Share

Bab 48. RESTU UNTUK BERUBAH

Author: 2 harapan
last update publish date: 2026-09-22 20:26:00

Di Kediaman Wijaya Hutomo - Pukul 06.30 Pagi

Sinar matahari pagi masuk melalui jendela kaca besar di ruang makan. Aroma nasi goreng seafood yang dimasak Rosa menyebar ke seluruh rumah. Di atas meja sudah tertata rapi piring, buah potong, dan susu almond.

Nadin turun dari kamarnya dengan langkah ragu namun penuh tekad. Dia sudah memakai baju olahraga sederhana: kaos hitam longgar dan legging hitam, rambutnya diikat kuncir kuda. Wajahnya tanpa makeup, tapi terlihat bersemangat. Ini pertama kaliny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DULU DI INJAK-INJAK SEKARANG MANTANKU MENGEMIS CINTA   Bab 106. TELEPON DARI TOKYO DAN JANJI DI LORONG ICU

    "Sa...?" suara Nadin pelan, manja, berbeda 180 derajat dari suara tegasnya di depan wartawan tadi.Di Tokyo, Mahesa yang mendengar suara itu langsung menghela napas lega. Kekhawatiran 30 menit terakhir hilang."Sayang... kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak menunggu ku?!" suara Mahesa langsung nyerocos, tidak ada lagi CEO dingin. Nada suaranya hangat, khawatir, sedikit ngomel seperti suami yang istrinya kabur. "Kamu tau gak aku panik lihat berita kamu di bandara sendirian! Kamu pesan tiket jam 5 pagi, gak makan, gak tidur!"Mahesa memang terkenal di luar sebagai CEO Mahesa Group yang dingin, kejam di meja negosiasi, tidak pernah tersenyum. Tapi saat bersama Nadin, ia adalah sosok yang baik, hangat, dan manja.Nadin tersenyum. Air matanya yang tadi tertahan di depan wartawan akhirnya jatuh."Aku baik, Sa... Maaf ya, aku panik saat tau Papa sakit. Aku gak bisa mikir jernih. Aku cuma mau lihat Papa," jelas Nadin sambil mengusap air mata, bersandar di dinding lorong rumah sakit.Mahesa

  • DULU DI INJAK-INJAK SEKARANG MANTANKU MENGEMIS CINTA   Bab 105. RATU YANG KEMBALI

    "Nona Nadin! Benar Papa Anda kritis?! Apakah Anda akan tetap lanjut jadi CEO?!"Flash kamera wartawan menyorot wajah Nadin tanpa ampun. Mikrofon-mikrofon dengan logo TV hampir menyentuh dagunya. Di belakang, satpam rumah sakit berusaha menahan.Semua mata tertuju pada gadis yang dulu pernah dihina "gendut, cupu, tidak pantas jadi pewaris".Nadin menarik napas panjang. Dulu, ia pasti sudah gemetar, menunduk, dan lari. Tapi tidak hari ini.Ia menatap satu per satu kamera itu. Matanya masih sembab, tapi sorotnya tenang. Senyumnya tipis, natural, tanpa oplas, tanpa filter mahal."Papa saya baik-baik saja," kata Nadin dengan suara jelas, tidak bergetar. "Terima kasih untuk teman-teman media semua yang sudah peduli dengan kondisi Papa saya. Papa hanya butuh istirahat total karena kelelahan."Jawaban yang singkat, elegan, dan mematikan gosip.Semua wartawan terdiam sepersekian detik. Terpesona. Kecantikan Nadin yang sekarang bukan cantik hasil klinik. Cantik karena sehat, karena percaya diri

  • DULU DI INJAK-INJAK SEKARANG MANTANKU MENGEMIS CINTA   Bab 104. MENDARAT UNTUK MENGGEBRAK PINTU ICU

    Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3 Internasional. Pukul 09.15 WIB.Pesawat ANA NH-872 dari Haneda mendarat dengan mulus. Penumpang lain turun dengan koper besar dan wajah ceria habis liburan.Nadin turun paling terakhir. Tidak bawa koper. Hanya tas ransel hitam berisi laptop, berkas skripsi CEO yang belum selesai, dan dompet dengan sisa uang 2 juta.Matanya sembab. Semalaman di pesawat ia tidak tidur. Hanya menatap jendela dan berdoa.Begitu masuk ke arrival hall, ia langsung melihat sosok yang sudah menunggu di ujung dengan wajah panik.Pak Hendra. Dengan kacamata hitam dan masker, berusaha menyamar."Nona Nadin!" Pak Hendra setengah berlari.Nadin tidak memeluk. Ia langsung menatap tajam. Tatapan yang selama ini tidak pernah Pak Hendra lihat dari Nadin yang lembut."Papa di mana, Pak?" tanya Nadin, suaranya dingin dan bergetar.Pak Hendra menunduk. Tidak bisa bohong lagi. "Di... di Wijaya International Hospital, Nona. Lantai 12. Ruang ICU VIP 1."Dunia Nadin berhenti.Tanpa berkata

