LOGINSenin pagi akhirnya tiba.
Hari pertama Zalleon masuk sekolah sebagai Leo Aegrev Ravenskay. Identitas barunya sebagai manusia biasa harus ia jaga sebaik mungkin demi misinya di dunia ini. Udara pagi terasa segar dengan langit cerah dan matahari yang bersinar hangat di atas bangunan sekolah Starlight Academy. Sekolah elit itu berdiri megah dengan arsitektur modern dan taman hijau yang tertata rapi. Para siswa berlalu-lalang di halaman depan, sebagian besar sudah mengenakan seragam biru muda khas sekolah tersebut, lengkap dengan lambang bintang emas di dada kiri mereka. Zalleon berjalan perlahan melewati gerbang sekolah. Tatapannya tajam menelusuri setiap sudut bangunan. Bukan karena kagum, tapi lebih karena kewaspadaan. Dia tahu, tempat ini akan menjadi titik awal dari hari-hari yang mengubah segalanya. Aku harus terlihat biasa saja, batinnya. Langkahnya mantap menyusuri jalan menuju lobby sekolah, melewati deretan siswa yang sedang mengobrol, tertawa, atau terburu-buru masuk kelas. Namun, belum sampai ia melewati tangga menuju lobby- Bruk! Seseorang menabraknya cukup keras hingga membuat bahunya terdorong ke belakang sedikit. Zalleon tersentak, nyaris kehilangan keseimbangan. "Ah, maaf!" seru seorang wanita dengan nada tergesa. Rambutnya panjang tergerai, dan dia terlihat membawa beberapa buku di pelukannya. Ia langsung berlari tanpa sempat menoleh atau memastikan keadaan Zalleon. Zalleon hanya menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh. Ia menghela napas pelan, tidak terlalu mempermasalahkan insiden kecil itu. "Manusia memang ceroboh..." gumamnya, hampir tak terdengar. Namun, beberapa detik setelahnya, tubuhnya mendadak terasa aneh. "Ugh..." desisnya pelan. Ia menghentikan langkah, lalu menekan dadanya dengan satu tangan. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba muncul seperti denyutan halus namun menusuk, tepat di dada kirinya. Rasanya asing. Bukan seperti rasa sakit akibat tertabrak tadi, melainkan seolah berasal dari dalam tubuhnya sendiri. Kenapa dadaku tiba-tiba sakit? pikirnya, mencoba memahami sumber rasa itu. Tapi tak ada jawaban. Ia menarik napas perlahan, menenangkan diri. Meski rasa sakit itu mengganggu, Zalleon tahu ia tak boleh berhenti sekarang. Ini hari pertamanya, dan ia tak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun. Dengan sisa ketenangan yang ia miliki, ia kembali melangkah. Kali ini, langkahnya sedikit lebih hati-hati, seolah tubuhnya memberi peringatan. Setibanya di depan ruang guru, ia berhenti sejenak. Menatap papan nama di atas pintu, lalu mengangkat tangannya dan mengetuk perlahan. Tok, tok, tok. Tak lama kemudian, terdengar suara dari dalam, "Silakan masuk." Zalleon membuka pintu ruang guru dengan perlahan, berusaha menyembunyikan rasa nyeri di dadanya di balik ekspresi tenang yang ia pertahankan. Meski tubuhnya terasa sedikit tidak nyaman, ia tetap melangkah mantap ke dalam ruangan, menunjukkan sikap sopan dan penuh hormat. "Permisi, Bu," ucapnya dengan suara tenang namun jelas. Seorang guru wanita yang duduk di meja paling depan menoleh. Wajahnya tampak ramah dan bersahabat, dengan senyum hangat yang langsung menyambut kedatangannya. "Iya, Nak. Ada yang bisa Ibu bantu?" tanyanya sambil berdiri dari kursi. Zalleon melangkah mendekat dan membungkuk sedikit. "Saya murid baru, Bu. Nama saya Leo Aegrev Ravenskay." Wajah