelap, dan menyimpan maksud tersembunyi. Tujuannya jelas: menemui Zalleon. Zalleon berdiri di balkon atap sekolah, sendirian. Angin siang berhembus lembut, mengusap rambut hitamnya yang berkilau diterpa cahaya matahari. la menatap langit luas, mencoba menenangkan dadanya yang sesak setelah perbincangannya dengan Zira. Hatinya gelisah, pikirannya penuh dengan kekhawatiran yang tak bisa ia ungkapkan. Tiba-tiba... "Krekk-" Suara pintu atap terbuka memecah keheningan. Zalleon menoleh cepat. Tatapannya langsung berubah tajam. Di sana, berdiri sosok yang tak asing, Brayen. Brayen melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa berat dan penuh maksud. Pandangannya tajam menembus udara yang terasa kian menegang. Mereka berdiri saling menatap, membiarkan diam menggantung
Suara alarm ponsel Zira berbunyi pelan, membangunkannya. la membuka mata, menatap langit-langit kamarnya yang kelabu. Dua hari libur sudah berakhir, dan hari ini... ujian dimulai. Zira bangkit, duduk di tepi ranjang, dan menarik napas dalam-dalam. Hatinya sedikit tegang, pikirannya sibuk membayangkan hari yang akan dimulai. Meski begitu, ada rasa aneh yang menggelitik, sebuah perasaan bahwa hari ini tidak akan berjalan seperti biasanya. Ia pun beranjak ke kamar mandi, bersiap seperti biasa. Setelah itu, Zira mengenakan seragam sekolahnya, merapikan rambut, lalu menatap pantulan dirinya di cermin sejenak. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan kegelisahan yang sulit dijelaskan. “Zira, sudah bangun? Sarapan dulu, Nak,” terdengar suara Ibu dari bawah. “Iya, Bu!” sahutnya sambil meraih tas. Setelah sarapan, Zira mengenakan sepatu dan menggantungkan tas di bahunya. Ia melangkah keluar rumah, membuka pagar perlahan. Namun baru saja kakinya menjejak ke luar, langkahnya mendadak t
Zalleon akhirnya tiba di pantai itu. Ia memarkirkan motornya tak jauh dari tempat pengunjung lain. Saat membuka helm dan turun, matanya langsung menangkap sesuatu sebuah motor yang sangat ia kenal. "Motor itu... milik Brayen," gumamnya, tajam. Tanpa pikir panjang, Zalleon langsung berlari menyusuri pantai. Matanya menelisik ke segala arah, mencari sosok Zira dan Brayen. Angin pantai menerpa rambutnya, langkahnya cepat dan dipenuhi kecemasan. Hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada dua orang yang sedang berjongkok di atas pasir. Zira. Gadis itu tertawa riang di samping Brayen. Mereka sedang membuat istana pasir bersama. Wajah Zira tampak sangat bahagia, senyumnya lepas, matanya bersinar. Pemandangan itu menusuk perasaan Zalleon seperti sembilu. Ia terdiam. Napasnya terhembus berat. Ada rasa tak nyaman yang menyeruak dalam dadanya campuran antara cemburu dan rasa kehilangan. Tangannya mengepal, langkahnya ingin maju, ingin menghampiri mereka, ingin membawa Zira pergi dari sana.







