Contract Marriage with the Vampire

Contract Marriage with the Vampire

last updateLast Updated : 2023-06-11
By:  imagineTishaDCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
1
1 rating. 1 review
122Chapters
3.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

In Royal families, can a Princess fall in love with a mere guard who serves her kingdom? Who would Win Love or Race? Do you think being a royal princess is easy? Living life in a lavish lifestyle is not what a princess does. She lived in her castle with all the luxuries one could have. She was bounded with royal rules and regulations until she met him! What happens when she finds out her crush was a vampire all along. Would she still choose him or would she give up on her heart? Let travel through the journey where you witness a contract marriage between two different species and of different races.

View More

Chapter 1

Prologue

Naya selalu memeriksa mikrofon dua kali sebelum siaran live. Pagi itu, ia memeriksa tiga kali. Namun yang tak pernah ia periksa adalah detak jantungnya sendiri—yang belakangan selalu lari maraton sejak dipindah ke divisi PR Mahendra Group.

“Ready in 3… 2… 1…” Produser menepuk bahunya. Naya tersenyum ke kamera, menautkan telapak tangan di pangkuan.

“Selamat pagi! Bersama saya Naya dari Mahendra Group. Hari ini kami meluncurkan program GreenShift—”

Hingga nada ping! dari ponselnya menyela di telinga lewat earbud. Chat grup internal: Rilis media belum disetujui legal!

Aliran kata Naya membeku sepersekian detik. Kamera menyorot lebih dekat. Ia tersenyum lagi—senyum yang kebanyakan gigi, terlalu banyak putih mata—dan melanjutkan. Ada lembar FAQ di mejanya, ada teleprompter. Namun ada juga pertanyaan penonton live chat yang tiba-tiba muncul di layar: “Benar Mahendra Group akan tutup dua pabrik?”

Naya refleks. “Tidak benar. Kami tidak—”

“Cut! Jangan jawab spekulasi!” suara produser membentak pelan lewat headset.

Terlambat. Cuplikan itu sudah dipotong oleh akun gosip korporasi, dibubuhi caption sensasional: PR Mahendra Bantah Penutupan Pabrik—Kok Tahu?

Satu jam setelah siaran, grafik di aplikasi bursa berubah merah—semerah wajah Naya. Saham Mahendra Group merosot 4%. Ping! notifikasi memborbardir: media mention, analyst alert, PR meltdown.

Karina, kepala PR, menghela napas di depan meja Naya. “Kenapa kamu jawab itu?”

“Aku kira kalau kita klarifikasi cepat—”

“Kita? Yang kamu sebut ‘kita’ barusan adalah perusahaan sepuluh ribu karyawan. Dan ‘cepat’ kadang berarti ‘ceroboh’.” Karina melunak setitik. “Aku tahu kamu niatnya baik. Tapi ini… ya, ini besar.”

Ponsel Naya bergetar. Email masuk dari sekretaris CEO: Segera ke lantai 43.

Lift kaca menanjak. Jakarta di luar jendela seperti grid neon yang baru bangun. Naya menatap bayangannya pada pantulan logam: blazer biru, rambut diikat rapi, mata yang menolak berkedip. Di lantai 43, resepsionis menunjuk ke pintu ganda kayu gelap. “Pak Mahendra menunggu.”

Ruang CEO seperti museum sunyi: garis-garis tegas, logam dingin, tembok kaca. Dan sosok di balik meja—Arga Mahendra—adalah patung marmer yang hidup. Dingin, sempurna, tak memberi ruang pada interferensi.

“Kursi,” katanya, tanpa angkat kepala.

Naya duduk. Tangannya dilipat di pangkuan, menyembunyikan tremor kecil.

Arga menutup berkas. Tatapannya menimpa. “Kamu tahu berapa miliar menguap hanya karena dua suku kata ‘tidak benar’ tadi?”

“Maaf, Pak. Saya—”

“Maaf tidak memperbaiki grafik.”

Keheningan menyisir ruangan. Jam dinding berdetak seperti hakim. Naya menelan ludah. “Saya siap bertanggung jawab. Apa pun bentuknya.”

Alis Arga hampir—hampir—naik. “Apa pun?”