sang guru langsung berubah antusias. "Oh! Jadi kamu murid pindahan itu, ya? Selamat datang di SMA Starlight Academy." Ia memberi isyarat kepada Zalleon untuk duduk di kursi tamu di depan mejanya. Zalleon pun menurut dan duduk dengan tenang, menjaga sikap sopannya. Sang guru mulai membalik-balikkan beberapa dokumen di atas mejanya, matanya menyapu cepat lembar demi lembar. "Leo, Leo... Ah, ini dia," katanya sambil menarik satu map berwarna biru muda. "Nama lengkapnya Leo Aegrev Ravenskay, kan?" "Iya, Bu," jawab Zalleon dengan anggukan kecil. "Baik. Berdasarkan data, kamu masuk ke kelas 2-A. Itu salah satu kelas IPA yang cukup aktif di sini. Tapi kamu tak perlu khawatir, murid-muridnya baik dan suportif." Zalleon mengangguk lagi. "Baik, Bu. Terima kasih." Guru itu tersenyum lembut. "Jangan sungkan bertanya kalau ada yang belum kamu mengerti, ya. Adaptasi di sekolah baru memang butuh waktu, tapi Ibu yakin kamu bisa cepat menyesuaikan diri." Zalleon hanya menjawab dengan senyum tipis. Di balik ketenangannya, ia masih menimbang banyak hal terutama tentang kehidupan barunya sebagai Leo, dan rasa nyeri aneh di dadanya yang belum sepenuhnya hilang. Beberapa menit berlalu, hingga suara bel masuk menggema di seluruh penjuru sekolah, menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Suasana di luar ruang guru pun terdengar lebih ramai, para siswa mulai memasuki kelas masing-masing. Sang guru yang ternyata adalah wali kelas Zalleon bangkit dari kursinya dan mengambil beberapa lembar kertas. "Ayo, Leo. Ibu antar kamu ke kelas sekarang. Anak-anak pasti sudah mulai masuk." "Baik, Bu," jawab Zalleon sambil ikut berdiri. Ia pun mengikuti langkah gurunya keluar dari ruang guru, menyusuri lorong sekolah yang kini mulai sepi. Langkah mereka beriringan, dan di dalam hatinya, Zalleon tahu langkah ini adalah awal dari lembaran baru kehidupannya. Sebuah perjalanan yang entah akan membawanya menuju kedamaian... atau justru badai yang lebih besar. Setibanya guru memasuki kelas, para murid segera duduk dengan tertib. "Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru," ujar sang guru. Beberapa murid langsung bersemangat. "Siapa, Bu?" tanya seorang murid perempuan penuh penasaran. "Seru nih, anak baru!" sahut seorang murid laki-laki. Sang guru tersenyum. "Ayo, Leo, masuklah." Zalleon melangkah masuk dengan tenang. Begitu ia berdiri di depan kelas, beberapa murid tampak terkejut dan berbisik satu sama lain. Tatapan mereka penuh kagum melihat ketampanan dan aura misterius yang dimiliki Zalleon. "Wah, dia sangat tampan!" bisik Sara kepada Lina. "Iya,dia sangat tampan!" Jawab lina teman sebangku sara. "Iya! Sepertinya dia cinta pertamaku!" balas Sara dengan pipi merona. Lina menoleh heran. "Apa kau menyukainya? Bagaimana dengan agra?" "Silakan perkenalkan diri," kata guru. Zalleon mengangguk. "Halo semuanya." "Hallooo!" sahut murid-murid serempak. "Nama saya Leo Aegrev Ravenskay. Kalian bisa panggil saya Leo." "Hai, Leoo!!" seru beberapa murid perempuan dengan antusias. "Wih, keren namanya," komentar salah satu murid laki-laki. Guru tersenyum puas. "Baik, Leo. Silakan duduk di bangku kosong di sebelah Arka." Seorang murid laki-laki yang bernama Arka melambaikan tangan ke arahnya. Zalleon membalas dengan senyum tipis dan berjalan menuju bangkunya. Namun, di tengah perjalanan, dadanya kembali berdenyut sakit. Lagi? Kenapa