Share

LAMARAN

Penulis: Rosemala
last update Terakhir Diperbarui: 2023-11-01 17:27:56

5

Di sini kami sekarang. Berlima duduk di ruang tamu dengan suasana canggung. Apakah ini yang dimaksud lamaran oleh Om Pandu? Entahlah. Yang pasti ia datang hanya berdua Prisa dengan pakaian sedikit formal dan membawa banyak parsel. Tanpa meminta persetujuanku, mereka tetap mengadakan acara lamaran ini.

Aku terpaksa setuju karena ternyata benar kata Prisa, Dimas tidak kembali bahkan hingga hari menjelang sore. Nomornya yang sudah tidak aktif sejak lama, semakin tidak bisa dihubungi, padahal aku lihat dengan mata sendiri ia mengutak-atik ponselnya kemarin. Bahkan kudengar ada panggilan masuk. Itu artinya dia memakai nomor lain. Atau nomorku yang diblokir?

Tidak habis pikir dengan Dimas. Apa salahku hingga ia memperlakukanku seperti ini? Aku merasa kami tidak ada masalah apa pun.

Kemarin untunglah walaupun dengan marah, Prisa menungguku hingga aku yakin jika Dimas tidak akan kembali. Ternyata Prisa tidak benar-benar pergi. Ia dan Om Pandu menungguku di dalam mobil tak jauh dari tempatku menunggu Dimas seperti orang bodoh. Seperti yang dikatakan Prisa.

Tidak ada alasan lagi untukku melarang Om Pandu datang ke rumah menemui orang tuaku. Aku terpaksa menerima walaupun masih dengan setengah hati.

Om Pandu, Prisa, juga kedua orang tuaku berbincang dengan akrab. Mereka bahkan menggunakan pakaian yang sedikit formal hari ini dengan persiapan yang berlebihan menurutku seolah akan mengadakan acara besar.

Aku sendiri tidak ada persiapan spesial. Bahkan terkesan seadanya. Berdandan dan berpakaian biasa seolah-olah tidak ada acara khusus. Sementara ibu agak berlebihan. Masak banyak dan spesial hari ini.  

Aku menatap Om Pandu yang sejak kedatangannya terlihat sangat semringah. Wajah tampannya lebih bercahaya. Duda meresahkan itu memakai atasan kemeja berbahan semi sutra berwarna abu-abu. Ada aksen senada kain yang digunakan Prisa di sepanjang penutup kancing, juga di ujung lengannya. Lalu, Prisa memakai kebaya lengan pendek dengan warna senada. 

Apa jika nanti jadi istri Om Pandu, aku juga akan menggunakan baju yang senada begitu?

Hais, siapa juga yang mau jadi istrinya? Sejak kemarin aku memutar otak mencari seribu alasan untuk menolak lamarannya. 

Maaf Om, maaf Prisa, tetapi aku belum mau menikah dalam waktu dekat. Apalagi nikahnya dengan duda meresahkan. Aku punya pacar, Dimas.

Hati kecilku masih meyakini jika aku dan Dimas masih baik-baik saja. Hanya miss komunikasi.

Sebenarnya Om Pandu dan Dimas itu banyak persamaan. Sama-sama ganteng, sama-sama menarik sebagai seorang lelaki. Hanya satu perbedaan yang sangat mencolok. Umur. Dimas  masih muda, baru dua puluh lima tahun, sedangkan Om Pandu? Dia sudah tua. Sudah empat puluh tahun. 

Walaupun tak dapat dipungkiri dia yang sudah kepala empat masih terlihat muda, bugar, dan keren. Tak akan ada yang mengira jika dia sudah setua itu. Jadi, pantas jika banyak wanita terpesona dan bermimpi memiliki lelaki matang itu. 

Termasuk aku? Oh, tidak! Aku tidak mau menikah dengan duda. Aku masih muda, tidak mau terkungkung dalam dekapan duda meresahkan sepertinya. Walaupun ada cita-cita menikah di usia muda, tetapi bukan dengan duda juga.

"Jadi, bagaimana jawabanmu, Neng?" Pertanyaan Ayah membuyarkan lamunan panjangku. Aku gelagapan sendiri, apalagi semua mata tertuju pada diri ini. 

Sepertinya sedari tadi mereka sudah terlibat obrolan yang serius. Akan tetapi, karena aku yang tidak fokus, jadi bingung sendiri. 

"Neng," panggil ayah lagi melihatku masih bengong. 

"I-iya, bagaimana, Yah?" tanyaku balik seperti orang linglung. 

