Beranda / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 63: Meleburkan Semua Hasrat

Share

Bab 63: Meleburkan Semua Hasrat

Penulis: Salwa Maulidya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 00:59:20

Jane melangkah pelan menghampiri Brian yang masih berdiri di depan pintu unit apartemennya.

Cahaya lampu lorong memantulkan bayangan keduanya di dinding, menciptakan suasana canggung yang sarat dengan perasaan tak terucap.

Jane berhenti tepat di hadapannya, menatap wajah Brian yang terlihat lelah namun penuh penahanan emosi.

Tanpa berkata apa pun, Jane meraih gagang pintu dan membukanya. Ia menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memberi ruang.

“Masuklah,” ucapnya singkat, suaranya terdengar tenang, meski dadanya berdegup lebih cepat dari biasanya.

Brian tampak sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Jane akan bersikap demikian mudah setelah semua jarak yang tercipta di antara mereka.

Namun ia tidak menolak. Dengan langkah ragu namun mantap, Brian masuk ke dalam apartemen itu, sementara Jane menutup pintu di belakang mereka.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Jane meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu berbalik ke arah dapur. “Aku akan mengambilkan minuman,” katanya sambil berjal
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
cuz lah kalian balikan lagi.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 73: Akan Menemukan Banyak Hal

    Sheila melangkah dengan cepat menghampiri John. Wajahnya memerah oleh amarah yang tidak lagi bisa dia tahan.Tangannya mengepal, bahunya naik turun menahan emosi yang mendidih sejak dia mendengar percakapan John dan Clara barusan.“Kau benar-benar keterlaluan!” bentaknya dengan nada yang cukup tajam. “Bagaimana mungkin kau punya hati sebusuk itu pada Brian?” teriaknya kemudian.John menatap Sheila dengan sorot mata keras. Namun berbeda dari sikapnya pada Clara tadi, kali ini ia memilih diam.Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya menegang, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah menahan sesuatu yang ingin dia luapkan tetapi dia sendiri tidak sanggup mengucapkannya.Sementara Brian berdiri sedikit di belakang Sheila. Ia tidak ikut berteriak, tidak pula ikut memaki. Ia hanya menatap John dengan dingin, tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Tatapan itu membuat John refleks menelan ludah.“Kenapa, John?” Sheila kembali mendesak.“Kenapa kau tega melak

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 72: Kepergok Brian dan Sheila

    Lorong di sisi aula hotel itu lengang dan temaram, jauh dari hiruk-pikuk pesta yang masih berlangsung meriah di ruangan utama. Lampu dinding menyala redup, hanya memantulkan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin. Di sanalah John berdiri berhadapan dengan Clara, wajahnya tegang, rahangnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu yang berat.“Aku diancam oleh Brian,” ucap John akhirnya, dengan nada suara yang rendah namun sarat tekanan.Clara sontak mengernyit, jelas belum menangkap maksud ucapan itu. “Diancam?” tanyanya dengan nada suara yang meninggi. “Maksudmu apa?” lanjutnya.John menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan lorong itu benar-benar sepi. Tidak ada pelayan, tidak ada tamu yang berlalu-lalang. Setelah yakin, dia melangkah mendekat ke arah Clara dan menurunkan suaranya lebih jauh. “Sepertinya Brian tahu rencana kita.”Clara terdiam sejenak seraya menatap John dengan sorot mata tajam. “Rencana apa?” desaknya.“Rencana untuk mendekati Jane,” jawab John pelan. “Dan

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 71: Pesta Meriah Hills Group

    Pukul tujuh malam, Jane berdiri di depan cermin besar di kamar Brian. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan kaca, menampilkan bayangan dirinya yang tampak berbeda dari biasanya.Gaun panjang berwarna gelap menjuntai anggun membalut tubuhnya. Punggung gaun itu terbuka, memperlihatkan lekuk punggungnya dengan elegan, sementara belahan dada yang tampak setengah memberi kesan dewasa dan berani, tanpa terkesan berlebihan.Jane menelan ludah pelan. Ia masih memandangi dirinya sendiri ketika pintu kamar terbuka dan Brian masuk.Langkah pria itu terhenti begitu matanya menangkap sosok Jane di depan cermin. Untuk beberapa detik, Brian hanya berdiri diam, menatap tanpa berkedip.“Kau ….” Brian menghela napas kecil lalu tersenyum. “Kau luar biasa cantik. Dan sangat seksi.”Jane tersenyum tipis, pipinya sedikit menghangat oleh pujian itu. Dia lalu menoleh menatap Brian melalui pantulan cermin. “Apa menurutmu aku berlebihan?” tanyanya dengan nada ragu.“Tidak,” jawab Brian cepat. “Kau sempurn

