Kalau apa yang direncanakan berjalan seperti seharusnya. Dia tidak akan sebingung ini. Masih bisa menata hati. Memberitahu mamanya dengan pelan-pelan. Kalau soal papanya, terserah saja. Belum lagi ia harus berhadapan dengan rekan-rekannya di klinik. Ingin rasanya memukuli Erlangga kenapa membuatnya hamil, tapi tetap tidak akan mengubah keadaan. Dia juga punya andil hingga janin itu tumbuh di rahimnya. Sekesal apapun, dia menerima kehadiran calon anaknya. Meski hadir di momen yang tidak direncanakan."Kita pulang sekarang, Mas."Erlangga tidak bisa menahan. Vania dengan tergesa merapikan baju yang dipakainya, lalu mengenakan jilbab. Sejenak ia berdiri untuk mengecek ponsel. Benar di situ masih ada pesan dari papanya.Keduanya melangkah keluar dari apartemen. Erlangga mengajak Vania mampir ke supermarket untuk membeli susu khusus ibu hamil. Beberapa snack dan buah. Juga mampir ke rumah makan untuk membelikan makan malamnya Vania. Melihat istrinya terlihat lesu, Erlangga tambah khawatir
Pak Setya bangkit dari kursi, mondar-mandir di ruang kerja. Tangannya terus mengusap rambutnya yang masih hitam karena terbalut semir. "Benarkah ini karma? Kenapa harus Erlangga yang datang ke hidup anakku. Bagaimana ini?"Di kepalanya terus dihantui bayangan Erlangga yang bisa kapan saja membuka aib masa lalu. Jika itu terjadi, karier, keluarga, bahkan reputasi yang ia bangun puluhan tahun akan runtuh seketika. Bagaimana dengan pernikahannya? Yang ia pertahankan mati-matian sekian lama. Mereka baru saja merayakan ulang tahun pernikahan peraknya.Ia sangat mencintai Bu Endah. Itulah kenapa pilihan terakhir kembali pada wanita itu dan membiarkan Alina hancur. Istri siri yang selalu menjadi objek pelampiasan syahwatnya disaat dia berjauhan dengan Bu Endah.Wajah Vania juga terbayang. Putrinya yang cantik, yang ia cintai, kini jatuh ke pelukan 'musuh' istilahnya. Dulu ia yang melarang Erlangga menyentuh Vania sebelum menikah resmi secara negara. Namun sekarang justru putrinya sudah hami
DENDAM- Tinggalkan Dia"Apa kamu bilang?" suara Pak Setya meninggi. Tentunya dia kaget dengan pengakuan Erlangga."Vania hamil anak saya," jawab Erlangga begitu jelas. "Berani-beraninya kamu sentuh Vania. Aku nggak akan membiarkan anakku kamu hancurkan? Vania nggak tahu apa-apa. Jangan lampiaskan dendammu padanya. Jangan sakiti dia." Terdengar suara Pak Setya meninggi karena panik.Nada marah itu membuat Erlangga justru semakin tenang. Ia merebahkan tubuh di sofa dekat jendela kaca, memandangi langit siang dengan senyum samar. "Saya bukan lelaki sebrengsek yang Anda kira. Saya tidak sejahat itu. Saya tidak seperti orang yang sudah menghancurkan hidup kakak saya tujuh belas tahun yang lalu," sindirnya.Hening, tapi menyimpan amarah. Erlangga bisa mendengar suara napas kasar papa mertuanya. Jika sebagai adik dari Alina, tindakannya ini benar. Dia sedang menghajar orang yang sudah menghancurkan masa depan kakaknya. Namun jika dilihat dari segi menantu, Erlangga salah. Dia sangat tidak
Ia memperhatikan halaman kosan yang sepi. Kosan itu khusus perempuan. Tidak mungkin ia masuk. Itu akan menimbulkan masalah. Tapi menunggu di luar dengan hati resah seperti ini pun menyiksa.Erlangga menyalakan mobil, lalu mematikan lagi. Mengetuk setir, mendesah, dan tatapannya tak beralih dari pintu kamar yang tertutup rapat.Detik demi detik terasa panjang. Hingga akhirnya, ponselnya bergetar. Nama Vania muncul di layar. Dengan cepat ia sambut. "Hallo, Sayang. Mas sudah di depan pagar.""Iya," jawab Vania dengan suara lirih dan serak."Kamu nggak apa-apa kan?" Erlangga khawatir."Aku tidur tadi, Mas. Tunggu bentar. Aku akan keluar."Erlangga menghela napas lega. "Oke. Mas tunggu di depan. Kita makan siang bareng."Tak lama kemudian, pintu pagar kos terbuka. Vania muncul dengan langkah pelan, menenteng tas ukuran sedang. Wajahnya tanpa riasan, tapi tetap memancarkan pesona yang membuat hati Erlangga terpikat. Namun berbeda dengan dirinya yang penuh semangat, wajah istrinya tampak lel
"Oke. Mas, pesankan. Nanti dikirim ke kosan. Mas ada rapat setengah jam lagi. Selesai rapat, Mas jemput kamu ke kosan.""Nggak usah. Aku mau tidur. Seminggu lagi kita baru ketemu.""Eh, tidak bisa. Siang ini kita ketemu. Kamu harus periksa juga."Vania mendengkus lirih. "Aku tahu." Nada suara Vania masih ketus."Sayang, jangan kamu apa-apain anak kita.""Lah, memang Mas pikir mau aku apain?""Kamu sedang kecewa, Van. Tapi kita harus bahagia. Percayalah, internshipmu akan tetap berjalan dan impianmu terwujud. Mas yang ngomong sama dokter Fat."Hening sejenak. Tapi Vania kepikiran tentang mamanya. Apa memang sudah waktunya semua terungkap? Beberapa bulan ke depan perutnya akan membuncit dan mau tidak mau mamanya harus tahu."Sayang, kamu mau sarapan apa. Biar Mas pesenin.""Nasi rames saja. Pakai bali telur.""Oke.""Aku mau mandi." Vania menutup panggilan lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Beberapa detik terdiam, lalu bangkit untuk mengambil handuk. Baru juga masuk kamar mandi, Va
DENDAM- Dia Hamil Anak Saya"Van, kamu sakit? Kelihatan pucat dan lemas gitu," seloroh Cici ketika mereka bertemu di ruangan."Nggak, Ci. Ngantuk aja, sih," jawab Vania sambil mengemas tasnya. Dia tidak ingin cerita ke sahabatnya dulu. Vania juga masih kaget, walaupun sudah menduga kehamilan ini jauh-jauh hari."Aku pulang dulu," pamitnya."Oke."Vania meninggalkan klinik. Melangkah pelan di trotoar yang basah karena hujan yang turun menjelang subuh tadi. Pandangannya jauh ke depan. Kenapa sekarang? Semua tidak sesuai rencana. Dia hamil disaat internship baru separuh perjalanan. Duh ....Bagaimana ia membagi energi dalam kondisi hamil dan segala kesibukan di klinik. Padahal setahun ini masa-masa penentuan sebelum dirinya benar-benar menyandang status dokter sepenuhnya.Ia mendengkus kesal. Di balik kebingungannya, ada perasaan gemas sekaligus jengkel yang ditujukan pada suaminya."Kita aman, Sayang. Percaya sama aku. Sudah kubilang, aku tidak akan merusak mimpi-mimpimu." Ini ucapan