LOGINKeesokan harinya, tepat pukul 06.00 pagi, Zalleon terbangun dari tidurnya. Dengan mata masih sedikit berat, ia bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia mengenakan seragam sekolah dan bersiap-siap untuk berangkat. Namun, saat hendak melangkah keluar dari rumah, tiba-tiba ia terdiam.
Sesuatu terlintas di benaknya sesuatu yang membuat langkahnya tertunda sejenak. "Oh iya, aku seharusnya membawa motor hari ini!" katanya sambil berpikir. "Tapi aku tidak punya motor." Kebingungan melanda dirinya, tetapi kemudian ia teringat bahwa sang Cahaya bisa memberinya apa pun yang ia butuhkan. Tanpa ragu, ia memanggilnya. "Cahaya, keluarlah! Aku ingin meminta bantuanmu!" Seketika, sang Cahaya muncul di hadapannya. "Cahaya, tolong berikan aku sebuah motor seperti yang biasa digunakan manusia," pinta Zalleon. "Baiklah, Malaikat Zalleon," jawab sang Cahaya. Dalam sekejap, cahaya terang menyelimuti ruangan, dan sebuah motor sport ZX-25R muncul di hadapan Zalleon. Ia terperangah melihatnya. "Wah! Motor ini luar biasa! Terima kasih, Cahaya." "Sama-sama, Malaikat Zalleon," jawab sang Cahaya sebelum menghilang. Zalleon segera mengenakan helm dan menaiki motornya. Namun, ada satu masalah-ia tidak tahu cara menggunakannya. "Bagaimana cara menjalankan kendaraan ini?" gumamnya sambil melihat-lihat motor itu. Tanpa sengaja, tangannya memutar gas, dan motor itu melaju dengan kencang, membuatnya hampir terjatuh. "Oh!" serunya kaget. "Ternyata ini cara menggerakkannya!" Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya ia bisa mengendarainya dengan baik. Beberapa menit kemudian, ia sudah tiba di sekolah dan memarkir motornya di area parkir. Saat itu, Arka datang dan menyapanya. "Leo!" panggil Arka. Zalleon membuka helmnya. "Eh, Ar!" balasnya. Arka menatap motor Zalleon dengan penuh kekaguman. "Motor lo keren banget!" Zalleon tersenyum. "Ah, biasa aja, Ar. Udah, ayo masuk. Sebentar lagi bel masuk." Mereka pun berjalan menuju kelas. Sesampainya di depan pintu kelas, Zalleon melihat Zira yang juga sedang menatapnya. Namun, ia tak berkata apa-apa dan langsung menuju bangkunya. Tak lama kemudian, bel berbunyi, menandakan dimulainya pelajaran. Guru olahraga mereka, Pak Tomi, masuk ke dalam kelas. "Baik, anak-anak, sebelum kita mulai, saya akan absen. Yang tidak membawa baju olahraga akan saya buat alpa!" ucap Pak Tomi. "Baik, Pak!" jawab para murid serentak. Di tengah suasana itu, Arka menoleh ke arah Zalleon. "Leo, lo bawa baju olahraga nggak?" Zalleon terdiam sejenak. "Aduh, gue lupa bawa!" "Wah, gimana nih? Lo bisa-bisa dibuat alpa!" Namun, Arka tiba-tiba memperhatikan tas Zalleon. "Eh, tapi kok tas lo gembung banget?" Zalleon membuka tasnya dan menemukan baju olahraga di dalamnya. Ia terkejut. "Loh? Kok ada di sini? Siapa yang menaruh ini?" pikirnya dalam hati. "Itu kan baju olahraga lo? Lo bohong tadi!" kata Arka. "Gue nggak bohong, Ar! Mungkin gue lupa," kilah Zalleon, meskipun dalam hatinya ia masih bertanya-tanya. Setelah absen selesai, Pak Tomi menginstruksikan semua murid untuk berganti pakaian olahraga Setelah semua murid berganti pakaian, mereka menuju lapangan untuk pemanasan. Pak Tomi meminta seseorang untuk memimpin pemanasan, tetapi tak ada yang mau. "Baiklah, Agra! Kamu yang pimpin pemanasan!" perintah Pak Tomi. "Yaelah, Pak. Saya lagi?" keluh Agra, tetapi ia tetap maju. Saat pemanasan berlangsung, Zalleon kembali melirik Zira. Ia berpikir bagaimana cara mendekatinya untuk mengambil kembali kekuatannya. Namun, ia terlalu asyik melamun hingga tak menyadari kehadiran Pak Tomi di belakangnya. Plak! Sebuah