Share

16. KONSULTAN

Author: Arata Kaivan
last update publish date: 2026-09-08 06:29:18

Pukul tujuh malam, seluruh lampu putih di ruang tengah kantor Nexus dinyalakan bersamaan. TARGET JUNI = 105% (ACHIEVED) tertulis di papan tulis putih di ujung ruangan.

Pintu kaca depan terbuka. Anto masuk sambil menjinjing dua kotak kardus besar pizza ukuran family size di tangan kanan, dan satu kantong plastik besar berisi ayam goreng tepung serta beberapa kaleng soda di tangan kirinya.

"Yang diet besok aja dietnya! Malam ini tim kita makan-makan dulu!" Anto berte
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   34. STRUKTUR

    Rafi memajukan badannya, kedua siku di atas meja kayu. Matanya bergerak cepat, menatap Alika yang duduk tegak, lalu beralih ke Juna meraba sudut bibirnya yang pecah, lalu kembali ke arah Alika."Jadi bentar," Rafi mengetuk korek api gasnya ke meja. "Alika Prameswari mau bikin PT... buat lo?""Iya.""Gratis?" tanya Rafi lagi."Iya."Rafi memutar lehernya, menghadap Nara yang hanya memandangi gelembung udara di permukaan teh tawar hangatnya. "Fix. Ini modus."Sudut bibir Alika tertarik ke atas. Dia mengambil botol air mineralnya, memutar tutupnya, lalu meminumnya sedikit tanpa melepaskan pandangan dari kedua orang di depannya.Nara meletakkan gelasnya. Tangannya terangkat setinggi bahu, telapaknya terbuka menghadap Rafi. "Gue setuju."Juna mendongak, alisnya bertaut, luka di pelipisnya menegang. "Setuju apaan?""Modus," sahut Nara datar, matanya berkedip lambat.Tangan Juna bergerak ke depan, meraih sendok teh di dekat asbak, jemarinya meremas g

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   33. PERUSAHAAN KONSULTAN

    Rahang Juna terbuka beberapa detik, ia menatap Alika tanpa berkedip, lalu menutup mulutnya kembali.Alika menutup laptopnya, meraih tasnya."Bentar," Juna mengangkat tangan kanannya di udara. "Saya belum setuju sama sekali soal urusan bikin perusahaan atau ketemu Pak Albert."Alika memasukkan laptopnya ke dalam tas kulit hitam. "Saya nggak menerima penolakan untuk proyek yang sudah masuk ke meja kerja ayah saya, Juna."Juna menurunkan tangannya, Alisnya berkerut menatap Alika. "Itu... itu bukan cara kerja persetujuan bisnis, Kak Alika.""Itu cara kerja saya," Alika berdiri, "Satu lagi, nggak usah panggil saya Mbak atau Kak kalau kita lagi nggak di depan staf internal. Panggil nama nggak masalah. Ayo, kita nggak punya banyak waktu sebelum jam makan siang."Juna menatap kursi kosong yang ditinggalkan Alika, lalu melihat ke arah amplop cokelat tebal yang masih tertinggal di atas meja.Sedan hitam Alika merayap lambat di tengah kepadatan jalur satu Sudirman y

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   32. PROPOSAL

    Aroma aspal basah bercampur dengan asap knalpot kendaraan di depan kantor Glowinc. Juna melangkah melewati pintu putar otomatis. Tangan kanannya bergerak pendek, menyentuh sudut bibir bawahnya yang masih tebal, kaku, dan berdenyut konstan. Setiap kali menelan ludah, otot perut bagian kirinya menarik sisa rasa perih dari hantaman semalam di trotoar Mampang. Seorang wanita resepsionis berambut sanggul rapi di balik meja marmer hitam menegakkan punggung saat bayangan Juna mendekat. "Pagi, Mas Juna," wanita itu tersenyum, mengangguk kecil. "Mbak Alika sudah nunggu dari tadi di ruang rapat utama." Juna menghentikan langkahnya di samping pembatas tiang antrean beludru. "Saya telat, Mbak?" "Nggak, Mas. Jadwalnya kan jam sembilan," resepsionis itu melirik jam dinding digital yang masih menunjukkan pukul 08.24. "Beliau saja yang datang jauh lebih pagi hari ini." Juna menarik ujung jaket katunnya ke bawah, menyembunyikan lipatan kemejanya yang

