Share

3. PACARNYA?

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-06-29 19:27:27

Tanganku sedikit bergetar saat menarik tuas pintu mobil itu.

Begitu aku masuk dan mendaratkan tubuhku di atas jok kulit yang mahal, aroma cologne maskulin yang sangat khas langsung menyergap penciumanku.

Suara pintu tertutup yang berdebum halus seolah menjadi garis batas mutlak yang memenjarakanku bersama pria ini.

“Kita mau ke mana, Mas?” tanyaku dengan suara nyaris berbisik, memberanikan diri memecah keheningan.

“Ke butik.”

“Butik?” Keningku berkerut bingung. “Tapi... lemariku sudah penuh dengan gaun pemberian Bunda.”

Terdengar dengusan halus dari bibirnya, sebuah reaksi meremehkan yang sangat kentara.

“Bunda yang suruh,” ucapnya singkat. “Buat acara malam ini.”

Aku makin bingung. Memang acara apa yang dimaksud? 

Tapi aku tidak berani bertanya. Dari nada bicaranya, pria ini pastilah sebenarnya tidak sudi menjemput dan mengantarku membeli pakaian. Terpaksa saja, aku yakin.

Lagian kenapa bukan Mas Noah saja sih? Siapa suruh dia menjawalkan rapat dadakan begitu? Kalau dengan Mas Noah, pasti lebih seru belanjanya.

“Pasang muka yang baik. Aku tidak suka melihatmu cemberut.” Tiiba-tiba ucapan pria itu menyentakku.

Buru-buru aku menetralkan ekspresi. 

Namun, sepertinya terlambat.

“Berharap Noah yang mendampingimu?” Suaranya yang dingin terdengar tajam. “Kamu pikir, aku suka ada di sini?

“Enggak, Mas. Eh–maksudku–”

“Sudahlah,” tukasnya, memutar kemudi dengan satu tangan yang dihiasi jam tangan mewah.. “Pastikan saja penampilanmu mencerminkan martabat keluarga ini. Kecuali kau memang berniat mempermalukan keluarga Van Rijn di di hadapan para kolega.”

Aku menelan ludah, seketika menunduk dalam-dalam.

“Baik, Mas,” ucapku pelan. 

Perubahan auranya yang seketika menjadi sangat gelap dan mengintimidasi membuatku tak berani mengeluarkan satu suku kata pun lagi.

Beberapa menit kemudian, mobil mewah Sebastian berhenti mulus di pelataran sebuah butik eksklusif.

Aku mendongak dari balik jendela, membaca nama brand desainer ternama di atas pintu kaca.

Aku tahu betul, harga sepotong kain di tempat ini bisa setara dengan biaya kuliahku selama beberapa semester.

“Turun.” titah Sebastian mutlak.

Aku melangkah ragu, menahan langkah di ambang pintu, sementara Sebastian berjalan masuk dengan dominasi yang membuat seluruh staf butik langsung menghentikan pekerjaan mereka dan menunduk hormat.

“Selamat sore, Tuan Sebastian.” sapa seorang wanita tinggi nan modis dengan senyum profesional yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Namanya tertera di nametag : Luna.

“Carikan gaun yang pantas untuknya.” perintah Sebastian, menjatuhkan tubuh besarnya ke sofa VIP berlapis kulit.

Ia menyilangkan kaki, lalu menatapku dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai yang membuat wajahku memanas karena malu.

“Pastikan dia tidak terlihat seperti anak sekolahan yang tersesat.”

“B-baik, Tuan.” Luna langsung menoleh padaku, matanya memindai posturku dengan presisi.

“Mari ikuti saya, Nona.”

Di ruang ganti yang megah dan terpisah dari area depan, aku menatap pantulan diriku yang mungil di cermin besar.

Dibandingkan para staf dan manekin berbalut kemewahan di butik ini, aku merasa sangat salah tempat.

Tanganku mencengkeram erat tali tas kanvasku.

Menyadari kegugupanku, Luna tiba-tiba melempar senyum yang jauh lebih hangat dan tulus dibandingkan senyum profesionalnya tadi di depan Sebastian.

“Jangan terlalu dimasukkan ke hati kata-kata Tuan Sebastian, Nona.” bisik Luna lembut, suaranya mengalun menenangkan.

“Beliau memang selalu bicara straight to the point dan sedikit... tegas.”

“Ah... iya. Aku hanya merasa sedikit salah tempat berada di sini.” cicitku jujur.

Luna tertawa pelan, sebuah tawa ringan.

Ia melangkah mendekat dan menyentuh pundakku dengan sopan.

“Banyak klien pertama kami yang merasa begitu. Tapi percayalah, tugas saya di sini bukan sekadar menempelkan kain mahal di tubuh Anda, melainkan membuat Anda menyadari betapa cantiknya diri Anda sebenarnya.”

Mata Luna memindai bahuku dari pantulan cermin.

“Nona punya struktur tulang selangka dan leher yang sangat indah. Kita akan menonjolkan bagian itu.”

