Home / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 71: Pesta Meriah Hills Group

Share

Bab 71: Pesta Meriah Hills Group

last update Last Updated: 2026-01-06 10:39:33

Pukul tujuh malam, Jane berdiri di depan cermin besar di kamar Brian. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan kaca, menampilkan bayangan dirinya yang tampak berbeda dari biasanya.

Gaun panjang berwarna gelap menjuntai anggun membalut tubuhnya. Punggung gaun itu terbuka, memperlihatkan lekuk punggungnya dengan elegan, sementara belahan dada yang tampak setengah memberi kesan dewasa dan berani, tanpa terkesan berlebihan.

Jane menelan ludah pelan. Ia masih memandangi dirinya sendiri ketika pintu kamar terbuka dan Brian masuk.

Langkah pria itu terhenti begitu matanya menangkap sosok Jane di depan cermin. Untuk beberapa detik, Brian hanya berdiri diam, menatap tanpa berkedip.

“Kau ….” Brian menghela napas kecil lalu tersenyum. “Kau luar biasa cantik. Dan sangat seksi.”

Jane tersenyum tipis, pipinya sedikit menghangat oleh pujian itu. Dia lalu menoleh menatap Brian melalui pantulan cermin. “Apa menurutmu aku berlebihan?” tanyanya dengan nada ragu.

“Tidak,” jawab Brian cepat. “Kau sempurn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
gak semudah itu jhon kamu bisa merusak hubungan brian dan jane
goodnovel comment avatar
Kania Putri
bagus terus aja panasin si John biar makin membara wkwkw
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 78: Alasan yang Menyakitkan

    Waktu sudah menunjuk angka delapan malam.Pintu apartemen terbuka dengan sedikit tergesa. Jane melangkah masuk dengan napas yang masih memburu, membawa aura kegemparan yang ia tangkap dari dunia luar.Dia segera meletakkan tasnya di atas meja konsol dan menghampiri Brian yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah.Brian tampak begitu tenang, seolah hiruk-pikuk yang terjadi di gedung Hills Group beberapa jam lalu hanyalah angin lalu yang tidak memengaruhi kedamaian di apartemennya.“Brian, kau tidak akan percaya betapa riuhnya suasana di luar sana saat ini,” ujar Jane dengan nada suara yang masih menunjukkan rasa tidak percaya.Dia lalu mengambil posisi duduk di samping Brian, menatap kekasihnya dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu.“Semua orang di kantor, bahkan hingga ke kedai kopi di seberang gedung, membincangkan hal yang sama. Berita mengenai John yang secara resmi dipecat oleh ayahnya sendiri telah tersebar luas. Namanya benar-benar hancur dalam semalam.”Brian h

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 77: Menolaknya dengan Tegas

    Dua hari kemudian.Hari yang menentukan itu akhirnya tiba. Gedung pencakar langit Hills Group yang megah di pusat distrik bisnis tampak lebih sibuk dari biasanya.Puluhan kendaraan mewah berderet di lobi utama, membawa para pemegang saham dan petinggi perusahaan yang memiliki kepentingan besar atas masa depan firma tersebut.Di dalam aula pertemuan utama yang bernuansa emas dan marmer, ketegangan terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh kecemasan para hadirin.Brian melangkah masuk ke dalam aula dengan sangat tenang, hampir tidak terdeteksi.Dia tidak mengenakan setelan jas formal yang kaku seperti anggota keluarga Hills lainnya; dia memilih pakaian yang lebih kasual namun tetap elegan, menunjukkan bahwa dia hadir bukan untuk memamerkan kekuasaan.Alih-alih melangkah ke barisan depan yang telah dipesan khusus untuk keluarga inti, Brian justru memilih kursi di baris paling belakang, di sudut remang-remang yang jauh dari sorotan lampu aula. Ia ingin m

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 76: Bukan lagi Bagian dari Hills

