MasukMasih POV Author"Kenapa Alin, Bu?" Tanya Afriza tak sabar karena Bidan Salmah menjeda kalimatnya dan memilih menyusut air mata di pipi terlebih dahulu."Alin ... Dia koma."Tubuh Afriza sontak merosot lemas mendengar kabar dari Bidan Salmah tersebut. Berbulan-bulan sudah ia tak berhenti mencari Alin, tapi setelah ketemu, istrinya sedang dalam kondisi memprihatinkan."Saya sudah khawatir hal seperti ini akan terjadi. Karena sejak masa kehamilan, tekanan darah Alin terus tinggi, berulang kali pula ia mengalami kejang. Dan tadi pasca operasi hal itu terjadi lagi, hingga menyebabkan keadaan Alin seperti ini," jelas Bidan Salmah sembari kembali menyusut air matanya yang kembali turun.Afriza mendengarkan penjelasan Bidan Salmah dengan pandangan kosong sembari menatap ke pintu kaca ruang operasi. Alin masih berada di sana dan belum dipindahkan.Di sisi lain, Imah yang melihat ada lelaki asing yang datang dan mengaku sebagai suami Alin lantas mendatangi dan berseru penuh emosi."Jadi anda?
POV AuthorSehari sebelum Alin dirujuk ke rumah sakit ....Mata elang yang tersemat di wajah tampan Afriza itu tengah fokus memandangi berkas-berkas yang ada di hadapannya. Wajahnya semakin hari semakin dingin, begitu pula dengan sikapnya. Bahkan para karyawan jadi semakin takut dengan sikap Afriza yang terus berubah semakin dingin dari waktu ke waktu. Afriza mengalihkan pandangannya dari berkas saat mendengar suara pintu diketuk."Siapa?" Sahutnya dengan nada datar seperti biasa."Alex, Tuan." Mendengar asistennya itu datang Afriza langsung menyuruhnya masuk. Dalam hati ia masih berharap semoga lelaki itu datang dengan membawa kabar tentang Alin."Ada apa? Apa sudah ada kabar?" Tanya Afriza tanpa basa-basi.Namun Alex kembali menggeleng, membuat Afriza langsung menggebrak meja di depannya."Bukankah kau bilang akan gampang menemukan dia? Tapi buktinya ... Sudah hampir sembilan bulan pencarian, tak ada apapun yang kau dapat, Lex?" Afriza mencecar Alex kembali, seperti hari-hari sebel
Masih POV AlinImah yang cepat tanggap langsung berlari menghampiri dan memijat tengkukku diikuti oleh Mbok Sum."Mbak Alin gak papa? Mukanya tambah pucat sekali," ujar Imah sembari memasang wajah iba. Memang benar karena saat ini rasanya kepalaku semakin pusing."Kamu gak usah kerja dulu hari ini, Nduk. Biar nanti Si Mbok sampaikan ke juragan. Sekarang, ayo biar Si Mbok dan Imah antarkan ke Bu Bidan Salmah."Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Mbok Sum. Karena percuma juga aku memaksa sedangkan kondisi tak memungkinkan. Yang ada nanti aku malah menjadi beban mereka di tempat kerja. Memilih berobat adalah solusi terbaik, karena aku harus terus sehat untuk melanjutkan hidup.Dengan berjalan kaki kami menuju klinik satu-satunya yang ada di desa itu. Kebetulan letaknya tak begitu jauh dari rumah, dan selalu kami lewati setiap pergi bekerja."Si Mbok sama Imah langsung berangkat ke kebun saja. Nanti aku biar pulang sendiri," ucapku begitu sampai di depan klinik Bidan Salmah."Kamu yak
"Kenapa terkejut sekali melihat saya, Tuan Wisnu?" Cibirku sembari duduk santai di kursi yang ada di hadapannya."Mau apa kau kemari? Bukannya kau bilang tak akan mau muncul lagi di hadapanku?" Balas lelaki itu dengan nada datar, lalu kembali berkutat dengan pekerjaanya."Aku kemari untuk mengambil hak-ku," jawabku santai.Mendengar jawabanku lelaki itu kembali menghentikan fokusnya dan langsung menatapku. Lalu selanjutnya ia terkekeh seolah mengejek."Bukannya kau bilang kau tak mau harta papamu ini, kecuali jika papamu memohon ampunan mamamu. Lalu kenapa sekarang malah menginginkannya?" Ujarnya kembali mengejek."Ya, itu benar. Dan persyaratan dariku itu masih berlaku," sahutku dengan sedikit geram lalu melemparkan ponsel yang berisi video Tante Vina dan Pak Wibowo ke hadapannya."Apa ini?" Gumamnya lalu menyalakan video tersebut.Terlihat raut wajahnya berubah demi mendengar percakapan dua manusia tak tahu diri itu. Tangannya pun mengepal menahan geram."Wibowo si*alan! Dasar manus
"Kamu?" Aku terkejut melihat pria muda berkacamata sedang berdiri tak jauh dari ranjangku."Bagaimana kamu bisa ada di sini?" Tanyaku tak suka dengan kehadirannya."Saya tadi ada keperluan di sini, dan tiba-tiba melihat Tuan jatuh pingsan."Aku langsung menghela napas kasar mendengar jawabannya. Dari sekian banyaknya orang, kenapa harus dia yang melihat aku jatuh pingsan."Jangan adukan ini ke Papa! Anggap saja kau tak pernah melihatku."Syukurnya lelaki itu langsung mengangguk patuh, namun tetap saja, dia kaki tangan Papa, mana bisa aku percaya."Tapi Tuan ... Sepertinya anda harus segera kembali ke rumah. Keadaan perusahaan sedang tak baik-baik saja sejak Tuan Leo menjabat."Aku mendengkus kesal mendengar nama orang yang kubenci itu disebut."Untuk apa? Itu pilihan Papa sendiri 'kan, menjadikan anak itu pewaris nomor satunya?" Cibirku.Namun lelaki berkacamata bernama Alex itu tiba-tiba menyerahkan sebuah map coklat berlogo rumah sakit tempat aku dirawat kini."Apa ini?" Tanyaku bin
POV Bang Iza "Kemana dia?" Gumamku sembari langsung menerobos masuk kamar Alin.Dahiku mengernyit saat melihat tak ada satu pun barang Alin di atas nakas juga belakang pintu.Dengan perasaan yang mulai tak enak, aku menuju lemari kecil di sudut ruangan dan membukanya. Mataku nanar saat melihat lemari milik Alin sudah kosong, hanya tersisa album foto dan kotak cincin yang kuberikan padanya sebagai mahar.Kuambil dua benda tersebut, dan saat kubuka kotak beludru merah itu di dalamnya sudah bertengger dengan cantik cincin pernikahan Alin. Hatiku semakin tak tenang, karena sadar Alin kabur dari rumah.Dengan kasar kubuka album foto yang baru kali ini kulihat. Lagi-lagi aku tercengang saat tahu ternyata itu album foto pernikahan kami. Kubuka kasar lembar demi lembarnya, berharap menemukan petunjuk kemana Alin pergi. Namun nihil, aku hanya menemukan selembar foto yang hilang dari album tersebut. Sepertinya Alin membawa selembar foto itu.Seperti orang gila aku menyusuri sudut demi sudut ka





![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