Naya mengangguk, meski bagian logis otaknya menjerit agar jangan berjanji apa pun di depan manusia yang terkenal tidak bernegosiasi.

Arga berdiri, mendekat. Ia menatap keluar jendela, menimbang kata. “Aku tidak suka solusi kecil untuk masalah besar.”

“Baik, Pak.”

“Masalah besar kita bukan hanya angka hari ini. Ini soal persepsi. Investor ragu. Media mencium darah. Kompetitor menunggu.”

Ia berbalik. Pandangannya mengunci Naya. “Jadi aku akan menawarkan solusi besar. Gila, mungkin. Tapi efektif.”

Naya menahan napas.

Arga menyelipkan tangan ke saku. “Kau mau memperbaiki yang kau rusak? Jadilah perisai terdepan.”

“Caranya?”

“Mulai hari ini, kau jadi asistennya CEO.” Jeda. “Dan tunangannya.”

Kursi di bawah Naya mendadak terasa terlalu sempit. “Ma—maaf?”

Arga mengangkat telapak tangan seolah mengatur lalu lintas. “Kontrak. Enam bulan. Fake engagement. Kita perlu narasi bahwa perusahaan stabil, bahwa aku tidak terguncang, bahwa aku tahu persis apa yang kulakukan—bahkan dalam urusan pribadi.”

Naya menatap cincin signet di jari Arga—dingin, berkilat. “Kenapa saya?”

“Karena kamu error yang harus jadi patch.”

Naya tersenyum tipis, pahit. “Atau kambing hitam yang enak difoto.”

“Kalau itu membuatmu bekerja lebih hati-hati, anggap saja iya.” Arga kembali ke kursi. “Kau punya 24 jam untuk menolak. Tapi bursa tidak menunggu. Dewan tidak sabar. Dan merger yang kukejar—” Ia mengetuk berkas bertuliskan Term Sheet: Merger Varuna-Mahendra. “—tidak akan menoleransi ketidakpastian.”

Naya menghembuskan napas yang baru sadar ia tahan. Opsi-opsinya berputar: mundur dan mungkin dipecat; bertahan dan jadi simbol palsu di semua headline. Dalam kepalanya, terngiang suara ibunya tentang cicilan rumah, biaya kuliah adiknya, dan seorang ayah yang percaya orang yang salah.

“Kalau saya setuju…” Naya menegakkan punggung. “Aturannya?”

Arga membuka laci. Sebuah map kontrak berlogo firma hukum meluncur ke meja. “No dating dengan karyawan lain. No rumor yang tidak kubuat sendiri. Media training. Konseling HR untuk batasan profesional. Jadwalmu mengikuti jadwalku. Dan—” ia menatap tajam “—kau tidak bohong padaku, meski bohong pada dunia.”

Keheningan lain. Di kejauhan, helikopter melintas seperti capung besi.

Naya meraih map itu. Tangannya berhenti pada halaman tanda tangan. “Bisa saya bawa pulang untuk dibaca?”

Arga mengangguk. “Sampai jam delapan malam ini. Setelah itu, kita rapat dewan.”

Naya berdiri. “Kalau saya menolak?”

“HR akan menyiapkan surat pemutusan hubungan kerja dengan pesangon sesuai aturan. Kita akan bilang kamu memilih jalur berbeda.”

Kata-kata itu mendarat di dada Naya seperti batu. Ia mengangguk, berbalik, melangkah ke pintu. Jari menyentuh gagang logam—dingin yang sama seperti nada suara Arga.

“Dan Naya,” panggil Arga.

Ia menoleh.

“Jangan bikin aku menunggu.”

Pintu menutup. Notifikasi saham kembali bergetar di ponsel. Garis merah makin panjang.

Naya menatap jam: 17.12. Tiga jam lima puluh delapan menit menuju pukul delapan.

Mampukah ia menukar enam bulan hidupnya demi menambal dua suku kata yang salah? Atau justru dua suku kata itu akan menukar seluruh hidupnya?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Kavya singh
Kavya singh
seriously what is this the story good at the starting until it replace by other story out of the box such a time waste
2024-03-07 03:09:02
0
0
122 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status