Home / Romansa / DALAM DEKAPAN MAFIA / 22. Pengkhianatan

Share

22. Pengkhianatan

last update Last Updated: 2026-01-04 19:01:41
Chapter 22

Pengkhianatan

Pukul lima Luna menyelesaikan riasannya untuk pergi ke rumah kakeknya, amarah masih menguasai benaknya. Bercokol bersama dendam seperti sebuah benteng yang kokoh sehingga mustahil dirobohkan. Namun, kakeknya berkata jika makan malam itu bukan untuk mempertemukannya dengan Draco dan murni hanya makan malam kakek dengan cucunya.

Luna berharap ucapan kakeknya sungguh-sungguh karena setelah kembali ke Sisislia, Luna tidak melewati hari-hari yang mudah. Ia teramat lelah menghadapi fakta kematian ibunya adalah hasil konspirasi ayah kandungnya dengan ibu tirinya.

Terlalu menyakitkan hingga Luna merasa hatinya nyaris mati, tidak ada ampunan untuk Draco dan Beata, bahkan jika harus mendorong mereka ke dalam neraka dengan tangannya sendiri, Luna akan dengan senang hati melakukannya.

Kakeknya selalu menyayanginya, bahkan dulu menjadi satu-satunya orang yang melindunginya. Makan malam bersama kakeknya mungkin bisa sedikit membuat syarafnya yang tegang menjadi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   27. Masuk ke dalam Kegelapan

    Chapter 27Masuk ke dalam Kegelapan Ruang rapat utama itu tidak pernah terasa sesempit hari itu. Meja panjang dari kayu gelap dipenuhi wajah-wajah yang selama puluhan tahun terbiasa memberi perintah. Direktur, komisaris, kepala divisi—orang-orang yang dulu memandang keluarga Valerianus dari atas, kini duduk kaku. Punggung mereka tidak lagi tegak, tidak ada suara selain detak jam dinding dan gesekan kertas.Luna duduk di kursi utama, gaun hitamnya sederhana, tanpa perhiasan berlebihan. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seorang wanita usia muda yang baru saja mengambil alih perusahaan.Di ujung meja, sedikit terpisah, Luke duduk tanpa map perusahaan, tanpa laptop. Jasnya gelap, ekspresinya datar dan hanya peduli dengan rokoknya—dalam ruangan yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk merokok. Ia tidak seharusnya berada di sana dan semua orang tahu itu, tetapi tidak satu pun dari mereka berani bertanya. Sementara di luar beberapa pengawal dengan postur tegap dan

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   26. Punya Pilihan

    Chapter 26Punya PilihanKeesokan harinya, tidak datang dengan hujan atau gemuruh apa pun. Tidak ada tanda bahwa sesuatu akan terjadi. Luna menghabiskannya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain—kantor hukum, ruang arsip, meja rapat yang dingin dan terlalu terang. Tanda tangannya berulang kali tercetak di atas kertas yang tidak membawa emosi, hanya konsekuensi. Nama ibunya kembali muncul dalam bahasa hukum yang kaku, lalu diikuti namanya sendiri, rapi dan sah. Namun, tidak ada sorak maupun perayaan. Bahkan tidak ada rasa lega di dada Luna.Sore menjelang ketika rekening-rekening dibekukan dan kepemilikan berpindah tangan. Perusahaan Valerianus tidak runtuh; ia hanya berhenti bernapas untuk satu pihak dan mulai hidup untuk pihak lain dan saat matahari tenggelam di balik gedung-gedung Palermo, Luna berdiri di jendela tanpa merasa apa pun. Ia tidak berpikir tentang ayahnya, tidak juga tentang rumah. Yang ia rasakan hanyalah jarak—jarak yang tak bisa lagi ditempuh oleh darah atau ken