Kata-kata lembut dan senyum tulus Luna sedikit banyak berhasil mengurai simpul ketegangan di dadaku.

Aku mengangguk pelan, mulai merasa sedikit nyaman dan bisa memercayai wanita ini.

Ia menyisihkan deretan gaun biasa dan mengambil sebuah mahakarya dari lemari kaca khusus.

Sebuah gaun haute couture berpotongan halter neck berwarna midnight blue yang terbuat dari material silk satin kualitas tertinggi.

Gaun itu dirancang memeluk lekuk tubuh dengan punggung terbuka (backless), dihiasi juntaian kristal Swarovski yang dijahit dengan tangan di sepanjang garis leher, serta belahan paha tinggi yang mengekspos kaki agar terlihat jauh lebih jenjang.

Saat aku keluar dari ruang ganti dengan gaun mewah itu menempel sempurna di tubuhku, aura dewasaku seolah terekspos sepenuhnya.

Sebastian mendongak dari layar ponselnya dan gerakan jarinya terhenti total.

Tatapannya terpaku lurus menatapku, menelusuri dari ujung kaki yang kini berbalut stiletto perak, naik ke belahan gaun di pahaku, hingga ke punggung dan bahuku yang terekspos dengan taburan kristal berkilauan.

Cukup lama ia terdiam.

Sorot tajam yang sulit diartikan, membuatku refleks menahan napas.

“Saya ambil gaun ini.” ucap Sebastian lalu bangkit berdiri, mengeluarkan kartu black card dari dompetnya dan menyerahkannya langsung kepada Luna.

Sembari menunggu transaksi diproses, langkah Sebastian terhenti di depan etalase kaca utama. Tatapannya tertuju pada satu set kalung dan anting berlian safir yang memantulkan kilau elegan.

“Tambahkan set perhiasan ini juga.” perintah Sebastian mutlak kepada staf butik, tanpa repot-repot melirik label harganya.

Mataku membelalak kaget.

Harga gaun rancangan desainer itu saja sudah membuatku merasa pusing, dan kini ia dengan santainya membeli set perhiasan berlian yang nilainya pasti sangat fantastis tanpa berpikir dua kali.

Namun, di bawah dominasi auranya yang membekukan, lidahku terasa kelu.

Aku hanya bisa menelan ludah dan meremas jemariku, sama sekali tak berani mengeluarkan satu patah kata pun untuk memprotes.

Setelah menerima kembali kartunya, Sebastian menoleh padaku dengan tatapan datar.

“Ganti bajumu. Bawa gaun dan perhiasan ini, kita pulang sekarang.”

Saat keluar dari ruang ganti beberapa menit kemudian, langkahku terhenti ketika mendengar bisikan pelan dari arah meja kasir.

“Siapa gadis itu?” bisik salah seorang staf. “Pacar Tuan Sebastian? Biasa banget!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   140

    Cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui celah tirai kamar. Aku membuka mata dengan kepala yang masih terasa berat. Semalam aku tidur cukup larut setelah berbicara dengan Kak Gavin. Walaupun pikiranku masih dipenuhi banyak hal, suara Kak Gavin berhasil membuatku sedikit lebih tenang. Pintu kamar diketuk pelan. “Masuk.” Seorang pelayan masuk dan menghampiriku. “Selamat pagi, Nona.” “Pagi.” Pelayan itu kemudian membantuku bersiap. Setelah semuanya selesai, ia membantu memindahkanku dari tempat tidur ke kursi roda dengan hati-hati. Pelayan itu memastikan semuanya sudah rapi sebelum kemudian bertanya, “Nona mau sarapan di kamar atau di ruang makan?” “Di ruang makan saja.” “Baik, Nona.” Namun sebelum aku dibawa keluar kamar, handphone yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Layar menyala. Kak Gavin — Video Call Senyum kecil langsung muncul di wajahku. Aku segera menerima panggilannya. Wajah Kak Gavin muncul di layar. “Pagi, Rania.” “Pagi, Kak.” Tatapannya langs

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   139

    Pintu itu tertutup perlahan. Aku masih menatapnya. Untuk beberapa detik, aku tidak mampu melakukan apa pun selain memandangi pintu yang baru saja dilewati Mas Tian. Rasanya aneh. Beberapa menit yang lalu, aku masih ingin dia pergi. Aku ingin dia berhenti memaksaku untuk terus berada dalam hubungan yang bahkan kami sendiri tahu tidak seharusnya terjadi. Namun sekarang, ketika dia benar-benar pergi... dadaku justru terasa begitu sesak. Aku memeluk tubuhku sendiri. Air mata yang sejak tadi kutahan kembali jatuh. Bukankah ini yang kuinginkan? Mas Tian akhirnya menyerah. Dia tidak lagi memintaku memilih dirinya. Seharusnya aku merasa lega. Namun, kenapa yang kurasakan justru seperti kehilangan? Aku mengusap pipiku dengan telapak tangan. “Bodoh...” bisikku pada diri sendiri. Aku menarik selimut hingga sebatas dada. Aku menatap langit-langit kamar. Pikiranku kembali berputar. Tentang Mas Tian. Tentang pertunangan dengan Kak Giselle. Tentang pengakua

