Home / Romansa / DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN / 03. Logam dan Berlian

Share

03. Logam dan Berlian

Author: Miaoutumi01
last update Last Updated: 2026-01-08 05:01:55

Los Angeles, California – Pukul 17.45 sore, seminggu kemudian

Panas sore hari Los Angeles menyengat menerpa pelat kaca gedung pencakar langit Castellano Jewels yang berlokasi di distrik bisnis pusat kota.

Di dalam ruang desain yang terletak di lantai dua puluh lima, Arrabela sedang menunduk di atas meja kerja yang penuh dengan peralatan ukir dan berbagai jenis batu permata berkilauan.

Tangan kecilnya yang terampil sedang memegang sebuah batu safir biru muda yang besar, menyusunnya dengan hati-hati pada rancangan kalung yang tengah dia kerjakan.

Rambut pirangnya yang panjang dikumpulkan rapi di belakang kepala, namun beberapa helai masih terlepas dan menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat karena fokus.

“Arra, Papa memanggil kamu ke kantornya sekarang,” suara Fellicia, ibunya yang cantik dengan gaya rambut pendek yang rapi dan mengenakan gaun desain Serena Paris terbaru, terdengar dari pintu ruangan.

“Ada tamu penting yang datang dan ingin berbicara tentang kemungkinan kerja sama antara Castellano Jewels dan perusahaan mereka.”

Arra mengangkat kepalanya dengan ekspresi yang tidak suka. Dia menyimpan batu safir ke dalam kotak khusus dengan hati-hati sebelum berdiri dan menarik seragam kerja putihnya yang sedikit terkena noda debu batu permata.

“Tamu penting lagi? Bukankah kemarin saja ada tamu dari perusahaan emas Swiss yang datang?” ucapnya dengan nada yang sedikit memprotes.

“Aku punya banyak desain yang harus selesaikan kalau mau cepat mengumpulkan uang untuk memperbaiki mobil orang itu.” gumamnya pelan takut sang ibu ikut memdengar perkataannya barusan.

Fellicia menghela nafas dengan lelah. Dia mendekati putrinya dan membersihkan noda debu di pipi Arra dengan ujung sapu tangannya.

“Kamu tahu betul betapa pentingnya kerja sama ini untuk perkembangan bisnis kita di Amerika,” ucapnya dengan nada yang lembut namun tegas.

“Selain itu, papa dan aku merasa kamu perlu lebih sering berinteraksi dengan kalangan bisnis agar bisa belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik kelak.”

Arra mengangguk dengan tidak senang. Dia tahu ibunya benar, namun pikirannya selalu kembali ke bengkel Platinum Motors dan pada sosok pria dingin yang selalu menyakitinya dengan kata-katanya.

Sejak seminggu yang lalu, dia telah menghabiskan setiap sore setelah bekerja di toko perhiasan untuk membantu di bengkel – mulai dari membersihkan bagian mobil yang sudah diperbaiki hingga belajar cara mengoleskan lapisan pelindung pada permukaan cat mobil.

Setiap hari, Ares selalu datang untuk memeriksa perkembangan perbaikan dan tanpa gagal melontarkan kata-kata pedas yang membuat darahnya mendidih.

Setelah sedikit memperbaiki penampilannya, Arra mengikuti ibunya ke kantor ayahnya yang terletak di lantai atas. Saat pintu kantor dibuka, dia terkejut melihat sosok yang sudah sangat dia kenal sedang duduk di sofa mewah di sudut ruangan –

Ares Anthony Aquello, mengenakan jas hitam yang sempurna dengan dasi bergambar kecil mobil klasik. Di sebelahnya berdiri ayahnya, Juan Castellano, yang sedang dengan ramah berbicara dengan William Anthony Aquello – ayah dari Ares yang baru saja kembali dari Dubai.

“Ares?” ucap Arra dengan suara yang sedikit terdengar terkejut dan marah. “Apa kamu lakukan di sini?”

Ares menoleh ke arahnya dengan tatapan yang dingin dan sedikit menyengat. Dia berdiri dengan perlahan, tubuh tinggi nya membuat Arra merasa kecil di depannya.

“Sepertinya kamu tidak punya hak untuk bertanya apa yang aku lakukan di kantor ayahmu, gadis kecil yang selalu membuat kekacauan,” ucapnya dengan nada yang rendah namun jelas terdengar di seluruh ruangan.

“Kami di sini untuk membahas kerja sama antara Aquello Properties dan Castellano Jewels – kami ingin memasang perhiasan eksklusif buatan kalian di setiap unit apartemen mewah yang kami bangun di distrik Beverly Hills.”

Arra merasa darahnya mendidih. Dia mengangkat dagunya dengan tegas, matanya yang hijau muda menyala karena kemarahan.

“Kerja sama? Kamu benar-benar ingin bekerja sama dengan keluarga yang putrinya pernah menggores mobil kesayanganmu?” ucapnya dengan nada yang menyindir.

“Atau kamu hanya ingin kesempatan untuk mengganggu aku lebih banyak dengan datang ke tempat kerjaku sendiri?”

William dan Juan saling melirik dengan ekspresi yang sedikit bingung dan khawatir. Fellicia segera mendekati putrinya dan menarik lengan nya dengan lembut, namun Arra dengan cepat melepaskannya.

Ares hanya tersenyum tipis dengan wajah yang tetap dingin, seolah-olah menikmati konflik ringan yang muncul.

“Kesempatan untuk mengganggu kamu? Bukankah kamu yang selalu mencari kesempatan untuk membuat masalah di mana saja kamu berada?” ucap Ares dengan nada yang merendahkan.

“Namun, profesionalisme saya lebih tinggi dari pada emosi pribadi. Saya tahu betapa berkualitasnya perhiasan buatan Castellano Jewels, meskipun putrinya tidak terlalu bisa dipercaya dalam hal merawat barang berharga.”

“Tidak bisa dipercaya?!” teriak Arra dengan suara yang cukup keras.

“Setidaknya aku bekerja keras untuk menghasilkan sesuatu dengan tangan ku sendiri, tidak seperti kamu yang hanya mewarisi bisnis besar dari orang tuamu dan kemudian menghabiskan waktu luangmu dengan pesta malam dan mobil-mobil mewah yang tidak kamu rawat dengan benar!”

“Aku tidak merawat mobil dengan benar?” tanya Ares dengan tatapan yang semakin dingin.

“Kamu yang tidak bisa membedakan antara mobil ayahmu dan mobil orang lain, lalu menggosoknya dengan kunci sepeda motor yang kotor. Bukankah itu lebih menunjukkan bagaimana kamu tidak menghargai nilai dari sesuatu yang berharga?”

Juan akhirnya mengangkat suaranya dengan nada yang tegas untuk menghentikan konflik antara kedua anak muda itu. “Cukup sudah, kalian berdua!” ucapnya dengan suara yang kuat dan penuh dengan otoritas.

“Kita di sini untuk membahas hal yang penting bagi perkembangan bisnis kedua keluarga kita, bukan untuk bertengkar seperti anak-anak kecil!”

William mengangguk dengan setuju. Dia menoleh ke arah putranya dengan tatapan yang sedikit menyalahkan.

“Ares, kamu harus belajar untuk lebih sopan dalam berbicara dengan mitra potensial kita,” ucapnya dengan nada yang tegas.

“Dan kamu, Arrabela, juga harus belajar untuk mengendalikan emosi kamu dan berbicara dengan cara yang lebih profesional.”

Setelah beberapa lama diam dan menyesap minuman yang disajikan pramusaji, kedua keluarga akhirnya mulai membahas detail kerja sama yang diusulkan.

Arra dan Ares duduk di sisi berlawanan satu sama lain, masing-masing tetap tidak mau melihat ke arah lawan bicaranya. Namun, sesekali mereka saling melihat tajam ketika salah satu dari mereka mengeluarkan pendapat yang berbeda tentang bagaimana kerja sama tersebut harus dijalankan.

“Kita ingin setiap desain perhiasan dibuat secara khusus sesuai dengan tema arsitektur dari setiap gedung yang kami bangun,” ucap Ares dengan suara yang tenang namun tegas.

“Jadi, desainer kalian harus siap untuk bekerja sama erat dengan tim arsitek kami dan melakukan perubahan pada desain sesuai dengan kebutuhan proyek.”

Arra langsung membantah dengan cepat. “Tidak mungkin! Setiap desain perhiasan buatan Castellano Jewels adalah karya seni yang unik dan tidak bisa diubah sesuai dengan keinginan sembarangan!” ucapnya dengan suara yang penuh semangat.