buku mengenai kepalanya. "Aduh!" Zalleon kaget. "Apa yang kau pikirkan,leo?!" tegur Pak Tomi. "Eh, tidak ada, Pak!" jawabnya gugup. Para murid langsung tertawa melihat kejadian itu, sementara Zalleon hanya bisa tersenyum canggung. Setelah pemanasan selesai, dan Pak Tomi mengumumkan bahwa mereka akan bermain dalam permainan berpasangan. "Kalian akan bermain dalam tim berpasangan, satu laki-laki dan satu perempuan. Kaki kalian akan diikat bersama, dan kalian harus berlari ke garis finis. Pasangan yang mencapai garis finis lebih dulu akan menang!" jelas Pak Tomi. Dan Semua murid mulai mencari pasangan masing-masing. Tanpa ragu, Zalleon langsung menghampiri Zira. "Zira, mau jadi pasanganku?" tanyanya. Zira berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah." Zalleon tersenyum senang. Namun, tiba-tiba seorang murid perempuan bernama Sara menghampiri mereka. "Leo, berpasanganlah denganku," kata Sara sambil tersenyum manis. Zalleon menatapnya sebentar, lalu menjawab, "Maaf, aku sudah berpasangan dengan Zira." Sara tampak kecewa dan melirik Zira dengan sinis sebelum pergi mencari pasangan lain. Permainan pun dimulai dengan beberapa pasangan pertama yang berlomba lebih dulu. Sorak-sorai murid-murid menggema di lapangan. "Ayo, Lina!" teriak Sara. "Arka, semangat!" tambah Agra. Saat perlombaan berlangsung, tiba-tiba pasangan Arka dan Lina terjatuh. "Yah, gimana sih!" protes Saka. "Itu gara-gara lo, Lina!" seru Arka. "Apaan sih! Lo yang nggak bisa jaga keseimbangan!" balas Lina, kesal. Mereka akhirnya bangkit dan melanjutkan perlombaan. Akhirnya, pasangan Gibran dan Arin berhasil mencapai garis finis terlebih dahulu. "Selamat untuk Gibran dan Arin!" kata Pak Tomi. Para murid bersorak menyambut kemenangan mereka. Zalleon, yang masih bersama Zira, kembali berpikir keras. "Bagaimana cara mendekatinya? Aku harus menemukan cara untuk mendapatkan kekuatanku kembali," gumamnya dalam hati. Setelah pasangan pertama menyelesaikan perlombaan, kini giliran pasangan berikutnya, termasuk Zalleon dan Zira. Pak Tomi mengangkat peluitnya, bersiap memberikan aba-aba. "Baik, pasangan berikutnya bersiap di garis start!" seru Pak Tomi. Zalleon dan Zira berdiri berdampingan, kaki mereka diikat bersama. Zalleon melirik Zira yang tampak sedikit gugup. "Kamu siap?" tanya Zalleon pelan. Zira mengangguk, "Aku akan mencoba yang terbaik." Pak Tomi meniup peluitnya, menandakan permainan dimulai. Zalleon dan Zira langsung mencoba menyamakan langkah mereka, tetapi di awal, Zira hampir terjatuh. "Pelan-pelan, ikuti ritme langkahku," bisik Zalleon, meraih tangan Zira untuk menjaga keseimbangan. Zira mengangguk dan mencoba menyesuaikan langkahnya dengan Zalleon. Perlahan-lahan, mereka mulai berlari lebih stabil. Sorakan dari para murid semakin keras. "Ayo Zira! Ayo Leo!" teriak saka dan arka dari kejauhan. "Ayo Zira!" teriak Manda dan Lia dari kejauhan. Namun, tak lama kemudian, pasangan lain mulai menyusul mereka. Zira merasa panik dan mencoba berlari lebih cepat, tetapi itu malah membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia nyaris jatuh jika saja Zalleon tidak dengan sigap menahannya. "Jangan terburu-buru, tetap fokus pada ritme," kata Zalleon dengan suara tenang. Zira mengambil napas dalam dan mencoba menyesuaikan diri kembali. Mereka kembali melangkah serempak dan kini berada di posisi kedua, hanya sedikit tertinggal dari pasangan dika dan sara Saat mereka semakin dekat dengan garis finish, Zalleon melihat ada batu kecil di lintasan. Jika Zira tidak hati-hati, ia bisa tersandung. "Zira, hati-hati!" seru Zalleon sambil