Ayah geleng-geleng. Ibu terlihat kesal. Sementara Om Pandu dan Prisa? Ah, mereka malah senyum-senyum tidak jelas. Menyebalkan. 

"Kamu ini bagaimana, Neng. Dari tadi diajak ngobrol, kok, malah terus lihatin Pak Pandu. Sepertinya kamu sudah kebelet, ya, mau dihalalin?" celetuk Ayah masih geleng-geleng.

Ayah bilang apa? Aku mendelik. Mereka semua tertawa, seolah-olah tengah menonton pertunjukan lawak. 

"Pak Pandu sudah minta izin kami untuk meminangmu. Ibu dan Ayah sih, setuju-setuju saja karena tidak ada alasan mendasar untuk menolaknya. Tapi tidak bisa memutuskan sendiri. Keputusan tetap kami serahkan sama kamu, Neng. Karena kamu yang akan menjalani. Bagaimana?" papar Ayah dengan lembut tetapi tegas seperti biasa. 

Aku menatap mereka semua satu per satu. Kemudian menarik napas panjang sebelum berbicara. 

"Maaf sebelumnya, Ayah, Ibu, Om Pandu, Prisa. Maaf, Alvi tidak bisa menerima lamaran ini ...." Akhirnya kalimat itu terlontar juga dari mulutku setelah beberapa saat memikirkan jawaban yang pas.

Hening. Tak ada yang bicara. Semua mata menatapku kecewa, terlebih Prisa. 

"Maaf," ucapku lagi lemah sambil menunduk. 

"Tapi, kenapa, Neng? Berikan kami alasan." Ayah menatap sendu. 

"Karena Alvi belum mau menikah, Yah!"

"Lho, bukannya kamu selalu bilang mau nikah muda? Iya kan, Bu?" tanya Ayah lagi sambil melirik Ibu. Yang dilirik hanya menjawab dengan anggukan. 

"Iya, tapi bukan sama duda," jawabku ketus. Namun, gegas kubekap mulut ini, takut menyinggung perasaan Om Pandu. 

"Memangnya kenapa kalau duda?" Ayah mengernyit. "Bukankah tidak ada aturan pemerintah yang melarang duda menikahi perawan? Dalam agama juga tidak ada larangan. Jadi, masalahnya di mana?” 

"Masalahnya, Alvi tidak cinta sama Om Pandu, Yah!" jawabku lagi dengan mencondongkan kepala.

Ayah mengembuskan napas kasar. 

"Tidak cinta, kok, dari tadi dipandangi terus. Tidak berkedip malah," cibir ibu terdengar kesal. 

Aku melotot. Namun, kemudian menunduk. Wajah terasa panas dan pasti memerah. Apa iya aku memandangi terus Om Pandu? Ah, tidak mungkin. Aku menggeleng.

"Kumat lagi penyakit anehnya," gerutu Ibu saat melihatku geleng-geleng sendiri.

"Sudah, Yah. Kita langsung tentukan saja tanggal pernikahannya, biar anak kita tidak aneh-aneh lagi kalau sudah menikah." Ucapan ibu membuatku membulatkan mata. Aku menggoyang-goyangkan tangan ke arah ibu, sebagai tanda keberatan. 

"Lho, apa-apaan Ibu ini? Alvi, kan, belum bilang bersedia," sergahku cepat. 

"Terus, mau kapan bilang bersedianya?" Ibu melotot. 

"Alvi, kan, masih kuliah, Bu!" Aku memasang wajah memelas. 

"Dari tadi  kita membahas itu, Neng. Dan Pak Pandu tidak keberatan kamu melanjutkan kuliah seandainya pun kamu menjadi istrinya. Kamu, sih, dari tadi mandangin dia terus, jadi terhipnotis, kan?" Ibu mencebik lagi. 

Ya ampun Ibu. Tega-teganya wanita yang sangat kuhormati itu menjatuhkan harga diri anaknya sendiri di depan orang ganteng. Ups!

"Ayah, Ibu ... tolong jangan memaksa. Alvi, kan, masih kecil." Aku memelas. 

"Apanya yang masih kecil, Neng? Bapak malah sudah tidak kuat menggendongmu!”

"Iya, apanya yang kecil. Orang kemarin kamu pinjam bra Ibu, karena punya kamu kotor semua. Gara-gara malas nyuci. Itu tandanya kamu sudah segede ibu!"

Hah? 

Ibu ... Aaarghhh ...!

Aku berteriak dalam hati. Malu. Rasanya ingin pura-pura pingsan. Namun, percuma, tidak akan ada yang mempercayaiku.

