Chapter: Bab 6. Kertas Perjanjian, Hati Yang RetakMobil Rohan berhenti di halaman rumah mewah bergaya klasik. “Kediaman Sharma” terukir di gerbang besi.“Pah... kok kasurnya gede banget?” Milea celingak-celinguk pas masuk kamar. Ranjang _king size_ dengan seprai warna pastel udah rapi.“Sengaja, Sayang. Biar kepake lama. Sampai kalian gede,” Rohan senyum, naruh tas Milea di kursi.“Tapi... Sasa tidur di sini kan, Pah? Bareng aku?” Milea nengok ke Shanum yang masih berdiri kaku di pintu.“Iya, Sayang. Sasa, sini Nak,” Rohan melambai.“Iya, Om,” Shanum melangkah pelan, takut salah injak karpet mahal.“Sekarang kamu tidur di sini, sama Lea kakak kamu. Jangan sungkan ya. Besok Om daftarin kamu sekolah,” Rohan jongkok, sejajarin tinggi Shanum.Mata Shanum langsung berkaca. “Iya, Om... makasih banyak, Om. Sasa udah didaftarin sekolah”“Sama-sama, Sayang. Kamu bakal satu sekolah sama Kak Lea,” Rohan usap kepala Shanum.Milea yang denger langsung loncat kecil di kasur. “Yang bener, Pah? Sasa satu sekolah sama aku?”“Iya, Lea Sayang. Kamu keb
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-12
Chapter: Bab 5. Satu Atap, Dua Dunia“Adik baru, Pah?” Milea natap Shanum, matanya besar, kepalanya masih diperban. Suaranya lirih tapi jelas.“Iya, Sayang. Nggak apa-apa ya Sasa jadi adik angkat kamu? Dia bakal tinggal sama kita,” Rohan jawab hati-hati. Dia takut. Takut Milea nolak. Takut Shanum patah hati lagi.Milea diem sebentar. Napas semua orang di ruangan itu kayak ketahan. Terus... bibir kecil itu senyum.“Nggak apa-apa, Pah. Aku seneng! Akhirnya punya adik. Usianya juga beda dikit sama aku!” Milea tepuk tangan pelan.Rohan lega setengah mati. “Makasih, Sayang. Kamu mau nerima Sasa. Sasa, sini Nak,” panggilnya lembut.“Iya, Om,” Shanum maju ragu, terus duduk di pinggir ranjang, deket Rohan sama Milea.Parvati yang berdiri di belakang Rohan maksa senyum. Tapi matanya nggak bohong. Ada yang nggak rela di sana.“Mah, sini!” Rohan lambaikan tangan.“Iya, Mas,” Parvati jawab ke Rohan, bukan ke Milea. Dia melangkah, duduk di sisi Milea yang lain. Senyumnya tipis banget.“Pah, Lea pengen pulang hari ini juga. Lea mau ma
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: Bab 4. Tanda Tangan, Seharga Air MataSetelah Shanum angguk, mau ikut Rohan, suasana warung Baba Lian hening. Cuma ada suara kipas angin butut sama isak Shanum yang nahan. Rohan jongkok, sejajarin mata sama Shanum. Tangannya masih megang bahu kecil itu. Hangat. “Kamu mau menjadi putri angkat Om, Nak? Om janji jaga kamu. Sekolahkan kamu. Nggak ada yang boleh bentak kamu lagi,” suara Rohan pelan, tapi tegas. Matanya tulus. Shanum natap Rohan. Lama. Di mata Om itu, dia nggak liat kasihan. Dia liat... rumah. “Iya, Om... Sasa ingin memiliki keluarga utuh... keluarga yang nggak nyakitin... boleh ya, Om?” suaranya pecah. Air mata jatoh lagi. Rohan tersenyum. Lega. Dia berdiri, ngadep Rianti yang lagi ngitung duit sejuta sambil udut. “Baik. Untuk Anda, Ibu... siapa namanya?” Rohan nanya datar. Profesional. Rianti nengok, nyengir. “Mau apa lu? Gak penting banget nanya-nanya nama gue! Mau kenalan? Telat, Om!” Ketus. Asap rokok dihembusin ke muka Rohan. Baba Lian naik darah. “Heh, Rianti! Harusnya lu sedih anak kandung lu ma
