LOGIN“... Nia? Rania!”
“Eh, ya!?” Perhatianku langsung teralih ke Mas Noah. “Kenapa Mas?”
“Kenapa melamun?” tanya kakak tiriku itu. “Oh, capek ya? Mau langsung istirahat?”’
Aku tersenyum kecil, lalu menggeleng. Batinku tanpa bisa ditahan bertanya, kenapa kakak beradik dari ibu baruku ini tampak begitu berbeda, ya?
“Sebastian dan Noah itu memang saudara kandung, tapi beda ayah,” ujar Bunda saat kami sedang mengobrol di ruang keluarga malam itu. Beliau sedang menunjukkan album foto lama padaku sambil bercerita. “Pernikahan pertama Bunda hancur. Waktu Sebastian umur satu tahun. Cerai.”
“Lalu Bunda ketemu papanya Noah,” lanjut Bunda. “Syukurlah keluarga kami bahagia, sampai akhirnya papanya Noah meninggal karena sakit."
Jari lentik Bunda mengusap foto keluarga di pangkuannya. “Dan dua belas tahun berlalu, Bunda kembali menemukan teman hidup. Papamu.”
Aku mengangguk-angguk. Itukah sebab kedua kakak tiriku itu begitu berbeda?
Tiba-tiba tatap tajam Mas Tian terlintas di kepalaku, membuatku bergidik.
Duh, semoga kehidupanku di sini baik-baik saja.
***
Sesuai doaku di malam pertama aku tinggal di mansion ini, hidupku berjalan normal dan lancar.
Aku mulai terbiasa dengan ritme kehidupan sehari-hari mansion ini, termasuk kehangatan ibu tiriku yang sungguh memperlakukanku bak putri kandung.
Kehidupan perkuliahanku pun lancar. Tidak ada masalah berarti.
Hari ini adalah hari Rabu, jadwal kuliah pagi.
Setelah bersiap dengan kemeja oversized dan celana jeans biru muda favoritku, aku segera menyandang sling-bag kanvas dan turun ke ruang makan.
Namun, langkahku langsung terhenti di ujung tangga saat aku kembali melihat sosok itu.
Sebastian Daneswara van Rijn.
Pria itu mengenakan setelan jas navy yang dijahit sempurna, membalut postur tubuh tegapnya.
Rambutnya disisir rapi ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang keras serta aura intimidasi yang selalu menguar pekat.
Selama beberapa hari tinggal di sini, aku hampir tidak pernah bertemu dengan pria ini. Aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Mas Noah yang terlampau ramah, bahkan sampai mengenalkanku pada sahabat masa kecilnya.
Yang mana memang sangat kusyukuri! Aku juga tidka mau terlalu sering menghadapi kakak tertuaku yang menyeramkan itu.
Namun, kikuk juga jika tiba-tiba bertemu begini.
“Pagi, Bunda.” sapa Rania pada sang ibu tiri yang baru keluar dari dapur.
Sapaan itu membuat perhatian Mas Tian teralih dari tablet digital berisi grafik saham di tangannya.
Mata tajam segelap malam itu melirik ke arahku.
“Pagi, Mas Tian.” sapaku canggung sambil menarik kursi yang posisinya agak jauh.
Hanya anggukan pelan sekilas yang aku dapat sebagai respons. Pria itu sama sekali tidak bersuara.
Ketegangan yang mencekik baru mengendur saat Mas Noah turun dengan senyum secerah matahari pagi.
“Udah siap ngampus, Dek?” Mas Noah mengacak puncak kepalaku dengan gemas.
“Ih, Mas!” Aku merengut. “Jangan diacak begitu. Sudah aku sisir rapi.”
“Alah, berantakan sedikit juga tetap cantik–”
Di ujung meja, tiba-tiba Mas Tian meletakkan cangkir kopinya. Bunyi dentingnya pelan, namun cukup membuat semua orang menoleh.
Pria itu mematikan layar tablet, lalu berdiri dengan gerakan elegan.
“Aku berangkat dulu, Bun.” pamit pria itu dengan suara baritonnya. Lalu ia melirik Mas Noah sekilas. “Pastikan laporan kuartal tiga sudah ada di mejaku sebelum jam makan siang.”
Lagi-lagi, tepat sebelum Sebastian berbalik, matanya tak sengaja bertemu dengan manik mataku.
Hanya sedetik.
Namun itu cukup untuk mengirimkan gelombang sensasi asing yang membuatku cepat-cepat menunduk.
Kenapa sih!?
Untungnya, tak lama kemudian cerita konyol Mas Noah sukses mencairkan keteganganku.
“Nanti kalau kelasmu beres, kabarin Mas atau Mas Tian biar dijemput.” ucap Noah saat ia mengantarku ke kampus. “Ya?”