Seandainya bisa, aku mau jadi semut saja biar bisa menggali lubang di tanah dan tidak keluar-keluar lagi selamanya.

"Alvi, kan, punya pacar, Yah. Terus bagaimana sama Dimas? Ayah juga mengenal Dimas, kan?” Aku masih beralasan. 

Semua mata kini menatapku tajam. Terlebih Prisa. Namun, aku tidak peduli. Itu kenyataannya, aku punya pacar dan belum ada kata putus di antara kami. 

"Ayah hanya menerima lelaki yang datang langsung dan memintamu dengan serius pada Ayah, Alvina," ucap ayah akhirnya setelah beliau menarik napas dalam beberapa kali. "Ayah tidak akan memberikan anak gadis yang kami sayangi pada laki-laki yang tidak punya pendirian," pungkasnya. 

"Maksud ayah, Dimas tidak punya pendirian? Itu karena dia masih muda, Yah. Beda sama Om Pandu yang sudah tua!"

Aku refleks menutup mulut dengan sepuluh jari saat semua mata melotot ke arahku. Mereka menatap tajam, membuat diri ini sangat terintimidasi. 

Aku menunduk. Kesal. Semua gara-gara Om Pandu. Dia bukan saja meresahkan, bahkan sudah membuat Ayah dan Ibu berpihak seratus persen kepadanya, mereka jadi semarah itu padaku. 

"Maksudku … sudah matang," ralatku lemah sambil menunduk.

Hening beberapa saat, hingga ….

“Tidak apa sekarang kamu bilang Om tua. Nanti setelah menikah Om akan tunjukkan siapa Om yang sebenarnya, Alvina. Biar Tua, Om bisa bikin kamu melahirkan kembar lima sekaligus.”

Hah? Apa Om Pandu turunan kucing?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   200

    Acara syukuran pun berjalan sangat rinci sesuai rencana. Lancar, tanpa kendala berarti. Setiap hidangan tersaji tepat waktu, setiap tamu datang dengan senyum dan doa baik. Pembacaan doa menjadi penutupnya. Alvina menunduk, kedua tangannya terkatup rapi di pangkuan. Setiap kalimat doa menembus dadanya, menggetarkan sesuatu yang rapuh sekaligus kuat—sesuatu yang selama ini ia rawat dalam diam.Terima kasih, Ya Allah, batinnya. Terima kasih karena Engkau masih mengizinkan kami merasakan bahagia.Ia memejamkan mata lebih lama dari yang lain, membiarkan kata-kata itu mengendap. Dalam hidupnya yang panjang, Alvina tahu betul bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang datang terus-menerus. Bahagia adalah jeda. Hadiah kecil yang kadang datang setelah air mata panjang. Dan hari ini, ia merasa diberi jeda yang begitu indah.Saat doa selesai, suasana mencair. Obrolan kecil bermunculan, tawa pecah tanpa beban. Beberapa tetangga bercanda ringan, sebagian lain menyalami Nakula dan Dinda sambil meng

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   199

    Rumah itu tidak pernah terasa sehidup ini sejak lama.Alvina berdiri di tengah ruang tamu yang kini disulap menjadi ruang syukuran sederhana. Taplak putih terhampar rapi di meja panjang, di atasnya berjejer piring-piring kecil berisi jajanan pasar—kue lapis, lemper, risoles, dan onde-onde yang masih hangat. Di sudut ruangan, rangkaian bunga segar kiriman tetangga menebarkan wangi yang lembut, bercampur dengan aroma masakan dari dapur.Empat bulan.Empat bulan kehidupan kecil yang tumbuh di rahim menantu perempuannya.Alvina menekan dadanya pelan. Ada rasa penuh yang sulit ia jelaskan—campuran syukur, bahagia, dan haru yang terus mengendap sejak pagi tadi. Berkali-kali ia menarik napas dalam, takut air mata jatuh sebelum waktunya. Ia tidak ingin menangis sekarang, bukan karena sedih, melainkan karena terlalu bahagia. Kebahagiaan yang membuat dadanya terasa sesak, seperti hendak meluap keluar.Ia masih ingat jelas bagaimana perjalanan Nakula dan Dinda tidak selalu mudah. Ada masa-masa c

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   198

    Pagi itu bandara terasa lebih sunyi dari biasanya bagi Sadewa. Bukan karena jumlah penumpang yang sedikit, melainkan karena hatinya penuh oleh hal-hal yang tak terucap. Deru pendingin udara, suara pengumuman keberangkatan, dan langkah-langkah orang yang berlalu-lalang seolah menjadi latar samar dari perpisahan yang sedang ia jalani.Ia berdiri di dekat jendela besar ruang tunggu internasional, menatap landasan pacu yang masih basah oleh sisa embun pagi. Sebuah koper hitam berdiri tegak di samping kakinya—ringkas, rapi, seperti hidup baru yang hendak ia mulai: tidak banyak, tidak berlebihan, hanya yang perlu.Alvina duduk di kursi deret belakangnya. Kedua tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin meski ruangan itu hangat. Sesekali ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, berusaha menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. Pandu berdiri di sampingnya, tubuhnya tegap seperti biasa mesku usia tidak lagi muda, namun sorot matanya menyimpan kelelahan dan kebanggaan yang berke

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   197

    Dua Tahun KemudianSore itu begitu tenang. Angin berhembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk kamboja yang tumbuh rapi di tepi pemakaman. Matahari sedang turun, menyisakan cahaya jingga yang jatuh lembut di atas barisan nisan putih. Burung-burung kecil pulang ke sarang, sesekali suaranya memecah keheningan yang terasa menenangkan sekaligus mengiris di dada.Di tengah barisan makam, seorang pria berjongkok lama. Kepalanya tertunduk, kedua siku bertumpu pada lututnya. Nafasnya naik turun pelan, seperti menahan sesuatu yang sudah lama mengendap.Ketika angin kembali bergerak, pria itu akhirnya mengangkat wajahnya. Perlahan ia bangkit, telapak tangannya menepuk-nepuk celana yang sedikit kotor oleh tanah. Dia memunggungi angin, membiarkannya menyapu rambut yang kini lebih pendek dari dua tahun lalu.Di hadapannya, sebuah nisan berdiri sunyi. Namanya terukir jelas—nama yang pernah menjadi pusat hidupnya, tapi juga pusat kehancuran dan penyesalannya.Pria itu menunduk lagi, kali ini dengan lem

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   196

    Lorong rumah sakit itu dingin. Lampu-lampu putih memantulkan cahaya yang terasa getir di mata, seolah ikut menegaskan kecemasan yang menggantung di setiap helaan napas. Nakula berjalan cepat, hampir berlari. Tangannya menggenggam tangan Dinda yang hampir terseok-seok mengejar di belakangnya, memanggil namanya agar sedikit memperlambat langkah. Tapi Nakula seolah tidak mendengar apa pun selain degup jantungnya sendiri.Begitu tiba di depan ruang tunggu ICU, Pandu bangkit dari kursi. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan lingkar hitam membekas di bawah matanya. Alvina duduk di pojok ruangan, menangis dalam diam, bahunya bergetar pelan. Di sampingnya, Prisa memeluk wanita itu erat-erat, berusaha menenangkannya meski air matanya sendiri terus mengalir.“Naku….” Pandu mencoba menyapa.Tapi Nakula langsung menghampirinya, wajahnya pucat dan matanya merah. “Bagaimana Dewa sekarang? Kenapa kalian tidak bilang sejak awal?” Suaranya pecah. “Kenapa aku tidak diberi tahu sejak dia celaka? Buk

  • DUDA KAYA YANG MELAMARKU ITU AYAH SAHABATKU   195

    Lorong rumah sakit malam itu berubah menjadi ruang tanpa waktu. Lampu-lampu putih terasa terlalu terang, tetapi tetap saja tidak mampu mengusir pekatnya ketegangan yang menggerogoti semua orang. Suara langkah kaki dokter dan perawat yang berlalu-lalang terdengar seperti gema tak berujung, menambah kegelisahan yang sejak tadi menghimpit dada Alvina, Pandu, dan keluarga lainnya.Alvina duduk di kursi tunggu dengan lemas, tubuhnya gemetar tak berhenti. Ia baru saja sadar dari pingsan. Kedua tangannya mencengkeram ujung rok rumah sakit yang tadi dipinjamkan perawat saat ia kehilangan kesadaran. Napasnya masih tersengal, seolah paru-parunya menolak bekerja sejak melihat kondisi Sadewa.Prisa duduk di sebelahnya, menggenggam bahunya erat-erat, berusaha membuatnya tetap bertahan. Namun mata Alvina terus kosong, sesekali terpejam kuat-kuat seakan ingin menghapus bayangan mengerikan yang tadi ia lihat di ruang perawatan Sadewa. Bayangan itu terus menempel di belakang kelopak matanya, seakan-ak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status