MasukSang istri yang dicintai dengan tulus, tega berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Rafael memilih balas dendam dengan memacari adik angkat istrinya. Intrik dan drama, mewarnai hubungan antara saudara dan juga suami istri. Ketika Rafael berhasil mendekati adik iparnya, muncul keraguan di hatinya. Ia menjadi bimbang karena berniat untuk balas dendam tetapi pada akhirnya jatuh ke dalam pesona sang adik ipar. Ditambah lagi banyak wanita yang menginginkan dirinya membuat Rafael merasa bingung diantara persimpangan dua jalan. "Aku mencintai kamu dengan tulus, Mas. Apakah aku berdosa merebut suami kakak angkatku?" tanya Adiva. "Terima kasih karena mencintaiku. Dan maafkan aku karena membuatmu dalam posisi rumit," jawab Rafael. Akankah Rafael tetap melanjutkan dendamnya? Bagaimana perasaannya ketika sang istri perlahan berubah lalu berusaha mempertahankannya? Dan bagaimana hubungan dengan sang adik ipar yang sudah terlalu jauh?
Lihat lebih banyak"Kamu mau pergi lagi? Sudah 3 hari tidak pulang ke rumah, dan sekarang baru beberapa menit berada di rumah sudah mau pergi lagi?" Rafael terlihat marah melihat istrinya bersiap-siap akan pergi lagi. Padahal baru satu jam yang lalu wanita itu pulang.
Pamela yang sedang menggunakan anting di telinga, menghela nafas. "Mas... aku kan pergi juga kerja, Mas."
"Kamu tidak ingat tugasmu sebagai istri dan juga Ibu?" tanya Rafael dengan tajam.
Ini bukan pertama kalinya Rafael menegur sang istri yang pergi sesuka hati. Padahal, ada buah hati mereka yang masih berusia 11 bulan dan membutuhkan kehadiran serta asuhan Pamela. Tetapi Pamela memilih bersikap abai terhadap putrinya dan memilih untuk bekerja di luar.
"Ya 'kan, ada babysitter yang menangani Keira. Tugasnya dia apa kalau nggak menjaga dan mengasuh Keira? Kalau aku dirumah, yang ada malah makan gaji buta itu babysitter yang kamu ambil dari yayasan." Pamela menatap sinis kepada suaminya.
Pamela memang terlihat masa bodoh dengan Keira. Rafael memang memanggil baby sitter, untuk membantu Pamela mengasuh Keira supaya istrinya itu tidak lelah. Tapi setelah Rafael memanggil babysitter untuk anak mereka, Pamela memilih melepas tanggung jawabnya sebagai ibu dan melanjutkan karirnya menjadi model.
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu, Mela? Dulu kamu juga waktu masih gadis sudah bekerja. Sekarang, kamu sudah memiliki anak. Seharusnya kamu tinggalkan dulu pekerjaan kamu sementara dan meluangkan waktu untuk menemani anak kita." Protes Rafael.
"Mas... bukannya kamu dulu sudah pernah bilang, kalau tidak akan melarang ku bekerja setelah menikah?"
Rafael mengangguk. "Ya. Aku ingat."
"Sekarang kenapa protes?" Pamela menunjuk suaminya.
"Tapi 'kan, kamu juga sudah berjanji kalau kamu mau resign sementara untuk mengawasi tumbuh kembang anak kita," sahut Rafael.
"Tapi aku sudah menandatangani kontrak kerja dengan beberapa agensi, Mas. Aku bahkan menyetujui kontrak itu setelah aku melahirkan Keira." Beri tahu Pamela.
"Apa?"
Rafael terkejut dengan pengakuan istrinya. Pria itu baru mengetahui hal ini. Rafael terlihat kecewa dengan sang istri. Sebab, wanita yang memberikan dia seorang anak itu, tak memberitahu dirinya tentang keputusan untuk kembali ke dunia modeling.
"Itu duniaku, Mas. Jadi jangan halangi aku menjalankan passion ku."
"Aku tidak menghalangi kebebasan mu untuk tetap menjalankan passion mu. Tapi masalahnya kenapa kamu tidak mendiskusikan hal ini bersamaku ketika kamu mau kembali ke sana?" Rafael terlihat geram dengan istrinya.
"Sudahlah, Mas." Pamela mengibaskan tangannya. "Tidak usah banyak bicara. Aku mau berangkat. Sebentar lagi terlambat."
"Kalau kamu bekerja tapi lupa pada anakmu, sebaiknya tidak usah pulang sekalian," ancam Rafael.
Pamela kemudian bangkit dari duduknya dan meraih tas, lalu melenggang pergi. Ia tak peduli dengan ancaman sang suami. Rafael mengepalkan tangannya mengeram kesal dengan sikap sang istri.
Melupakan rasa kesalnya, ia memilih pergi ke dapur untuk sarapan. Ia mengambil beberapa roti dan ia masukkan ke dalam mesin Twister. Sambil menunggu roti dipanggang, pria itu menyeduh kopi panas.
"Punya istri tapi terasa seperti duda," gumam Rafael.
"Pak, maaf. Keira hari ini jadwalnya imunisasi." Ayu---babysitter Keira memberitahukan jadwal imunisasi Keira.
"Biar saya sendiri saja yang membawa Keira imunisasi," sahut Rafael.
Ayu mengangguk. "Baik, Pak."
Setelah selesai melakukan sarapan, Rafael membawa Keira ke rumah sakit untuk jadwal imunisasi. Harusnya ia berangkat bersama sang istri. Tapi ia akan mencoba menghubungi istrinya untuk mengajak wanita itu mengantarkan Keira imunisasi. Tapi sayangnya, ponsel sang istri tidak bisa di hubungi.
"Astaga! Tidak bisa dihubungi kalau sudah bekerja," keluh Rafael.
Rafael meletakkan putrinya ke dalam car seat dan ia letakkan di samping dirinya mengemudi. Tak lupa mengencangkan sabuk pengaman memastikan putrinya tidak terguncang ke sana sini jika misalkan terjadi kecelakaan kecil. Saat diperjalanan, Farid menghubunginya untuk segera berangkat untuk rapat.
"Mohon maaf, Pak. Rapat sebentar lagi akan dimulai." Beri tahu Farid.
"Kamu undur dulu selama 2 jam kedepan. Saya ingin pergi ke dokter anak untuk imunisasi Keira."
"Baik, Pak."
~~~~
"Hei, Rafael!" Elzan --- sahabat Rafael menyapa dari kejauhan saat Rafael berada di rumah sakit.
"Anakmu sakit?" tanya Elsan yang datang bersama dengan kekasihnya.
"Enggak. Aku antar Keira imunisasi. Harusnya sama istriku. Tapi istriku sibuk nggak bisa diganggu," jawab Rafael.
Rafael menatap Elzan dan kekasihnya yang datang bergandengan tangan. "Kamu sama Adiva ke rumah sakit untuk apa? Menjenguk siapa?"
"Mas tadi bilang sama Farid, rapatnya diundur 2 jam ke depan. Ternyata untuk imunisasi Keira?" tanya Adiva yang sekaligus sekretaris dan adik iparnya.
Rafael mengangguk. "Iya."
"Kami ke sini, karena Mas Davin melakukan tes HIV." Beritahu Adiva.
"Oh... Begitu." Rafael mengangguk paham. "Sudah selesai tes nya?"
"Sudah."
"Jangan lama-lama dan segera kembali ke kantor. Persiapkan dokumen rapat bersama rekan lain."
"Baik, Mas," jawab Adiva. "Aku akan kembali."
Adiva menatap Davin. "Aku ke kantor dulu ya, Mas?"
"Iya hati-hati. Mau aku antar?"
"Tidak usah, Mas," tolak Adiva.
"Ya sudah. Bye bye." Davin melambaikan tangannya pada Adiva dan dibalas oleh Adiva
"Ayo aku temani kamu imunisasi anakmu!" Davin meraih bahu Rafael dan berjalan menuju ruangan dokter anak.
