LOGINIn our era where science and technology dominates, magic and the likes are always dismissed as myths and legends; elements of folklore. However, a boy Tom crops up from the rural areas of Detroit. Tom, was a lover of books, a science freak, and also an ardent admirer of magic. During his high school days, Tom found a book from one of the world's most secret occult groups; The Order of the Chalice. This book led him to an unprecedented adventure into the depths of the most hidden places in the world. Meanwhile, Tom's unrequited lover Heidi was worried about Tom and insistent in pursuing him. Tom left home after hijacking his father's pension funds in search of the Stone of Heka which the occult book told him of. Heidi, on the other hand, cut a frustrated figure as Tom eluded her. Sometime in the future, decades after he left his family, Tom resurfaced. But now, as the 'vulle guże chä'; the magic Overlord of the Order of the Chalice. Many catastrophic events heralded his ascension and emergence. This caused the States, politicians, and the Order of the Chalice surviving members to become alert. The state thought that a major terrorist group has attacked while politicians were confused and concocted many conspiracy theories in pursuit of the culprit. However, the Order of the Chalice was frenziedly preparing for the homecoming and true ascension of the legendary 'vulle guże chä ' who will lead them to the limelight, and bring back the golden era of magic. Heidi, who was done with her college education, has been in pursuit of Tom and is the only one who knows his whereabouts. Tom, however, seeks supremacy. He wants to rule the world. An inevitable war will ensue but only Heidi can save the day.
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGWhere to work, she did not know. She just wanted to have something to do to occupy her mind and soul. At least she knows she can't finish this college if she doesn't find such an endeavor to invest herself. She just have to stroll more like wander some more and some random store might take her. After all she is a college student and that is more than enough qualification for most stores within this vicinity. And so she strolled down the street for what was about four hours for a sane mind but not even worth noting for Heidi who needs the stroll more than she needs the job. And now, she has strolled from street to street, across streets and into suburbs and now back at her own street. And absentmindedly strolling to her place when she heard a call, no, more like a cry! The sharp type that pierces through mental imbroglio. "What are you doing here?!" she turned though all so like a robot to understand where the screamer is coming from. And when her head registered the figure all she co
Nevertheless, he has found his reason to be thankful; he hassojourned to a better place or better put, halted at a betterplace. right behind where he stood yawning is a small spring ofwater flowing effortlessly from a medium-sized rock by theside.Now, he can heal his throat, calmNevertheless, he has found his reason to be thankful; he hassojourned to a better place or better put, halted at a betterplace. right behind where he stood yawning is a small spring ofwater flowing effortlessly from a medium-sized rock by theside.Now, he can heal his throat, calm
Just as she successfully lung the door to her apartment open, sheslumped on the sofa chair nearest to her So tired was she anddirty that confessions to a pope might not even was them away.Tough were the demands of the day. thanks to her upbringing.tough she is too. Dozing off on the sofa chair and about to get therest her brain deserves, she heard a rap on the door. it was sharpand impatient sending her tired brain up again into frenzyWho could it be? she thoughtSearching her memory and rummaging through her debt list. no
"You love the prison. ""Yeah… " she slurred, eyes still transfixed on nothing in particular. "Why so? ""Gives me a befitting home.""How's that? ""Chains properly as I should be. ""You think you're a maniac? ""Yeah, I know that. ""The world ain't for us. " the other young lady sighed. "I ain't ask for any world, I only asked for mine. ""So, sorry. ""Ain't no full-time. " and she finally exhaled.He blew at the leaves and slowly, almost imperceptibly a lick of fire started forming and grew on to devour the leaf and even furthermore, to burn his fingers. This brought him out of his reverie, lost to his first wonders of magic. Over on some other side of the world, an old man stopped on his tracks, hoed his beards with his fingers and made an about turn with such haste to where his heels had faced. Things are beginning to get interesting and this is the first of the episodes, mankind, see your lost child. He ran all the way to the Hut fearing that someone, someone else, someone
He felt surprisingly embarrassed when he stopped some metres off from where the chase began and stood hands on his knees panting like a starving panda thrown into the deep wilderness. How foolish was he to think, nay, to believe that whatever it called, magic or not, will effectively save him from t
" hàgdhdkfkdjdhdjsjsjskskakàkakaaa""hsgshdkeudjdndssmsms" strong puffs of thick, black and Misty smoke started rising from the sturdy and sizeable cauldron. the face of the man, or was it woman (the thick smoke was clouding the face and blocking out most of her figure which e
"find me a basin of water.""pour in some heaven's potion."" go in by the left, yeah, you will smell a fresh buttermint leave as you enter, follow it, find the leaf and bring it here."some seconds." yes, drop it in. make sure it is submerged in the water thoroughly. fin
".... wizard." Jude interjected." Yeah..." Geek eloquently agreed, glad at the succinct support he's now garnering. ”he ain't smell anything like good and what else do you want my tiny brain to think about?"" Yeah, one thing you got alright, you've got a tiny brain and that's th
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews