Chapter: Bab 7 HARGA DARI CINTAObsesi. Itu satu-satunya kata yang bisa menggambarkan Debi.19 tahun. Selama itu dia memenjarakan Nadin. Memisahkannya dari orang tua kandungnya. Semua hanya karena satu nama: Frans Wijaya Hutomo. Suami kakaknya. Ayah dari keponakannya. Laki-laki yang tidak pernah sekalipun menoleh padanya.Debi rela menggadaikan nyawanya pada mafia. Rela hidup bersembunyi di perkampungan kecil di Bogor bertahun-tahun, hanya agar tidak ada yang menemukan mereka. Dan di sanalah, di tengah lumpur dan kemiskinan, Nadin kecil bertemu Tiara. Satu-satunya cahaya di masa kecilnya yang kelam.Sekarang Nadin sudah pergi. Dan semua rencana Debi... hancur.---Di Kediaman Debi. Malam.Rumah mewah itu terasa kosong tanpa suara Nadin di dapur. Tanpa uang transferan tiap tanggal 1.Debi duduk di sofa, melamun. Wajahnya tua 10 tahun dalam semalam."Mah!" Debi tersentak. Fiona, anak semata wayangnya, baru pulang dengan dandanan menor dan tas branded KW."Fiona... kamu bikin Mamah kaget aja. Ada apa? Malam-malam
Terakhir Diperbarui: 2026-08-17
Chapter: Bab 6 MUSANG BERBULU DOMBAPintu apartemen mewah itu terbuka.Pagi itu seharusnya indah. Tapi bagi Putra, pagi ini seperti disambar petir.Di hadapannya berdiri Nadin. Wanita yang dulu gemuk, penakut, dan selalu bilang "iya" untuk semua perintahnya. Sekarang berbeda. Rambutnya digelung rapi. Wajahnya lebih tirus. Gaun simpel yang dipakainya justru membuat tubuhnya terlihat anggun. Dan yang paling membuat darah Putra mendidih... di samping Nadin ada Mahesa.CEO muda yang namanya sering muncul di majalah bisnis. "Maaf, Put. Kita udahan." Satu kalimat. Dingin. Tanpa getar.Dunia Putra runtuh seketika. Bukan karena cinta. Tapi karena pundi-pundi rupiah dari Nadin akan hilang. Dari endorse, dari kerja rodi di kafenya, dari semua yang selama ini dia peras."Nadin!" Putra melangkah maju, suaranya meninggi. "Apa ada lelaki lain di hati kamu? Aku kenal kamu! Kamu bilang akan setia sama aku! Kamu yang dulu nangis kalau aku marah!"Nadin menunduk. Jari-jarinya meremas ujung gaunnya. "Emmm..."Sebelum Nadin sempat men
Terakhir Diperbarui: 2026-08-16
Chapter: Bab 5 HUJAN YANG MEMBAWA PULANGHujan masih rintik-rintik. Nadin duduk di kursi kafe 24 jam, tubuhnya dibalut jas Mahesa yang masih hangat. Matanya sembab. Di depannya teh anget yang udah dingin.Mahesa duduk di seberang. Nggak nanya apa-apa. Cuma dorongin tisu."Sa..." suara Nadin pecah."Iya," jawab Mahesa pelan. "Aku dengerin."Nadin menarik napas. Tangan gemetar. "Tadi... aku ke kosan Putra."Mahesa mengangguk. Wajahnya datar, tapi rahangnya mengeras."Aku mau kasih kejutan. Mau bawain makan malam," lanjut Nadin. Air matanya jatuh lagi. "Tapi pintunya kebuka. Terus aku denger suara perempuan."Mahesa diam. Jemarinya mengepal di atas meja."Pas aku dorong... Putra lagi sama Fiona, Sa. Sepupu aku sendiri." Keheningan. "Ciuman," bisik Nadin. "Di kasur dia. Yang dulu aku sering bersihin."Mahesa langsung berdiri. Kursinya mundur. "Bangsat.""Sa!" Nadin kaget."Maaf," Mahesa duduk lagi. Ia mengusap wajah. "Aku nggak rela. Kamu udah setia, Nad. Kamu udah ngasih dia semua. Waktu, tenaga, uang..."Nadin menggeleng. "
Terakhir Diperbarui: 2026-08-01