“Kalau ingin perhiasan yang dibuat sesuai dengan tema arsitektur kalian, maka tim arsitek kalian harus bekerja sama dengan kami untuk menciptakan desain baru yang bisa menyatu dengan baik antara keindahan arsitektur dan keindahan perhiasan.”

Ares melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan rasa tidak percaya. “Karya seni yang unik? Bukankah sebagian besar desainmu hanya mengikuti tren yang sedang populer di dunia fesyen saat ini?” ucapnya dengan nada yang menyindir.

“Kalau benar-benar ingin dianggap sebagai desainer yang berbakat, kamu harus bisa beradaptasi dengan kebutuhan pasar dan mitra kerja sama kita.”

“Mengikuti tren tidak berarti tidak kreatif!” balik Arra dengan cepat.

“Saya menggabungkan tren masa kini dengan unsur-unsur tradisional pembuatan perhiasan yang telah ada selama berabad-abad di keluarga kami. Itu yang membuat desain saya menjadi unik dan berbeda dari desain-desain perhiasan lainnya di pasaran!”

Perdebatan antara mereka berlanjut dengan sengit, masing-masing tidak mau mundur sedikit pun dari pendapat mereka.

Namun, di balik kata-kata pedas yang mereka lontarkan satu sama lain, kedua orang tua mereka bisa melihat bahwa ide-ide yang mereka kemukakan sebenarnya saling melengkapi.

William akhirnya mengangkat tangan untuk menghentikan perdebatan mereka.

“Saya pikir kita bisa menggabungkan ide dari kedua belah pihak,” ucapnya dengan suara yang tenang dan penuh dengan kebijaksanaan.

“Tim arsitek Aquello Properties akan bekerja sama erat dengan tim desain Castellano Jewels untuk menciptakan desain yang bisa menyatu dengan baik antara arsitektur dan perhiasan. Ares dan Arrabela akan menjadi koordinator utama untuk kerja sama ini.”

Arra dan Ares sama-sama terkejut mendengar kata-kata William. Mereka saling melihat dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan dan ketidakpercayaan.

“Aku tidak mau bekerja sama dengan orang yang selalu menyakitiku dengan kata-katanya!” ucap Arra dengan suara yang marah.

“Aku juga tidak mau bekerja sama dengan gadis kecil yang tidak bisa mengendalikan emosinya dan selalu membuat masalah!” balik Ares dengan cepat.

Namun, keputusan sudah dibuat oleh kedua orang tua mereka. Juan menoleh ke arah putrinya dengan tatapan yang tegas. “Ini bukan pilihan, Arra,” ucapnya dengan suara yang tidak bisa ditolak.

“Kamu harus belajar untuk bekerja dengan orang lain, terutama orang yang memiliki pandangan yang berbeda denganmu. Ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagi perkembangan karirmu sebagai desainer perhiasan.”

Fellicia juga menambahkan kata-kata dengan nada yang lembut namun tegas. “Papa benar, sayang,” ucapnya dengan penuh kasih sayang.

“Kamu memiliki bakat yang luar biasa dalam dunia desain perhiasan, tapi kamu juga perlu belajar tentang bagaimana bekerja dalam tim dan menghargai pendapat orang lain.”

Ares juga menerima teguran dari ayahnya. William menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan harapan. “Ares, kamu adalah pewaris tunggal perusahaan keluarga kita,” ucapnya dengan suara yang tegas.

“Kamu harus belajar untuk lebih sabar dan bisa bekerja dengan orang lain dengan baik. Ini adalah kesempatan yang baik untukmu untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinanmu.”

Setelah pertemuan resmi berakhir, Ares mendekati Arra yang sedang berdiri di teras gedung Castellano Jewels, menikmati pemandangan kota Los Angeles yang mulai gelap dan diterangi oleh lampu-lampu jalan yang berkelap-kelip.

Dia berdiri di sebelahnya tanpa berkata apa-apa selama beberapa lama, sebelum akhirnya membuka mulut dengan nada yang tetap dingin namun sedikit lebih lembut dari biasanya.

“Kita tidak punya pilihan selain bekerja sama,” ucap Ares dengan suara yang rendah.

“Tetapi saya ingin kamu tahu bahwa saya tidak akan memperlakukanmu dengan berbeda hanya karena kita sedang bekerja sama. Jika kamu membuat kesalahan, saya akan langsung memberitahumu dengan jujur.”

Arra melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan namun juga sedikit rasa hormat.