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: Bab 3. Ibu Yang Melepas, Om yang MemungutSepanjang perjalanan ke RS Harapan Bunda Jakarta, Parvati nggak berhenti nangis. Pelukannya ke tubuh kecil Milea erat, kayak takut lepas sedetik aja anaknya ilang. Baju Parvati udah basah, bukan keringat. Darah. “Bu, kita udah sampai UGD,” sopir relawan, Mas Ditya, ngerem pelan di depan IGD. Suaranya hati-hati, takut. Parvati ngangkat kepala. Mata bengkak, napas ngos-ngosan. “Terima kasih, Pak... terima kasih banyak... tolong anak saya, Pak...” “Sama-sama, Bu. Biar saya yang gendong adeknya ya. Ibu keliatan gemetar. Bahaya jatuh,” Ditya turun, buka pintu belakang. Nggak tega liat Parvati. “Iya, Pak... sekali lagi terima kasih...” Parvati nyerahin Milea. Tangannya lemes kayak nggak ada tulang. Kaki sempoyongan ngikutin Ditya lari ke UGD. “Ya Tuhan... selamatkan putriku... selamatkan Milea... ambil aja nyawaku, asal anakku selamat... aku janji jadi ibu yang lebih baik...” Parvati komat-kamit, air mata banjir. Lututnya jatuh di depan pintu IGD. Di depan UGD, suster sama dokter lang
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: Bab 2. Perlakuan RiantiGang sempit, sore menjelang maghrib. Shanum sama Karan jalan kaki dari halte, abis dari RS. Rumah mereka emang dempetan, cuma kepisah pagar kayu setinggi dada.Karan berhenti di depan pagar rumahnya. Nengok ke Shanum yang masih diem, megang plester di pelipis.“Sa, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat. Kalo ada apa-apa, gedor pager aja. Atau teriak. Rumahku deket, denger kok,” Karan nyopot tas, napasnya lega. Seenggaknya Shanum selamat.Shanum angguk pelan. Senyumnya tipis banget. “Iya, Karan. Terima kasih ya. Udah nemenin aku dari rumah sakit sampe rumah. Maaf ngerepotin mulu.”Karan ketawa, nyenggol bahu Shanum. “Sama-sama, Sa. Kita temen. Kan udah janji? Susah seneng bareng. Udah sana masuk, istirahat. Jangan mikir macem-macem.”“Iya,” Shanum melambai kecil. Karan masuk rumah, pintunya ketutup.Begitu sepi, senyum Shanum luntur. Tangannya gemeteran pas mau buka gembok pagar rumahnya sendiri. _Rumah._ Tapi rasanya kayak mau masuk ke kandang harimau. Dingin._Klek._Baru kaki kanan mas
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: Bab 1. PertemuanKediaman Sharma Di kediaman keluarga Sharma, Rohan sedang bersiap berangkat ke Bandung untuk meninjau pekerjaannya. "Selamat pagi, Sayang," sapa Rohan. "Pagi, Mas. Mas jadi pergi ke Bandung?" tanya Parvati. "Jadi, Sayang. Sepertinya proyek di sana harus aku periksa lagi. Ini tempat wisata, jadi aku harus pastikan semuanya aman dan nyaman, termasuk semua karyawannya." "Jangan lama-lama ya, Mas. Pasti aku sama Lea merindukanmu." "Iya, Sayang. Kamu tenang saja, ini tidak akan lama." Tak lama kemudian, datanglah Milea Rubby Sharma, anak cantik dan lucu berusia 7 tahun. "Papah! Aku mau ikut!" seru Milea sambil menghampiri sang papa. Rohan langsung memeluk putri kesayangannya itu. "Sayang, Papah mau bekerja, bukan piknik. Nanti jika di perusahaan ada acara family gathering, baru kita berangkat bersama!" "Yah... Aku masih mau bermain sama Papah," rengek Milea. Rohan tersenyum. "Nanti kita bisa bermain sepuasnya, Sayang. Tapi Papah harus menyelesaikan tugas Papah dulu, ya?" "Iya,
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11