Aku terkekeh pelan.
“Rania nggak berani kalau minta jemput Mas Tian. Rania nunggu Mas Noah aja.”
Namun, belum sempat AKU keluar dari mobil, ponsel Mas Noah berdering. Pria itu melihat layar, mengernyit, lalu mengangkat panggilan tersebut.
Raut wajah santainya seketika berubah tegang.
“Ran, aduh, sorry banget.” ucap Mas Noah panik setelah menutup telepon. “Siang nanti ada meeting dadakan sama jajaran direksi utama yang nggak bisa diwakilin.”
“Mas Tian yang ngadain. Jadwalnya mepet sampai sore. Mas beneran nggak bisa jemput kamu hari ini.”
“Nggak apa-apa, Mas, Rania pesen ojol aja–”
“Jangan! Nanti Mas telepon Mira aja mumpung dia lagi cuti, sekalian ngajak kamu jalan-jalan.” Ia menyebutkan nama sahabatnya yang ia kenalkan padaku tempo hari.
“Bisa begitu, Mas?” tanyaku.
“Amaan. Nanti kamu bareng dia ya.”
Aku tersenyum mendengarnya. Kulambaikan tangan sambil melihat mobil kakakku itu menghilang.
Sore nanti berarti aku bisa mengobrol dengan sahabat kakakku yang ramah itu. Mas Noah memang tidak mengatakannya secara terang-terangan dan memperkenalkan Kak Mira sebagai sahabatnya sejak kecil, tapi aku merasa, hubungan mereka lebih dari itu.
Ah, aku mungkin bisa menanyakannya nanti!
Namun, sore itu, rupanya bukan Kak Mira yang ada di balik kemudi.
Melainkan kayak tertuaku.
Jas navy-nya sudah dilepas, kemeja kerja sedikit terbuka di bagian atas. Kedua tangannya mencengkeram setir, matanya menatap lurus tajam ke arah Rania.
“M-Mas Tian?” cicitku. “Bukannya... Mas lagi ada meeting direksi? Kak Mira... di mana?”
Pertanyaanku menggantung di udara.
Kan pria ini harusnya sibuk memimpin rapat besar itu! Mas Noah sendiri yang mengatakannya tadi.
Namun, Mas Tian sama sekali tidak menjawab, apalagi memberikan penjelasan. Raut wajahnya datar dan tak terbaca.
Ia hanya mengatakan satu kata:
“Masuk.”
Mata kami saling terkunci. Waktu seakan berhenti berdetak di ruang baca itu.Napasnya terasa hangat menerpa wajahku. Mata hitam pekat yang menatapku menyiratkan kerinduan yang begitu dalam, namun dengan cepat tertutupi oleh kabut keangkuhan yang ia bangun sejak pagi tadi. Aku masih membeku. Jantungku berdebar tak karuan.Kecupan di keningku tadi... bukan sekadar halusinasiku.“Mas...” panggilku lirih, nyaris seperti bisikan yang tertelan udara.Panggilanku seolah menyentaknya. Mas Tian mengerjapkan mata. Sorot matanya yang sesaat tadi melembut, dalam sekejap kembali mengeras dan berubah sedingin es. Ia segera menarik tubuhnya menjauh dariku, menciptakan jarak yang terasa begitu lebar di antara kami.“Bunda menyuruhku memindahkanmu ke kamar,” ucapnya datar. Suaranya terdengar sangat kaku, seolah ia sedang berbicara dengan orang asing.Aku menelan ludah. Rasa sesak kembali menggerogoti dadaku. Baru saja ia mengecup keningku, dan kini ia kembali menjadi pria tak tersentuh.Sebel
Cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui celah tirai kamar. Aku membuka mata dengan kepala yang masih terasa berat. Semalam aku tidur cukup larut setelah berbicara dengan Kak Gavin. Walaupun pikiranku masih dipenuhi banyak hal, suara Kak Gavin berhasil membuatku sedikit lebih tenang. Pintu kamar diketuk pelan. “Masuk.” Seorang pelayan masuk dan menghampiriku. “Selamat pagi, Nona.” “Pagi.” Pelayan itu kemudian membantuku bersiap. Setelah semuanya selesai, ia membantu memindahkanku dari tempat tidur ke kursi roda dengan hati-hati. Pelayan itu memastikan semuanya sudah rapi sebelum kemudian bertanya, “Nona mau sarapan di kamar atau di ruang makan?” “Di ruang makan saja.” “Baik, Nona.” Namun sebelum aku dibawa keluar kamar, handphone yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Layar menyala. Kak Gavin — Video Call Senyum kecil langsung muncul di wajahku. Aku segera menerima panggilannya. Wajah Kak Gavin muncul di layar. “Pagi, Rania.” “Pagi, Kak.” Tatapannya langs
Pintu itu tertutup perlahan. Aku masih menatapnya. Untuk beberapa detik, aku tidak mampu melakukan apa pun selain memandangi pintu yang baru saja dilewati Mas Tian. Rasanya aneh. Beberapa menit yang lalu, aku masih ingin dia pergi. Aku ingin dia berhenti memaksaku untuk terus berada dalam hubungan yang bahkan kami sendiri tahu tidak seharusnya terjadi. Namun sekarang, ketika dia benar-benar pergi... dadaku justru terasa begitu sesak. Aku memeluk tubuhku sendiri. Air mata yang sejak tadi kutahan kembali jatuh. Bukankah ini yang kuinginkan? Mas Tian akhirnya menyerah. Dia tidak lagi memintaku memilih dirinya. Seharusnya aku merasa lega. Namun, kenapa yang kurasakan justru seperti kehilangan? Aku mengusap pipiku dengan telapak tangan. “Bodoh...” bisikku pada diri sendiri. Aku menarik selimut hingga sebatas dada. Aku menatap langit-langit kamar. Pikiranku kembali berputar. Tentang Mas Tian. Tentang pertunangan dengan Kak Giselle. Tentang pengakua
Mas Tian berjalan mendekat, langkahnya berdentum pelan di atas lantai berlapis karpet. Tidak ada bentakan atau gurat amarah yang meledak-ledak di wajahnya. Ia justru terlihat sedang menahan mati-matian badai emosi di dalam dadanya. Ia berhenti tepat di samping tempat tidur. Ia menunduk menatapku dengan napas yang memburu. “Kenapa kamu menerima Gavin sebagai kekasihmu?” tanyanya pelan. Suaranya tidak membentak, terdengar begitu halus dan memohon penjelasan baik-baik, namun justru ketenangan itulah yang membuatku merinding. Sorot matanya memancarkan rasa terluka yang begitu dalam. Aku menelan ludah, berusaha mencari suaraku. “K-karena dia sungguh-sungguh mencintaiku.” Mendengar kata itu, mata Mas Tian seketika memerah. Rahangnya mengeras menahan ngilu. Perlahan, ia naik ke atas ranjang. Ia tidak menyentakku, melainkan mengurung tubuhku dengan kedua lengannya, mencondongkan tubuh besarnya hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. “Apa kamu pik
“Saya setuju.”Dua kata itu meluncur begitu saja dari bibir Mas Tian.Dingin, tegas, tanpa keraguan sedikit pun.Semua percakapan di meja makan seketika terhenti.Bunda tampak terkejut, sebelum senyum lega muncul di wajahnya. Papa ikut terlihat lebih santai, sementara Tuan Carter tertawa puas.“Keputusan yang sangat baik, Tian.”Kak Giselle tersenyum di sampingnya.Aku hanya diam.Entah kenapa, dadaku terasa sesak mendengar jawaban itu.Mas Tian menerima pertunangan dengan Kak Giselle.Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Mas Tian.Dan mungkin aku memang tidak perlu tahu.Aku sudah memiliki Kak Gavin.Aku sudah memilih jalan yang berbeda.Hubunganku dengan Mas Tian adalah sesuatu yang tidak pernah seharusnya terjadi. Hubungan yang hanya diketahui oleh kami berdua dan harus tetap menjadi rahasia.Jadi ketika dia menerima pertunangan itu, seharusnya aku merasa lega.Seharusnya aku bisa benar-benar melepaskan semuanya.Tapi kenyataannya, ada bagian kecil dalam diriku yang justru teras
Bunyi benturan itu masih berdenging di udara. Semua percakapan seketika terhenti. Mata semua orang di ruangan VVIP itu tertuju pada Mas Tian. Tangan pria itu masih mencengkeram erat meja, urat-urat di punggung tangannya menonjol menahan emosi. Namun sedetik kemudian, ia menarik napas panjang. Rahangnya yang mengeras perlahan mengendur, meski matanya tetap menyorot tajam. "Maaf," ucap Mas Tian dengan suara parau yang terdengar dipaksakan. "Tangan saya licin." Sebuah alasan yang teramat kaku. Namun Kak Gavin sama sekali tidak terpengaruh oleh letupan emosi itu. Ia duduk dengan tenang, bahunya rileks, sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan Mas Tian yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Sejak kapan?" tanya Mas Tian. Suaranya rendah. Dingin. Mengandung tuntutan yang hanya bisa dirasakan oleh kami yang duduk di sudut meja ini. Kak Gavin menatap balik tanpa berkedip. "Hampir satu minggu, Kak," jawabnya mantap. Hening sejenak. Lalu, suara tawa Tuan Aryasena memecah







