Home / Romansa / DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta / BAB 42 TERNYATA DIA PUNYA TUNANGAN?

Share

BAB 42 TERNYATA DIA PUNYA TUNANGAN?

last update Huling Na-update: 2025-10-21 21:05:34

Wanita bayaran? Apa maksud dia pelacur? Wah... Bisa-bisanya dia menganggapku wanita murahan.

Aku menghentikan langkah sambil menatapnya tajam. "Bapak menganggap saya pelacur?!" tanyaku dengan nada tinggi.

Wajah pak Ben seketika berubah. Ia terlihat menyesali perkataanya. "Maaf, Mbak... maaf. Apa saya salah?" ucapnya sambil melipat tangan di dada.

Aku berkacak pinggang dengan bibir mengerucut. "Apa saya memang terlihat seperti wanita murahan?!"

Pak Ben menyeringai sambil menggaruk kepala. "Ng-nggak sih, Mbak. Tapi tadi pak Jefri bilang, Mbak bukan pacarnya. Jadi saya pikir..."

Pak Ben tidak melanjutkan bicaranya. Dan jujur aku sangat kesal dengan tuduhannya barusan.

Benar sih, aku memang bukan pacarnya. Tapi aku juga tidak dibayar. Kami hanya... Ah! Aku pun bingung hubunganku dengan pak Jefri ini apa.

"Maaf ya, Mbak. Maaf kalau saya menyinggung Mbak," ucapnya dengan nada menyesal.

Akupun menurunkan tangan sambil membuang napas berat. "Ya sudahlah. Tapi sebagai gantinya, Pak Ben harus c
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 191 DUNIA MEMANG SEMPIT

    Aku langsung mengangkat panggilan itu dengan tergesa."Halo! Apa maksudmu?!" bentakku tanpa basa-basi."Sayang... galak sekali, sih, kamu," jawab Steafen di seberang sana dengan nada suara yang menggoda."Aku tidak punya waktu untuk bercanda, Steafen. Jangan coba-coba datang ke apartemenku!"Aku mendengar dia terkekeh pelan, seolah menganggap ancamanku hanyalah gurauan semata."Erika... Erika. Padahal saat ini kamu sedang kesepian, kan? Cepat katakan mau ke mana? Aku akan menemanimu meski keliling dunia sekalipun."Alisku berkerut dalam, dadaku kembang kempis menahan kesal yang meluap. "Nggak perlu. Terima kasih!" sahutku kasar, lalu langsung memutus panggilan secara sepihak.Aku melempar ponsel ke ranjang dengan napas memburu. Namun, beberapa detik kemudian, tubuhku mendadak lemas setelah menyadari kenyataan pahit.Steafen... memang terasa lebih peduli padaku daripada Mas Jefri saat ini.Tubuhku merosot ke lantai dan kembali meringkuk di samping tempat tidur. Aku menenggelamkan wajah

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 190 PERBANDINGAN YANG MENYAKITKAN

    "Uhuk! Uhuk!" Aku seketika terbatuk hebat karena tersedak ludah sendiri.Dalam hatiku bergumam gelisah, 'Bisa-bisanya Mas Raka meminta hal yang justru sudah direncanakan oleh Steafen.'Tapi, aku tidak mau Mas Raka sampai tahu soal kesepakatan kencan itu. Kalau tidak, dia pasti akan salah sangka dan masalahnya akan semakin panjang."Nggak mungkinlah, Mas. Aku kan sudah mau menikah," kelitku berusaha tenang sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil.Mas Raka terkekeh kecil, seolah menganggap penolakanku hanya angin lalu. "Ya sudah kalau itu keputusanmu. Tapi, aku akan sangat mendukung kalau kamu memberi kesempatan pada Steafen, sebelum kamu dan Jefri benar-benar menikah."Aku membuang muka dengan bibir mengerucut sebal. "Hhmm... itu sih maunya Mas Raka saja."Ia kembali terkekeh sambil fokus mengendalikan kemudi. "Aku memang sangat ingin menjodohkanmu dengan Steafen," ucapnya lugas sambil menoleh padaku sejenak. "Steafen lebih kaya dari Jefri. Perusahaannya lebih kuat di banya

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 189 DISERANG RAYUAN SI PLAYBOY

    Hanya sekali kencan, bukan? Lagipula, Steafen tidak mungkin jatuh cinta padaku. Orang sepertinya hanya sekadar penasaran dan ingin memuaskan egonya dalam menaklukkan wanita. Yang penting kami tidak menjalin hubungan apa pun setelahnya.​Mas Jefri juga sedang di London. Asal aku mengikuti permintaan pria ini, semua rahasia akan aman dan urusan selesai. Setelah itu, aku tidak perlu lagi berhubungan dengannya.​"Baiklah..." jawabku akhirnya dengan nada pasrah.​Steafen seketika menyunggingkan senyum puas penuh kemenangan. Ia mengangkat ujung alisnya sambil mencuil daguku dengan ujung jemarinya. "Bagus, Nona..."​Sialan! Padahal aku sudah berdoa agar tidak dipertemukan lagi dengannya. Tetapi, Tuhan justru mengabulkan permintaan pria ini yang ingin kembali bertemu denganku.​Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu memberikannya padaku. "Cepat, simpan nomor kamu di sini," pintanya tanpa melepaskan tatapan dariku.​"Untuk apa?!" tolakku dengan nada tinggi.​Steafen menghela napas lelah

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 188 KESEPAKATAN UNTUK MENJAGA RAHASIA

    "Wow... kejutan sekali, Nona. Apa kamu mengejarku sampai ke sini karena rindu?" goda Steafen dengan senyuman miringnya yang menyebalkan.Aku langsung membuang muka, sama sekali tidak berniat meladeni godaannya. Di dunia yang seluas ini, aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi di sini. Ah, tidak. Apa mungkin Steafen adalah sahabat yang dimaksud Mas Raka?Aku menatap Mas Raka dengan wajah tegang, berharap mendapat jawaban darinya. Namun, Mas Raka sendiri tampak kebingungan melihat interaksi kami."Steafen, Erika... kalian sudah saling kenal?" tanyanya sambil menunjuk kami berdua bergantian.Aku mengalihkan pandangan sambil meremas sisi gaunku, bingung harus menjelaskan situasiku dan Steafen dari mana. Tidak mungkin aku jujur tentang kejadian di London.Steafen tanpa canggung meletakkan sikutnya di pundak Mas Raka. "Tentu saja aku mengenalnya," ucapnya sembari menatapku dengan tatapan buaya yang sangat kukenali.Sepertinya benar dugaanku, mereka memang bersahabat. At

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 187 DUNIA MEMANG SEMPIT

    "Baru saja pulang. Haruskah langsung kembali lagi?" rengekku, menatapnya dengan wajah sendu.Mas Jefri menggengam tanganku semakin erat. "Sayang... saat saya pergi, keadaan kantor benar-benar sedang kacau. Saya memaksakan diri ke Indonesia karena khawatir sama kamu."Aku mengalihkan pandangan, merasa ucapan Mas Jefri hanya omong kosong belaka. Dengan segala alasannya yang mungkin benar, entah kenapa hatiku masih saja ragu.Ia merangkul pinggangku, menatap mataku lekat. "Erika... Maafkan saya kalau selalu mengecewakan kamu. Apa... Kamu masih belum percaya sama saya?" tanyanya menelisik, seolah bisa membaca apa yang aku rasakan."Dua Minggu bukan waktu yang sebentar buat saya, Mas," ucapku tak mau menatap matanya. "Tiga bulan lagi kita akan menikah. Tapi... sampai saat ini, kita tidak punya waktu untuk membahas tentang persipannya."Mas Jefri membalik wajahku lembut, memaksa mata kami saling bertatapan. "Sayang... saya minta Niken buat temani kamu, ya?"Aku menarik wajah cepat, kembali

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 186 PENYESALAN YANG MENYAYAT HATI

    "Sebenarnya... dia adalah pria yang menolong saya saat keguguran," jawabku akhirnya dengan suara yang nyaris tertelan keheningan kamar.Mas Jefri mendadak bangkit dari ranjang. Ia berdiri kaku di samping tempat tidur sambil menatapku dengan mata membelalak lebar. "Apa? Kamu hamil?!" teriaknya dengan suara yang bergetar hebat.Aku beringsut, duduk bersila di atas ranjang berhadapan dengan Mas Jefri. "Sebenarnya... saya menyusul ke London untuk memberi kejutan tentang kehamilan itu," bisikku dengan air mata yang kembali menderu. Hatiku kembali nyeri mengingat janin yang baru saja aku ketahui keberadaannya, namun sudah pergi selamanya.Mas Jefri terlihat sangat syok. Wajahnya kaku, matanya berkaca-kaca menatapku penuh ketidakpercayaan."Tapi... saya justru melihat hal lain di kantor kamu," lanjutku sembari menahan isak yang menyesakkan dada. "Saya stres berat... dan tidak sanggup mempertahankan janin itu."Air mata Mas Jefri akhirnya jatuh. Untuk pertama kalinya aku melihat pria itu beg

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status