Beranda / Romansa / DENDAM LUKA LAMA / 1. Terancam Gagal

Share

DENDAM LUKA LAMA
DENDAM LUKA LAMA
Penulis: Lis Susanawati

1. Terancam Gagal

Penulis: Lis Susanawati
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-14 22:56:24

DENDAM

- Terancam Gagal

"Van, dibatalkan saja resepsi pernikahan ini."

Vania, gadis yang tengah tegang menatap layar ponselnya itu kaget dan lemas mendengar ucapan papanya. Rasa cemas terpancar dari wajah ayunya yang sekarang terlihat pucat. Tangannya gemetar, lelaki yang akan menikahinya seminggu lagi, tiba-tiba menghilang tanpa kabar berita. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Alamat rumahnya dicari memang ada, tapi di sana kosong.

Pak Setya sendiri tidak tega melihat putrinya yang terlihat terpuruk. Dalam hati mengutuk lelaki yang tiba-tiba pergi tanpa jejak. Tidak menyangka pria yang begitu sopan, ramah, gagah, dan tampan itu tega menipu keluarganya. Padahal sejauh mereka saling kenal, tak ada gelagat mencurigakan. Makanya dengan sangat bersemangat, Pak Setya tidak keberatan pria itu dekat dengan putrinya.

Ada apa sebenarnya dibalik kejadian ini? Kenapa Sagara yang baik itu mempermainkan mereka.

"Bagaimana, Nduk?" tanya Pak Setya dengan tatapan cemas.

Vania menarik napas panjang untuk melonggarkan dadanya yang terasa tersumbat. "Undangan sudah disebar, Pa. Semua rekan kerjaku juga sudah tahu. Masih ada waktu untuk mencari Mas Gara. Aku khawatir terjadi sesuatu yang membuatnya nggak bisa dihubungi." Meski panik, Vania masih berusaha tetap berpikiran positif. Dia berharap lelaki itu tetap datang.

"Pernikahanmu tinggal menghitung hari." Pak Setya bicara dengan nada lesu.

Tangis Vania hampir meledak. Sudah seminggu ini tiap malam dia tidak bisa tidur karena memikirkan lelaki yang sebenarnya sudah sah menjadi suaminya secara agama. Dua bulan yang lalu, Pak Setya memang menikahkan putrinya secara siri dengan Sagara. Mereka begitu dekat, khawatir berbuat zina, makanya nikah siri akan menghindarkan mereka dari maksiat.

"Nak Gara, saya minta. Jangan sentuh Vania dulu meskipun kalian sudah sah menjadi suami istri. Nanti saja setelah kalian nikah resmi di KUA dan keluarga Nak Gara datang kesini untuk melamar sekalian resepsi pernikahan. Silakan kalian berbulan madu." Itu permintaan Pak Setya pada Sagara.

"Bagaimana, Ma?" Pak Setya menoleh pada istri yang duduk di sebelahnya.

Bu Endah menghela napas berat. "Kita usahakan dulu mencari Sagara, Pah. Masih ada waktu seminggu."

"Bagaimana kalau dia tetap nggak datang?" Firasat Pak Setya sudah buruk. Mengingat orang-orang yang disuruh mencari, tak mendapat hasil.

Hening.

Sudah berapa orang saja yang dikerahkan bos properti itu untuk mencari menantunya. Namun tak ada jejak yang menunjukkan keberadaannya.

"Rumah itu jarang dihuni katanya, Pak. Hanya sesekali saja seorang pria muda datang ke sana. Sebulan sekali belum tentu dia datang. Tapi katanya seminggu sekali ada seorang pekerja yang datang untuk bersih-bersih rumah." Ini penjelasan empat hari yang lalu dari orang suruhannya yang ditugaskan mencari alamat yang pernah Sagara berikan.

"Cari saja alamat orang yang biasanya bersih-bersih di rumah itu. Pasti dia tahu tentang bosnya," perintah Pak Setya. Namun selama empat hari mengawasi di sana, tetap saja tidak ada hasilnya. Orang itu juga tidak datang.

Bu Endah merangkul bahu putrinya dan mengusapnya lembut. Vania benar-benar lemas. Kalau Sagara tidak muncul, betapa malunya keluarga mereka. Pesta pernikahan megah sudah 90% persiapannya. Undangan yang disebar papanya lebih dari 2000 orang.