    Ruang kerja utama di kediaman keluarga Hills yang biasanya tenang dan berwibawa, kini berubah menjadi medan ketegangan yang mencekam.Hardy Hills, sang patriark sekaligus pemilik tunggal Hills Group, berdiri dengan napas memburu di balik meja kerja mahoni besarnya.Di hadapannya, John berdiri dengan wajah pucat, sementara Brian dan Sheila menyaksikan konfrontasi itu dari sudut ruangan dengan ekspresi yang berbeda.Tiba-tiba, suara dentuman keras memecah keheningan. Hardy menggebrak meja dengan kedua tangannya, membuat beberapa berkas dan pena kristal di atasnya bergetar hebat. Tatapan matanya yang tajam bak elang menghujam tepat ke manik mata John."Kau benar-benar tidak memiliki akal sehat, John!" bentak Hardy dengan suara baritonnya yang menggelegar, bergetar karena rasa kecewa yang mendalam."Kau telah menghancurkan reputasimu sendiri yang telah kau bangun selama bertahun-tahun, dan yang lebih buruk, kau menyeret nama besar Hills Group ke dalam lumpur kehinaan!"John mencoba membuka

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 75: Sedang Merayu Calon Istri

    Lampu neon yang temaram di area parkir bawah tanah apartemen itu menciptakan bayangan panjang yang memantul pada bodi mobil sedan mewah milik Brian.Keheningan menyelimuti atmosfer di dalam kabin, hanya menyisakan deru halus mesin yang baru saja dimatikan. Jane masih berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, enggan untuk benar-benar melangkah pergi.Matanya tertuju pada Brian yang masih duduk di balik kemudi, menatapnya dengan binar mata yang sulit diartikan.Jane menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang membawa beban penyesalan sekaligus kejujuran yang selama ini dia pendam."Aku memang bodoh, Brian," ucap Jane dengan nada suara yang bergetar namun tetap terdengar formal dan tertata."Sangat bodoh karena telah mengatakan hal-hal sinis itu sebelumnya. Aku berpura-pura seolah aku tidak membutuhkan siapa pun, padahal jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu bahwa aku masih sangat membutuhkan cinta. Aku membutuhkanmu."Brian terdiam sejenak. Sudut bibirnya perlahan terangkat, mem

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 74: Beritahu jika sudah Siap

    Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman hotel yang masih dipenuhi cahaya lampu dan deretan kendaraan mewah.Di balik dinding kaca aula, pesta masih berlangsung meriah, musik mengalun, tawa terdengar samar, dan para tamu masih larut dalam perbincangan. Namun bagi Jane dan Brian, malam itu telah mencapai titik akhirnya.Jane duduk di kursi penumpang dengan punggung bersandar rapi. Ia melepaskan napas pelan, seolah baru saja keluar dari sebuah medan yang penuh tekanan.Brian fokus mengemudi, sorot matanya lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras. Suasana di dalam mobil terasa hening, tetapi bukan hening yang canggung—lebih seperti kelelahan yang sama-sama mereka pahami.Belum jauh mobil melaju, ponsel Brian bergetar. Ia melirik layar sekilas, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan itu.“Ya,” jawab Brian singkat.Suara di seberang terdengar jelas meski Jane tidak bisa mendengar kata per kata. Nada itu tegas, tinggi, dan sarat otoritas. Brian mengendurkan bahu

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 73: Akan Menemukan Banyak Hal

    Sheila melangkah dengan cepat menghampiri John. Wajahnya memerah oleh amarah yang tidak lagi bisa dia tahan.Tangannya mengepal, bahunya naik turun menahan emosi yang mendidih sejak dia mendengar percakapan John dan Clara barusan.“Kau benar-benar keterlaluan!” bentaknya dengan nada yang cukup tajam. “Bagaimana mungkin kau punya hati sebusuk itu pada Brian?” teriaknya kemudian.John menatap Sheila dengan sorot mata keras. Namun berbeda dari sikapnya pada Clara tadi, kali ini ia memilih diam.Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya menegang, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah menahan sesuatu yang ingin dia luapkan tetapi dia sendiri tidak sanggup mengucapkannya.Sementara Brian berdiri sedikit di belakang Sheila. Ia tidak ikut berteriak, tidak pula ikut memaki. Ia hanya menatap John dengan dingin, tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Tatapan itu membuat John refleks menelan ludah.“Kenapa, John?” Sheila kembali mendesak.“Kenapa kau tega melak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status