LOGIN“Aku memang mau menikah muda, tapi bukan dengan duda. Apalagi duduanya yang meresahkan kayak papa kamu. Amit-amit!” Mungkin sebagian orang pernah bermimpi untuk menikah muda. Namun, bila menikahnya dengan duda yang sudah memiliki anak seusia dengannya, apa yang harus dilakukan Alvina? Alvina tidak pernah menyangka jika ayahnya Prisa—sang sahabat, akan mengajaknya menikah. Menurutnya tidak masuk akal seorang pria matang dan mapan jatuh cinta kepada gadis seusia dengan anaknya. Lalu, apa motif Om Pandu mengajaknya menikah? Apa mungkin Alvina bisa menjadi ibu sambung untuk sahabatnya sendiri?
View MoreAcara syukuran pun berjalan sangat rinci sesuai rencana. Lancar, tanpa kendala berarti. Setiap hidangan tersaji tepat waktu, setiap tamu datang dengan senyum dan doa baik. Pembacaan doa menjadi penutupnya. Alvina menunduk, kedua tangannya terkatup rapi di pangkuan. Setiap kalimat doa menembus dadanya, menggetarkan sesuatu yang rapuh sekaligus kuat—sesuatu yang selama ini ia rawat dalam diam.Terima kasih, Ya Allah, batinnya. Terima kasih karena Engkau masih mengizinkan kami merasakan bahagia.Ia memejamkan mata lebih lama dari yang lain, membiarkan kata-kata itu mengendap. Dalam hidupnya yang panjang, Alvina tahu betul bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang datang terus-menerus. Bahagia adalah jeda. Hadiah kecil yang kadang datang setelah air mata panjang. Dan hari ini, ia merasa diberi jeda yang begitu indah.Saat doa selesai, suasana mencair. Obrolan kecil bermunculan, tawa pecah tanpa beban. Beberapa tetangga bercanda ringan, sebagian lain menyalami Nakula dan Dinda sambil meng
Rumah itu tidak pernah terasa sehidup ini sejak lama.Alvina berdiri di tengah ruang tamu yang kini disulap menjadi ruang syukuran sederhana. Taplak putih terhampar rapi di meja panjang, di atasnya berjejer piring-piring kecil berisi jajanan pasar—kue lapis, lemper, risoles, dan onde-onde yang masih hangat. Di sudut ruangan, rangkaian bunga segar kiriman tetangga menebarkan wangi yang lembut, bercampur dengan aroma masakan dari dapur.Empat bulan.Empat bulan kehidupan kecil yang tumbuh di rahim menantu perempuannya.Alvina menekan dadanya pelan. Ada rasa penuh yang sulit ia jelaskan—campuran syukur, bahagia, dan haru yang terus mengendap sejak pagi tadi. Berkali-kali ia menarik napas dalam, takut air mata jatuh sebelum waktunya. Ia tidak ingin menangis sekarang, bukan karena sedih, melainkan karena terlalu bahagia. Kebahagiaan yang membuat dadanya terasa sesak, seperti hendak meluap keluar.Ia masih ingat jelas bagaimana perjalanan Nakula dan Dinda tidak selalu mudah. Ada masa-masa c
Pagi itu bandara terasa lebih sunyi dari biasanya bagi Sadewa. Bukan karena jumlah penumpang yang sedikit, melainkan karena hatinya penuh oleh hal-hal yang tak terucap. Deru pendingin udara, suara pengumuman keberangkatan, dan langkah-langkah orang yang berlalu-lalang seolah menjadi latar samar dari perpisahan yang sedang ia jalani.Ia berdiri di dekat jendela besar ruang tunggu internasional, menatap landasan pacu yang masih basah oleh sisa embun pagi. Sebuah koper hitam berdiri tegak di samping kakinya—ringkas, rapi, seperti hidup baru yang hendak ia mulai: tidak banyak, tidak berlebihan, hanya yang perlu.Alvina duduk di kursi deret belakangnya. Kedua tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin meski ruangan itu hangat. Sesekali ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, berusaha menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. Pandu berdiri di sampingnya, tubuhnya tegap seperti biasa mesku usia tidak lagi muda, namun sorot matanya menyimpan kelelahan dan kebanggaan yang berke
Dua Tahun KemudianSore itu begitu tenang. Angin berhembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk kamboja yang tumbuh rapi di tepi pemakaman. Matahari sedang turun, menyisakan cahaya jingga yang jatuh lembut di atas barisan nisan putih. Burung-burung kecil pulang ke sarang, sesekali suaranya memecah keheningan yang terasa menenangkan sekaligus mengiris di dada.Di tengah barisan makam, seorang pria berjongkok lama. Kepalanya tertunduk, kedua siku bertumpu pada lututnya. Nafasnya naik turun pelan, seperti menahan sesuatu yang sudah lama mengendap.Ketika angin kembali bergerak, pria itu akhirnya mengangkat wajahnya. Perlahan ia bangkit, telapak tangannya menepuk-nepuk celana yang sedikit kotor oleh tanah. Dia memunggungi angin, membiarkannya menyapu rambut yang kini lebih pendek dari dua tahun lalu.Di hadapannya, sebuah nisan berdiri sunyi. Namanya terukir jelas—nama yang pernah menjadi pusat hidupnya, tapi juga pusat kehancuran dan penyesalannya.Pria itu menunduk lagi, kali ini dengan lem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore