Home / Romansa / DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA / 12. Balas Dendam Salah Sasaran

Share

12. Balas Dendam Salah Sasaran

last update Last Updated: 2026-01-06 11:04:40

POV Bang Iza

"Kemana dia?" Gumamku sembari langsung menerobos masuk kamar Alin.

Dahiku mengernyit saat melihat tak ada satu pun barang Alin di atas nakas juga belakang pintu.

Dengan perasaan yang mulai tak enak, aku menuju lemari kecil di sudut ruangan dan membukanya. Mataku nanar saat melihat lemari milik Alin sudah kosong, hanya tersisa album foto dan kotak cincin yang kuberikan padanya sebagai mahar.

Kuambil dua benda tersebut, dan saat kubuka kotak beludru merah itu di dalamnya sudah bertengger dengan cantik cincin pernikahan Alin. Hatiku semakin tak tenang, karena sadar Alin kabur dari rumah.

Dengan kasar kubuka album foto yang baru kali ini kulihat. Lagi-lagi aku tercengang saat tahu ternyata itu album foto pernikahan kami. Kubuka kasar lembar demi lembarnya, berharap menemukan petunjuk kemana Alin pergi. Namun nihil, aku hanya menemukan selembar foto yang hilang dari album tersebut. Sepertinya Alin membawa selembar foto itu.

Seperti orang gila aku menyusuri sudut demi sudut ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   14. Tempat Baru

    "Kenapa terkejut sekali melihat saya, Tuan Wisnu?" Cibirku sembari duduk santai di kursi yang ada di hadapannya."Mau apa kau kemari? Bukannya kau bilang tak akan mau muncul lagi di hadapanku?" Balas lelaki itu dengan nada datar, lalu kembali berkutat dengan pekerjaanya."Aku kemari untuk mengambil hak-ku," jawabku santai.Mendengar jawabanku lelaki itu kembali menghentikan fokusnya dan langsung menatapku. Lalu selanjutnya ia terkekeh seolah mengejek."Bukannya kau bilang kau tak mau harta papamu ini, kecuali jika papamu memohon ampunan mamamu. Lalu kenapa sekarang malah menginginkannya?" Ujarnya kembali mengejek."Ya, itu benar. Dan persyaratan dariku itu masih berlaku," sahutku dengan sedikit geram lalu melemparkan ponsel yang berisi video Tante Vina dan Pak Wibowo ke hadapannya."Apa ini?" Gumamnya lalu menyalakan video tersebut.Terlihat raut wajahnya berubah demi mendengar percakapan dua manusia tak tahu diri itu. Tangannya pun mengepal menahan geram."Wibowo si*alan! Dasar manus

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   13. Kembalinya Tuan Muda

    "Kamu?" Aku terkejut melihat pria muda berkacamata sedang berdiri tak jauh dari ranjangku."Bagaimana kamu bisa ada di sini?" Tanyaku tak suka dengan kehadirannya."Saya tadi ada keperluan di sini, dan tiba-tiba melihat Tuan jatuh pingsan."Aku langsung menghela napas kasar mendengar jawabannya. Dari sekian banyaknya orang, kenapa harus dia yang melihat aku jatuh pingsan."Jangan adukan ini ke Papa! Anggap saja kau tak pernah melihatku."Syukurnya lelaki itu langsung mengangguk patuh, namun tetap saja, dia kaki tangan Papa, mana bisa aku percaya."Tapi Tuan ... Sepertinya anda harus segera kembali ke rumah. Keadaan perusahaan sedang tak baik-baik saja sejak Tuan Leo menjabat."Aku mendengkus kesal mendengar nama orang yang kubenci itu disebut."Untuk apa? Itu pilihan Papa sendiri 'kan, menjadikan anak itu pewaris nomor satunya?" Cibirku.Namun lelaki berkacamata bernama Alex itu tiba-tiba menyerahkan sebuah map coklat berlogo rumah sakit tempat aku dirawat kini."Apa ini?" Tanyaku bin

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   12. Balas Dendam Salah Sasaran