  • DULU DI INJAK-INJAK SEKARANG MANTANKU MENGEMIS CINTA   Bab 103. Detak jantung yang tak terdengar

    Tokyo, Asrama Shibuya. Pukul 23.40 waktu Tokyo. Nadin tidak bisa tidur. Sejak video call dengan Mama Rosa tadi jam 19.00, hatinya aneh. Tidak enak. Seperti ada yang mengganjal. Wajah Mama Rosa tadi pucat. Matanya sembab. Senyumnya dipaksakan. Dan yang paling aneh, background di belakang Mama Rosa bukan ruang tamu rumah yang mewah dengan lukisan besar. Tapi tembok putih polos dengan tulisan kecil "Dilarang Berisik - Zona Steril" yang sempat tertangkap kamera sebelum Mama matikan blur. Nadin memeluk gulingnya. Foto keluarga di meja belajarnya ia tatap. Foto itu diambil 6 bulan lalu, sebelum ia berangkat ke Tokyo Business School. Papa Frans memeluknya dari belakang. Mama Rosa di samping. Senyum Papa Frans lebar, gagah dengan jas biru navy kesayangannya. "Papa..." bisik Nadin. Ia mengambil HP. Membuka chat WA Papa. Chat terakhir Papa Frans: 2 hari lalu. Papa Frans: Semangat ujian CEO nya ya, Putri Papa yang hebat. Papa bangga. Jaga kesehatan di Tokyo. Jangan begadang. Nadin memb

  • DULU DI INJAK-INJAK SEKARANG MANTANKU MENGEMIS CINTA   Bab 102. KABAR YANG DISEMBUNYIKAN DAN BALASAN DI PENJARA

    Jakarta, Indonesia. Rumah Sakit Wijaya International Hospital, lantai 12, ruang VIP. Pukul 02.00 dini hari. Lampu rumah sakit yang biasanya terang, malam ini terasa sangat mencekam dan sepi. Di dalam ruang ICU VIP nomor 1, terbaring seorang pria paruh baya yang biasanya terlihat gagah berwibawa dengan jas miliaran rupiah. Kini ia terbaring lemah dengan selang oksigen di hidung dan infus di tangannya. Frans Wijaya Hutomo. Wajahnya pucat, matanya terpejam, napasnya sesak. Di samping mesin detak jantungnya berbunyi pelan. "Beep... beep... beep..." Di luar ruang ICU, Rosa Wijaya Hutomo, istri sah Frans, duduk di kursi tunggu dengan wajah sembab habis menangis semalaman. Rambutnya yang biasanya disasak rapi, kini berantakan. Di tangannya ada tasbih yang terus ia putar sambil berdoa. Di samping Rosa, ada Pak Hendra, pengacara keluarga dan asisten kepercayaan Frans selama 20 tahun. "Bu Rosa... Dokter bilang Pak Frans drop karena serangan jantung ringan dan hipertensi kambuh. Kelelah

  • DULU DI INJAK-INJAK SEKARANG MANTANKU MENGEMIS CINTA   Bab 101. PACAR DARI INDONESIA DATANG

    Tiga hari setelah kejadian jas itu. Bandara Haneda Tokyo, pukul 15.00 sore. Hujan rintik-rintik turun membasahi landasan Bandara Haneda. Di ruang kedatangan internasional, seorang pria tinggi tegap dengan kulit sawo matang khas Indonesia berdiri dengan koper besar, wajahnya tegang dan lelah. Mahesa Adipati Lee. Setelah 3 hari tidak bisa tidur nyenyak gara-gara foto Nadin pakai jas pria lain, Mahesa akhirnya nekat. Ia mengambil cuti 1 minggu., membeli tiket pesawat Garuda Indonesia paling cepat, dan terbang 7 jam ke Tokyo tanpa memberi tahu Nadin. "Pokoknya aku harus lihat langsung siapa Haruto Takahashi itu. Aku nggak tenang, Nad. Aku harus pastikan kamu aman," gumam Mahesa sambil menarik napas dalam-dalam, menghirup udara Tokyo yang dingin. Di sisi lain kota, Tokyo Business School, Ruang Kelas 501. Hari ini adalah jadwal kedua Haruto menjadi dosen tamu. Kelas kembali penuh sesak oleh mahasiswi yang histeris. Haruto masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, dasi abu-abu, da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status