dadaku terasa sakit lagi ya? pikirnya sambil menekan dadanya sebentar. Ia mengabaikan rasa sakit itu dan segera duduk di kursinya. "Baik, anak-anak, keluarkan buku fisika kalian. Kita lanjutkan pelajaran," kata guru. "Baik, Bu!" jawab para murid serempak, dan pelajaran pun dimulai. Saat pelajaran berlangsung, Zalleon termenung. Ia masih merasakan sakit di dadanya, perasaan yang aneh dan mengganggu. Ia mencoba mengabaikannya, tetapi rasa sakit itu tak kunjung hilang. Tiba-tiba, kata-kata sang cahaya kembali terngiang di benaknya: Malaikat Zalleon, ketahuilah bahwa jika kau berpapasan dengannya, hatimu akan bergetar dan dadamu akan terasa sakit. Itu tanda bahwa kekuatanmu ada padanya. Zalleon terkejut. "Apa?!" serunya dalam hati. Kini ia menyadari bahwa rasa sakit yang ia alami bukanlah hal biasa. Itu adalah tanda bahwa orang yang memegang kekuatan dan lambangnya ada di dekatnya. "Leo! Leo!" suara seseorang membuyarkan lamunannya. Zalleon tersadar dan menoleh. Ternyata Arka, teman sebangkunya, sedang memanggilnya. "Ah, iya?" jawab Zalleon masih sedikit linglung. "Kamu kenapa?" tanya Arka, terlihat sedikit khawatir. "Hmm... Aku nggak apa-apa," jawab Zalleon sambil tersenyum tipis. Arka mengulurkan tangan. "Kenalan dulu dong. Nama aku Arka Aditia Aska. Kamu bisa panggil aku Arka." Zalleon menjabat tangan Arka. "Hai, Arka. Aku Leo Aegrev Ravenskay." "Kamu ada buku fisika, kan? Mana bukumu?" tanya Arka lagi. "Oh iya, hampir lupa." Zalleon buru-buru mengambil bukunya dari dalam tas. "Buka halaman 116," kata Arka. "Oke, Ar," jawab Zalleon sambil membuka buku. Beberapa menit kemudian, bel istirahat berbunyi. Para murid mulai berdiri dan bersiap meninggalkan kelas untuk beristirahat. Dua murid laki-laki yang duduk di depan meja Zalleon berbalik dan menyapanya. "Hai, Leo!" ujar salah satu dari mereka. "Hai, Leo!" sapa yang lainnya. Zalleon tersenyum. "Hai." "Kenalin, nama aku Agra," kata salah satu murid. "Dan aku Saka," tambah yang satunya lagi. "Senang kenal kalian, Agra, Saka," balas Zalleon ramah. Tiba-tiba, Arka menghentakkan tangannya di meja dengan keras. "HAH!" Zalleon, Agra, dan Saka sontak terkejut. "Astaga! Kebiasaan banget lo, Arka!" omel Agra. "Iya, nggak bisa apa kasih aba-aba dulu sebelum bikin orang kaget?!" tambah Saka. Arka hanya terkekeh. "Yaelah, cuman gitu doang. Ayo, Leo, ke kantin!" "Oh, ayo," jawab Zalleon. "Kami ikut dong!" seru Agra. "Gue juga!" tambah Saka. Mereka berempat pun berjalan menuju kantin. Namun, di tengah perjalanan, Zalleon tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang sedang berjalan cepat. Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang, dan seketika dadanya terasa sakit lebih hebat dari sebelumnya. "Leo, kamu kenapa?" tanya Agra, melihat Zalleon yang tiba-tiba berhenti melangkah. "Leo, ada apa?" Arka menatapnya dengan cemas. Zalleon tidak menjawab. Ia berbalik, mencari sosok gadis yang menabraknya. Begitu melihatnya, tanpa berpikir panjang, ia segera berlari mengejarnya. Ia meraih tangan gadis itu, menghentikannya. Saat mata mereka bertemu, waktu terasa berhenti. Suasana di sekitar mereka menjadi mencekam. Tatapan Zalleon tertuju pada tangan gadis itu, dan matanya melebar saat melihatnya. Lambang serta kekuatannya ada di sana. Si gadis tampak terkejut dan segera menarik tangannya dari genggaman Zalleon. "Apa sih?!" ujarnya