เข้าสู่ระบบSeolah sedang bermimpi, semua hal yang tak pernah kusangka terjadi begitu saja. Seharusnya hari ini jadi hari pernikahanku dengan Mas Bima, tapi yang ada malah kami berdua akan menikah dengan pasangan yang berbeda.
Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Papa yang takut terjadi hal yang tak diinginkan denganku, memilih melangsungkan pernikahan kami bersama-sama dengan Clara. Semua diurus mereka dengan serba cepat. Yang mirisnya, sejak pagi aku selalu mendengar pembicaraan orang-orang yang terus menjelekkanku. "Kenapa pengantinnya jadi ada dua?" Celetuk salah satu ibu-ibu yang sedang rewang. "Kamu belum dengar gosip memangnya?" "Gosip apa, Bu?" "Si Alin selingkuh, padahal sudah dekat dengan hari H pernikahannya. Mana selingkuhannya gembel pula." "Iya, kasihan si Clara. Ia jadi terpaksa menggantikan jadi pasangan Si Bima. Baik sekali Clara, merelakan dirinya demi menyelamatkan nama baik keluarga," timpal ibu-ibu yang lain. Ingin saja aku meraih mic dan berteriak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal akulah yang jadi korban, kenapa malah aku yang disalahkan di sini? "Sabar, Lin." Mama mengusap bahuku karena tahu apa yang kurasakan dalam hati. Sejak kejadian aku kepergok dengan Bang Iza, sikap Mama berubah jadi begitu baik. Sepertinya ia masih tak terima aku dinikahi Bang Iza. "Kenapa bisa sampai menyebar berita seperti itu, Ma?" Tanyaku nelangsa. Aku malu luar biasa, padahal hari ini aku akan banyak bertemu dengan orang. "Mama juga gak tau, Lin. Tak mungkin Mama membeberkan hal seperti ke orang lain." Aku hanya mengangguk karena tahu tak mungkin Mama menyebarkan gosip tentangku. Suara panggilan Papa dari ambang pintu kamar menghentikan pembicaraan kami. Kami diminta keluar karena acara akan segera dimulai. Setelah semua berkumpul di ruang tamu yang kini sudah disulap menjadi tempat ijab kabul, barulah proses akad dilangsungkan. Pertama, penghulu menjabat tangan Bang Iza terlebih dahulu, entah alasan apa yang membuat Papa mewakilkan perwaliannya pada wali hakim. Papa dan Mama hanya bilang ada alasannya, dan aku berusaha maklum. Mungkin saja aku hadir lebih dulu sebelum pernikahan mereka. Bang Iza dengan penuh percaya diri duduk berhadapan dengan Penghulu. Tampilannya hari ini tak selusuh biasanya, walau kumis dan jambangnya itu masih ada, setidaknya sudah dirapikannya sedikit. Sungguh, aku masih menyimpan kesal dengan lelaki itu, karena ia dengan begitu entengnya mengatakan kami punya hubungan. Entah apa tujuan lelaki itu pun aku tak tahu. Beralih dari Bang Iza, aku kini menatap orang tua lelaki itu yang menurutku bersikap agak aneh. Mereka terlihat kikuk dan canggung, apalagi saat aku menyalami mereka. Proses akad berjalan lancar hingga aku dan Bang Iza sudah resmi menjadi suami istri. Begitu pula Clara, ia terlihat begitu bahagia menggandeng tangan Mas Bima sepanjang acara. Seolah ingin menunjukkan bahwa Mas Bima itu sudah jadi miliknya. Sedangkan Mas Bima sejak tadi terlihat murung, bahkan saat akad tadi ia sempat terdiam lama dan menatapku penuh kesedihan. "Selesai acara kita langsung pergi dari sini." Suara dingin Bang Iza menyapu pendengaranku yang saat ini sudah duduk di pelaminan. "Lho, kok secepat itu?" Protesku. "Terserahku. Aku ini suamimu, jadi nurut saja apa yang kukatakan." Bibirku langsung terkatup rapat demi mendengar suara tegas dari lelaki itu. Bang Iza yang sekarang benar-benar berbeda seperti ia yang biasa. Atau memang sebenarnya begini sikap