“Saya juga akan melakukan hal yang sama,” ucapnya dengan suara yang tegas.

“Jika kamu memiliki pendapat yang salah tentang desain perhiasan atau bagaimana kerja sama ini harus dijalankan, saya akan langsung membantah dan memberitahumu apa yang saya pikirkan.”

Ares tersenyum tipis dengan wajah yang tetap dingin. “Baiklah, itu sudah lebih baik daripada kamu yang selalu membuat kekacauan tanpa bisa memberikan alasan yang jelas,” ucapnya dengan nada yang menyindir namun tidak terlalu pedas seperti biasanya.

Arra hanya menghela nafas dengan tidak senang. Dia melihat ke arah pemandangan kota yang indah, menyadari bahwa hidupnya akan semakin sulit dengan adanya kerja sama ini.

Namun, di dalam hatinya yang dalam, dia juga merasa sedikit penasaran dengan bagaimana hubungan antara dia dan Ares akan berkembang di masa depan.

Apakah mereka akan terus saling bertengkar dan melontarkan kata-kata pedas satu sama lain, ataukah ada sesuatu yang lebih dalam yang akan muncul di antara mereka?

Saat malam semakin larut dan lampu-lampu kota semakin bersinar terang, kedua orang muda itu berdiri berdampingan di teras gedung, masing-masing dengan pikiran dan perasaan mereka sendiri.

Di balik permusuhan dan kata-kata pedas yang mereka lontarkan satu sama lain, ada sesuatu yang mulai tumbuh – sebuah rasa rasa hormat yang tidak disadari dan mungkin akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam seiring berjalannya waktu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   06. Pesta Mewah

    Los Angeles, California – Pukul 18.45 sore, tiga hari kemudian Sebuah surat undangan bergelang emas dengan logo Aquello Properties yang dicetak dengan huruf emas timbul terletak di atas meja kerja Arrabela di kantor Castellano Jewels. Kertas berkualitas tinggi dengan tekstur lembut terasa dingin di ujung jarinya saat dia mengambilnya dengan hati-hati. Di dalamnya tertulis undangan untuk menghadiri pesta peluncuran proyek Aquello Residences Beverly Hills, yang akan diadakan di mansion milik keluarga Aquello di kawasan Pacific Palisades. “Pesta eksklusif untuk kalangan atas kota,” gumam Arra sambil membaca kata-kata yang sopan namun penuh dengan nuansa kemewahan. Dia melihat ke arah cermin kecil di sudut ruangan, memperhatikan penampilannya yang biasa saja – rambut pirang yang tergerai, gaun kerja yang sedikit kusut, dan tangan yang masih sedikit terkena debu batu permata. “Kamu harus datang, sayang,” suara Fellicia terdengar dari belakangnya. Ibunya membawa sebuah kotak kec

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   05. Kemewahan dan Kreativitas

    Los Angeles, California – Pukul 14.15 sore, seminggu kemudian Udara di dalam ruang pameran sementara Aquello Residences Beverly Hills terasa sejuk dan wangi dengan aroma lilin aromaterapi bergelas lavender. Ruangan yang luas di lantai bawah gedung yang sedang dalam tahap penyelesaian ini dihiasi dengan beberapa miniatur rancangan apartemen, serta contoh furnitur mewah dari merek ternama seperti Fendi Casa dan Bentley Home. Cahaya lembut dari lampu-lampu gantung desain modern menerangi setiap sudut ruangan, membuat permukaan marmer dan kayu asli yang digunakan terlihat semakin mengkilap. Arrabela berdiri di depan salah satu miniatur unit penthouse, tangannya memegang buku sketsa yang penuh dengan desain perhiasan yang dia buat selama beberapa minggu terakhir. Rambut pirangnya yang panjang dikumpulkan rapi dalam ikatan rendah, namun beberapa helai masih terlepas dan tertiup angin dari kipas pendingin ruangan. Dia mengenakan gaun kerja kasual berwarna putih susu dengan rok ya

