MasukPukul sebelas malam, suasana di dalam apartemen mewah itu terasa begitu hening, namun sarat dengan ketegangan elektrik yang tidak kasatmata.Di dalam kamar utama yang didominasi oleh interior minimalis modern dan pencahayaan temaram, aroma kayu cendana dan parfum maskulin milik Brian menguar di udara, menciptakan atmosfer yang intim dan eksklusif.Brian berdiri diam di depan jendela besar yang menampilkan panorama megah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti hamparan berlian.Ia hanya mengenakan celana pendek hitam dan membiarkan punggungnya yang lebar dan berotot terpampang jelas di bawah cahaya rembulan yang menembus kaca.Otot-otot tubuhnya yang terukir dari latihan bertahun-tahun tampak berkilau, memancarkan aura kejantanan yang mentah dan tak tertandingi.Suara langkah kaki yang halus di atas lantai parket membuat Brian mematung. Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang lembut.Dari pantulan kaca jendela, ia melihat sosok Jane berjalan mendekat. Langkahnya gemulai, sebua
“Aku mungkin akan sangat sibuk sampai larut malam nanti. Tapi, aku ingin kau datang ke apartemenku. Tunggu aku di sana,” ucap Brian dengan nada rendah namun penuh penekanan yang intim.Jane tersenyum manis mendengar instruksi yang lebih terdengar seperti permintaan tulus daripada perintah seorang atasan.Mereka berdiri di lorong sunyi menuju ruang rapat eksekutif, sesaat sebelum badai profesional dimulai.Mata Brian menatap Jane dengan binar yang berbeda, sebuah tatapan yang hanya ia simpan untuk wanita itu di tengah segala ketegangan transisi kepemimpinan ini.Jane mengangguk pelan, memberikan afirmasi yang menenangkan. “Aku akan datang. Aku akan menunggumu sampai pekerjaanmu selesai, Brian.”Mendengar jawaban itu, Brian mengusap lengan Jane dengan lembut sebagai bentuk terima kasih dan kasih sayang yang singkat namun bermakna.Tanpa membuang waktu lagi, dia membetulkan letak jasnya, memasang kembali raut wajah tegas yang tak tertembus, dan melangkah masuk ke dalam ruang rapat di man
“Apa kau serius dengan keputusan ini, Brian?”Jane bertanya dengan nada yang menunjukkan ketidakpercayaan yang mendalam.Matanya membulat, menatap pria di hadapannya yang kini tampak sangat berbeda dari Brian yang ia kenal beberapa minggu lalu.Kabar mengenai rencana restrukturisasi besar-besaran yang akan dilakukan Brian telah sampai ke telinganya, namun mendengarnya langsung dari bibir sang CEO baru memberikan dampak yang jauh lebih kuat.Brian mengangguk dengan santai, nyaris tanpa beban. “Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku, Jane,” jawabnya tenang.Saat ini, mereka tengah duduk di sebuah restoran Italia langganan mereka yang bernuansa hangat dan redup.Brian telah menanggalkan jas formalnya; lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang tegas saat ia dengan mahir memutar garpu pada pasta fettuccine favoritnya.Meski tampil lebih santai, aura otoritas tetap terpancar kuat dari cara bicaranya.“Aku akan merombak tot
Beberapa jam berlalu dengan suasana yang tenang namun mencekam di lantai eksekutif.Brian tidak membuang waktu; ia menanggalkan jasnya, menggulung kemeja putihnya hingga ke siku, dan mulai mempelajari peta kekuatan bisnis yang kini ada di genggamannya.Tepat pukul empat sore, ketukan pintu terdengar. Miles masuk bersama seorang pria berkacamata dengan raut wajah yang tampak tegang.“Tuan Brian, ini Tuan Tony, Manajer HRD pusat. Beliau telah membawa dokumen evaluasi kinerja tahunan yang Anda minta,” Miles memperkenalkan pria tersebut.Tony melangkah maju, meletakkan beberapa bundel dokumen tebal di atas meja kayu jati milik Brian.“Selamat sore, Tuan Brian. Ini adalah data komprehensif mengenai Key Performance Indicator (KPI) seluruh karyawan, mulai dari tingkat manajerial hingga staf operasional.”Brian tidak banyak bicara. Dia langsung menarik dokumen tersebut dan mulai memindai lembar demi lembar dengan ketelitian seorang petinju yang sedang mempelajari kelemahan lawan.Ruangan itu
Jam menunjukkan pukul dua belas siang tepat ketika rombongan jajaran petinggi Hills Group memasuki ruang perjamuan privat di restoran bintang lima yang terletak di lantai dasar gedung utama.Atmosfer di dalam ruangan tersebut terasa formal dan penuh pretensi. Aroma hidangan gourmet bercampur dengan wangi parfum mahal, menciptakan suasana yang kaku namun elegan.Brian Kevin Hills berjalan di barisan paling depan, didampingi oleh Miles, asisten senior yang telah menjadi tangan kanan keluarga Hills selama puluhan tahun.Di meja panjang yang telah disiapkan, para direksi, manajer divisi, dan investor utama telah berdiri untuk menyambut pemimpin baru mereka.“Silakan duduk, Tuan dan Nyonya sekalian,” ujar Brian dengan suara berat yang memenuhi ruangan. Suaranya tidak keras, namun memiliki otoritas yang membuat semua orang segera mematuhi perintah tersebut.Setelah semua orang menempati kursi masing-masing, Miles mulai menjalankan tugasnya. Ia berdiri sedikit di belakang Brian, membungkuk p
Mentari pagi baru saja membasuh gedung pencakar langit Hills Group dengan cahaya keemasan.Di lobi utama yang megah, aktivitas perkantoran dimulai seperti biasa.Namun, atmosfer pagi itu mendadak berubah ketika pintu kaca otomatis terbuka dan menampakkan sosok pria yang seolah keluar dari sampul majalah bisnis internasional.Jane, yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis sembari memeriksa jadwal hariannya, seketika terpaku.Mulutnya sedikit terbuka, dia menganga tak percaya melihat pemandangan di hadapannya.Brian, pria yang biasanya dia temui dengan kaus santai atau perlengkapan tinju, kini melangkah dengan penuh wibawa dalam balutan setelan jas tuxedo tiga potong berwarna charcoal grey yang dijahit sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang atletis.Rambutnya yang biasa dibiarkan berantakan kini disisir rapi ke belakang dengan gaya slick back, menonjolkan garis rahang yang tegas dan wajah maskulin yang luar biasa tampan.Di samping Jane, Sita, sahabatnya yang juga bekerja di depart