menggenggam tangan Zira lebih erat. Zira mengerti maksudnya dan sedikit melompat, menghindari batu itu. Mereka terus berlari dengan kecepatan yang lebih stabil. Kini jarak mereka dengan pasangan dika dan sara semakin dekat. Semua murid bersorak riuh, menyemangati kedua pasangan yang nyaris bersamaan mencapai garis finish. Dengan semangat yang membara, Zalleon dan Zira akhirnya melintasi garis finish terlebih dahulu, meninggalkan Dika dan Sara beberapa langkah di belakang. "Dan pemenangnya adalah pasangan Leo dan Zira!" seru Pak Tomi lantang. "Kemenangan mutlak! Dika dan Sara nyaris saja menang, tapi kali ini mereka belum berhasil mengalahkan pasangan juara!" Zalleon dan Zira tersenyum kelelahan, tetapi mereka puas dengan hasilnya. "Kamu hebat," kata Zalleon sambil tersenyum. Zira tersenyum kecil, "Kamu juga. Terima kasih sudah membantuku tadi." Di kejauhan, Sara melihat interaksi mereka dengan tatapan kesal. Sementara itu, Zalleon merasa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang lebih dalam tentang Zira, sesuatu yang harus ia cari tahu lebih lanjut... BERSAMBUNGUdara pagi masih terasa dingin saat Zira melangkah menuju sekolah. Bayangan kejadian kemarin, tatapan Zalleon dan sikapnya, masih belum sepenuhnya hilang dari pikirannya. Namun hari ini bukan hari untuk hanyut dalam perasaan. Hari terakhir ujian akhirnya tiba. Meski langit tampak mendung, suasana di sekolah justru terasa lebih ringan. Wajah-wajah murid terlihat lega, beberapa bahkan sudah mulai berbincang santai tentang liburan, study tour, atau rencana berkumpul bersama teman. Jam ujian pun berlangsung hingga akhirnya mendekati akhir. Zira duduk di bangkunya, menyelesaikan soal terakhir dengan fokus. Setelah yakin, ia meletakkan pensilnya perlahan dan menatap jendela kelas sejenak. “Akhirnya… selesai juga,” gumamnya, diiringi hembusan napas panjang. “Zira!” panggil Manda dari barisan belakang. “Kamu dengar nggak, kabarnya pengumuman study tour ditempel hari ini!” Zira menoleh, matanya berbinar. “Serius? Emang ke mana sih?” "Katanya sih ke Pulau Seruni. Ada pantai, bukit, dan vi
Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Zira, menyapu perlahan wajahnya yang masih lelap. Dentingan jam weker di samping ranjang membangunkannya. Dengan malas, Zira mengusap wajahnya lalu duduk di tepi ranjang. Hari ini adalah hari ujian, dan seperti biasa, dia bersiap lebih awal. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah, Zira berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang masih sedikit lembap. Saat hendak berbalik, pandangannya tiba-tiba tertahan pada sebuah benda di atas meja belajarnya. Sebuah kaca spion motor. Kaca spion milik Brayen. Zira terdiam sejenak, menatap benda itu dengan perasaan yang tak nyaman, rasa bersalah bercampur khawatir yang perlahan mengendap di dadanya. "Aduh... gimana aku ngembaliin ini? Apa Brayen bakal marah?" gumamnya pelan sambil menghela napas berat. Jantungnya berdegup tak tenang. Kecemasan mulai merayap, membentuk kepanikan kecil dalam dirinya. Ia lalu membuka tasnya dan dengan hati-hati memasukkan kaca spion itu
