LOGIN⚠️ R18+ WARNING This book contains explicit sexual content, graphic language, and taboo relationships between consenting adults. Expect filthy age-gap sex, forbidden lust, rough scenes, and a daddy’s best friend who can’t keep his hands off the heroine. If you’re under 18, or easily offended by dirty talk, moaning, and being pinned against the wall… turn back now. If you like it dirty… welcome home.****^^^^*******^One kiss in the hallway was all it took to break every rule. Now he’s in my room at night, his hand over my mouth so my father won’t hear me scream his name. He says it’s just sex. I know it’s something more. Because no matter how wrong it is… I’m not sure I’ll ever want him to stop.*****This book is a compilation of different short stories. Have fun reading!
View MoreSeorang wanita mematung dan membeliak kaget saat mendengar suara menjijikan di kamar calon suaminya. Suara dua insan yang sedang--
'Akkhh ....' Dadanya berdenyut nyeri bak tersayat duri. "Dion, kamu sudah melamar anak haram itu, serius mau menikahinya?" Wanita itu menajamkan rungunya. Ya, mereka sedang membicarakannya. "Aku menikahinya? Buat apa? Aku bertahan sama dia selama ini cuma buat kamu, Vio. Bukannya kamu mau lihat dia hancur? Aku buat dia jatuh cinta sampai gila, lalu aku lamar, dan setelah itu aku buang." Tawa remeh mereka membuat dada wanita itu semakin sesak. Amber-wanita 26 tahun itu kini telah berdiri mematung di dalam apartemen kekasihnya. "Dion? Viona?" Amber tajamkan rungunya, berharap suara-suara itu hanya ilusi, tapi ternyata ... nyata. Amber membawa satu kotak cake kecil yang dia hias sendiri. Dua tahun bersama dan malam ini, sebenarnya dia ingin memberi kejutan kecil untuk kekasih yang juga bisa dibilang calon suaminya. Akan tetapi, yang menyambut bukan pelukan hangat, melainkan suara menjijikan. Langkah Amber pelan, berusaha tanpa suara. Dia mendekat ke pintu kamar yang tidak ditutup rapat. Suara dua insan jadi semakin jelas dan membuatnya merinding. Dua tangannya terkepal kuat. "Dion, apa kamu pernah menikmati tubuh Amber?" "Jangan bercanda. Aku mana bisa bergairah sama wanita seperti Amber." Amber terdiam di balik tembok sebelah pintu. Napasnya tertahan. Tangannya mencengkram kuat kotak cake. 'Bukannya Viona hampir menikah? Apa calon suaminya tahu soal apa yang saat ini Viona lakukan?' batin Amber. Viona adalah kakak tirinya. Wanita yang selalu menatapnya seperti duri, kalau berbicara padanya selalu tajam. Dan bila tersenyum, seperti racun. Lalu, Amber mendorong kuat pintu kamar itu, membuat daun pintu membentur tembok. "Bagus! Luar biasa! Kalian memang pasangan brengsek!" Dion sontak melotot kaget. "Amber! Bagaimana kamu bisa ada di sini?!" Dion cepat melepaskan diri dari Viona, memungut celana yang tergeletak di lantai lalu mengenakannya tergesa. Amber menyipitkan mata, terkekeh sinis. "Jangan buru-buru, Dion. Nikmati saja hasil kebusukan kalian." Viona menggeram keras sambil menarik selimut menutupi tubuhnya. "Dasar wanita nggak tahu malu! Ganggu kesenangan orang saja!" Lalu, Dion mendekat cepat. "Sejak kapan kamu datang, Amber?" Amber tersenyum miring, sorot matanya tajam. "Sejak aku sadar kalau kamu adalah pria terbrengsek di dunia ini yang tidur dengan calon ipar." Dion melotot diam. "Ini buat waktu dan ketulusanku yang terbuang sia-sia selama ini!" Tangan Amber langsung terangkat. Satu tamparan keras mendarat di pipi Dion hingga meninggalkan bekas merah menyala. "Amber!" Dion meraung geram, memegang pipinya. Dada Amber naik turun menatap tajam. "Apa?" Saat tangan Dion terangkat ingin membalas, tapi Amber cepat mengambil box cake yang tadi dia bawa. Dengan cepat cake itu dilemparkan tepat ke wajah Dion. "Dan ini aku bawa spesial buat kamu!" Wajah Dion seketika berlumur cream. Viona menjerit. "Amber! Kurang ajar kamu!" Amber tersenyum getir, matanya menatap Viona yang hendak bangkit, tapi urung karena tubuhnya masih tak berbalut kain. Dia memungut sisa cake yang tercecer, lalu melemparkan ke arah Viona. "Ini juga spesial buat wanita tak tahu diri sepertimu!" Viona menjerit makin kesal. "Amber! Aku pasti akan membalasmu nanti!" Dia menggeram mengusap cream di wajahnya. Amber menatap dingin. "Silakan. Aku justru menunggu kapan kamu berani keluar dari sarang tikusmu!" Lalu, Amber cepat berbalik. "Silahkan lanjutkan permainan kalian!" Dia melangkah pergi. Dion mencoba menahan tangan Amber saat dia hendak pergi. "Amber, tunggu dulu!" Amber menghempaskan tangan Dion kasar. "Lepas! Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa pun lagi. Nggak akan ada juga pernikahan!" Wanita itu melanjutkan langkahnya menuju pintu. Sesaat sebelum melangkah keluar, dia menoleh sedikit. "Vio, ambil sampah itu. Aku nggak butuh pecundang seperti dia!" Setelah keluar dari apartemen, Amber cepat masuk lift. Beruntung hanya ada dia seorang. Dia lekas mengangkat dagunya agar hatinya lebih kuat. Sorot matanya kosong. Dia berdiri mematung. Punggungnya pelan bersabar lemas, lalu perlahan merosot. "Dion ... Viona ... Akhhh. Kalian benar-benar tak tahu malu." Dia memukul-mukul dadanya sendiri. "Aku benar-benar bodoh! Bodoh sampai nggak paham dengan gelagat kalian berdua!" Napasnya pendek-pendek, bak tercekik di tenggorokan. Jantungnya berdetak terlalu keras, dadanya terasa makin sesak. "Anak haram?" Amber tertawa miris ditengah derai air matanya. Amber adalah anak dari istri siri ayahnya. Dan masuk keluar itu dengan status anak angkat. Miris bukan, tapi demi ibunya, dia diam menahan penghinaan selama ini. Yang lebih menyesakkan. Dion--pria yang dia pikir akan jadi pelabuhan terakhirnya. Pria yang dia percaya, dia pertahankan, bahkan saat semua orang bilang Dion hanya numpang hidup di hati dan dompetnya. Kini malah menertawakannya dari balik selimut bersama Viona. ------ Seorang pria tampan berbadan tegap berdiri di depan cermin tinggi. Setelan jas pengantin hitam arang membingkai tubuhnya yang sempurna. Tangannya merapikan jasnya. Sorot matanya tajam pada pantulan dirinya. Sang asisten masuk mendekat dan berbisik, "Pak Rey, pengantin wanitanya kabur." Tangan Reyvan, pria 30 tahun itu berhenti di dua sisi jas. Tatapannya tidak bergeser dan makin tajam. Atmosfer mendadak menegang. "Ulangi!" Suaranya rendah menekan. "Tuan besar memutuskan pernikahan tetap berjalan, tapi mempelai wanita akan diganti." Mata Reyvan melirik tajam. "Siapa?" "Anak angkat keluarga Dinata." Senyum sinis tipis muncul di bibir Reyvan. "Anak haram itu?" Prama mengangguk. "Bukan anak haram, tapi hasil pernikahan siri Tuan Dinata yang tak diakui." Reyvan menahan napasnya tiga detik. Lalu mendesis pelan. "Jadi mereka pikir aku ini boneka keluarga Dinata yang bisa seenaknya saja mereka permainkan? Heh! Mengganti mempelai?" "Tuan besar ingin menjaga kehormatan keluarga, Pak." Reyvan membalikkan tubuhnya. Tanpa kata lagi, dia keluar kamar dan berjalan menuju kamar mempelai wanita. Dan tanpa mengetuk, dia membuka pintu. Seorang wanita kaget dan sontak menatap arah pintu. Matanya menatapku lekat pria tampan yang kini juga menatapnya intens tajam. Amber tahu dia siapa. Reyvan Kalingga--CEO di perusahaan tempat dia bekerja. Amber memang dilarang bekerja di perusahaan keluarganya sendiri karena Viona. Dia dianggap akan merebut harta kekayaan keluarga Dinata. Sorot mata tajam Reyvan langsung memindai sisi ruang. Lalu, dia tersenyum tipis. "Kenapa kalian masih di sini?" Tuan muda Reyvan menatap tajam pada mua di sana, dan tak butuh waktu lama mereka keluar tergesa. Hanya tersisa wanita dengan wajah datar dan tatapan kosong. Amber kini berdiri anggun dengan balutan gaun pengantin warna putih menjuntai anggun. Dia diam menatap pantulan wajahnya. Dari cermin itu, dia dapat melihat sosok Reyvan yang pelan mendekatinya. "Bagus. Jadi ini yang katanya pengganti pengganti?"It was just after one the next day. The house was emptier than usual, Mrs. Harrington had left for lunch with her sister, Claire, and wasn’t expected back until late afternoon. Elena had followed instructions exactly. no uniform, only the short white apron tied at the waist, nothing underneath. She