    POV Bang Iza "Kemana dia?" Gumamku sembari langsung menerobos masuk kamar Alin.Dahiku mengernyit saat melihat tak ada satu pun barang Alin di atas nakas juga belakang pintu.Dengan perasaan yang mulai tak enak, aku menuju lemari kecil di sudut ruangan dan membukanya. Mataku nanar saat melihat lemari milik Alin sudah kosong, hanya tersisa album foto dan kotak cincin yang kuberikan padanya sebagai mahar.Kuambil dua benda tersebut, dan saat kubuka kotak beludru merah itu di dalamnya sudah bertengger dengan cantik cincin pernikahan Alin. Hatiku semakin tak tenang, karena sadar Alin kabur dari rumah.Dengan kasar kubuka album foto yang baru kali ini kulihat. Lagi-lagi aku tercengang saat tahu ternyata itu album foto pernikahan kami. Kubuka kasar lembar demi lembarnya, berharap menemukan petunjuk kemana Alin pergi. Namun nihil, aku hanya menemukan selembar foto yang hilang dari album tersebut. Sepertinya Alin membawa selembar foto itu.Seperti orang gila aku menyusuri sudut demi sudut ka

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   11. Perhatian Terakhir

    Kubuka mata saat mendengar kumandang adzan subuh dari mesjid terdekat. Sepertinya baru sekejap aku tidur, karena lelaki breng*sek itu baru menghentikan aksinya setelah aku tak sadarkan diri.Seluruh tubuhku ngilu sekali, karena berulangkali lelaki itu meruda*paksaku disertai pukulan dan tamparan. Benar kata lelaki itu, malam tadi menjadi malam pertama terburuk di hidupku. Bahkan jika tak ingat bunuh diri itu adalah dosa besar, rasanya aku ingin bunuh diri saat ini juga. Hidupku sudah hancur kini. Raga juga batinku sudah remuk berkeping-keping dibuat lelaki itu.Dengan menahan ngilu, aku turun dari ranjang. Berniat menuju kamar mandi, membersihkan diri, dan mengadukan semua permasalahanku pada yang Maha Kuasa.Saat sudah berhasil berdiri, aku tercengang menatap seprei juga selimut sudah banyak dipenuhi bercak dar4h. Darah dari luka Bang Iza, lukaku, juga mungkin bercampur dengan dar4h keper4wananku.Sembari menarik selimut dan seprei, aku kembali menangis frustasi, karena merasa hidupk

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   10. Malam Pertama Terburuk

    Mas Bima yang tadi sedang duduk di ruang keluarga bersama Clara juga ikut mendekat untuk melihat lukaku. Sedangkan Bang Iza juga terlihat melirik sekilas ke arah lukaku, walau sekejap tapi dapat terlihat raut terkejut di wajah datarnya. Mungkin ia pun tak menyangka jika lukaku separah itu."Ayo ke rumah sakit, Lin!" Tanpa aba-aba Mama langsung menarik tanganku untuk bangkit, namun aku segera menahannya."Ngapain, Ma?""Luka kamu itu harus dijahit Alin!" Tegas Mama."Iya, Lin. Lukamu itu parah lho. Suami kamu ini gimana sih, udah tau istrinya luka parah begini bukannya dibawa ke Dokter, malah dibiarkan saja." Mas Bima ikut menimpali dengan menggerutu, namun langsung dibalas teriakan oleh Clara dari ruang keluarga, hingga lelaki itu tergopoh-gopoh mendatanginya. Sepertinya adikku itu tak terima jika suaminya memberi perhatian padaku."Benar kata Bima, kamu itu gimana sih, jadi suami? Bukannya Alin dibawa ke rumah sakit, malah dibiarkan saja!" Rutuk Mama pada Bang Iza yang tetap bersikap

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   9. Luka Pertama

    Aku sontak berdiri karena terkejut. Bahkan tangan yang masih berbusa pun kuabaikan."Eh, aku cuma mau nyuci baju Abang, karena udah beberapa hari dibiarkan--."Tanpa memberi kesempatan aku melanjutkan perkataan, lelaki itu dengan cepat menarik hijabku ke belakang dengan keras. Tubuhku makin gemetaran tak menentu melihat kilatan amarah di bola matanya."Maafin aku--."Bluggh ... Bluggh ....Belum selesai aku minta maaf, Bang Iza tanpa ampun memasukkan kepalaku dalam bak air, hingga aku tak bisa bernapas. Aku meronta ingin melepaskan diri, namun tenaga lelaki itu begitu kuat.Syukurnya tak berapa lama ia kembali menarik kepalaku ke atas, hingga aku bisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya."Sudah kubilang, jangan sentuh barangku, atau aku akan mengha*bisimu!" Bentak lelaki itu lagi, lalu kembali ia mendorong kepalaku masuk ke air."Tapi sepertinya telingamu ini tak bisa mendengar dengan jelas ya! Biar kucuci sekalian telingamu ini, biar jelas mendengar." Bang Iza semakin dalam menekan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status