Chapter: Bab 4. PINTU YANG TERTUTUP DAN HATI YANG TERTUTUPSetelah cuci piring selesai, Nadin langsung ke kamarnya. Badan rasanya remuk. Tangannya kapalan karena menggosok wajan dan piring arisan Tante Debi sampai malam."Aku harus istirahat... besok tantangan baru," gumamnya. Ia merebahkan diri di ranjang kayu reot dan memejamkan mata.Rasanya baru sedetik."NADIN!! BANGUN! JAM 6!!"BRAK! Pintu dibanting sampai bergetar. Nadin tersentak. Jantungnya copot.Ia duduk tergesa. Kepalanya masih berat."Ah—" Krek! Ranjang kayu itu protes. Lalu ambruk.BRAK! Nadin terjungkal ke lantai. Punggungnya sakit. Lututnya lecet.Debi sudah di depan pintu. Wajah merah padam. "NADIN!! KAMU MERUSAK LAGI BARANG SAYA!!" bentaknya.Nadin buru-buru bangkit, pincang. "M-maaf Tante... Nadin kaget. Pintunya dibanting...""Udah gendut, kagetan lagi!" Debi menyilang tangan. "Pokoknya kamu yang beresin! Beli sendiri, ganti sendiri!""Baik, Tante..." suara Nadin tercekat.Tanpa jawaban, Debi pergi. Haknya menghentak. Meninggalkan Nadin di atas puing ranjang.Nadi
Terakhir Diperbarui: 2026-08-01
Chapter: Bab 3. MAHESARUMAH MEWAH WIJAYA HUTOMO - JAKARTA UTARA - JAM 10 PAGIRumah itu terlalu besar untuk hanya dihuni dua orang. Marmer mengkilap. Lukisan mahal. Tapi auranya dingin.Frans Wijaya Hutomo mondar-mandir. Jas mahal, tapi matanya sembab. Di seberang duduk Reza Wiguna. Detektif. Kemeja hitam, tatapan tajam, buku catatan di tangan."Reza... terima kasih sudah mau datang," suara Frans serak. "saya udah nunggu dari seminggu lalu."Reza mengangguk sopan. "Sama-sama, Pak. Maaf saya baru bisa. Ada kasus di Surabaya yang harus saya tutup dulu.""Kamu nggak perlu minta maaf," potong Frans cepat. "saya ngerti. Kamu detektif paling dicari se-Indonesia."Reza tersenyum tipis. "Kontrak saya di sana sudah selesai, Pak. Begitu selesai, saya langsung ke sini."Frans menarik napas panjang. Ia melirik istrinya. Rosa. Duduk diam. Wajah pucat. Tangan gemetar di pangkuan."Bisa langsung ke intinya, Pak?" tanya Reza pelan.Frans mengepalkan tangan. "Tolong... cari anak kami."Reza berhenti menulis. "Putri Bapak
Terakhir Diperbarui: 2026-07-28
Chapter: Bab 2.UANG BERJALANSuara knalpot motor matic berhenti di depan kosan. Tek. Dari dalam, Fiona langsung nyelonong keluar. Rambut dikeriting, memakai blazer dan celana pendek, lipstik merah nyala. Putra masih duduk santai di atas jok motor. Helm di tangan. Senyum paling palsu yang dia punya. "Pagi... sayangku," sapa Fiona sambil langsung bergelendot. Tangannya melingkar di leher Putra. Wangi parfumnya nyegat. "Pagi juga, sayang," jawab Putra. Ia menurunkan kantong plastik. "Aku bawain sarapan. Roti bakar keju favorit kamu." "Waah... makasih banyak," Fiona nyengir. Matanya langsung ngelirik kantong itu. "Kamu emang paling ngerti aku. Eh tapi... kapan kamu putus sama Nadin? Aku capek jadi yang kedua terus!" Senyum Putra menghilang sedetik. Lalu balik lagi. Ia mengusap pipi Fiona. "Sabar ya, sayangku. Untuk sekarang kita nikmatin aja dulu kayak gini. Nadin... masih aku butuhkan." "Masih butuh apanya?" Fiona cemberut. Manja. "Dia uang berjalan, Fi," bisik Putra pelan. Ketawa kecil. "Gaji nya
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27