Vania anak tunggal. Jadi tidak heran kalau acara pernikahannya dibuat semegah dan semewah mungkin.

"Ma, aku ke kamar dulu." Dengan gontai, calon dokter itu melangkah menuju ke kamarnya. Impiannya terancam pupus. Sudah banyak perencanaan yang dirancang dengan matang, tapi kini serasa tinggal catatan kelam saja. Sebagai co-assistant yang memiliki tanggung jawab nyata terhadap pasien. Harus kuat secara fisik dan mental karena tekanan kerja yang sangat tinggi. Kini tinggal dua bulan saja akan selesai, diterpa permasalahan yang ruwet begini.

Keputusan menikah disetujuinya, mengingat dia sudah selesai koas. Disamping dirinya anak tunggal dan kedua orang tuanya ingin segera punya mantu dan cucu, Sagara juga pria yang baik.

Namun sekarang, jalan yang tinggal sejengkal lagi ke pelaminan terlihat sangat suram. Vania meraih ponselnya kembali. Nama Sagara dihubungi, tapi tetap nihil. Sudah ratusan pesan dikirim, tak ada satu pun yang masuk.

Kenapa dia begitu bodoh. Gampang mempercayai lelaki yang baru beberapa bulan ia kenal. Rombongan Sagara menyewa rumah tepat di seberang rumah orang tuanya. Dia seorang manager proyek yang sedang membangun sebuah resort mewah yang lokasinya di pinggiran kota kecil mereka.

"Van, keluar dulu, Nak. Ada yang mau minta tolong." Sang mama memanggilnya dari luar kamar. Suatu sore sekitar setahun yang lalu.

"Ada apa, Ma?"

"Ada Mas yang terluka tangannya, kena pecahan cermin yang jatuh."

"Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit saja."

"Mungkin nggak terlalu parah, tapi butuh penanganan. Coba kamu lihat. Biar kamu di anterin ke sana sama Mbak Mar."

Vania masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil perlengkapan yang tersedia. Kemudian bergegas pergi di temani oleh ART-nya. Menyeberang jalan, lalu dipersilakan masuk ke dalam rumah yang penghuninya lelaki semua.

Di ruang tamu itu dia bertemu pertama kali dengan pria muda yang memperkenalkan dirinya bernama Sagara. Dia sosok tinggi, tegap, dan rupawan. Vania berdesir saat menatapnya. Sudah sering dia bertemu dengan banyak lelaki, mulai dari teman kuliah, dokter di rumah sakit, atau pun relasi bisnis papanya. Namun Sagara sangat berbeda. Dia pria yang sangat memikat. Tatapan matanya menghipnotis.

"Terima kasih, Dok," ucap Sagara setelah Vania selesai membalut lukanya.

"Saya belum menjadi dokter, Mas. Saya mahasiswa kedokteran yang masih menjalani program profesi untuk memperoleh gelar dokter."

"Oh."

Saat mengingat kenangan itu, Vania berkeringat dingin meski kamarnya ber-AC. Dirinya benar-benar takut. Tak sanggup menghadapi pergunjingan kalau sampai Sagara tidak muncul.

Dengan kaki gemetar, ia kembali ke luar kamar untuk mengambil air minum. Langkahnya terhenti saat mendengar percakapan sang ayah dengan orang suruhannya.

"Bagaimana?"

"Rumah itu tetap sepi, Pak. Saya ke kantor pusat tempatnya bekerja, satpam dan pegawai di sana bilang tidak ada manager proyek bernama Sagara. Bahkan saya sudah menunjukkan fotonya, tapi mereka bilang tidak kenal."

Mendengar kabar itu, tubuh Vania luruh ke lantai. Apa ini sebagai tanda kalau dirinya akan dipermalukan seminggu lagi? Tidak hanya dirinya, tapi keluarganya juga. Kalau materi bisa dicari, tapi bagaimana dengan rasa malu dan harga diri. Ya, harga diri. Pria itu telah mengambil darinya.

Next ....