lelaki ini? *** "Kenapa langsung pergi, Lin? Kita belum buka kado dan amplop milik kamu lho," ujar Mama keberatan saat aku akan pergi usai acara berakhir. "Mama simpan aja dulu, Ma. Nanti kapan-kapan aku ambil," sahutku berusaha tersenyum di hadapan Mama. Padahal dalam hati aku sudah menangis, karena ini kali pertama aku akan meninggalkan rumah ini. Dengan mengendarai mobil yang mungkin disewa oleh Bang Iza, aku meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu. Ya walau sejujurnya lebih banyak kenangan tak mengenakkan, apalagi sejak Mama melahirkan Clara. Selang beberapa menit perjalanan, mobil pun berhenti. Tadinya kupikir kami sudah sampai, namun saat aku akan turun mengikuti orang tua Bang Iza, suara bariton lelaki itu langsung keluar. "Mau kemana?" "Lho bukannya udah nyampe?" Tanyaku sembari celingukan menatap ke sekeliling. "Masuk!" Titah Bang Iza dengan nada sedingin es. Dengan canggung, aku kembali masuk ke mobil yang kini hanya tinggal kami berdua juga supir. "Rumah orang tua Abang di situ tadi?" Aku bertanya penasaran karena sejak tadi sikap Bang Iza dan orang tuanya begitu aneh. Mereka sama sekali tak saling tegur sapa. Bahkan saat orang tuanya turun juga tak ada basa-basi sedikit pun. "Mereka bukan orang tuaku," sahut Bang Iza dengan pandangan lurus ke depan. "Maksudnya?" "Mereka hanya orang asing yang kubayar untuk jadi orang tua palsuku." Aku langsung menoleh ke Bang Iza karena terkejut dengan kejujurannya. "Jadi maksud Abang, Abang udah nipuin aku dan keluargaku?!" Emosiku memuncak rasanya setelah tahu pernikahan kami diawali dengan ketidakjujuran. "Kalau iya kenapa? Toh, pernikahan tetap berjalan dan sah walau aku membawa orang tua palsu." Tubuhku melemas mendengar jawaban santai Bang Iza. Kupijit pelipis untuk meringankan sakit yang mendadak muncul di kepala. "Sebenarnya apa tujuan Abang menikahiku?" Tanyaku kemudian. Namun, lelaki itu tak menjawab dan kembali mengacuhkanku. *** Tok! Tok! "Bangun! Makan!" Suara Bariton Bang Iza terdengar dari balik pintu kamarku. Ya, kamarku karena ternyata kami tidur secara berpisah di rumah kontrakan Bang Iza ini. Untuk hal ini aku memaklumi, karena kami juga tak begitu dekat, pasti bakal canggung jika langsung tidur sekamar berdua. Namun, sikap Bang Iza yang seperti menganggapku musuh ini yang membuatku sejujurnya sakit hati. Jika hanya sekedar cuek, aku akan mewajarkan karena kebanyakan sikap lelaki seperti itu. Begitu keluar dari kamar, aku mematung sejenak karena merasa tak enak melihat Bang Iza ternyata sudah membereskan rumah. Bahkan ia memasak sarapan untuk kami. Subuh tadi sebenarnya aku sudah bangun, tapi karena begitu lelah, aku melanjutkan tidur usai sholat subuh. "Duduk!" Titahnya dengan ketus saat melihat aku hanya mematung. "Maaf, Bang, aku kesiangan--." Ucapanku terhenti kala Bang Iza menyorongkan sepiring nasi ke hadapanku. Aku tertegun melihat nasi yang diberikan Bang Iza berbeda dengan nasi yang ia makan. Nasi yang dimakan Bang Iza terlihat baru matang, bahkan asapnya pun masih mengepul. Sedangkan nasi yang diberikan padaku warnanya sudah kuning dan agak berbau seperti nasi basi. "Bang nasi ini untuk apa?" Tanyaku ingin memperjelas maksud lelaki itu menyodorkan nasi basi tersebut. "Untuk kamu makanlah!"Lima tahun kemudian ...."Mamaaa!" Alin tersenyum lebar sembari merentangkan tangan menyambut putranya yang baru keluar dari gerbang sekolah.Wajah bocah berusia lima tahun lebih itu terlihat sumringah. Ia langsung masuk ke dalam