kesal. Temannya yang berdiri di sampingnya menatap Zalleon dengan aneh. "Lo kenapa sih? Aneh banget!" katanya sinis. Tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan temannya dan mengajaknya pergi. "Ayo, kita pergi. Gak jelas banget orang ini!" Zalleon hanya bisa diam, memperhatikan gadis itu menjauh. Ia yakin, gadis itulah yang memegang kekuatannya. Di saat itu, Arka, Agra, dan Saka yang melihat kejadian tadi semakin bingung. "Leo, ada apa sebenarnya?" tanya Arka penasaran. Namun, Zalleon tetap diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia akhirnya menemukan orang yang ia cari, tapi apa yang harus ia lakukan sekarang? BERSAMBUNGUdara pagi masih terasa dingin saat Zira melangkah menuju sekolah. Bayangan kejadian kemarin, tatapan Zalleon dan sikapnya, masih belum sepenuhnya hilang dari pikirannya. Namun hari ini bukan hari untuk hanyut dalam perasaan. Hari terakhir ujian akhirnya tiba. Meski langit tampak mendung, suasana di sekolah justru terasa lebih ringan. Wajah-wajah murid terlihat lega, beberapa bahkan sudah mulai berbincang santai tentang liburan, study tour, atau rencana berkumpul bersama teman. Jam ujian pun berlangsung hingga akhirnya mendekati akhir. Zira duduk di bangkunya, menyelesaikan soal terakhir dengan fokus. Setelah yakin, ia meletakkan pensilnya perlahan dan menatap jendela kelas sejenak. “Akhirnya… selesai juga,” gumamnya, diiringi hembusan napas panjang. “Zira!” panggil Manda dari barisan belakang. “Kamu dengar nggak, kabarnya pengumuman study tour ditempel hari ini!” Zira menoleh, matanya berbinar. “Serius? Emang ke mana sih?” "Katanya sih ke Pulau Seruni. Ada pantai, bukit, dan vi
Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Zira, menyapu perlahan wajahnya yang masih lelap. Dentingan jam weker di samping ranjang membangunkannya. Dengan malas, Zira mengusap wajahnya lalu duduk di tepi ranjang. Hari ini adalah hari ujian, dan seperti biasa, dia bersiap lebih awal. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah, Zira berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang masih sedikit lembap. Saat hendak berbalik, pandangannya tiba-tiba tertahan pada sebuah benda di atas meja belajarnya. Sebuah kaca spion motor. Kaca spion milik Brayen. Zira terdiam sejenak, menatap benda itu dengan perasaan yang tak nyaman, rasa bersalah bercampur khawatir yang perlahan mengendap di dadanya. "Aduh... gimana aku ngembaliin ini? Apa Brayen bakal marah?" gumamnya pelan sambil menghela napas berat. Jantungnya berdegup tak tenang. Kecemasan mulai merayap, membentuk kepanikan kecil dalam dirinya. Ia lalu membuka tasnya dan dengan hati-hati memasukkan kaca spion itu
Suasana kelas menjadi hening, hanya terdengar suara gesekan pena di atas kertas ujian dan detak jarum jam di dinding. Zira mencoba fokus, tapi pikirannya masih saja berputar pada luka di wajah Zalleon. Sekilas, ia melirik ke belakang, melihat Zalleon yang duduk dengan tenang, tapi jelas terlihat lelah. Zira menghela napas, mencoba mengalihkan pikirannya kembali ke soal. Beberapa menit berlalu, dan akhirnya kringgg! Bel pulang berbunyi nyaring, memecah kesunyian ruangan. Para siswa mulai merapikan kertas ujian dan perlengkapan mereka. Zira juga perlahan memasukkan bukunya ke dalam tas, bersama pulpen dan penghapus yang tadi ia pakai. Saat ia hendak berdiri dari bangku, tiba-tiba ada bayangan berdiri di depannya. Zira mendongak. Itu Zalleon. Jantungnya langsung berdegup cepat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Masih ada amarah kecil yang tersisa dari pagi tadi, tapi juga ada kekhawatiran dan rindu yang diam-diam menyelusup ke dalam hatinya. Zalleon menatapnya lembut dan berkata pe
