INICIAR SESIÓNPOV Bang Iza "Kemana dia?" Gumamku sembari langsung menerobos masuk kamar Alin.Dahiku mengernyit saat melihat tak ada satu pun barang Alin di atas nakas juga belakang pintu.Dengan perasaan yang mulai tak enak, aku menuju lemari kecil di sudut ruangan dan membukanya. Mataku nanar saat melihat lemari milik Alin sudah kosong, hanya tersisa album foto dan kotak cincin yang kuberikan padanya sebagai mahar.Kuambil dua benda tersebut, dan saat kubuka kotak beludru merah itu di dalamnya sudah bertengger dengan cantik cincin pernikahan Alin. Hatiku semakin tak tenang, karena sadar Alin kabur dari rumah.Dengan kasar kubuka album foto yang baru kali ini kulihat. Lagi-lagi aku tercengang saat tahu ternyata itu album foto pernikahan kami. Kubuka kasar lembar demi lembarnya, berharap menemukan petunjuk kemana Alin pergi. Namun nihil, aku hanya menemukan selembar foto yang hilang dari album tersebut. Sepertinya Alin membawa selembar foto itu.Seperti orang gila aku menyusuri sudut demi sudut ka
Kubuka mata saat mendengar kumandang adzan subuh dari mesjid terdekat. Sepertinya baru sekejap aku tidur, karena lelaki breng*sek itu baru menghentikan aksinya setelah aku tak sadarkan diri.Seluruh tubuhku ngilu sekali, karena berulangkali lelaki itu meruda*paksaku disertai pukulan dan tamparan. Benar kata lelaki itu, malam tadi menjadi malam pertama terburuk di hidupku. Bahkan jika tak ingat bunuh diri itu adalah dosa besar, rasanya aku ingin bunuh diri saat ini juga. Hidupku sudah hancur kini. Raga juga batinku sudah remuk berkeping-keping dibuat lelaki itu.Dengan menahan ngilu, aku turun dari ranjang. Berniat menuju kamar mandi, membersihkan diri, dan mengadukan semua permasalahanku pada yang Maha Kuasa.Saat sudah berhasil berdiri, aku tercengang menatap seprei juga selimut sudah banyak dipenuhi bercak dar4h. Darah dari luka Bang Iza, lukaku, juga mungkin bercampur dengan dar4h keper4wananku.Sembari menarik selimut dan seprei, aku kembali menangis frustasi, karena merasa hidupk
Mas Bima yang tadi sedang duduk di ruang keluarga bersama Clara juga ikut mendekat untuk melihat lukaku. Sedangkan Bang Iza juga terlihat melirik sekilas ke arah lukaku, walau sekejap tapi dapat terlihat raut terkejut di wajah datarnya. Mungkin ia pun tak menyangka jika lukaku separah itu."Ayo ke rumah sakit, Lin!" Tanpa aba-aba Mama langsung menarik tanganku untuk bangkit, namun aku segera menahannya."Ngapain, Ma?""Luka kamu itu harus dijahit Alin!" Tegas Mama."Iya, Lin. Lukamu itu parah lho. Suami kamu ini gimana sih, udah tau istrinya luka parah begini bukannya dibawa ke Dokter, malah dibiarkan saja." Mas Bima ikut menimpali dengan menggerutu, namun langsung dibalas teriakan oleh Clara dari ruang keluarga, hingga lelaki itu tergopoh-gopoh mendatanginya. Sepertinya adikku itu tak terima jika suaminya memberi perhatian padaku."Benar kata Bima, kamu itu gimana sih, jadi suami? Bukannya Alin dibawa ke rumah sakit, malah dibiarkan saja!" Rutuk Mama pada Bang Iza yang tetap bersikap
Aku sontak berdiri karena terkejut. Bahkan tangan yang masih berbusa pun kuabaikan."Eh, aku cuma mau nyuci baju Abang, karena udah beberapa hari dibiarkan--."Tanpa memberi kesempatan aku melanjutkan perkataan, lelaki itu dengan cepat menarik hijabku ke belakang dengan keras. Tubuhku makin gemetaran tak menentu melihat kilatan amarah di bola matanya."Maafin aku--."Bluggh ... Bluggh ....Belum selesai aku minta maaf, Bang Iza tanpa ampun memasukkan kepalaku dalam bak air, hingga aku tak bisa bernapas. Aku meronta ingin melepaskan diri, namun tenaga lelaki itu begitu kuat.Syukurnya tak berapa lama ia kembali menarik kepalaku ke atas, hingga aku bisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya."Sudah kubilang, jangan sentuh barangku, atau aku akan mengha*bisimu!" Bentak lelaki itu lagi, lalu kembali ia mendorong kepalaku masuk ke air."Tapi sepertinya telingamu ini tak bisa mendengar dengan jelas ya! Biar kucuci sekalian telingamu ini, biar jelas mendengar." Bang Iza semakin dalam menekan ke
Mataku membulat menatap Bang Iza, tak menyangka jika dia tega memberikan aku makanan basi ini. "Abang gak bercanda 'kan?" Tanyaku memastikan.Namun gebrakan tangan lelaki itu di meja langsung membungkam mulutku. Matanya menatapku dengan tajam, raut wajahnya yang sudah seram jadi bertambah semakin seram, membuat tubuhku tanpa sadar bergetar."Kalau aku bilang makan, ya makan!" Bentak lelaki itu, lalu bangkit mendekatiku.Tanpa aba-aba, lelaki itu langsung menarik hijab yang kupakai ke belakang dengan kasar, hingga kepalaku jadi mendongak."Apa perlu aku yang memasukkan makanan ini ke mulutmu, hah?" Ujar Bang Iza dengan mata melotot. Lalu ia meraih nasi tersebut dan memasukkan secara paksa ke mulutku hingga penuh.Nyaris aku muntah karena hampir tersedak nasi dengan sensasi bau basi tersebut."Makan!" Bentaknya lagi masih belum melepaskan hijabku.Aku mengangguk samar dengan air mata yang mulai menetes. Sungguh aku tak menyangka, ternyata begini sikap asli Bang Iza.Setelah melepaskank
Seolah sedang bermimpi, semua hal yang tak pernah kusangka terjadi begitu saja. Seharusnya hari ini jadi hari pernikahanku dengan Mas Bima, tapi yang ada malah kami berdua akan menikah dengan pasangan yang berbeda. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Papa yang takut terjadi hal yang tak diinginkan denganku, memilih melangsungkan pernikahan kami bersama-sama dengan Clara. Semua diurus mereka dengan serba cepat. Yang mirisnya, sejak pagi aku selalu mendengar pembicaraan orang-orang yang terus menjelekkanku. "Kenapa pengantinnya jadi ada dua?" Celetuk salah satu ibu-ibu yang sedang rewang. "Kamu belum dengar gosip memangnya?" "Gosip apa, Bu?" "Si Alin selingkuh, padahal sudah dekat dengan hari H pernikahannya. Mana selingkuhannya gembel pula." "Iya, kasihan si Clara. Ia jadi terpaksa menggantikan jadi pasangan Si Bima. Baik sekali Clara, merelakan dirinya demi menyelamatkan nama baik keluarga," timpal ibu-ibu yang lain. Ingin saja aku meraih mic dan berteriak menjelaska