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   25. Luna Genevece

    Chapter 25 Luna Genevece Luna membuka matanya dengan malas, sinar matahari menembus kaca dan mengenai wajahnya. Kantuk masih menggelayuti dirinya, ia mencari-cari jam di kamar itu, tetapi sia-sia saja. Ia menjauhkan selimut yang menutupi tubuhnya dan mendapatkan beberapa tanda merah di payudaranya. Luke yang membuatnya. Ia kemudian melangkah ke kamar mandi dan di sana mendapati handuknya terlipat rapi beserta alat-alat mandi, dan pakaian ganti lengkap dengan pakaian dalamnya. Luna segera membersihkan diri kemudian pergi ke ruang makan untuk mengisi perutnya, di sana ia hanya mendapati pelayan yang kemudian menghidangkan sarapan untuknya. “Di mana putraku?” tanya Luna. “Tuan Muda bersama Bos di ruang belajar,” jawab pelayan. Alis Luna berkerut lembut. “Jam berapa ini?” “Jam sepuluh,” sahut Azzura yang tiba-tiba muncul di sana. “Aku sudah menunggumu dari jam delapan, tapi Luke bilang untuk membiarkanmu tidur sampai kau bangun sendiri.” Luna mengambil cangkir berisi

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   24. Monster Buatan Luke

    Chapter 24Monster Buatan LukeLuna berdiri di depan jendela kamar Luke yang berada di bagian paling sunyi mansion dan menghadap langsung ke Laut Tyrrhenian. Tidak ada balkon kecil yang manis atau tirai tipis yang bermain angin. Jendelanya tinggi, lebar, dari kaca tebal anti peluru membentang dari lantai ke langit-langit—membiarkan laut terlihat jelas tanpa memberi celah bagi dunia luar untuk masuk.Di malam hari, laut tampak seperti hamparan hitam berkilau, memantulkan cahaya bulan dan lampu kapal yang bergerak lambat di kejauhan. Ombak menghantam batu karang di bawah tebing dengan suara berat dan berulang, ritme yang konstan, seperti napas seseorang yang tidak pernah benar-benar tidur.Interior kamar itu maskulin, minim dekorasi. Dindingnya dilapisi batu alam berwarna gelap, dingin saat disentuh. Lantai kayu dipoles tanpa kilap berlebihan, menyerap langkah, membuat ruangan terasa senyap meski luas. Tidak ada karpet tebal, Luke tidak menyukai sesuatu yang bisa menyembunyikan apa pun.

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   23. Perang Antar Klan

    Chapter 23 Perang Antar Klan Gudang utama klan Genevece berdiri di ujung dermaga, seperti raksasa baja yang memagari pulau itu. Bau garam laut bercampur solar menyusup ke udara, tenang—terlalu tenang untuk wilayah yang seharusnya dijaga ketat. Ledakan kecil terdengar di sisi timur gudang memecah kesunyian, disusul nyala oranye yang menjilat dinding baja. Alarm internal berdering terlambat. Api merambat cepat, seperti sudah tahu ke mana harus pergi. Tangki bahan bakar sekunder meledak, membumbung tinggi di langit. "Che cazzo credi di fare?" gumam Matt pelan. Namun, tidak ada kepanikan di matanya. Ia mengambil sebatang rokok, menyalakannya lalu menghisapnya dalam-dalam dan menyemburkan asapnya melalui mulut. Di kejauhan, deru mesin terdengar. Kapal-kapal kecil mendekat dari sisi dermaga merapat. Kapal-kapal itu terlalu ringan dan cepat, sudah dipastikan bukan kapal kargo. Matt mengambil teropongnya dan meletakkan di depan matanya, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sin

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   22. Pengkhianatan

    Chapter 22 Pengkhianatan Pukul lima Luna menyelesaikan riasannya untuk pergi ke rumah kakeknya, amarah masih menguasai benaknya. Bercokol bersama dendam seperti sebuah benteng yang kokoh sehingga mustahil dirobohkan. Namun, kakeknya berkata jika makan malam itu bukan untuk mempertemukannya dengan Draco dan murni hanya makan malam kakek dengan cucunya. Luna berharap ucapan kakeknya sungguh-sungguh karena setelah kembali ke Sisislia, Luna tidak melewati hari-hari yang mudah. Ia teramat lelah menghadapi fakta kematian ibunya adalah hasil konspirasi ayah kandungnya dengan ibu tirinya. Terlalu menyakitkan hingga Luna merasa hatinya nyaris mati, tidak ada ampunan untuk Draco dan Beata, bahkan jika harus mendorong mereka ke dalam neraka dengan tangannya sendiri, Luna akan dengan senang hati melakukannya. Kakeknya selalu menyayanginya, bahkan dulu menjadi satu-satunya orang yang melindunginya. Makan malam bersama kakeknya mungkin bisa sedikit membuat syarafnya yang tegang menjadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status