Suasana kelas menjadi hening, hanya terdengar suara gesekan pena di atas kertas ujian dan detak jarum jam di dinding. Zira mencoba fokus, tapi pikirannya masih saja berputar pada luka di wajah Zalleon. Sekilas, ia melirik ke belakang, melihat Zalleon yang duduk dengan tenang, tapi jelas terlihat lelah. Zira menghela napas, mencoba mengalihkan pikirannya kembali ke soal. Beberapa menit berlalu, dan akhirnya kringgg! Bel pulang berbunyi nyaring, memecah kesunyian ruangan. Para siswa mulai merapikan kertas ujian dan perlengkapan mereka. Zira juga perlahan memasukkan bukunya ke dalam tas, bersama pulpen dan penghapus yang tadi ia pakai. Saat ia hendak berdiri dari bangku, tiba-tiba ada bayangan berdiri di depannya. Zira mendongak. Itu Zalleon. Jantungnya langsung berdegup cepat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Masih ada amarah kecil yang tersisa dari pagi tadi, tapi juga ada kekhawatiran dan rindu yang diam-diam menyelusup ke dalam hatinya. Zalleon menatapnya lembut dan berkata pe
Langkah kaki Brayen terdengar berat dan teratur saat ia meninggalkan taman sekolah. Wajahnya tak lagi menampilkan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan pada semua orang. Kali ini, ada sesuatu yang mengendap dalam tatapannya, gelap, dan menyimpan maksud tersembunyi. Tujuannya jelas: menemui Zalleon. Zalleon berdiri di balkon atap sekolah, sendirian. Angin siang berhembus lembut, mengusap rambut hitamnya yang berkilau diterpa cahaya matahari. la menatap langit luas, mencoba menenangkan dadanya yang sesak setelah perbincangannya dengan Zira. Hatinya gelisah, pikirannya penuh dengan kekhawatiran yang tak bisa ia ungkapkan. Tiba-tiba... "Krekk-" Suara pintu atap terbuka memecah keheningan. Zalleon menoleh cepat. Tatapannya langsung berubah tajam. Di sana, berdiri sosok yang tak asing, Brayen. Brayen melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa berat dan penuh maksud. Pandangannya tajam menembus udara yang terasa kian menegang. Mereka berdiri saling menatap, membiarkan diam menggantung
Suara alarm ponsel Zira berbunyi pelan, membangunkannya. la membuka mata, menatap langit-langit kamarnya yang kelabu. Dua hari libur sudah berakhir, dan hari ini... ujian dimulai. Zira bangkit, duduk di tepi ranjang, dan menarik napas dalam-dalam. Hatinya sedikit tegang, pikirannya sibuk membayangkan hari yang akan dimulai. Meski begitu, ada rasa aneh yang menggelitik, sebuah perasaan bahwa hari ini tidak akan berjalan seperti biasanya. Ia pun beranjak ke kamar mandi, bersiap seperti biasa. Setelah itu, Zira mengenakan seragam sekolahnya, merapikan rambut, lalu menatap pantulan dirinya di cermin sejenak. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan kegelisahan yang sulit dijelaskan. “Zira, sudah bangun? Sarapan dulu, Nak,” terdengar suara Ibu dari bawah. “Iya, Bu!” sahutnya sambil meraih tas. Setelah sarapan, Zira mengenakan sepatu dan menggantungkan tas di bahunya. Ia melangkah keluar rumah, membuka pagar perlahan. Namun baru saja kakinya menjejak ke luar, langkahnya mendadak t
Zalleon akhirnya tiba di pantai itu. Ia memarkirkan motornya tak jauh dari tempat pengunjung lain. Saat membuka helm dan turun, matanya langsung menangkap sesuatu sebuah motor yang sangat ia kenal. "Motor itu... milik Brayen," gumamnya, tajam. Tanpa pikir panjang, Zalleon langsung berlari menyusuri pantai. Matanya menelisik ke segala arah, mencari sosok Zira dan Brayen. Angin pantai menerpa rambutnya, langkahnya cepat dan dipenuhi kecemasan. Hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada dua orang yang sedang berjongkok di atas pasir. Zira. Gadis itu tertawa riang di samping Brayen. Mereka sedang membuat istana pasir bersama. Wajah Zira tampak sangat bahagia, senyumnya lepas, matanya bersinar. Pemandangan itu menusuk perasaan Zalleon seperti sembilu. Ia terdiam. Napasnya terhembus berat. Ada rasa tak nyaman yang menyeruak dalam dadanya campuran antara cemburu dan rasa kehilangan. Tangannya mengepal, langkahnya ingin maju, ingin menghampiri mereka, ingin membawa Zira pergi dari sana.







