"Banyak pasien, Mas.""Sampai tidak sempat membalas pesan meski singkat saja?" Wajah Erlangga masih menunjukkan kegelisahan.Keduanya saling pandang. Vania kemudian menceritakan kalau dokter Fatimah sudah tahu tentang kehamilannya."Mas memang sudah ngasih tahu Mama tadi malam. Dan Mama ingin menemuimu sebentar lagi di kosan."Dada Vania berdebar-debar mendengarnya. "Jangan khawatir, Mama bahagia mendengar kamu hamil.""Mbak Alina bagaimana, Mas?""Mas belum ngasih tahu. Malam ini Mas ngajak ngobrol Mbak Alina. Apa papamu menelepon lagi?"Vania mengangguk."Beliau ngomong apa?"Setelah menghela napas panjang, Vania menceritakan apa yang mereka bicarakan. Vania sebenarnya ingin menutupi, tapi rasanya tidak mungkin. Erlangga harus tahu kalau papanya mengkhawatirkan tentang balas dendam. "Kamu nggak ada kepikiran hal itu kan, Mas?""Ya Allah, Van. Mana mungkin Mas akan mencelakaimu dan anak kita. Kamu tahu betapa bahagianya Mas saat kamu hamil. Mas melakukannya dengan sengaja, biar kamu
"Bagaimana sata bisa menerima kalau adik saya sendiri menikahi anak dari lelaki yang sudah menghancurkan hidup saya?"Dokter Fatimah menghela napas pelan. "Saya tidak mengatakan itu mudah. Saya tahu bagaimana sakitnya hati Mbak Alina. Namun harus ingat, Vania bukan ayahnya. Ia adalah individu yang berbeda. Jika terus menyamakan, Mbak Alina hanya akan menutup jalan hatimu sendiri. Sedangkan selama ini pun Mbak menyayangi Vania, kan? Saya masih ingat saat Mbak Alina bilang, nyaman dan cocok dengan dokter Vania. Bahkan berniat hendak mengenalkannya pada Mas Erlangga. Iya, kan?"Alina mengangguk."Proses berdamai itu bertahap. Mulailah dengan langkah kecil. Bagaimanapun juga mereka sudah menikah."Alina menarik napas panjang ingat percakapan itu. Yang membuka sedikit ruang lega di dadanya. Ia tahu perjalanan ini tidak mudah, tapi ia harus menerimanya. Sang mama pun bisa menerima Vania.Perlahan Alina kembali bangun. Ia keluar kamar dan mengetuk pelan pintu kamar mamanya. Lalu mendorongnya
DENDAM- Jangan Diulangi Lagi"Vania hamil?" tanya Bu Ambar dengan tatapan kaget sekaligus berbinar. "Ya, Ma.""Masya Allah. Alhamdulillah. Sudah berapa minggu?""Belum tahu. Belum periksa soalnya.""Segera suruh periksa. Di klinik kan ada dokter kandungan, Er. Tapi, bagaimana dengan internshipnya Vania? Semoga tidak terkendala. Dokter Fatimah sudah tahu atau belum?" panjang sekali pertanyaan Bu Ambar karena bahagianya.Erlangga menggeleng. Dia cerita kalau Vania tahu dirinya hamil juga baru tadi pagi. Bu Ambar terdiam sejenak. Wajah bahagia tadi sekarang berubah khawatir. "Er, hamil muda itu nggak mudah. Ada mual, ada lelah, ada mood yang naik turun. Kamu harus sabar. Terlebih dengan situasi kalian yang sulit begini. Kamu harus selalu mendampingi juga.""Ya, Ma.""Bagaimana dengan orang tuanya Vania?""Papanya tahu, mamanya yang belum."Bu Ambar menatap serius putranya. "Tanggapan papanya bagaimana?"Erlangga menghela napas panjang. Ia tidak langsung menjawab. Keheningan menyusup se
Kalau apa yang direncanakan berjalan seperti seharusnya. Dia tidak akan sebingung ini. Masih bisa menata hati. Memberitahu mamanya dengan pelan-pelan. Kalau soal papanya, terserah saja. Belum lagi ia harus berhadapan dengan rekan-rekannya di klinik. Ingin rasanya memukuli Erlangga kenapa membuatnya hamil, tapi tetap tidak akan mengubah keadaan. Dia juga punya andil hingga janin itu tumbuh di rahimnya. Sekesal apapun, dia menerima kehadiran calon anaknya. Meski hadir di momen yang tidak direncanakan."Kita pulang sekarang, Mas."Erlangga tidak bisa menahan. Vania dengan tergesa merapikan baju yang dipakainya, lalu mengenakan jilbab. Sejenak ia berdiri untuk mengecek ponsel. Benar di situ masih ada pesan dari papanya.Keduanya melangkah keluar dari apartemen. Erlangga mengajak Vania mampir ke supermarket untuk membeli susu khusus ibu hamil. Beberapa snack dan buah. Juga mampir ke rumah makan untuk membelikan makan malamnya Vania. Melihat istrinya terlihat lesu, Erlangga tambah khawatir
Pak Setya bangkit dari kursi, mondar-mandir di ruang kerja. Tangannya terus mengusap rambutnya yang masih hitam karena terbalut semir. "Benarkah ini karma? Kenapa harus Erlangga yang datang ke hidup anakku. Bagaimana ini?"Di kepalanya terus dihantui bayangan Erlangga yang bisa kapan saja membuka aib masa lalu. Jika itu terjadi, karier, keluarga, bahkan reputasi yang ia bangun puluhan tahun akan runtuh seketika. Bagaimana dengan pernikahannya? Yang ia pertahankan mati-matian sekian lama. Mereka baru saja merayakan ulang tahun pernikahan peraknya.Ia sangat mencintai Bu Endah. Itulah kenapa pilihan terakhir kembali pada wanita itu dan membiarkan Alina hancur. Istri siri yang selalu menjadi objek pelampiasan syahwatnya disaat dia berjauhan dengan Bu Endah.Wajah Vania juga terbayang. Putrinya yang cantik, yang ia cintai, kini jatuh ke pelukan 'musuh' istilahnya. Dulu ia yang melarang Erlangga menyentuh Vania sebelum menikah resmi secara negara. Namun sekarang justru putrinya sudah hami
DENDAM- Tinggalkan Dia"Apa kamu bilang?" suara Pak Setya meninggi. Tentunya dia kaget dengan pengakuan Erlangga."Vania hamil anak saya," jawab Erlangga begitu jelas. "Berani-beraninya kamu sentuh Vania. Aku nggak akan membiarkan anakku kamu hancurkan? Vania nggak tahu apa-apa. Jangan lampiaskan dendammu padanya. Jangan sakiti dia." Terdengar suara Pak Setya meninggi karena panik.Nada marah itu membuat Erlangga justru semakin tenang. Ia merebahkan tubuh di sofa dekat jendela kaca, memandangi langit siang dengan senyum samar. "Saya bukan lelaki sebrengsek yang Anda kira. Saya tidak sejahat itu. Saya tidak seperti orang yang sudah menghancurkan hidup kakak saya tujuh belas tahun yang lalu," sindirnya.Hening, tapi menyimpan amarah. Erlangga bisa mendengar suara napas kasar papa mertuanya. Jika sebagai adik dari Alina, tindakannya ini benar. Dia sedang menghajar orang yang sudah menghancurkan masa depan kakaknya. Namun jika dilihat dari segi menantu, Erlangga salah. Dia sangat tidak