MasukHan Yuram yang hidup di zaman modern tiba tiba saja terbangun di zaman Dinasti Joseon dan dalam tubuh seorang pendekar wanita bernama sama dengannya. Dari gadis yang lemah, kini ia menjelma jadi sosok gadis yang kuat dan juga tangguh untuk menjaga Lembah Air terjun Suci dari para gumiho yang berusaha untuk menguasainya. Dalam perjalanan, misteri dari legenda batu merah suci yang sudah menghilang 1000 tahun lamanya--juga harus dipecahkannya! Lantas, berhasilkah Han Yuram?
Lihat lebih banyakHhhh . . . hhh . . .hhh
Bai Lu terlihat berlari begitu cepat ketika ia berusaha untuk menghindari dari serangan para gumiho, yang sejak tadi tak pernah lelah untuk mengejarnya. Napasnya yang tersendat-sendat, membuatnya beberapa kali mulai terlihat kehilangan arah, dan hampir terjatuh beberapa kali, saat para gumiho itu berusaha untuk menangkapnya."Aishhhh, kenapa mereka masih saja terus mengejarku!!" Bai Lu terus saja berlari dan berusaha untuk menghindari kejaran dari para gumiho itu, di mana para gumiho atau siluman rubah berekor sembilan itu, secara terus-menerus mengejarnya tanpa lelah.Sambil melirik ke arah belakang beberapa kali, Bai Lu semakin mempercepat langkah kakinya."Tinggalkan aku sendirian!!" teriaknya begitu keras hingga membuatnya tanpa sengaja tersandung sebuah batu besar yang berada di depannya, dan terjatuh tepat di atas tanah yang penuh dengan genangan air.Brukkk . . . Bai Lu terjatuh menelungkup di atas tanah berair itu. Seluruh tubuhnya basah kuyup, wajahnya pun berlumuran lumpur, hingga membuatnya tak sengaja memakan tanah hitam yang penuh dengan kotoran itu."Serahkan batu merah suci itu kepadaku, atau kau akan mati sekarang juga!" Siluman rubah itu mendekati Bai Lu dan terus menyakitinya dengan sisik rubah miliknya yang sengaja ia lemparkan ke arahnya, hingga membuat kulit tubuh Bai Lu yang terkena sisik rubah itu berdarah."Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?" Bai lu berusaha melepaskan diri dari jeratan para gumiho itu, seraya merangkak mundur dengan kedua bola mata yang masih menatap ke arah gumiho-gumiho yang mencoba menyakitinya."Kau gadis bodoh!!"Siluman rubah itu langsung terbang melayang ke arahnya dan mencoba untuk mencekik lehernya, hingga membuat ia sulit untuk bernapas. Dengan kedua bola matanya yang mulai memerah dan hampir kehilangan napasnya, gumiho itu mengangkat tubuh mungil Bai Lu begitu tinggi, dan mendorongnya dengan begitu cepat ke arah air terjun suci."Serahkan batu merah suci itu sekarang juga, atau aku lempar kau ke dalam air terjun suci ini!""A . . .ak . .. akk . . . aku tidak mengerti maksud perkataanmu." Bai Lu menjawab dengan tenggorokannya yang mulai tercekik perih."Kau sama sekali tidak berguna, lebih baik aku bunuh saja kau!"Siluman rubah itu langsung menghempaskan tubuh Bai Lu ke bawah, hingga membuatnya terjatuh ke dalam air terjun suci itu, kemudian tenggelam."Tidakkkkkk!!" teriak Bai Lu begitu keras sambil memegang lehernya yang terasa panas dan juga perih.Mendengar teriakan anaknya di dalam kamar, tampak wanita separuh baya yang sedang berada di dapur, langsung masuk ke dalam sebuah kamar yang dipenuhi dengan big poster boy band terkenal di Korea Selatan pada zamannya."Lulu, kau kenapa, Nak? Lu, kau baik-baik saja?""Ibu? Aku masih hidup, kan?" seru Bai Lu yang langsung memeluk ibunya begitu ia melihat sang ibu datang, saat ia terbangun dari tidurnya, dengan keadaan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya."Kamu pasti mimpi buruk, yah? Apa karena semalam kau menonton film gumiho, maka dari itu kamu bermimpi buruk sampai berkeringat dingin seperti ini?" tanya sang ibu sambil menatap wajah anaknya, kemudian memegang kedua pipi Bai Lu dengan lembut."Mungkin seperti itu, Bu." Bai Lu menghela napas pendek.Choi Bai Lu. Gadis berusia 23 tahun itu langsung menyeka keringatnya dengan tangan kanannya, ketika ia terbangun dari mimpi buruknya itu. Choi Bai Lu adalah gadis keturunan Korea - Taiwan yang sudah hampir 13 tahun terakhir ini tinggal bersama ibunya di Korea Selatan.Semenjak ayahnya meninggal 13 tahun yang lalu, Bai Lu beserta ibunya langsung meninggalkan negara yang menjadi kampung halaman ayahnya itu, kemudian tinggal bersama ibunya di negara asalnya.Bai Lu adalah sosok gadis yang lemah dan penyendiri. Ia tidak pernah banyak berbicara karena sedikit pendiam. Namun, di balik karakternya yang pendiam, ia sangat suka menonton serial-serial kolosal, dan juga horor seperti cerita gumiho yang melegenda di Korea, meski sebenarnya dia adalah gadis yang sangat penakut."Cepat bangun, apa kau tidak akan pergi bekerja?" tanya sang ibu sambil berdiri dan membuka gorden kamar anaknya yang berwarna biru menyala."Iya, aku mau mandi dulu, Bu."Bai Lu langsung mengambil handuk bermotif polkadot miliknya yang berada di atas kursi dekat meja belajarnya, kemudian ia langsung begegas pergi menuju kamar mandi yang tak jauh dari kamar tidur. Saat sedang mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya di atas shower, tiba-tiba saja ada sebuah tatto yang muncul di dekat punggungnya.Tatto itu berwarna biru tua dan seperti bertuliskan huruf tagalog yang terlihat samar-samar untuk di baca. Sebelumnya, Bai Lu sama sekali tak bertatto. Tapi, semenjak bermimpi dikejar-kejar oleh gumiho tadi malam, tatto itu tiba-tiba saja ada di punggungnya yang berada didekat bahu kiri."Apa ini? Kenapa tiba-tiba saja ada tatto seperti ini didekat punggungku?" gumamnya pelan sambil memegang sebuah tatto yang berada di bahu kirinya.Setelah selesai mandi dan sarapan bersama ibunya, Bai Lu langsung bergegas pergi untuk bekerja. Sambil mengendarai motornya, ia masih terlihat bingung dan ketakutan akibat mimpi buruknya itu."Mimpi itu benar-benar seperti kenyataan. Kenapa aku tiba-tiba bisa bermimpi dikejar-kejar gumiho? Padahal, biasanya tidak pernah aku bermimpi seperti itu, bahkan aku hampir saja terbunuh di dalam mimpiku itu. Ini sangat aneh sekali."Banyak sekali pertanyaan didalam pikirannya itu. Namun, ia harus tetap fokus mengendarai motornya, karena kalau saja ia sampai tak fokus mengendarai motornya, ia bisa terjatuh dari motor dan mengalami kecelakaan fatal.Saat di perjalanan menuju tempat kerja, Bai Lu tidak sengaja melihat seorang perempuan berdiri di dekat sebuah jembatan, seperti hendak melakukan percobaan bunuh diri."Apa yang sedang dilakukan perempuan itu?" gumam Bai Lu pelan sambil melirik ke arah seorang perempuan yang terlihat putus asa itu, berdiri di dekat jembatan.Karena itu sangat menganggu pikirannya dan pandangan matanya, Bai Lu langsung memberhentikan motornya di tepi jalan, kemudian berlari dan mencoba untuk menghentikan perempuan yang hendak melakukan percobaan bunuh diri itu."Hey, apa yang kau lakukan? Jangan coba-coba untuk melompat ke bawah!!" teriak Bai Lu berusaha untuk menghentikan perempuan cantik itu untuk bunuh diri.Perempuan itu sempat menoleh ke arahnya. Ia tersenyum tipis dan bersiap-siap untuk melompat. Melihat hal tersebut, Bai Lu langsung berlari begitu kencang, dan berusaha untuk menangkap perempuan itu, agar ia tidak melompat dan terjatuh ke dasar sungai yang berada tepat di bawah jembatan tersebut.Namun nahas, Bai Lu yang berniat mencoba untuk menghentikan aksi bunuh diri itu, malah ikut terjerembab dan terjatuh ke sungai bersama perempuan itu."Tidakkkkk!!" teriaknya kemudian tenggelam bersama perempuan itu di sungai Han.Langit belum sepenuhnya cerah ketika mereka beristirahat sejenak di kaki bukit yang tertutup kabut tipis. Di kejauhan, puncak gunung tertinggi menjulang menembus awan tempat menurut catatan kuno, gerbang menuju kediaman Samjoko tersembunyi. Bai Lu membuka peta tua yang terlipat rapi di balik jubahnya, jemarinya melacak garis-garis samar yang tertulis dengan tinta keemasan. “Perjalanan ke sana bukan hal yang mudah,” ucapnya pelan, suaranya terdengar serius, “jalan itu tak terlihat oleh siapa pun yang hatinya penuh keraguan. Cuma mereka yang tujuannya murni yang dapat melihatnya.” “Dan bagaimana kalau Aeshin menghalangi jalan itu?” tanya Rim, ia masih memeriksa pedangnya, seolah takut kekuatan yang baru muncul itu akan hilang kembali. “Kita akan bertarung lagi,” jawab Yeon tenang. “Bersama-sama.” Jochen berdiri sedikit terpisah, menatap ke arah timur di mana kabut perlahan menyebar. Kerut samar muncul di keningnya, “ada hal lain yang perlu kalian ketahui,” ucapnya tiba-tiba, membu
Bunyi benturan pedang menggelegar di udara, memecah langit yang perlahan berubah kelabu kelam. Pasukan Segye terus berdatangan, sosok-sosok berjubah gelap dengan mata yang menyala merah padam untuk membakar niat jahat di baliknya. Mereka bergerak serempak, bagai ombak tak bertepi yang hendak menelan tanah tempat para pendekar berdiri. Ling Fei menggenggam gagang pedangnya erat, jemarinya memutih menahan tegang. “Mereka makin banyak,” bisiknya. Bai Lu melangkah maju, tatapannya tajam menatap lautan musuh yang semakin mendekat. “Jangan biarkan mereka memecah barisan! Tetap berdekatan! Kekuatan kita terjaga jika kita tidak terpisahkan!” serunya lantang. Di garis depan, Yeon dan Rim bertarung berdampingan. Setiap ayunan pedang mereka memancarkan cahaya yang berbeda yang satu keemasan, yang satu lagi perak namun bergerak dalam irama yang sama. Rim menangkis serangan tiga prajurit sekaligus, tubuhnya berputar lincah, sementara Yeon melesat maju memutus jalur mereka mundur. “Tampaknya
"Ada apa, Yuram? Kenapa kau menatap ke arah Yeon dan juga Rim?" Ling Fei menatap ke arah saudaranya yang tengah memandangi Yeon dan juga Rim ketika sedang bertempur dengan pasukan Segye yang mulai menyerang.Bai Lu kembali menatap wajah Ling Fei yang terlihat bingung begitu ia menatapnya. "Fei~ah, aku tak tahu apa aku harus mengatakan ini kepadamu atau tidak. Tapi, aku harus mengatakan hal ini kepadamu."Ekspresi wajah pendekar pedang itu terlihat serius. Ia menatap wajah saudaranya begitu dalam hingga membuat yang ditatap merasa khawatir dan juga gugup."Apa maksudmu?" Ling Fei terlihat bingung.Bai Lu menggenggam kedua tangan Ling Fei dengan begitu erat dan menatap kedua bola matanya dengan tajam."Yeon dan juga Rim memiliki kekuatan yang begitu istimewa, Fei~ah. Kekuatan mereka akan bertambah tiga kali lipat jika mereka terbakar api emosi dan sama-sama menyerang lawan mereka secara bersama-sama.""Mereka berdua?" Ling Fei menatap ke arah Yeon dan juga Rim. Saudaranta menganggukkan
"Apa kematian itu akan menghampiri kita?" tanya Sora kembali yang merasa mulai takut dengan jawaban Bai Lu barusan."Setiap hal yang kita lakukan akan selalu berjumpa dengan maut, Sora~shii," tutur Bai Lu menjawab sambil menatap wajah Sora dengan begitu lekat.Kang Sora mengalihkan pandangan matanya. Rasa ragu dan kecemasan yang selama ini menyelimutinya mulai muncul kembali."Aku tidak bisa berjumpa dengan maut sebelum aku berhasil mencapai tujuan hidupku, Yuram~shii."Bai Lu berjalan menghampiri Sora dan memegang bahu kanannya."Tujuan hidupmu akan tercapai, Sora~shii. Percayalah padaku. Tapi, kau juga harus ingat karena saat ini kau adalah bagian dari ke -11 pendekar Keabadian. Dan, itu artinya kau juga harus menjalankan kewajibanmu untuk menyelesaikan tugasmu."Saat Bai Lu dan Sora sedang berbicara, tiba-tiba saja angin ribut muncul dan menerbangkan apapun yang berada di sekitarnya dengan begitu kencang."Apa itu?" teriak Yeon sambil menutupi wajahnya dengan tangan kanannya."Pasu
Jinhwan begitu takjub saat melihat para pendekar Keabadian mulai memperlihatkan identitas asli mereka di sungai Ohi. Bahkan, saat air terjun itu membentuk 11 air terjun yang melingkar, para Dewa di atas langit mulai bermunculan dan menampakkan wujud mereka, serta memberikan restu mereka dengan menga
Semenjak pertarungan dengan suku Moguya dan menghilangnya suku Moguya menjadi serpihan cahaya, Jochen, Kangchul, Kang Sora, dan Jinhwan mulai mengikuti perjalanan Bai Lu dan teman-temannya ke arah Barat untuk bertemu Ogumsha dan mencari batu merah suci.Bai Lu dan juga teman-temannya yang lain pun mu
"Tunggu dulu, Kang Sora. Aku harus menelaah setiap kalimat yang kau lontarkan padaku. Apa maksud perkataanmu yang mengatakan bahwa adikmu bersama Wonam?" tanya Bai Lu yang masih tak mengerti hingga membuat Taeshin dengan yang lainnya menghampiri ke arah mereka berdua."Ada apa, Yuram? Apa ada masalah
Setelah ke-7 pendekar berhasil mendapat bola Kristal Kebersamaan Dewa, mereka terlihat seperti merenungkan sesuatu. Merasa memiliki kesempatan emas untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu, mereka tampak memandangi bola kristal mereka dengan rasa penyesalan yang teramat dalam."Kenapa mereka berek






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan