Partager

IDE PRISA

Auteur: Rosemala
last update Date de publication: 2023-11-25 11:10:24

28

"Jadi, bagaimana bisa kacamata itu sampai di tangannya?" tanyaku seraya menatap mata Mas Pandu, mencari kebenaran di sana.

Kami berdua berbaring saling berhadapan di atas tempat tidur setelah aktivitas menguras tenaga di kamar mandi tadi.

Mas Pandu menghela napas kasar sebelum menjawab. "Entahlah, Mas juga tidak tahu. Tapi, tadi siang dia datang ke rumah makan," jawabnya santai. Tangannya tak henti membelai rambutku.

Aku mengerutkan kening. "Ngapain?"

Dua sudut bibir Mas Pandu tertarik k
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   200

    Acara syukuran pun berjalan sangat rinci sesuai rencana. Lancar, tanpa kendala berarti. Setiap hidangan tersaji tepat waktu, setiap tamu datang dengan senyum dan doa baik. Pembacaan doa menjadi penutupnya. Alvina menunduk, kedua tangannya terkatup rapi di pangkuan. Setiap kalimat doa menembus dadanya, menggetarkan sesuatu yang rapuh sekaligus kuat—sesuatu yang selama ini ia rawat dalam diam.Terima kasih, Ya Allah, batinnya. Terima kasih karena Engkau masih mengizinkan kami merasakan bahagia.Ia memejamkan mata lebih lama dari yang lain, membiarkan kata-kata itu mengendap. Dalam hidupnya yang panjang, Alvina tahu betul bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang datang terus-menerus. Bahagia adalah jeda. Hadiah kecil yang kadang datang setelah air mata panjang. Dan hari ini, ia merasa diberi jeda yang begitu indah.Saat doa selesai, suasana mencair. Obrolan kecil bermunculan, tawa pecah tanpa beban. Beberapa tetangga bercanda ringan, sebagian lain menyalami Nakula dan Dinda sambil meng

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   199

    Rumah itu tidak pernah terasa sehidup ini sejak lama.Alvina berdiri di tengah ruang tamu yang kini disulap menjadi ruang syukuran sederhana. Taplak putih terhampar rapi di meja panjang, di atasnya berjejer piring-piring kecil berisi jajanan pasar—kue lapis, lemper, risoles, dan onde-onde yang masih hangat. Di sudut ruangan, rangkaian bunga segar kiriman tetangga menebarkan wangi yang lembut, bercampur dengan aroma masakan dari dapur.Empat bulan.Empat bulan kehidupan kecil yang tumbuh di rahim menantu perempuannya.Alvina menekan dadanya pelan. Ada rasa penuh yang sulit ia jelaskan—campuran syukur, bahagia, dan haru yang terus mengendap sejak pagi tadi. Berkali-kali ia menarik napas dalam, takut air mata jatuh sebelum waktunya. Ia tidak ingin menangis sekarang, bukan karena sedih, melainkan karena terlalu bahagia. Kebahagiaan yang membuat dadanya terasa sesak, seperti hendak meluap keluar.Ia masih ingat jelas bagaimana perjalanan Nakula dan Dinda tidak selalu mudah. Ada masa-masa c

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   198

    Pagi itu bandara terasa lebih sunyi dari biasanya bagi Sadewa. Bukan karena jumlah penumpang yang sedikit, melainkan karena hatinya penuh oleh hal-hal yang tak terucap. Deru pendingin udara, suara pengumuman keberangkatan, dan langkah-langkah orang yang berlalu-lalang seolah menjadi latar samar dari perpisahan yang sedang ia jalani.Ia berdiri di dekat jendela besar ruang tunggu internasional, menatap landasan pacu yang masih basah oleh sisa embun pagi. Sebuah koper hitam berdiri tegak di samping kakinya—ringkas, rapi, seperti hidup baru yang hendak ia mulai: tidak banyak, tidak berlebihan, hanya yang perlu.Alvina duduk di kursi deret belakangnya. Kedua tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin meski ruangan itu hangat. Sesekali ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, berusaha menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. Pandu berdiri di sampingnya, tubuhnya tegap seperti biasa mesku usia tidak lagi muda, namun sorot matanya menyimpan kelelahan dan kebanggaan yang berke

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   197

    Dua Tahun KemudianSore itu begitu tenang. Angin berhembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk kamboja yang tumbuh rapi di tepi pemakaman. Matahari sedang turun, menyisakan cahaya jingga yang jatuh lembut di atas barisan nisan putih. Burung-burung kecil pulang ke sarang, sesekali suaranya memecah keheningan yang terasa menenangkan sekaligus mengiris di dada.Di tengah barisan makam, seorang pria berjongkok lama. Kepalanya tertunduk, kedua siku bertumpu pada lututnya. Nafasnya naik turun pelan, seperti menahan sesuatu yang sudah lama mengendap.Ketika angin kembali bergerak, pria itu akhirnya mengangkat wajahnya. Perlahan ia bangkit, telapak tangannya menepuk-nepuk celana yang sedikit kotor oleh tanah. Dia memunggungi angin, membiarkannya menyapu rambut yang kini lebih pendek dari dua tahun lalu.Di hadapannya, sebuah nisan berdiri sunyi. Namanya terukir jelas—nama yang pernah menjadi pusat hidupnya, tapi juga pusat kehancuran dan penyesalannya.Pria itu menunduk lagi, kali ini dengan lem

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   196

    Lorong rumah sakit itu dingin. Lampu-lampu putih memantulkan cahaya yang terasa getir di mata, seolah ikut menegaskan kecemasan yang menggantung di setiap helaan napas. Nakula berjalan cepat, hampir berlari. Tangannya menggenggam tangan Dinda yang hampir terseok-seok mengejar di belakangnya, memanggil namanya agar sedikit memperlambat langkah. Tapi Nakula seolah tidak mendengar apa pun selain degup jantungnya sendiri.Begitu tiba di depan ruang tunggu ICU, Pandu bangkit dari kursi. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan lingkar hitam membekas di bawah matanya. Alvina duduk di pojok ruangan, menangis dalam diam, bahunya bergetar pelan. Di sampingnya, Prisa memeluk wanita itu erat-erat, berusaha menenangkannya meski air matanya sendiri terus mengalir.“Naku….” Pandu mencoba menyapa.Tapi Nakula langsung menghampirinya, wajahnya pucat dan matanya merah. “Bagaimana Dewa sekarang? Kenapa kalian tidak bilang sejak awal?” Suaranya pecah. “Kenapa aku tidak diberi tahu sejak dia celaka? Buk

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   195

    Lorong rumah sakit malam itu berubah menjadi ruang tanpa waktu. Lampu-lampu putih terasa terlalu terang, tetapi tetap saja tidak mampu mengusir pekatnya ketegangan yang menggerogoti semua orang. Suara langkah kaki dokter dan perawat yang berlalu-lalang terdengar seperti gema tak berujung, menambah kegelisahan yang sejak tadi menghimpit dada Alvina, Pandu, dan keluarga lainnya.Alvina duduk di kursi tunggu dengan lemas, tubuhnya gemetar tak berhenti. Ia baru saja sadar dari pingsan. Kedua tangannya mencengkeram ujung rok rumah sakit yang tadi dipinjamkan perawat saat ia kehilangan kesadaran. Napasnya masih tersengal, seolah paru-parunya menolak bekerja sejak melihat kondisi Sadewa.Prisa duduk di sebelahnya, menggenggam bahunya erat-erat, berusaha membuatnya tetap bertahan. Namun mata Alvina terus kosong, sesekali terpejam kuat-kuat seakan ingin menghapus bayangan mengerikan yang tadi ia lihat di ruang perawatan Sadewa. Bayangan itu terus menempel di belakang kelopak matanya, seakan-ak

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   JODOH TAK TERDUGA

    87Pov Prisa (seasons 2)Akhirnya, setelah perjalanan hidup yang berliku, hari ini aku bisa merasakan kebahagiaan. Ini hari bahagiaku, hari pernikahanku. Ya, aku menikah dengan laki-laki yang awalnya sangat kubenci.Dulu, dia laki-laki tak tahu malu, tidak punya harga diri. Sudah berkali-kali ditolak,

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-24
  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   BAYIKU

    74"Sialan kau, Anak Kecil! Berani kau menantangku?" hardiknya seraya mengentakkan tangannya yang mencekalku.Dia merangsek hingga kakiku berada di ujung undakan. Aku meraih pegangan tangga dan mencengkeramnya dengan kuat agar tubuh tak terdorong. Tiba-tiba rasa takut menghantui. Namun, aku tak ingin

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   SYARAT

    69"Pa, aku mohon kasihanilah kami. Berikan sedikit tempat untuk Mama di sini. Demi aku, Pa. Putri kesayanganmu."Tangis Prisa begitu memilukan bagi siapa saja yang mendengar. Tangannya menggoyang-goyangkan kaki Mas Pandu yang dipeluknya. Ya, siapa pun pasti akan tersentuh melihatnya seperti itu. Terl

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   HURU-HARA

    71Sore ini aku menunggu Mas Pandu pulang dengan berjalan-jalan di halaman, sementara si Mpok menyirami halaman dengan riang. Dari tadi bibirnya selalu bersenandung kecil. Seperti janjinya, dia memang belum pulang. Padahal biasanya jam segini sudah pulang. Aku sedang bicara dengan suamiku di telepon.

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status