LOGINEl dolor cambia a las personas y las situaciones traumáticas aumentan el riesgo de tomar decisiones impulsivas. Ellos lo saben muy bien. Acompaña a Sophie y a Chris en el desenlace de esta historia de amor, pasión y venganza.
View More“Mau sampai kapan kita nampung Kak Alina? Aku tuh nggak bebas. Mau apa-apa ngerasa nggak enak, mau beli ini takut diceramahi, mau jalan-jalan takut dinasihati. Lama-lama aku tuh nggak nyaman ada dia di sini. Kakak kamu itu sudah berumur kenapa nggak nikah? Jadi beban saja! Pantas saja Tuhan belum kasih kita momongan, soalnya kita masih ada beban Kak Alina!”
“Kenapa kamu ngomong seperti itu? Bukankah dulu sebelum kita nikah, kamu setuju serumah dengan Kak Alina?” Alina berhenti mengulurkan tangan menyentuh gagang pintu saat mendengar suara adik iparnya. Dia mendengar iparnya mempermasalahkan dirinya tinggal di sana lagi. Ini bukanlah yang pertama kali Alina mendengar iparnya berdebat dengan sang adik. “Mau bagaimanapun, Kak Alina itu kakakku, Karin. Dia yang membesarkan dan bertanggung jawab kepadaku sampai aku besar. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, apalagi membiarkannya hidup sendirian di luaran sana.” Alina masih berdiri termangu di depan pintu, mendengarkan sang adik yang selalu membela dirinya. “Tapi kamu itu sudah punya istri, Dan. Harusnya kamu mengutamakanku, bukan Kak Alina. Kalau kamu nggak mau Kak Alina pindah, ya sudah aku saja yang pindah!” Alina sangat terkejut mendengar ancaman Karin. Dia harus bertindak dan bertanggung jawab atas pertengkaran Dani dan Karin karena keduanya selalu bertengkar hanya karena meributkan keberadaannya di sana. Alina menarik napas panjang lalu mengetuk pintu tepat saat Dani sedang membujuk Karin agar tak melakukan yang dikatakan istrinya. “Kak.” Alina melihat raut wajah Dani yang terkejut dengan kedatangannya, lalu dia melihat Karin langsung memalingkan muka tampak kesal. “Ada yang mau aku bicarakan,” kata Alina sambil memulas senyum tipis di wajah. Alina melihat Dani mengangguk, lalu dia mengajak duduk Dani dan Karin di ruang tamu. Alina hanya ingin menyelesaikan pertengkaran yang terus terjadi. “Begini, aku mau izin pindah,” ucap Alina. Alina melihat sang adik kembali terkejut, sedangkan iparnya tampak langsung tersenyum. Alina tersenyum tipis. Wajar mereka bereaksi seperti itu setelah ucapannya tadi. Ini keputusan mendadak, Alina juga tidak tahu akan bagaimana setelah ini, tetapi dia harus melakukannya demi pernikahan sang adik. “Nggak, Kak. Aku tidak mengizinkan.” Sudah bisa ditebak sang adik akan menolak. Alina menatap Dani yang tak setuju, lalu menoleh pada iparnya yang kembali kesal. “Aku nggak mengizinkan Kak Alina tinggal di luar sendirian. Selama aku masih ada, untuk apa Kak Alina tinggal sendiri?” “Aku tidak akan sendirian, sebenarnya aku sudah punya kekasih dan kami berencana menikah. Karena itu aku izin dulu, sekalian menyiapkan semuanya,” ujar Alina sambil memulas senyum. Akan tetapi, dalam hati dia merutuki kebodohannya sendiri. Hanya saja, itu satu-satunya ide yang terlintas di benaknya tadi. Alina terpaksa berbohong agar Dani mengizinkan serta agar bisa menyelamatkan rumah tangga adiknya. Dia tak bisa mendengar Dani terus menerus terlibat percekcokan dengan Karin. Alina tahu adiknya pasti tidak percaya, tetapi dia berusaha untuk terlihat santai. “Baiklah, kalau memang benar seperti itu, tapi aku harus tahu dulu, siapa pria yang akan menikah dengan Kak Alina,” ujar Dani. Alina mengangguk lalu membalas, “Tentu saja, aku akan segera mengenalkannya dengan kalian.” Alina terus memulas senyum untuk menyembunyikan kebohongannya. Dia melihat adik iparnya yang tersenyum semringah, membuat Alina lega meski sedih karena harus berbohong. ** Esok harinya. Alina pergi ke butik seperti biasa. Dia duduk termangu memikirkan ucapannya pada Dani semalam. “Mau cari calon suami di mana?” Alina menghela napas, wajahnya memelas bingung. Dani pasti menagih untuk dikenalkan dengan pria yang akan menikahinya, padahal yang sesungguhnya dia tidak memiliki kekasih! Alina terlalu sibuk mengurus butiknya, meskipun butik yang dikelolanya masih kecil, tetapi seluruh waktunya hampir dia habiskan di butik ini. Alina tidak punya waktu untuk bertemu pria. Alina mengembuskan napas kasar, di saat yang tepat pintu butiknya terbuka. Melihat siapa yang datang, wajah Alina langsung tersenyum sumringah. Lagi pula dia tidak mungkin menceritakan masalah pribadinya pada pelanggannya. Nenek tua langganan butik Alina masuk dan tersenyum menyapa, “Sepertinya ini hari keberuntunganku karena butiknya sepi, jadi aku bisa menyita semua waktumu untuk melayaniku,” ucap Nenek Agni. Alina membalas senyum ramah Nenek Agni. Dia langsung menghampiri Nenek Agni. “Nenek mau cari apa? Duduklah dan biar aku yang mengambilkan,” ucap Alina sopan. Alis Alina terangkat sedikit saat melihat Nenek Agni tidak melepas senyum untuknya. Kendati demikian, Alina meminta Nenek Agni duduk agar tidak lelah mencari barang yang diinginkan karena dia yang akan melayani. “Aku memang mencari sesuatu, tapi sepertinya agak sulit,” kata Nenek Agni sambil terus menatap Alina. “Sulit? Memangnya apa?” tanya Alina agak membungkuk pada Nenek Agni. Alina semakin salah tingkah dan bingung melihat Nenek Agni yang menatapnya begitu dalam. “Aku punya desain terbaru yang cocok dengan Nenek, apa Nenek mau melihatnya?” tawar Alina, sekaligus ingin mengalihkan pembicaraan karena merasa canggung melihat tatapan Nenek Agni. “Duduklah dulu,” kata Nenek Agni. Alina bingung, tetapi menuruti perkataan Nenek Agni. “Sebenarnya hari ini aku ingin minta tolong.” Alina diam mendengarkan. “Maukah kamu menikah dengan cucuku?” Bagaimana? Alina mengerjap, menatap Nenek Agni. Sedang Nenek Agni tersenyum melihat respon Alina. “Dia cucuku satu-satunya. Aku sangat mencemaskan cucuku kalau dia tidak bisa mendapat istri yang baik. Lagi pula bukankah kamu belum menikah? Aku merasa kamu adalah pasangan yang tepat untuk cucuku, aku juga ingin memiliki cucu menantu yang cantik dan sabar sepertimu,” ucap Nenek Agni lalu menepuk punggung tangan Alina. Alina diam berpikir sejenak. Mungkinkah ini jawaban atas kegelisahannya? Akan tetapi, ini terlalu mendadak. Alina memang butuh seorang pria saat ini, tetapi ditawari pilihan untuk langsung menikah … Alina bingung juga. Atau, dia terima saja, ya, permintaan Nenek Agni? Setidaknya Alina tidak perlu mencari pria asing lain dan dia mengenal Nenek Agni. Demi Dani, Alina berhenti berpikir hingga kepalanya mengangguk begitu saja. “Iya, kalau cucu Nenek juga bersedia,” balas Alina mengambil kesempatan itu. “Bagus.” Nenek Agni terlihat senang. “Sekarang tutup butiknya. Kalian akan menikah hari ini juga.” “Apa?” Alina kembali terkejut mendengar ucapan Nenek Agni. Lagi-lagi ini terlalu mendadak, apalagi dirinya harus menikah hari itu juga. Namun, Alina tetapi menuruti ucapan Nenek Agni hingga bertemu dengan cucu sang Nenek. Alina memandang pria yang berdiri di samping Nenek Agni. Pria itu berpenampilan sederhana, Alina tahu pakaian yang digunakan pria itu juga tidak bermerk sama sekali. Hanya jas rapi dengan jahitan yang biasa. Akan tetapi, Alina tertegun ketika pria itu menatap balik Alina. Harus Alina akui, wajah cucu sang Nenek sangat tampan dengan alis tebal dan matanya yang hitam pekat, hidungnya yang mancung dan rahangnya yang tegas. Alina mencoba tersenyum pada pria itu, tetapi sayangnya pria itu hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. “Nenek sudah menyiapkan semuanya. Kamu sudah sepakat mau menikah dengan wanita pilihan nenek, jadi ini wanita pilihan nenek. Cantik, bukan?” Alina tersenyum canggung karena Nenek Agni memujinya. “Ini Aksa, cucu nenek,” ucap Nenek Agni mengenalkan. Alina memberanikan diri mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri, tetapi pria bernama Aksa itu hanya menatap uluran tangan Alina tanpa ekspresi. “Aksa, yang sopan pada calon istrimu!” Nenek Agni kesal dan mengambil tangan Aksa secara paksa untuk menjabat uluran tangan Agni. Alina tersenyum getir, akan tetapi sentuhan pertama yang diberikan Aksa membuat darahnya sedikit