- Teman-teman semua, selamat datang di cerbung baruku, ya. Jangan lupa subscribe, like, dan komentar. Kita akan memulai petualangan wanita tangguh bernama Vania.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (24)
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
kasian Vaniae
goodnovel comment avatar
Eka Murti Muryitno
Bagus ... suka
goodnovel comment avatar
Zuriyanti Sasmita
sudah sisimpan di pustaka thor, tp bacanya nanti aja klo udah tamat.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • DENDAM LUKA LAMA   133. Jangan Diulangi Lagi 3

    "Banyak pasien, Mas.""Sampai tidak sempat membalas pesan meski singkat saja?" Wajah Erlangga masih menunjukkan kegelisahan.Keduanya saling pandang. Vania kemudian menceritakan kalau dokter Fatimah sudah tahu tentang kehamilannya."Mas memang sudah ngasih tahu Mama tadi malam. Dan Mama ingin menemuimu sebentar lagi di kosan."Dada Vania berdebar-debar mendengarnya. "Jangan khawatir, Mama bahagia mendengar kamu hamil.""Mbak Alina bagaimana, Mas?""Mas belum ngasih tahu. Malam ini Mas ngajak ngobrol Mbak Alina. Apa papamu menelepon lagi?"Vania mengangguk."Beliau ngomong apa?"Setelah menghela napas panjang, Vania menceritakan apa yang mereka bicarakan. Vania sebenarnya ingin menutupi, tapi rasanya tidak mungkin. Erlangga harus tahu kalau papanya mengkhawatirkan tentang balas dendam. "Kamu nggak ada kepikiran hal itu kan, Mas?""Ya Allah, Van. Mana mungkin Mas akan mencelakaimu dan anak kita. Kamu tahu betapa bahagianya Mas saat kamu hamil. Mas melakukannya dengan sengaja, biar kamu

  • DENDAM LUKA LAMA   132. Jangan Diulangi Lagi 2

    "Bagaimana sata bisa menerima kalau adik saya sendiri menikahi anak dari lelaki yang sudah menghancurkan hidup saya?"Dokter Fatimah menghela napas pelan. "Saya tidak mengatakan itu mudah. Saya tahu bagaimana sakitnya hati Mbak Alina. Namun harus ingat, Vania bukan ayahnya. Ia adalah individu yang berbeda. Jika terus menyamakan, Mbak Alina hanya akan menutup jalan hatimu sendiri. Sedangkan selama ini pun Mbak menyayangi Vania, kan? Saya masih ingat saat Mbak Alina bilang, nyaman dan cocok dengan dokter Vania. Bahkan berniat hendak mengenalkannya pada Mas Erlangga. Iya, kan?"Alina mengangguk."Proses berdamai itu bertahap. Mulailah dengan langkah kecil. Bagaimanapun juga mereka sudah menikah."Alina menarik napas panjang ingat percakapan itu. Yang membuka sedikit ruang lega di dadanya. Ia tahu perjalanan ini tidak mudah, tapi ia harus menerimanya. Sang mama pun bisa menerima Vania.Perlahan Alina kembali bangun. Ia keluar kamar dan mengetuk pelan pintu kamar mamanya. Lalu mendorongnya

  • DENDAM LUKA LAMA   131. Jangan Diulangi Lagi 1

    DENDAM- Jangan Diulangi Lagi"Vania hamil?" tanya Bu Ambar dengan tatapan kaget sekaligus berbinar. "Ya, Ma.""Masya Allah. Alhamdulillah. Sudah berapa minggu?""Belum tahu. Belum periksa soalnya.""Segera suruh periksa. Di klinik kan ada dokter kandungan, Er. Tapi, bagaimana dengan internshipnya Vania? Semoga tidak terkendala. Dokter Fatimah sudah tahu atau belum?" panjang sekali pertanyaan Bu Ambar karena bahagianya.Erlangga menggeleng. Dia cerita kalau Vania tahu dirinya hamil juga baru tadi pagi. Bu Ambar terdiam sejenak. Wajah bahagia tadi sekarang berubah khawatir. "Er, hamil muda itu nggak mudah. Ada mual, ada lelah, ada mood yang naik turun. Kamu harus sabar. Terlebih dengan situasi kalian yang sulit begini. Kamu harus selalu mendampingi juga.""Ya, Ma.""Bagaimana dengan orang tuanya Vania?""Papanya tahu, mamanya yang belum."Bu Ambar menatap serius putranya. "Tanggapan papanya bagaimana?"Erlangga menghela napas panjang. Ia tidak langsung menjawab. Keheningan menyusup se