Rafael menatap sahabatnya dari samping. "Kamu sepertinya sudah bisa menerima adik iparku."
"Iya. 6 bulan lagi kami akan menikah. Tentunya aku harus bisa menerima semua yang ada pada dirinya. Aku akan menjaga dia segenap jiwa ku," kata Davin.
"Awas saja kalau kamu sampai menyakiti adik ipar ku! Aku hajar kamu sampai mati!" ancam Rafael.
Davin tertawa mendengar ancaman Rafael. "Tenang saja. Mana berani aku menyakiti adik ipar mu."
****
Malam hari...
Rafael tiba di rumah pukul 08.00 malam. Setelah ia selesai mengantarkan putrinya imunisasi, ia meminta kepada Ayu agar mengambil Keira ke kantor untuk dibawa pulang. Karena ia tidak mungkin bekerja sambil mengasuh anaknya.
Semenjak ia memiliki Keira, dirinya jarang sekali lembur, dan hampir tidak pernah lembur. Ia tidak mau menghabiskan waktu bekerja sampai malam karena ingin meluangkan waktu bersama sang buah hati. Dan ketika ia pulang, menatap senyum dan tingkah putrinya membuat rasa lelah serta penat, hilang seketika.
Sebelum masuk ke kamar, ia terlebih dahulu bermain dengan Keira. Rafael tersenyum senang ketika ia pulang karena sudah ada sang istri yang duduk di tepi ranjang. Sejenak, pria itu melupakan pertengkaran mereka tadi pagi. Rafael menampilkan senyum mendekati istrinya yang sedang sibuk dengan ponsel.
"Baru pulang?" Pamela sedikit melirik ke arah Rafael yang sedang melepas dasi.
"Iya." Rafael mendekati istrinya, dan memeluk tubuh sang istri dengan erat. Pria itu melayangkan ciuman ke pipi mulus Pamela.
"Aku kangen sama kamu, Sayang," bisik Rafael.
Pamela sedikit menghindar karena merasa risih dengan pelukan sang suami. "Mas... mandi dulu sana."
Rafael mengerutkan keningnya ketika melihat sesuatu yang menggangu penglihatan. "Apa ini?"
Rafael menyibak rambut pendek milik Pamela yang sedikit menutupi leher. Ia mengetatkan rahang karena melihat bercak kemerahan di kulit leher milik istrinya. Emosi pria itu tersulut dan menatap tajam kearah sang istri.
"Tanda apa dan milik siapa dileher kamu, Mela?" tanya Rafael dengan tajam.
Pamela mengerutkan kening. Rafael mendesak istrinya untuk menjawab tentang bercak merah itu. Tatapan Rafael terlihat ingin menguliti mangsanya.
"Apa-apaan sih, Mas? Baru saja pulang, kamu sudah marah-marah begini?" Pamela menatap sinis pada suaminya.
Rafael menarik tangan istrinya untuk bangkit,dan menuntunnya ke cermin meja rias. "Lihat ini!"
Pamela melebarkan matanya ketika melihat sebuah kissmark yang membuat Rafael murka. Wajahnya seketika pucat pasi. Wanita itu merasa akan tamat saat ini juga.
"Apa maksudnya ini, hah?!" Rafael benar-benar marah pada istrinya.
"I-itu..." Pamela tergagap.
"Tidur dengan siapa kamu, Mela??"