pelukan Alin seolah begitu merindukan mamanya."Belajar apa tadi?" Tanya Alin sembari berjongkok mensejajarkan diri dengan Abim."Belajar nulis huruf M, sama gambar juga tadi. Abim gambar Papa, Mama, sama Abim," sahut Abim antusias."Oh ya? Senang gak tadi di sekolah?" Pancing Alin yang memang selalu mempertanyakan perasaan anaknya. Karena baginya kondisi hati itu yang terpenting. "Senang! Tapi 'kan, Ma ... Abim sedih juga," ujar Abim dengan bibir cemberut."Kenapa?" Alin mulai khawatir."Teman-teman Abim pada punya adik, tapi Abim gak punya, Ma."Alin tersenyum simpul mendengar hal yang membuat anaknya itu bersedih. "Sabar ya, Sayang. Kita do'a sama-sama supaya Abim cepat dapat adek," ujar Alin sembari mengusap lembut kepala putranya.Bukan Alin tak ingin
"Bang ponsel Abang bunyi." Alin berusaha melepaskan bibirnya, namun Afriza kembali menahan."Biarin!" Afriza melanjutkan aktivitasnya membuat Alin kembali pasrah, hingga akhirnya dering tersebut mati sendiri.Namun begitu ci*uman Afriza sudah mulai turun ke leher jenjang Alin, kembali ponsel tersebut berbunyi nyaring, membuat Afriza berdecak kesal karena merasa terganggu."Angkat dulu, Bang. Siapa tahu penting," ujar Alin mengingatkan, hingga mau tak mau Afriza meraih ponselnya dan mengangkat panggilan yang ternyata dari papanya."Kenapa, Pa?" Tanya Afriza dengan menahan kesal karena aktivitasnya terganggu."Cepat ke rumah sakit, Tha! Nenek jatuh di kamar mandi, darah tingginya kumat."Bukannya iba mendengar berita tersebut, Afriza malah berdecak kesal. "Yang anaknya 'kan Papa, bukan aku!" Ketus Afriza."Artha, Papa tahu kamu masih marah sama Nenek. Tapi jangan begitu. Jangan simpan dendam. Biar bagaimanapun beliau Nenek kamu sendiri. Masa kamu gak ada rasa empati saat beliau sakit?"
"Bang!" Alin mulai membuka percakapan sembari melepas lelah. Mereka baru saja usai meluahkan rasa rindu di atas ranjang setelah makan siang tadi."Hmm?""Sejak kapan Abang cinta sama Alin?" Tanya Alin tiba-tiba."Kenapa memangnya?" Afriza balik bertanya sembari memandang wajah cantik istrinya yang sejak tadi ada di dalam dekapannya."Gak apa-apa, pengen nanya aja. Jangan bilang Abang cinta ke Alin gara-gara merasa bersalah karena salah balas dendam," tebak Alin balas menatap suaminya.Walau papa Afriza pernah mengatakan padanya bahwa Afriza menyukainya sejak pertama bertemu, tapi Alin tak ingat pasti kapan pertama kali mereka bertemu."Enggaklah! Jauh sebelum itu Abang sudah cinta ke kamu.""Oh ya? Sejak kapan? Kayaknya dulu kita gak saling dekat deh." Alin makin penasaran."Sejak pandangan pertama," sahut Afriza sambil mengulas senyum manis lalu mengecup kening istrinya."Emang kapan kita pertama kali ketemu ya? Alin lupa."Afriza berdecak kesal sambil menatap Alin. "Ternyata cuma Ab
Afriza menelan saliva susah payah. Sudahlah volume panggilan ia buat full ditambah suara ayahnya yang keras, sudah dapat dipastikan Alin yang berada sangat dekat dengannya mendengar apa yang dikatakan Tuan Wisnu. Dan benar saja, saat Afriza menatap wanita itu, raut wajahnya sudah berubah."Enggak! Artha lagi jagain menantu Papa.""Hah? Siapa?""Alin-lah, Pa. Siapa lagi?! Sampai kapanpun menantu Papa ya cuma Alin seorang." Sengaja Afriza berucap demikian demi mengalihkan pikiran Alin supaya tak berpikir buruk dengan ucapan papanya yang menuduhnya mabuk tadi."Udah ketemu Alin?" "Udah. Emangnya Papa belum liat artikel tentang keluarga Atmadja?" "Sudah. Makanya itu Papa ngubungi kamu."Usai berbincang-bincang sejenak, panggilan pun terputus. Begitu melihat Alin yang masih menatapnya, jantung Afriza langsung ketar-ketir."Abang sering mabuk-mabukan?" Tanya Alin langsung, ada raut kecewa di wajah wanita itu saat bertanya demikian.Afriza menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Maaf, Sa
