Share

2. KEJUTAN

Author: QUILLDREN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-29 19:26:53

“... Nia? Rania!”

“Eh, ya!?” Perhatianku langsung teralih ke Mas Noah. “Kenapa Mas?”

“Kenapa melamun?” tanya kakak tiriku itu. “Oh, capek ya? Mau langsung istirahat?”’

Aku tersenyum kecil, lalu menggeleng. Batinku tanpa bisa ditahan bertanya, kenapa kakak beradik dari ibu baruku ini tampak begitu berbeda, ya?

“Sebastian dan Noah itu memang saudara kandung, tapi beda ayah,” ujar Bunda saat kami sedang mengobrol di ruang keluarga malam itu. Beliau sedang menunjukkan album foto lama padaku sambil bercerita. “Pernikahan pertama Bunda hancur. Waktu Sebastian umur satu tahun. Cerai.”

“Lalu Bunda ketemu papanya Noah,” lanjut Bunda. “Syukurlah keluarga kami bahagia, sampai akhirnya papanya Noah meninggal karena sakit."

Jari lentik Bunda mengusap foto keluarga di pangkuannya. “Dan dua belas tahun berlalu, Bunda kembali menemukan teman hidup. Papamu.”

Aku mengangguk-angguk. Itukah sebab kedua kakak tiriku itu begitu berbeda?

Tiba-tiba tatap tajam Mas Tian terlintas di kepalaku, membuatku bergidik.

Duh, semoga kehidupanku di sini baik-baik saja.

***

Sesuai doaku di malam pertama aku tinggal di mansion ini, hidupku berjalan normal dan lancar.

Aku mulai terbiasa dengan ritme kehidupan sehari-hari mansion ini, termasuk kehangatan ibu tiriku yang sungguh memperlakukanku bak putri kandung.

Kehidupan perkuliahanku pun lancar. Tidak ada masalah berarti.

Hari ini adalah hari Rabu, jadwal kuliah pagi.

Setelah bersiap dengan kemeja oversized dan celana jeans biru muda favoritku, aku segera menyandang sling-bag kanvas dan turun ke ruang makan.

Namun, langkahku langsung terhenti di ujung tangga saat aku kembali melihat sosok itu. 

Sebastian Daneswara van Rijn.

Pria itu mengenakan setelan jas navy yang dijahit sempurna, membalut postur tubuh tegapnya.

Rambutnya disisir rapi ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang keras serta aura intimidasi yang selalu menguar pekat.

Selama beberapa hari tinggal di sini, aku hampir tidak pernah bertemu dengan pria ini. Aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Mas Noah yang terlampau ramah, bahkan sampai mengenalkanku pada sahabat masa kecilnya.

Yang mana memang sangat kusyukuri! Aku juga tidka mau terlalu sering menghadapi kakak tertuaku yang menyeramkan itu.

Namun, kikuk juga jika tiba-tiba bertemu begini.

“Pagi, Bunda.” sapa Rania pada sang ibu tiri yang baru keluar dari dapur.

Sapaan itu membuat perhatian Mas Tian teralih dari tablet digital berisi grafik saham di tangannya.

Mata tajam segelap malam itu melirik ke arahku.

“Pagi, Mas Tian.” sapaku canggung sambil menarik kursi yang posisinya agak jauh.

Hanya anggukan pelan sekilas yang aku dapat sebagai respons. Pria itu sama sekali tidak bersuara.

Ketegangan yang mencekik baru mengendur saat Mas Noah turun dengan senyum secerah matahari pagi.

“Udah siap ngampus, Dek?” Mas Noah mengacak puncak kepalaku dengan gemas.

“Ih, Mas!” Aku merengut. “Jangan diacak begitu. Sudah aku sisir rapi.”

“Alah, berantakan sedikit juga tetap cantik–”

Di ujung meja, tiba-tiba Mas Tian meletakkan cangkir kopinya. Bunyi dentingnya pelan, namun cukup membuat semua orang menoleh.

Pria itu mematikan layar tablet, lalu berdiri dengan gerakan elegan.

“Aku berangkat dulu, Bun.” pamit pria itu dengan suara baritonnya. Lalu ia melirik Mas Noah sekilas. “Pastikan laporan kuartal tiga sudah ada di mejaku sebelum jam makan siang.”

Lagi-lagi, tepat sebelum Sebastian berbalik, matanya tak sengaja bertemu dengan manik mataku.

Hanya sedetik.

Namun itu cukup untuk mengirimkan gelombang sensasi asing yang membuatku cepat-cepat menunduk.

Kenapa sih!?

Untungnya, tak lama kemudian cerita konyol Mas Noah sukses mencairkan keteganganku.

“Nanti kalau kelasmu beres, kabarin Mas atau Mas Tian biar dijemput.” ucap Noah saat ia mengantarku ke kampus. “Ya?”