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   04. KEHIDUPAN MEWAH DAN JARAK YANG BELUM TERATASI

    Los Angeles, California – Pukul 09.30 pagi, tiga hari setelah pertemuan di kantor Castellano Jewels Sinar matahari pagi menerobos tirai kaca besar di dalam ruang rapat mewah Aquello Properties yang berlokasi di lantai atas gedung pencakar langit di distrik Beverly Hills. Ruangan yang dihiasi dengan marmer putih dan perabotan kulit asli Italia ini penuh dengan aroma parfum mahal yang menyebar dari diffuser mewah di sudut ruangan. Arrabela duduk di sudut jauh meja rapat panjang, tangan kanannya menggenggam pena dengan erat sementara matanya mengamati layar proyektor yang menampilkan rancangan apartemen mewah Aquello Residences Beverly Hills. Di sisi lain meja, Ares Anthony Aquello duduk dengan pose tegap, jas hitam tailored dari Tom Ford yang dikenakannya terlihat sempurna di tubuh tinggi dan berototnya. Ikat pinggang Roland Iten Calibre R822 Predator yang terkilau dengan berlian dan emas merah menjadi titik fokus pada bagian bawah jasnya, sebuah simbol status yang tidak bisa dise

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   03. Logam dan Berlian

    Los Angeles, California – Pukul 17.45 sore, seminggu kemudian Panas sore hari Los Angeles menyengat menerpa pelat kaca gedung pencakar langit Castellano Jewels yang berlokasi di distrik bisnis pusat kota. Di dalam ruang desain yang terletak di lantai dua puluh lima, Arrabela sedang menunduk di atas meja kerja yang penuh dengan peralatan ukir dan berbagai jenis batu permata berkilauan. Tangan kecilnya yang terampil sedang memegang sebuah batu safir biru muda yang besar, menyusunnya dengan hati-hati pada rancangan kalung yang tengah dia kerjakan. Rambut pirangnya yang panjang dikumpulkan rapi di belakang kepala, namun beberapa helai masih terlepas dan menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat karena fokus. “Arra, Papa memanggil kamu ke kantornya sekarang,” suara Fellicia, ibunya yang cantik dengan gaya rambut pendek yang rapi dan mengenakan gaun desain Serena Paris terbaru, terdengar dari pintu ruangan. “Ada tamu penting yang datang dan ingin berbicara tentang kemungkinan kerj

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   02. Bengkel Eksklusif

    Los Angeles, California – Pukul 11.03 malam Rolls-Royce Phantom hitam melaju dengan kecepatan stabil di atas aspal Wilshire Boulevard, menjauh dari kilauan lampu neon restoran Le Jardin Secret. Di dalam kabin yang tenang, musik klasik dari era 1970-an – “Life in the Fast Lane” milik Eagles – mengalir lembut dari sistem suara premium, namun irama yang menggairahkan itu tidak mampu menghilangkan ketegangan yang melayang di antara dua orang muda di kursi belakang. Arra duduk dengan tubuh sedikit mencondong ke sisi jendela, matanya mengamati pemandangan kota yang berlalu cepat. Cahaya dari gedung pencakar langit menerpa permukaan kaca, membuat wajahnya yang masih berkaca-kaca karena kemarahan dan ketakutan tampak seperti terkena sorotan kamera. Dia sering menyilangkan tangan di depan dada, jari-jari kecilnya menggaruk bagian sobek dari jaket kulitnya tanpa sadar. Di sebelahnya, Ares duduk dengan sikap tegak dan rileks, namun wajahnya yang tampan tetap seperti blok es yang tak ter

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   01. Goresan

    Los Angeles, California – Pukul 10.17 malam Lampu neon kota Los Angeles menerangi jalan raya Wilshire Boulevard dengan warna-warni yang menyilaukan, mencerminkan kilauan dari mobil-mobil mewah yang melaju dengan kecepatan terkontrol di bawahnya. Di sebuah area parkir eksklusif depan restoran berbintang lima Le Jardin Secret, sebuah mobil kembar merah Ferrari 812 Superfast berdiri gagah di antara deretan kendaraan mewah lainnya. Body mobil yang mengkilap seperti cermin terpoles tampak sempurna, hingga sepasang kaki mengenakan sepatu bot kulit hitam yang sedikit kotor menginjak aspal dengan langkah ceroboh. “Finally! Papa pasti sudah ada di dalam sana,” gumam Arrabela Valentina Castellano sambil menarik napas dalam-dalam, tangannya masih erat menggenggam helm sepeda motor yang baru saja dia parkir di sudut jauh area parkir. Rambut pirangnya yang panjang sedikit berantakan karena angin malam, namun senyum manis yang khasnya tetap terpampang di wajah muda yang berusia dua puluh tah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status