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   138

    Mas Tian berjalan mendekat, langkahnya berdentum pelan di atas lantai berlapis karpet. Tidak ada bentakan atau gurat amarah yang meledak-ledak di wajahnya. Ia justru terlihat sedang menahan mati-matian badai emosi di dalam dadanya. Ia berhenti tepat di samping tempat tidur. Ia menunduk menatapku dengan napas yang memburu. “Kenapa kamu menerima Gavin sebagai kekasihmu?” tanyanya pelan. Suaranya tidak membentak, terdengar begitu halus dan memohon penjelasan baik-baik, namun justru ketenangan itulah yang membuatku merinding. Sorot matanya memancarkan rasa terluka yang begitu dalam. Aku menelan ludah, berusaha mencari suaraku. “K-karena dia sungguh-sungguh mencintaiku.” Mendengar kata itu, mata Mas Tian seketika memerah. Rahangnya mengeras menahan ngilu. Perlahan, ia naik ke atas ranjang. Ia tidak menyentakku, melainkan mengurung tubuhku dengan kedua lengannya, mencondongkan tubuh besarnya hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. “Apa kamu pik

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   137.

    “Saya setuju.”Dua kata itu meluncur begitu saja dari bibir Mas Tian.Dingin, tegas, tanpa keraguan sedikit pun.Semua percakapan di meja makan seketika terhenti.Bunda tampak terkejut, sebelum senyum lega muncul di wajahnya. Papa ikut terlihat lebih santai, sementara Tuan Carter tertawa puas.“Keputusan yang sangat baik, Tian.”Kak Giselle tersenyum di sampingnya.Aku hanya diam.Entah kenapa, dadaku terasa sesak mendengar jawaban itu.Mas Tian menerima pertunangan dengan Kak Giselle.Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Mas Tian.Dan mungkin aku memang tidak perlu tahu.Aku sudah memiliki Kak Gavin.Aku sudah memilih jalan yang berbeda.Hubunganku dengan Mas Tian adalah sesuatu yang tidak pernah seharusnya terjadi. Hubungan yang hanya diketahui oleh kami berdua dan harus tetap menjadi rahasia.Jadi ketika dia menerima pertunangan itu, seharusnya aku merasa lega.Seharusnya aku bisa benar-benar melepaskan semuanya.Tapi kenyataannya, ada bagian kecil dalam diriku yang justru teras

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   136

    Bunyi benturan itu masih berdenging di udara. Semua percakapan seketika terhenti. Mata semua orang di ruangan VVIP itu tertuju pada Mas Tian. Tangan pria itu masih mencengkeram erat meja, urat-urat di punggung tangannya menonjol menahan emosi. Namun sedetik kemudian, ia menarik napas panjang. Rahangnya yang mengeras perlahan mengendur, meski matanya tetap menyorot tajam. "Maaf," ucap Mas Tian dengan suara parau yang terdengar dipaksakan. "Tangan saya licin." Sebuah alasan yang teramat kaku. Namun Kak Gavin sama sekali tidak terpengaruh oleh letupan emosi itu. Ia duduk dengan tenang, bahunya rileks, sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan Mas Tian yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Sejak kapan?" tanya Mas Tian. Suaranya rendah. Dingin. Mengandung tuntutan yang hanya bisa dirasakan oleh kami yang duduk di sudut meja ini. Kak Gavin menatap balik tanpa berkedip. "Hampir satu minggu, Kak," jawabnya mantap. Hening sejenak. Lalu, suara tawa Tuan Aryasena memecah

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   135

    Mataku tak bisa lepas dari sosok yang berdiri di luar sana. Kak Gavin. Ia berdiri beberapa meter dari pintu ruangan kami.Kemeja kasual yang biasa ia kenakan di kampus kini berganti dengan setelan jas semi-formal berwarna gelap yang dijahit sempurna. Penampilannya benar-benar berbeda. Belum sempat aku memproses kehadirannya, seorang pelayan yang tadi membawa piring kosong mendorong daun pintu VVIP untuk keluar. Pintu itu terbuka lebar. Pada saat yang sama, Tuan Carter yang kebetulan sedang menghadap ke arah luar langsung membelalakkan mata. Ia segera bangkit dari kursinya. “Ah! Pak Aryasena?” serunya dengan senyum terkejut yang langsung berubah hangat.“Sungguh kebetulan yang luar biasa. Sedang makan malam di sini juga, Pak?” Keluarga yang semula hanya melintas di depan ruangan itu pun menghentikan langkah. Tuan Aryasena menoleh ke dalam.Begitu melihat siapa yang memanggilnya, ia tertawa kecil. “Ah, Pak Carter. Benar. Kami baru saja menyelesaikan urusan di sekitar sini dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status