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   31. KAMAR 104

    Motor bergerak lambat membelah jalanan Mampang yang mulai sunyi. Angin malam berembus kencang meniup rambut Dita hingga mengenai pundak Juna."Ngapain sih lo pake nolongin gue?" suaranya rendah, nyaris tenggelam desis angin jalanan.Juna menyeringai sedikit. "Refleks.""Malah jadi bonyok gitu muka lo," Dita memalingkan wajahnya ke arah deretan ruko yang tutup, jemarinya meremas pinggiran besi jok."Ya mana gue tahu kalau mereka jago berantem," Juna memutar gas sedikit lebih dalam, melewati lampu lalu lintas yang berkedip kuning sendirian di persimpangan. "Gue kira mereka cuma modal bacot doang."Dita menunduk, menyandarkan dahi kirinya di pundak jaket Juna.Langkah kaki mereka berdecit di sepanjang koridor lantai bawah kosan yang sunyi. Semua pintu kamar tetangga tertutup rapat. Dita berhenti di depan pintu kamar 104, meraba tas kecilnya, mengeluarkan kunci kuningan.Pintu kayu terbuka pelan. Dita melangkah masuk, tubuhnya berbalik di ambang pintu, menata

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   30. DITA

    Sisa air hujan di sepanjang trotoar Mampang memantulkan cahaya putih dari lampu papan nama minimarket setinggi tiga meter. Angin malam bertiup pelan. Jam dinding digital di atas meja kasir menunjukkan pukul 23.15 WIB. Juna melangkah keluar melewati pintu kaca toko, menenteng kantong plastik putih berisi dua botol minuman isotonik dingin. Di area parkir, motor Honda PCX merah metalik berdiri kokoh. "Kemarin si Nara kenapa ya liat orang sampe kesel begitu," Juna mendongak, menatap langit malam. Gerakan tangan Juna yang meraba saku jaket mencari kunci motor mendadak terhenti. Matanya menatap bayangan lambat di atas trotoar, sekitar sepuluh meter dari posisinya berdiri. Dita berjalan pelan. Gaun pendek hitam berbahan ketat membungkus tubuhnya. Sepatu hak tinggi sewarna kulit yang dikenakannya sesekali bergeser miring saat membentur permukaan konblok trotoar yang tidak rata. Dua orang pria dengan kemeja flanel longgar yang kancing atasnya

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   29. SIAPA?

    Cahaya lampu gantung kristal di atas meja memantulkan cahaya kekuningan di permukaan piring porselen putih polos. Denting piano memainkan nada-nada bertempo lambat mengalun di antara gumam rendah para pengunjung yang duduk berjauhan. Seorang pelayan dengan setelan kemeja putih kaku dan sarung tangan kain sewarna salju berdiri tegak dua meter di samping meja, matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip."Lo sering makan di tempat ginian?" Juna mengunyah dagingnya lambat-lambat."Dulu."Gerakan tangan Juna berhenti di udara. Pisau di tangan kanannya diturunkan. "Dulu?""Iya," Nara meletakkan garpunya, lalu meraih gelas air putih. "Pas masih kerja dulu."Juna menaruh pisaunya, mencondongkan badannya sedikit ke depan melewati vas bunga kecil di tengah meja. "Bukan sebagai barista?"Nara menyesap air putihnya. "Bukan.""Apa?"Pandangan Nira beralih ke arah pemain piano di sudut ruangan yang mulai memainkan lagu baru. Sudut bibirnya ditarik ke samping. "P

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status