Aku terkekeh pelan.

“Rania nggak berani kalau minta jemput Mas Tian. Rania nunggu Mas Noah aja.”

Namun, belum sempat AKU keluar dari mobil, ponsel Mas Noah berdering. Pria itu melihat layar, mengernyit, lalu mengangkat panggilan tersebut.

Raut wajah santainya seketika berubah tegang.

“Ran, aduh, sorry banget.” ucap Mas Noah panik setelah menutup telepon. “Siang nanti ada meeting dadakan sama jajaran direksi utama yang nggak bisa diwakilin.”

“Mas Tian yang ngadain. Jadwalnya mepet sampai sore. Mas beneran nggak bisa jemput kamu hari ini.”

“Nggak apa-apa, Mas, Rania pesen ojol aja–”

“Jangan! Nanti Mas telepon Mira aja mumpung dia lagi cuti, sekalian ngajak kamu jalan-jalan.” Ia menyebutkan nama sahabatnya yang ia kenalkan padaku tempo hari.

“Bisa begitu, Mas?” tanyaku.

“Amaan. Nanti kamu bareng dia ya.”

Aku tersenyum mendengarnya. Kulambaikan tangan sambil melihat mobil kakakku itu menghilang.

Sore nanti berarti aku bisa mengobrol dengan sahabat kakakku yang ramah itu. Mas Noah memang tidak mengatakannya secara terang-terangan dan memperkenalkan Kak Mira sebagai sahabatnya sejak kecil, tapi aku merasa, hubungan mereka lebih dari itu.

Ah, aku mungkin bisa menanyakannya nanti!

Namun, sore itu, rupanya bukan Kak Mira yang ada di balik kemudi.

Melainkan kayak tertuaku.

Jas navy-nya sudah dilepas, kemeja kerja sedikit terbuka di bagian atas. Kedua tangannya mencengkeram setir, matanya menatap lurus tajam ke arah Rania.

“M-Mas Tian?” cicitku. “Bukannya... Mas lagi ada meeting direksi? Kak Mira... di mana?”

Pertanyaanku menggantung di udara.

Kan pria ini harusnya sibuk memimpin rapat besar itu! Mas Noah sendiri yang mengatakannya tadi. 

Namun, Mas Tian sama sekali tidak menjawab, apalagi memberikan penjelasan. Raut wajahnya datar dan tak terbaca.

Ia hanya mengatakan satu kata:

“Masuk.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   123.

    Aku meringkuk di atas kasur, menarik selimut hingga menutupi tubuhku. Tanganku masih gemetar, sementara pikiranku terus kembali pada kejadian beberapa saat lalu.Aku tidak ingin mengingatnya.Namun semakin berusaha mengusirnya, semakin jelas semuanya berputar di kepalaku.Malam ini berbeda.Amarah dan kecemburuan Mas Tian telah membuat semuanya berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa kuanggap biasa.Aku memejamkan mata.Air mata kembali mengalir.Di tengah kekacauan pikiranku, wajah Kak Gavin tiba-tiba muncul.Kak Gavin.Rasa bersalah langsung memenuhi dadaku.Dia tidak tahu apa pun.Dia tidak tahu tentang rahasia yang selama ini kusimpan.Dia juga tidak tahu betapa rumitnya kehidupanku di rumah ini.“Kak Gavin…”Suaraku bergetar.“Maaf…”Aku menenggelamkan wajah ke bantal.Sampai beberapa saat kemudian—Tring... Tring...Suara dering handphone membuatku mengangkat kepala.Aku terdiam.Dering itu kembali terdengar.Tring... Tring...Dengan susah payah aku mencoba bangun.Aku dud

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   122. 🔞🔞🔞

    Aku menatap matanya yang gelap itu. Kemarahannya sudah tidak lagi bisa ditahan. Rahangnya menegang, napasnya berat, dan tatapannya begitu tajam hingga aku merasa seperti sedang dilahap hidup-hidup. “Kamu milikku, Rania,” katanya dengan suara rendah yang menggetarkan. “Tidak ada laki-laki lain yang boleh-.” Nama itu terucap dengan penuh kebencian. Aku mendorong dadanya sekuat tenaga. Kali ini lebih keras. Tubuhnya sedikit terangkat, cukup memberiku ruang untuk berbicara dengan jelas. “Aku bukan milik Mas!” suaraku tegas, meski bergetar hebat. Mas Tian terdiam. Tatapannya berubah tajam. “Jangan coba-coba melawanku, Rania.” Aku terus mendorong, mencoba melepaskan cengkeraman di pergelangan tanganku. Air mata sudah mulai menggenang, mendesak di pelupuk mata, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Mas Tian menatapku dalam diam beberapa detik. Lalu, seolah amarah dan rasa kepemilikannya meledak tanpa sisa, ia menekan tubuhku kembali ke kasur dengan lebih kuat. Satu ta

