ANMELDENAfter a nasty break up with her boyfriend that might have ended up getting her arrested. Fiona goes on a vacation with her friends hoping to have a good time, but what if her ex and his boss who influenced her ex to break up with her are also present on the cruise? I tell you what, a cruise from hell. She had vowed to ignore the two infuriating men but waking up in one of the men's beds had put a ruined her own plans, especially when the man is not her ex but her ex's boss who is a bigger playboy. Maybe she will see a new light to the man with a big and unattractive shadow, with their erotic games or their electric new found passion in each other's body. Join this lustful cruise with dramatic curves that are way too much for Fiona's liking. #EnemiestoLovers#Lovehate
Mehr anzeigenLAMARAN MAS GAGAH YANG TIBA-TIBA MEMBUNGKAM MULUT IBU TIRIKU.
KETIKA MAS GAGAH TIBA 1
"Kamu itu Andin, hidup gak ada yang bisa dibanggakan, lihat tuh adikmu. Sekolah berprestasi. Dapat kerjaan bagus. Upah gede. Sekarang mau dilamar orang kaya. Lah, kamu kok blangsak banget. Sekolah gak bener. Kerja cuma jadi pelayan, cowok malah gak punya sama sekali."
Wanita yang menjadi ibu tiriku itu terus mengoceh sambil melipat tangan di dada. Berdiri di tengah dapur sambil mengawasi para tetangga yang membantu masak-masak. Dari tadi dia terus membandingkan aku dengan anaknya.
Dia tak salah bicara. Hidupku memang sebelangsak ini. Wajar, dari sejak kecil aku cuma dapat perhatian sisa.
Ibuku meninggal sejak aku kelas 4 SD. Setahun kemudian, bapak menikah lagi dengan Bu Sumarni, wanita yang masih satu kampung dengan kami. Bu Sumarni punya anak perempuan yang usianya beda setahun di bawahku.
Dulu, aku juga berprestasi di sekolah. Tapi sejak punya ibu tiri, nilai-nilaiku anjlok. Bagaimana tidak, aku seperti tidak diberi kesempatan belajar. Pagi-pagi harus beres-beres rumah dulu baru sekolah. Pulang sekolah juga masih ditunggu pekerjaan rumah.
Aku disekolahkan di sekolah biasa. Sementara anak Bu Sumarni disekolahkan di sekolah unggulan. Aku tidak diperbolehkan lanjut kuliah. Sementara adik tiriku dikuliahkan di kota. Pake uang bapakku tentunya.
Lelaki kalau sudah punya istri baru, suka lupa sama anak, begitu kata orang. Seperti itu tampaknya yang terjadi pada bapakku. Dia seperti lupa kalau aku anak kandungnya sendiri. Yang diprioritaskan malah anak tirinya bukan aku.
"Belum mungkin, Bu Sum. Siapa tahu nanti Andin diambil orang kaya." Mbok Diah–tetanggaku yang baik hati menimpali.
"Mana ada lelaki kaya yang mau, Mbok. Lihat saja penampilannya begitu. Gak bisa ngurus diri. Paling laku sama Si Burhan tukang ojek. Enggak ada baik-baiknya. Minimal jadi anak itu bisa balas budi. Ini cuma nyusahin saja dari kecil."
Sakit sebenarnya aku mendengar ini. Terus saja dibandingkan depan tetangga. Ngungkit-ngungkit juga seolah aku dirawat dan diakui sebagai anak. Padahal hanya dijadikan pembantu.
Aku tidak bisa melawan. Untuk mengabaikan ocehan ibu tiri, aku mencoba budeg. Melampiaskan rasa sakit dengan mengangkat sekarung kentang dari gudang. Kugendong benda ini dengan susah payah.
Terlalu besar menyimpan dongkol dalam hati, langkahku jadi tergesa tidak jelas. Beban yang berat membuatku oleng dan terjatuh. Tersungkur dekat kaki ibu tiri. Karung kentang sobek dan membuat benda bulat itu bergelindingan ke mana-mana.
"Andini...! Ya ampun, kerja begitu saja tidak becus!"
Aku segera mengumpulkan kentang-kentang yang berserakan.
"Sudah, Din, sudah tidak apa-apa." Beberapa tetangga membantu mengumpulkan kentang.
"Emang kamu gak bisa apa-apa."
Aku menunduk menahan air mata sambil terus mengumpulkan kentang. Lalu mengambil pisau untuk mulai mengupasnya.
"Hih, baru juga diomong. Bereskan semuanya!" Bu Sum balik kanan. Pergi meninggalkan dapur.
Aku terus menunduk sambil mengupas kentang. Air mata mulai menggumpal di pelupuk. Kuusap dengan tangan yang bergetar.
"Tidak apa-apa, Nduk. Tidak apa-apa." Mak Diah mengusap punggungku.
***
"Mbak Andin, sini!" teriak Wulandari dari kamar. Aku segera membersihkan tangan, lantas menghampiri adik tiriku.
Wanita berkulit putih itu sedang duduk di kursi depan meja rias seraya memainkan kuku.
"Ada apa, Wulan?"
"Mbak, tolong bersihin kuku kakiku dong. Sekalian pake kutek."
"Tapi Mbak masih masak, Wulan. Nanti ibu marah kalau Mbak tidak ada di dapur."
"Alah, bentar doang, kok. Cepet!"
Aku berpikir sejenak. Lalu melangkah mendekati Wulandari. Berlutut di hadapannya.
Wulandari menjulurkan kakinya ke pahaku. Menyodorkan gunting kuku dan alat-alat lain untuk membersihkan kuku. "Yang bersih, ya. Terus ini kuteknya yang rapi. Jangan sampe luber ke pinggir-pinggir."
Aku menghela napas. Lalu mulai meraih kaki Wulandari. Memotong kuku-kukunya yang panjang lalu mengikisnya.
Urusan dengan Wulandari tidak pernah simple. Dia sama seperti ibunya. Ribet dan bawel.
"Ya, ampun, Mbak. Udah kubilang jangan sampe luber masa gitu aja gak becus."
"Ini sedikit Wulan, nanti juga Mbak bersihkan."
"Tetap saja jelek. Masa gitu aja gak bisa. Atau sengaja biar aku kelihatan jelek di mata calon suami. Ngiri, ya, kamu Mbak!"
"Ya Ampun ini hanya kaki, Wulan. Tidak akan merusak penampilan."
"Cuma kaki kamu bilang?!"
"Andini...! Ke mana itu anak kerjaan kok ditinggal begitu saja," teriakan kembali terdengar dari dapur.
"Ingigih, Bu. Aku di sini."
"Kamu itu bagaimana sih? Pekerja kok ditinggal." Bu Sumarni sudah nongol di pintu kamar Wulandari. Tanpa dijawab sekalipun, dia harusnya sudah tahu apa yang sedang kulakukan.
"Sedang pakein kutek dulu, Bu."
"Cuma ngerusak kuku aku doang juga. Udah ah, sana aja sama Mama." Wulandari menarik kakinya.
"Kamu itu memang lambat. Cepat ke dapur! Kalau rombongan calon besan datang urusan makanan belum beres kamu yang tanggung jawab, Andin!"
Aku menunduk permisi melewati ibu mertua. Kembali ke dapur dan segera mengurus urusan masak-masakkan.
Acara pertunangan Wulandari diadakan setelah Asar. Jam dua siang, semua masakan sudah beres. Aku lanjut membereskan rumah. Merapikan tempat yang akan diduduki tamu.
Adzan Asar baru selesai. Langsung mandi dan shalat.
Bersamaan dengan selesainya ibadahku, rombongan calon tunangan Wulandari datang. Aku mengintip dari pintu dapur. Pria gagah itu turun dari mobil dengan menggunakan pakaian batik. Rambutnya mengilat rapi.
Ingatanku melayang pada kejadian beberapa tahun silam. Saat itu aku sedang berjalan kaki pulang sekolah. Tiba-tiba sebuah motor melaju pelan di sampingku.
"Hei, Burik!" Panggil si pengendara.
Aku menengok. Lelaki itu memakai baju SMA yang penuh dengan coretan. Dia baru saja merayakan kelulusan. Namanya Adhinata. Teman sekolahku di SD dulu. SMP dan SMA-nya tidak sama karena dia anak orang berada.
"Ih." Aku melengos. Kesal dengan panggilannya. Dari kecil dulu selalu memanggilku burik.
"Abis ini mau lanjut kuliah di mana?" tanyanya masih dengan mengendarai motor yang melaju pelan.
"Rahasia!"
"Pake rahasia segala. Aku mau lanjutin di kota."
"Gak nanya."
"Sombong kamu, Burik."
Aku tak menghiraukan ejekannya. Terus jalan tidak peduli.
"Heh, Burik. Heh...!"
"Apaan sih?"
"Aku cuma mau bilang. Jangan nikah sama orang lain, ya. Entar kalau aku sudah berhasil kita nikah."
Aku menengok mendengar kalimatnya. Berasa baru ditembak. Tapi Nata langsung tancap gas.
Entah serius atau tidak dia mengatakan itu. Tapi jujur, aku masih berharap sampai sekarang. Sayangnya, ternyata Nata cuma mengerjai. Lihat saja, sekarang dia datang ke sini untuk melamar Wulandari.
.
Semua tamu masuk. Mereka berbincang-bincang dengan Bapak, Ibu, dan juga Wulandari. Aku menata piring-piring di dapur sambil mendengarkan.