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 70: Pagi yang Panas

    Brian mengangkat tubuh Jane dengan enteng dan membuat wanita itu terkekeh saat dirinya kini duduk di meja makan sementara Brian berdiri di hadapannya.“Jangan menyesal jika aku terlalu liar, Jane. Karena kau yang memancing lebih dulu,” ucap Brian dengan tatapan matanya tak lepas dari Jane.Wanita itu hanya tersenyum rendah kemudian membuka mini dress yang dia kenakan itu dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu indah.“Sentuh aku, Brian. Lebih dalam,” bisik Jane dengan suara paraunya.“Shitt!” umpat Brian dan langsung meraup bibir Jane dengan liar. Ciuman yang rakus, liar, dan panas di pagi hari itu membuat gairah Brian semakin membara.Lidahnya mengunci lidah Jane dan bibirnya melumat dengan dalam sampai membuat Jane mendesah pelan.“Terlalu dini untuk mendesah, Sayang,” bisik Brian dan kini bibirnya merayap di ceruk leher Jane.Mengisapnya hingga meninggalkan jejak merah keunguan di beberapa titik leher wanita itu. “Brian, mmh …,” desah Jane yang tidak mampu menahan diri untu

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 69: Siapa Takut?

    Pagi harinya, Jane terbangun dengan tubuh yang terasa letih, seolah setiap ototnya masih menyimpan sisa kelelahan malam sebelumnya.Matanya menyipit menahan cahaya matahari yang menembus sela tirai kamar. Ia menarik napas pelan, lalu baru menyadari satu hal: tubuhnya tidak mengenakan apa pun.Jane menoleh ke samping. Sisi ranjang yang biasanya terasa hangat kini kosong. Brian sudah tidak ada di sana.Seprai sedikit kusut, menyisakan jejak kehadirannya yang baru saja pergi. Jane menghela napas ringan, bukan kecewa, melainkan dengan perasaan aneh yang justru membuat sudut bibirnya terangkat.Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Layar menyala dan menunjukkan pukul tujuh pagi. “Pagi sekali,” gumamnya lirih.Belum sempat dia bangkit sepenuhnya, aroma kopi hangat menguar dari arah dapur.Wangi pahit yang menenangkan itu membuat perutnya yang kosong bereaksi. Jane tersenyum kecil.Ada sesuatu yang terasa begitu domestik dan hangat dari aroma itu, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 68: Milikmu yang Membuatku Candu

    “Hai, tampan. Kenapa kau selalu tahu di mana aku berada?” tanya Jane dengan suara seraknya karena terlalu banyak minum.Brian mengibaskan tangannya di depan mulutnya karena bau alkohol dari mulut Jane yang menyerbak. “Kau minum berapa banyak, Jane? Astaga,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala.“Aku akan membawanya pulang,” ucapnya pada Sita dan Riana sambil memapah Jane yang sudah sangat teler itu.“Hei, aku belum selesai berpesta. Kenapa kau membawaku pulang?” protes Jane sembari memanyunkan bibirnya.“Ini sudah pukul satu dini hari, Jane. Kau harus pulang,” ucap Brian sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.Membawa Jane pulang ke apartemennya, bukan ke apartemen Jane karena unitnya lebih dekat.Beberapa menit kemudian, mereka tiba di apartemen dan Brian langsung merebahkan tubuh Jane di atas tempat tidur.“Kau mau ke mana?” tanya Jane dengan serak.Brian menoleh ke arah Jane yang kini tengah duduk dengan mata setengah tertutup.“Kau harus istirahat. Aku akan mengambil a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status