"Dia kenapa?" Tanya Alex panik. Sementara yang ditanya justru melotot, Alex menghalangi pergerakannya."Minggir dulu." Alterio menarik Alex keluar ruangan Sica. Membiarkan Max dan timnya menangani Sica yang mendadak sesak napas setelah sadar."Al dia gak kenapa-kenapa kan." Alex terlihat cemas. Bingung jug takut. "Kalau Max tidak bilang apa-apa, berarti semua masih bisa diatasi." Alterio terlihat santai saat bicara.Suami Serena tentu telah melihat berbagai kejadian di balik dinding kaca ruangan Max. Mulai dari Arthur yang terluka, disusul Edgar, kehilangan Rud. Serena yang koma, juga gugurnya bayi mereka. Menyakitkan, menakutkan tapi Al bisa melewatinya. Bertahan hingga hari ini, dengan tabah menghadapi. Berpegang teguh pada keyakinan kalau Max bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan, asal takdir tidak bersabda lain.Dan untuk kasus Sica, Max sejak awal sudah bisa memprediksi yang terjadi. Sedikit meleset dari perkiraan, itu biasa. Dan benar saja, Sica mampu bertahan. Walau mengalam
"George didemo," info dari Felix membuka pagi mereka di The Palace.Hampir fajar ketika mereka kembali ke tempat itu. Sica yang keadaannya stabil setelah operasi pengangkatan peluru dan limpa langsung dipindahkan ke tempat Max.Untungnya ginjal gadis tersebut masih bisa diselamatkan. Jika tidak tindakan transplantasi mungkin saja akan dilakukan."Demo? Mau ikutan negara itu," sambut Jeff yang ikut menginap di sana. Al hanya tersenyum tipis. Tentu saja hal itu mungkin terjadi. Sebab staf yang George berhentikan pagi ini lumayan banyak. George memang belum membuat klarifikasi soal kenapa dia memberhentikan bawahannya secara sepihak. Namun itu hanya soal waktu. Mereka yang berdemo hanya oknum bayaran untuk mengalihkan fokus George."Biarkan saja. Kalau lelah nanti berhenti sendiri. Perintahkan mereka jangan terpancing provokasi. Kalau mereka sampai berbuat kesalahan atau melukai sipil, aku sendiri yang akan menghukum mereka."Dengan banyaknya anggota Black Diamond yang menyusup di ke
Pevi mendongak guna mendapati satu tangan terulur padanya. Tanpa banyak pikir Pevi menyambut bantuan yang datang padanya."Kenapa Tuan kembali?" Pevi bertanya pada Rent yang secara mengejutkan kembali lagi."Blazer Nona ketinggalan."Pevi menepuk jidatnya. Pantas tubuhnya terasa dingin. Blus yang dia kenakan lumayan tipis, karenanya dia tutupi dengan blazer. "Terima kasih." Pevi kenakan lagi benda itu."Nona mau keluar lagi?" Rent bertanya melihat tindakan Pevi."Iya, saya akan ....""Pevi jangan pergi!"Mata Rent memicing tajam. Pun dengan Nicky yang terkejut mendapati pria yang hari itu, muncul lagi bersama Pevi."Siapa dia?" Bisik Rent waspada."Mantan," balas Pevi. Dia langsung bergeser ke belakang tubuh besar Rent ketika Nicky makin dekat."Anda siapa? Silakan pergi, Anda tidak boleh ikut campur urusan saya dan Pevi.""Boleh minta tolong?" Bisik Pevi dari balik bahu lebar Rent. Secara fisik Rent menang mutlak atas Nicky. Mungkin secara rekening pun Rent juga lebih tajir dibandi
"Siapa kau berani memberi perintah," cibir Alterio muncul dari arah pintu sebelah kiri. Satu tempat di mana ruang kerja Mateo berada."Kau! Apa yang kau lakukan!""Mencari tahu tentu saja. Dan ternyata banyak rahasia di sini," kata Al sarat ketertarikan.Mateo meronta, ingin melepaskan diri dari rantai yang membelenggu. "Kau tidak bisa melakukannya! Kau tidak punya akses.Alterio tertawa kecil. "Aku bawa pengacara bersamaku. Bersamanya semua tindakanku akan jadi legal. Jangan cemas, rahasiamu aman di tanganku."Mateo memandang tajam pada Al yang juga balas menatapnya. Semua berakhir ketika Alex memanggilnya. Alterio lekas mendatangi Alex yang sempat mengamati interaksi Al, Ben dan Mateo.Sebuah kejutan besar jika ketiganya adalah putra Jefferson. Takdir manusia siapa yang menyangka."Ada apa?""Beita menemukan ini." Alex menunjukkan data di laptop Mateo. "Jadi dia alihkan dana yang seharusnya untuk beli alutsita (alat utama sistem senjata).""Bukan dia, tapi orang lain. Mateo selama
Kepala Alterio langsung berdenyut nyeri. Dia sandarkan tubuhnya di sofa luar gazebo. Mateo Jefferson kemungkinan punya hubungan darah dengannya. Yang benar saja.Mendadak Al merasa hidupnya sangat lucu. Dulu dia ingin sekali menemukan keluarganya. Setidaknya dapat adik atau kakak. Begitu keinginannya dikabulkan, sekalinya dapat tidak hanya satu, tapi dua.Mana dua-duanya troublemaker semua. Bahkan sampai sekarang dari tempatnya duduk, Al bisa mendengar Ben dan Mateo saling berteriak satu sama lain. Entah masalah apa yang mereka miliki.Ingin rasanya Al tidak peduli, tapi hati kecilnya yang masih berfungsi menolak abai. Sample darah Mateo sudah dikirim pada Mr Brain. Kali ini dia yang akan menguji sendiri DNA tiga pria tersebut."Ini rumit. Akan sangat rumit." Alex mendadak duduk di samping Al. Pria itu entah datang dari mana. Operasi pengangkatan peluru Sica sudah dimulai setengah jam lalu. Tempat itu memenuhi standar rumah sakit, hingga operasi Sica bisa dilakukan di sana."Aku haru
Sebagai seorang dokter, Max akan langsung tersentuh jika bertemu pasien dengan keadaan kritis. Bahkan untuk Matilda, Max sampai menyebutnya mengenaskan.Tinggal tulang berbalut kulit, entah apa sebutan yang pantas untuk Matilda. Kurus kering, kurang gizi, penyakitan. Apapun itu, intinya menyedihkan."Tuan Hugo," panggilan Alex mengalihkan perhatian Max dari Matilda. Dia memindai keadaan tempat itu. Benar-benar macam rumah sakit yang dipindahkan ke rooftop.Semua perlengkapan ada, bahkan ketika dia menelisik, persediaan obat yang dia butuhkan sebagian ada di sana."Baringkan dia di sini. Kita lakukan pertolongan pertama. Kamu bisa pakai koneksimu untuk datangkan heli, kita akan bawa Sica ke tempatku. Meski di sini komplit. Aku akan lebih leluasa menanganinya di sana."Itu rencana awal Max, tapi begitu dia menyibak blus Sica, pemandangan mengerikan lain menyambut. Satu dokter dan dua perawat auto mendekat begitu ada "pasien lain" mendadak muncul."Ini ....""Akan sulit," potong Max cepa