Afriza menghela nafas panjang, berulang kali melirik arloji. Sudah berjam-jam ia menunggu di depan kampus Alin. Matanya tak lepas mengawasi ke arah gerbang, namun sosok yang ia tunggu tak juga nampak batang hidungnya."Kamu di mana, Lin?" Afriza mengusap wajahnya kasar. Makin frustasi rasanya saat ingat cerita Anita tadi. Ia baru tahu alasannya kenapa istrinya itu memilih menerima uang dari neneknya dan meninggalkannya. Pasti Alin tertekan sekali saat itu. Dan ia malah dengan teganya tak memberi kesempatan wanita itu untuk memberi penjelasan padanya.Karena hari sudah semakin senja, Iza memutuskan turun untuk bertanya pada Satpam yang ada di depan gerbang. Walau ia tak berharap banyak, karena tak mungkin juga Satpam tersebut hafal wajah semua mahasiswa yang ada di sana."Permisi, Pak, saya mau tanya.""Mau tanya apa ya, Mas?" "Ada lihat wanita ini keluar dari kampus gak ya, Pak?" Afriza menunjukkan foto Alin yang ada di ponselnya."Oh, Nak Alin anak Pak Rasyid Atmadja?"Afriza menga
Alin bergerak turun dari ranjang. Wajahnya masih pucat, kepalanya pun masih terasa pusing. Tapi ia tetap memaksakan bangkit, berniat masuk kuliah hari ini. Selain karena sudah dua hari dia absen, Alin juga tak tahan lama-lama di dalam kamar. Yang ada ia malah menangis terus karena terpikirkan Afriza. Pikirnya dengan mencari kegiatan ia akan bisa melupakan kesedihannya walau sejenak."Kamu mau kemana, Lin?" Tanya Bu Nurin saat melihat Alin sudah turun dengan pakaian rapi."Ke kampus, Ma," sahut Alin lalu ikut bergabung dengan keluarga Atmadja sedang bersiap untuk sarapan."Kamu yakin mau ngampus? Wajah kamu masih pucat itu." Arfan ikut menanggapi dengan khawatir."Yakin, Mas. Udah gak demam lagi kok. Aku bosan di rumah terus."Terdengar lelaki itu menghela nafas, ia sebenarnya keberatan saat melihat kondisi adiknya itu. Tapi mungkin Alin memang sedang bosan di rumah. "Yang penting hati-hati ya, Lin. Kalau ada apa-apa hubungi Masmu atau Papa aja," timpal Pak Rasyid yang disambut angguk
"Clara ... Ini gak seperti yang kamu kira, Ra," jelasku buru-buru mendekat ke gadis itu.Namun, belum sempat lagi aku memberikan penjelasan yang sesungguhnya, ia sudah berteriak duluan dengan heboh."Ma, Pa, banguuun! Ada lelaki aneh yang mau macem-macem sama Mbak Alin!" Teriak Clara dengan volume
Tubuhku bergetar hebat karena perasaan takut benar-benar mendominasi. Apalagi hujan yang semakin lebat membuat suasana bertambah mencekam. Bahkan bungkusan nasi goreng yang tadi kubawa sudah tercecer entah kemana."Tolong lepasin saya ...." Berulang kali aku memohon saat para preman itu menyeretku
"Kamu jangan bicara yang aneh-aneh, Alin! Tak ada yang mau bernasib seperti Clara, begitu juga Clara sendiri!"Aku hanya memutar bola mata mendengar tanggapan Ayah. Memilih meninggalkan mereka dan masuk kembali ke kamar adalah jalan terbaik. Dunia mereka selalu diisi dengan Clara, karena aku di kel
Rencana pernikahan tetap berjalan sesuai rencana, namun bedanya nama mempelai wanita di undangan yang baru saja selesai dicetak sudah berganti bukan lagi namaku. Ah, rasanya ingin saja aku menjauh dari semua ini. Walau aku berusaha kelihatan tegar, tapi di dalam aku benar-benar rapuh kini.Merelaka