berdesir.SOPHIE Quince años.A veces digo el número en voz baja solo para comprobar que es real. Quince años desde que caminé vestida de blanco marfil hacia el hombre que ya había sido mi esposo una vez y que estaba a punto de convertirse en mi para siempre consciente. Quince años desde que decidimos que nuestro amor no sería una historia rota, sino una historia reconstruida.Y aquí estamos.Sigo despertando a su lado.Sigo sintiendo su mano buscar la mía incluso dormido.Sigo eligiéndolo.La casa ya no es la misma de entonces. Es más grande, más ruidosa, más vivida. Las paredes guardan fotografías, trofeos, dibujos antiguos, cartas que Love pega con cinta en el refrigerador y que yo nunca retiro. El jardín que una vez fue escenario de una propuesta bajo las estrellas ahora ha visto fiestas, discusiones, risas y reconciliaciones.Max ya no es el niño que abrazaba a su padre la noche antes de nuestra boda.Ahora está en la universidad.Y es problemático.No en el sentido oscuro, sino en el sen
Pov de ChrisLa casa está llena.Risas que se mezclan, pasos que van y vienen por el pasillo, el tintinear de copas que chocan en la planta baja mientras los invitados llegan para la cena de ensayo. Familiares que no veía desde hace años, amigos que fueron testigos de nuestra caída y ahora celebran nuestra reconstrucción. Todos hablan de mañana como si fuera un espectáculo, como si fuera un evento histórico, como si la ciudad entera estuviera pendiente de lo que sucederá cuando Sophie camine hacia el altar.Y lo está.Pero en medio de todo ese ruido, yo solo escucho mi propia respiración.No es miedo. No exactamente.Es la magnitud.La magnitud de lo que estamos haciendo.Me siento un poco aturdido, como si el aire fuera demasiado denso. Sonrío, saludo, abrazo, agradezco… pero en un momento dado necesito escapar. Necesito silencio. Necesito recordar por qué mañana no es un evento social, sino una promesa sagrada.Busco a mis hijos con la mirada y los encuentro cerca de la escalera. Le
Pov de ChrisEl probador huele a tela nueva y a madera pulida. El espejo frente a mí es alto, implacable. Refleja cada detalle del esmoquin negro que el sastre termina de acomodar sobre mis hombros.—Perfecto —murmura él mientras alisa la solapa—. Hecho a su medida.Asiento, pero apenas lo escucho.Me quedo mirando mi reflejo.El hombre que me devuelve la mirada no es el mismo que una vez vio marcharse a la mujer que amaba creyendo que lo había perdido todo. No es el mismo que se tragó el orgullo, el dolor, la culpa. Este hombre ha aprendido. Ha caído. Ha pedido perdón. Ha luchado.Y ahora está a punto de volver a casarse con ella.Con Sophie.Trago saliva.Por un instante, un pensamiento me atraviesa como un rayo frío: ella pudo haberse casado con otro hombre. Pudo haber rehecho su vida lejos de mí. Pudo haber amado a alguien más con la misma intensidad con la que me amó una vez.Pudo haber tenido una hija que no fuera mía.Love…Cierro los ojos un segundo. La imagen de mi pequeña ri
SOPHIE Ha pasado un mes.Treinta días desde aquella noche bajo las estrellas en la que Christopher se arrodilló frente a mí y volvió a elegirme.Treinta días en los que mi vida dejó de ser solo mía.No pensé que renovar votos pudiera convertirse en un fenómeno mediático. No imaginé que nuestra historia —esa que creí tan íntima, tan dolorosamente privada— se transformaría en una especie de símbolo público.“Si ellos pudieron volver a amarse, cualquiera puede.”He leído esa frase tantas veces que ya no sé si me reconforta o me pesa.Los medios no nos han dejado en paz. Cada salida, cada compra, cada reunión con proveedores termina convertida en titulares sobre segundas oportunidades, sobre amores que renacen, sobre finales que no eran finales.Es hermoso.Y agotador.Hoy, por ejemplo, solo quiero hacer algo simple.Escoger mi vestido de novia.Nada más.Nada menos.El auto se detiene frente a la boutique más exclusiva de la ciudad. Un lugar elegante, discreto, con vitrinas que parecen












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reviews