"Kau sudah lakukan apa yang Aku perintahkan?" tanya Rafael melirik ke arah Farid."Sudah, Tuan. Saya pastikan semua investor yang ada di perusahaan Tuan Davin akan pergi satu persatu." Farid tersenyum tipis memandang bosnya.Rafael mengangguk puas mendengar jawaban asistennya. Ia memerintahkan kepada Farid untuk menyerobot data perusahaan milik Davin dan meretasnya agar saham turun drastis. Dan itu berpotensi akan merugikan perusahaan milik Davin senilai trilyunan.Farid memperhatikan ekspresi wajah Rafael yang begitu tenang sekaligus misterius. Pria itu sudah bisa menebak bahwa Rafael akan melakukan tindakan berbahaya dan juga menakutkan bagi kedua orang pengkhianat itu. Istrinya, dan juga sahabatnya."Anda sepertinya tidak main-main dengan apa yang Anda lakukan," komentar Farid sambil menyulut api cerutunya."Aku bermain-main?" Rafael tertawa kecil. "kamu salah kalau bilang aku jadi bermain-main. Aku sedang mencari pacuan untuk adrenalin yang begitu menantang. Tapi masalahnya, aku
"Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata masih ingat pulang ke rumah. Kenapa tidak terus-terusan tidur dengan selingkuhan mu di sana?" sindir Rafael kepada Pamela yang sedang menyisir rambutnya."Kamu sudah mendapatkan kepuasan darinya. Kenapa tidak menginap di sana beberapa hari supaya kamu bisa setiap saat melayaninya?" Rafael menyindir istrinya yang setelah semalaman tidak pulang ke rumah. Dan pulang ketika pagi tanpa merasa bersalah sedikitpun. Pamela menatap tajam suaminya yang terang-terangan menyindir."Enteng kamu berbicara seperti itu!" kata Pamela menahan kesal.Rafael berdecih. "Apakah aku harus berbicara lembut kepadamu?""Ini rumahku. Tentu saja aku bebas mau pulang atau tidak," sahut Pamela dengan sinis."Tapi ingat satu hal! Kamu bisa kehilangan hak rumah ini jika terus menerus bersama pria itu." Rafael sedikit memberikan ancaman kepada istrinya.Pria itu mendekati Pamela dan berbisik, "seleramu bagus juga. Sahabat ku yang kamu pilih sebagai selingkuhan mu."Pamela ter
"Kenapa kamu malah terlihat dan tidak pergi dari sana?" Pertanyaan itu hanya Rafael simpan dalam hati.Rafael dengan santai menaiki tangga tanpa menoleh ke arah belakang dimana adik iparnya kini berada. Pria itu terlihat lega setelah menyalurkan biologisnya walaupun melalui fantasi liar. Ini lebih baik daripada dia nantinya merasakan pusing kepala. Sedangkan Adiva yang tersadar dari lamunannya, merendahkan tubuhnya dengan lemah. Wanita itu berjongkok sambil mengatur detak jantung dan nafasnya yang tak beraturan. Berulang kali ia menggelengkan kepala seperti tak percaya dengan apa yang baru saja ia perhatikan. Adiva kembali melihat ke arah tangga di mana Kakak ipar nya telah menghilang. Ia meringis pelan sambil menoleh ke arah sofa tempat kakak iparnya melakukan fantasi liar. Ia menghembuskan nafas kasar mencoba membuang beban yang menghimpit rongga dada. "Kenapa aku bukannya pergi malah mematung dan memperhatikan itu semua?" Adiva menggigit ibu
"Menginap lah di rumah. Keira tidak ada yang menemani," kata Rafael kepada Adiva.Rafael membawa adik iparnya menginap di rumahnya untuk sementara. Ia tahu saat ini Adiva sedang terpuruk dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Dan ingin menenangkan diri. Adiva tak mau pulang ke rumah. Karena ia tak bisa menyembunyikan kesedihan dihadapan orang tuanya. Jika ia mengatakan bahwa Davin berselingkuh, yang ada dirinya yang disalahkan. Oleh karena perkataan yang disampaikan oleh adik iparnya itu, ia menginginkan Adiva untuk tinggal di rumahnya sementara dan pulang esok pagi. Dengan adanya Keira, bisa sedikit menghibur hati wanita itu. Sebab Adiva sangat dekat dengan Keira."Apa tidak masalah, Mas?" tanya Adiva menatap Rafael dengan keraguan.Rafael melirik sedikit. "Jangan sungkan. Kita keluarga."Rafael mengetahui bahwa Adiva merasa tak enak hati bila menginap di rumahnya. Mungkin, ia menjaga perasaan kakaknya. Wanita itu masih memikirkan perasaan orang lain di saat perasaannya sedang


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.