Langkah kaki Brayen terdengar berat dan teratur saat ia meninggalkan taman sekolah. Wajahnya tak lagi menampilkan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan pada semua orang. Kali ini, ada sesuatu yang mengendap dalam tatapannya, gelap, dan menyimpan maksud tersembunyi. Tujuannya jelas: menemui Zalleon. Zalleon berdiri di balkon atap sekolah, sendirian. Angin siang berhembus lembut, mengusap rambut hitamnya yang berkilau diterpa cahaya matahari. la menatap langit luas, mencoba menenangkan dadanya yang sesak setelah perbincangannya dengan Zira. Hatinya gelisah, pikirannya penuh dengan kekhawatiran yang tak bisa ia ungkapkan. Tiba-tiba... "Krekk-" Suara pintu atap terbuka memecah keheningan. Zalleon menoleh cepat. Tatapannya langsung berubah tajam. Di sana, berdiri sosok yang tak asing, Brayen. Brayen melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa berat dan penuh maksud. Pandangannya tajam menembus udara yang terasa kian menegang. Mereka berdiri saling menatap, membiarkan diam menggantung
Suara alarm ponsel Zira berbunyi pelan, membangunkannya. la membuka mata, menatap langit-langit kamarnya yang kelabu. Dua hari libur sudah berakhir, dan hari ini... ujian dimulai. Zira bangkit, duduk di tepi ranjang, dan menarik napas dalam-dalam. Hatinya sedikit tegang, pikirannya sibuk membayangkan hari yang akan dimulai. Meski begitu, ada rasa aneh yang menggelitik, sebuah perasaan bahwa hari ini tidak akan berjalan seperti biasanya. Ia pun beranjak ke kamar mandi, bersiap seperti biasa. Setelah itu, Zira mengenakan seragam sekolahnya, merapikan rambut, lalu menatap pantulan dirinya di cermin sejenak. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan kegelisahan yang sulit dijelaskan. “Zira, sudah bangun? Sarapan dulu, Nak,” terdengar suara Ibu dari bawah. “Iya, Bu!” sahutnya sambil meraih tas. Setelah sarapan, Zira mengenakan sepatu dan menggantungkan tas di bahunya. Ia melangkah keluar rumah, membuka pagar perlahan. Namun baru saja kakinya menjejak ke luar, langkahnya mendadak t
Zalleon akhirnya tiba di pantai itu. Ia memarkirkan motornya tak jauh dari tempat pengunjung lain. Saat membuka helm dan turun, matanya langsung menangkap sesuatu sebuah motor yang sangat ia kenal. "Motor itu... milik Brayen," gumamnya, tajam. Tanpa pikir panjang, Zalleon langsung berlari menyusuri pantai. Matanya menelisik ke segala arah, mencari sosok Zira dan Brayen. Angin pantai menerpa rambutnya, langkahnya cepat dan dipenuhi kecemasan. Hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada dua orang yang sedang berjongkok di atas pasir. Zira. Gadis itu tertawa riang di samping Brayen. Mereka sedang membuat istana pasir bersama. Wajah Zira tampak sangat bahagia, senyumnya lepas, matanya bersinar. Pemandangan itu menusuk perasaan Zalleon seperti sembilu. Ia terdiam. Napasnya terhembus berat. Ada rasa tak nyaman yang menyeruak dalam dadanya campuran antara cemburu dan rasa kehilangan. Tangannya mengepal, langkahnya ingin maju, ingin menghampiri mereka, ingin membawa Zira pergi dari sana.







