LOGINAku mengerjap saat mendengar suara orang saling berbincang tak jauh dari tempatku berbaring. Saat membuka mata, ternyata sudah ada Bang Iza dan Dokter Haris yang biasa menanganiku di sana.Melihatku membuka mata, Bang Iza langsung mendekat. "Kamu udah sadar, Lin?"Aku memilih tak menjawab dan membuang pandangan ke arah lain, karena masih merasa kesal dengan ketidak jujuran lelaki itu."Apa yang dirasakan sekarang, Bu?" Sapa Dokter Haris ramah membuat aku mau tak mau menoleh pada mereka."Cuma pusing sedikit, Dok," jawabku jujur. Bayangan aku yang jatuh di sebuah kamar mandi kembali terlintas, namun aku tak mau kembali memaksa, takut kepala ini sakit lagi.Dokter muda tersebut hanya mengangguk sembari tersenyum. " Jangan terlalu dipaksa untuk mengingat ya, Bu? Pelan-pelan saja."Setelahnya hanya perbincangan di antara kedua lelaki itu saja yang berlanjut. Dan tentunya membahas tentang kondisi kesehatanku.Usai berbincang, Dokter Haris pun pamit. Bang Iza mengantarnya ke depan hingga ak
Entah berapa lama Bang Iza di luar sana, dan belum kembali juga. Ia hanya mengirim pesan jika butuh apa-apa pencet saja bel yang ada di dekat tempat tidur. Nanti Mbak Yuni--orang yang ditugaskan merawatku akan datang.Karena bosan sendirian, aku memilih meraih ponsel yang sepertinya masih baru itu. Terlihat tak ada apa-apa di dalamnya. Padahal aku berharap itu ponsel lama milikku, supaya bisa mencari tahu tentang masa lalu dari sana. Namun sayangnya, tak ada apapun di sana. Hanya ada laman media sosial yang juga sepertinya masih baru dibuat.Aku tersenyum saat melihat bio yang tersemat di akun atas namaku itu. Di situ tertulis "wife of Afriza Artha Wijaya", sudah pasti Bang Iza yang membuat itu.Kembali berselancar di akun tersebut lagi-lagi membuat aku bosan karena begitu sepi. Mungkin karena pertemanannya juga baru sedikit, lima puluh orang saja belum ada. Tlung!Sebuah permintaan pertemanan tiba-tiba masuk. Terlihat di situ tertera nama Clara Alisha. Awalnya aku ragu untuk mengkon
Aku hanya mengangguk saja menanggapi, walau sebenarnya dalam hati tetap penasaran. Biarlah, mungkin nanti pelan-pelan aku akan ingat, atau mungkin aku akan mencari tahu sendiri. Perjalanan menuju rumah memakan waktu setengah jam. Dan selama itu pula hanya keheningan yang menyertai kami. Aku sibuk dengan pikiran yang terus menerka-nerka masa lalu, sedangkan Bang Iza pun terlihat fokus ke jalanan.Hingga mobil sudah memasuki halaman sebuah rumah mewah bertingkat dua, barulah aku buka suara. "Ini rumah Abang?" Tanyaku memandang dengan takjub rumah bak istana itu."Rumah kita, Sayang," ralatnya lalu cepat-cepat keluar duluan untuk membukakan pintu mobil dan membantuku keluar.Saat tengah bersentuhan dengan Bang Iza, lagi-lagi tubuhku memberi respon aneh. Dan kali ini responnya lebih dari biasanya."Maaf, Lin!" Bang Iza refleks cepat-cepat melepaskan pegangannya saat melihat tanganku gemetaran karena efek ketakutan yang muncul. Syukurnya aku sudah berhasil duduk di kursi roda.Entahlah la
POV AlinAku kembali berusaha menggerakkan kaki dan tangan yang sudah terasa lemas. Entah sudah berapa lama aku tenggelam dalam kubangan air yang aku pun tak tahu di mana. Karena sudah hampir kehabisan oksigen kembali berulang kali aku mencoba mencapai permukaan, namun yang ada malah kembali jatuh ke dasar. Hingga saat stok oksigen terasa habis, aku sudah tak sanggup lagi untuk menggapai permukaan. Mungkinkah takdirku harus berakhir tenggelam di sini?Tengah pasrah dengan keadaan, tiba-tiba dari atas sana sebuah tangan menarik tanganku dengan cepat hingga aku akhirnya dapat menggapai permukaan. Begitu sampai di permukaan, aku mengerjap berulang kali karena cahaya terang terasa menusuk retina. Saat mata sudah mulai beradaptasi, kulirik sekeliling yang ternyata sudah banyak orang berpakaian serba putih. Di mana aku?"Bu, Bu Alin sudah sadar?" Salah seorang dari mereka bertanya sembari melambaikan telapak tangan di depan wajahku.Aku yang masih kebingungan, hanya bisa melirik kanan dan k
Masih POV Author"Kenapa Alin, Bu?" Tanya Afriza tak sabar karena Bidan Salmah menjeda kalimatnya dan memilih menyusut air mata di pipi terlebih dahulu."Alin ... Dia koma."Tubuh Afriza sontak merosot lemas mendengar kabar dari Bidan Salmah tersebut. Berbulan-bulan sudah ia tak berhenti mencari Alin, tapi setelah ketemu, istrinya sedang dalam kondisi memprihatinkan."Saya sudah khawatir hal seperti ini akan terjadi. Karena sejak masa kehamilan, tekanan darah Alin terus tinggi, berulang kali pula ia mengalami kejang. Dan tadi pasca operasi hal itu terjadi lagi, hingga menyebabkan keadaan Alin seperti ini," jelas Bidan Salmah sembari kembali menyusut air matanya yang kembali turun.Afriza mendengarkan penjelasan Bidan Salmah dengan pandangan kosong sembari menatap ke pintu kaca ruang operasi. Alin masih berada di sana dan belum dipindahkan.Di sisi lain, Imah yang melihat ada lelaki asing yang datang dan mengaku sebagai suami Alin lantas mendatangi dan berseru penuh emosi."Jadi anda?
POV AuthorSehari sebelum Alin dirujuk ke rumah sakit ....Mata elang yang tersemat di wajah tampan Afriza itu tengah fokus memandangi berkas-berkas yang ada di hadapannya. Wajahnya semakin hari semakin dingin, begitu pula dengan sikapnya. Bahkan para karyawan jadi semakin takut dengan sikap Afriza yang terus berubah semakin dingin dari waktu ke waktu. Afriza mengalihkan pandangannya dari berkas saat mendengar suara pintu diketuk."Siapa?" Sahutnya dengan nada datar seperti biasa."Alex, Tuan." Mendengar asistennya itu datang Afriza langsung menyuruhnya masuk. Dalam hati ia masih berharap semoga lelaki itu datang dengan membawa kabar tentang Alin."Ada apa? Apa sudah ada kabar?" Tanya Afriza tanpa basa-basi.Namun Alex kembali menggeleng, membuat Afriza langsung menggebrak meja di depannya."Bukankah kau bilang akan gampang menemukan dia? Tapi buktinya ... Sudah hampir sembilan bulan pencarian, tak ada apapun yang kau dapat, Lex?" Afriza mencecar Alex kembali, seperti hari-hari sebel