"Ndak nyangka loh, kita akan besanan, Jeng."
"Iya, loh, Jeng. Saya juga kaget, Nata ternyata suka sama putri njenengan."
"Anak muda kalau naksir tetangga memang gitu, suka diam-diaman."
"Kita maklum lah, Jeng. Dulu juga kita begitu. Kalau sama tetangga suka malu kalau sampai tak jadi."
"Nah, itu, Jeng."
"Tapi endak masalah kok, Jeng. Kebetulan Wulandari juga belum punya calon."
"Eh, kok, Wulandari?" kali ini suara laki-laki yang terdengar.
"Kenapa, Mas Nata?" tanya Wulandari.
"Aku ke sini bukan mau melamarmu, Wulan. Aku mau melamar Mbakmu. Andini Larasati."
Bersambung....
Thank you so much for reading and supporting my story. I will be working hard to improve my writing. This was very fun writing. Going through this journey with you made it more exciting.Monarch the first
[Fiona’s POV]Going back to the place where all this madness all happened felt surreal. “We are here!” Selby screams, rushing to the deck.After everything was resolved, Heath suggested that we start having cruises every year, and after much back and forth, we all agreed in the end.It was a good way to refresh ourselves, and though our schedules had been crazy, the day was finally agreed upon.Selby and her husband were already drinking with each other under the table as we arrived. Clover was giggling away, happy that this time around she got to drink along.“You have been having non-alcoholic beverages for a while now, Fiona. What is wrong?” Gian says, shocking everyone.I couldn’t help but smile, since this time around I am the one expecting, “pregnant women don’t drink Gian,” Heath smugly says.“This calls for a double celebration,” Selby shouts, “keep the drinks coming, I will be drinking double for me and my pregnant friend.”The trip was amazing, excluding the stupid morning s
[Fiona’s POV]‘Why is Heath’s Mom kidnapping me?’ Is what kept running in my mind is this one of those stay away from my son’s tactics.‘If she offers a reasonable sum I might consider’ I thought, but soon I remembered that the lady doesn’t have a cent on her, making me more curious.‘Why is she kidnapping me?’But the answers are soon answered when a familiar voice graces my ears when we arrive at the location.“Did anyone see you?” Esther asks frantic.“No, of course not,” Heath’s mother answers.I am sure Heath is already at her tail, so it doesn’t seem half as dangerous to be here, matter of fact I will be settling the score soon.Esther kicks the bag I was put in, “finally I have got you.”But they were in for a rude awakening, she had been quite fortunate that all those other situations she used tactics, because this time she will be facing a woman who was raised by a military dad.She opens the luggage, and I can finally breathe, we lock eyes before a punch land on her face and
[Heath’s POV]We are not getting married just yet, famous last words, her beautiful eyes glare at me and the only thing I could think of is our new lives as newlyweds.Because yes, we did get married in Vegas, “oh lord, they are going to kill us.” Fiona grumbles.The phone rings for the umpteenth time, must be our friends. I can feel their anxiety and anger even before even answering the phone.“We have to answer that,” I say cautiously, getting married in Vegas wasn’t really my plan, but I wasn’t against it, but Fiona on the other hand was not ready to get tied up, untraditionally at that.“I know Heath,” she sighs before watching the video us getting married again.“We could divorce you know.”“That is not my problem Heath,” Fiona says, “my problem is that she is here.”“Whose here?”I say glancing at the phone, finally noticing Esther’s angry face behind our drunk cheers.How was she able to get here, where is she now, is she watching us?This was the spook I wasn’t expecting, imme
[Fiona’s POV]People around ran to help me up, while I saw this woman look at me before grinning, pulling away from the hug.“Oh… sorry, I didn’t mean to do that, you are rather weak,” she teases before laughing mockingly.“Who the f*ck are you and what the hell did you do to my girlfriend?” Heath seet
[Fiona’s POV]Gabriel really did a good job picking this hotel. It was homely, the elderly couple that greeted us at the reception and everyone who showed us to our room.They were both friendly and welcoming, and it made me happy.“This place is cool,” I say happily looking around, it was not a five-s
[Heath POV]My bad ways coming back to bite me, but what made me angrier was how this man was so okay with insulting her.Fiona looked at him with shock, but soon sighed heavily.“May you please repeat what you just said?”My anger was evident in my voice, “well…... um…. Sir…. Last time you came here wi
[Heath’s POV]Paint, the moment he pulled his trigger, cold paint hits my face, he smirks before saying “alright boys, let us have some fun, while the ladies hang-out.”“Um…… sir, don’t we have to change to a more…...”Lucas’s attempt to reason with Mr. Green is cut shot by a big red ball of paint on h






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rezensionen