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   121

    “Dari mana saja kamu sampai baru pulang jam segini, Rania?” Suara Mas Tian terdengar dari belakangku. Aku terdiam. Aku tahu dia sedang menungguku menjawab, tetapi aku tidak ingin menjelaskan apa pun. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku langsung melangkah masuk ke dalam mansion. Untungnya, Bunda sedang duduk di ruang tengah bersama Kak Mira. “Rania?” Kak Mira langsung tersenyum begitu melihatku. “Baru pulang?” Aku mengangguk. “Iya, Kak.” Aku segera duduk di samping Bunda. “Kak Mira datang dari kapan?” “Baru saja. Kakak mau kasih bingkisan buat Bunda.” Aku melihat bingkisan di atas meja, lalu tersenyum. “Mas Noah nggak ikut?” “Enggak. Dia masih ada urusan.” “Oh.” Aku mengangguk. “Nanti kalau ada waktu, aku boleh mampir ke rumah Kak Mira sama Mas Noah?” “Tentu saja boleh. Datang saja.” Aku tersenyum kecil. Suasana di ruang tengah terasa jauh lebih nyaman dibanding beberapa menit lalu. Sampai Bunda tiba-tiba berkata, “Tadi pagi ada yang datang jemput Rania.” Ka

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   120

    Deruman mesin motor sport Kak Gavin membelah jalanan pagi yang cukup lengang. Tubuhku refleks sedikit condong ke depan ketika motor mulai melaju. Kedua tanganku pun melingkar di pinggangnya agar tetap seimbang. Angin pagi terasa cukup dingin meskipun matahari sudah mulai meninggi. Anehnya, perjalanan pagi itu terasa menyenangkan. Tidak lama kemudian, motor Kak Gavin memasuki area parkir kampus. Ia mematikan mesin, lalu melepas helm full-face miliknya. Aku ikut turun dan melepas helm. Begitu melihatku, Kak Gavin langsung tersenyum lebar. “Nyaman, ya? Meluknya erat banget tadi,” godanya. Tangannya kemudian terulur untuk merapikan beberapa helai rambutku yang berantakan karena tertiup angin. Pipiku seketika terasa hangat. “Biar nggak masuk angin aja, Kak,” jawabku pelan. Kak Gavin tertawa. “Alasan.” Ia menatapku dengan senyum jahil. “Tapi aku suka.” Aku hanya menggelengkan kepala, lalu berjalan bersamanya menuju gedung fakultas. Hari itu berjalan cukup menyenangkan. Saa

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   119

    “Aku… aku mau menjadi pacar Kakak.” Hening. Tidak ada jawaban dari seberang sana. Aku menahan napas, menggenggam ujung selimut dengan erat. Jantungku berdetak begitu cepat sampai rasanya memenuhi seluruh kamar. Beberapa detik kemudian, terdengar suara helaan napas panjang. “Rania…” Nada suara Kak Gavin terdengar berbeda. Tidak lagi bercanda seperti beberapa detik sebelumnya. “Iya?” “Coba ulangi.” Aku menelan ludah. “Aku bilang… aku mau menjadi pacar Kakak.” Kali ini aku mendengar suara tawanya yang pelan. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa seseorang yang seperti masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Serius?” Aku mengangguk, meskipun dia tidak mungkin melihatnya. “Serius.” “Jangan bercanda sama aku, Ran.” “Aku nggak bercanda.” Hening kembali. Lalu suaranya terdengar lebih lembut. “Aku senang banget.” Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa sesak. Aku menunduk. Air mata yang sejak tadi jatuh masih m

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   118.

    Aku terbangun perlahan. Cahaya pagi masih sangat redup di balik gorden. Tubuhku terasa hangat. Wajahku tertanam di dada bidang Mas Tian, dan lengan kokohnya masih melingkari pinggangku. Napasnya yang teratur terdengar di atas kepalaku. Dia masih di sini. Masih di kasurku. Masih memelukku seperti semalam, ketika dia enggan menjawab pertanyaanku dan memilih menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Aku bergerak sedikit. Dia langsung terbangun. Matanya yang masih berat oleh tidur menatapku dalam diam beberapa detik, lalu tanpa berkata apa-apa dia menarikku lebih dekat. Bibirnya menyentuh keningku dulu, pelan. Lalu turun ke pelipis, ke ujung mataku, sebelum akhirnya menempel di bibirku. Ciuman itu lembut, dalam, dan penuh penahanan. Seolah dia ingin mengatakan sesuatu yang tidak sanggup diucapkan dengan kata-kata. Aku membalasnya. Tanganku naik ke tengkuknya, jari-jariku menyusuri rambutnya yang sedikit berantakan. Dia menghela napas pelan di sela ciuman, lalu memperdalamnya sebe

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status