  • DENDAM LUKA LAMA   130. Tinggalkan Dia 3

    Kalau apa yang direncanakan berjalan seperti seharusnya. Dia tidak akan sebingung ini. Masih bisa menata hati. Memberitahu mamanya dengan pelan-pelan. Kalau soal papanya, terserah saja. Belum lagi ia harus berhadapan dengan rekan-rekannya di klinik. Ingin rasanya memukuli Erlangga kenapa membuatnya hamil, tapi tetap tidak akan mengubah keadaan. Dia juga punya andil hingga janin itu tumbuh di rahimnya. Sekesal apapun, dia menerima kehadiran calon anaknya. Meski hadir di momen yang tidak direncanakan."Kita pulang sekarang, Mas."Erlangga tidak bisa menahan. Vania dengan tergesa merapikan baju yang dipakainya, lalu mengenakan jilbab. Sejenak ia berdiri untuk mengecek ponsel. Benar di situ masih ada pesan dari papanya.Keduanya melangkah keluar dari apartemen. Erlangga mengajak Vania mampir ke supermarket untuk membeli susu khusus ibu hamil. Beberapa snack dan buah. Juga mampir ke rumah makan untuk membelikan makan malamnya Vania. Melihat istrinya terlihat lesu, Erlangga tambah khawatir

  • DENDAM LUKA LAMA   129. Tinggalkan Dia 2

    Pak Setya bangkit dari kursi, mondar-mandir di ruang kerja. Tangannya terus mengusap rambutnya yang masih hitam karena terbalut semir. "Benarkah ini karma? Kenapa harus Erlangga yang datang ke hidup anakku. Bagaimana ini?"Di kepalanya terus dihantui bayangan Erlangga yang bisa kapan saja membuka aib masa lalu. Jika itu terjadi, karier, keluarga, bahkan reputasi yang ia bangun puluhan tahun akan runtuh seketika. Bagaimana dengan pernikahannya? Yang ia pertahankan mati-matian sekian lama. Mereka baru saja merayakan ulang tahun pernikahan peraknya.Ia sangat mencintai Bu Endah. Itulah kenapa pilihan terakhir kembali pada wanita itu dan membiarkan Alina hancur. Istri siri yang selalu menjadi objek pelampiasan syahwatnya disaat dia berjauhan dengan Bu Endah.Wajah Vania juga terbayang. Putrinya yang cantik, yang ia cintai, kini jatuh ke pelukan 'musuh' istilahnya. Dulu ia yang melarang Erlangga menyentuh Vania sebelum menikah resmi secara negara. Namun sekarang justru putrinya sudah hami

  • DENDAM LUKA LAMA   128. Tinggalkan Dia 1

    DENDAM- Tinggalkan Dia"Apa kamu bilang?" suara Pak Setya meninggi. Tentunya dia kaget dengan pengakuan Erlangga."Vania hamil anak saya," jawab Erlangga begitu jelas. "Berani-beraninya kamu sentuh Vania. Aku nggak akan membiarkan anakku kamu hancurkan? Vania nggak tahu apa-apa. Jangan lampiaskan dendammu padanya. Jangan sakiti dia." Terdengar suara Pak Setya meninggi karena panik.Nada marah itu membuat Erlangga justru semakin tenang. Ia merebahkan tubuh di sofa dekat jendela kaca, memandangi langit siang dengan senyum samar. "Saya bukan lelaki sebrengsek yang Anda kira. Saya tidak sejahat itu. Saya tidak seperti orang yang sudah menghancurkan hidup kakak saya tujuh belas tahun yang lalu," sindirnya.Hening, tapi menyimpan amarah. Erlangga bisa mendengar suara napas kasar papa mertuanya. Jika sebagai adik dari Alina, tindakannya ini benar. Dia sedang menghajar orang yang sudah menghancurkan masa depan kakaknya. Namun jika dilihat dari segi menantu, Erlangga salah. Dia sangat tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status