knelt on the thick rug in the study when he told her to, hands on her thighs, waiting. Mr. Harrington stood in front of her, already hard, his cock thick and heavy as he stroked it once. “Open.” She did. He fed it into her mouth slowly, letting her taste the clean skin and the salt of the bead at the tip. Elena took him deep, her cheeks hollowing, and tongue working the underside the way he liked. His hand rested in her hair, guiding without forcing yet. Soft wet sounds filled the quiet room as she bobbed, saliva starting to shine on her chin. The door opened without a knock. Claire stood there, raincoat still on, keys in one hand, expression frozen for half a second. She had the sa
The house was quiet in that particular late evening rain tapping the windows. Upstairs, the wife had gone to bed early with a migraine and a glass of wine. The door to the master bedroom had closed nearly an hour ago. Down here, in the study, the only light came from the desk lamp and the dying fire. Elena stood by the sideboard in her black uniform dress, the white apron still tied neat at her waist. She had been clearing the last of the crystal when he told her to lock the door. She did. The key turned with a soft click. Mr. Harrington didn’t look up from the papers on his desk at first. He simply said, “Come here.” She crossed the room. He pushed his chair back and pointed to the space between his spread knees. Elena stepped into it. He reached up, took the apron strings, and pulled. The bow came undone. The apron fell. His hands went to the buttons at the front of her dress next, working them open one by one until the fabric hung loose and her breasts were free of the bra he
Heat flooded her cheeks, but she obeyed. She had agreed to total submission, and the way he looked at her said he intended to collect immediately. She shuffled forward on her knees until her thighs framed his head. Benson shoved her skirt the rest of the way up, hooked two fingers in the crotch of her underwear, and yanked the fabric aside. He didn’t tease. His mouth sealed over her cunt in one hungry motion. Thick tongue dragged through her folds, then pushed inside, fucking into her while his nose pressed against her clit. Mimi’s head dropped back, a broken moan ripping free before she could stop it. Her hands flew to the headboard for balance as he ate her like a starved man, wet sounds were obscene in the quiet hospital room. Every time she tried to lift away from the intensity he gripped her hips harder and pulled her down onto his tongue. “Benson—” He answered by sucking her clit between his lips and working it with the flat of his tongue until her thighs started to shak
Mimi’s pulse thundered in her ears. The phone still hung loosely in her hand, the billing department’s final warning echoing in her skull. Her sister’s pale, tired face flashed through her mind, the endless cycle of treatments that had already drained every savings account and favor she had left. Benson watched her without blinking, phone still raised with a thumb poised. The morning light cut across the hard planes of his chest and the dark ink wrapping his arms. He didn’t push. He simply waited, the silence heavier than any threat. Her voice came out raw. “Yes.” The single word barely left her lips before the air in the room changed. Benson’s eyes darkened. He set the phone down on the bedside table with deliberate care, never looking away from her. “Say it properly.” Mimi swallowed. Her throat felt tight. “I agree. You pay the full balance… and I’m yours. Whatever you want.” A slow, dangerous smile curved his mouth. “Come here.” She hesitated only a second long enou
The handle turned, just enough for Lydia to step forward, catching it before it moved. Her breath hitched. Daniel’s hand covered hers on the knob. His voice was a whisper now, right against her ear. “Don’t open it.” But her heart was pounding so hard she could barely think. There was something ab
The door clicked shut behind them with a softness that didn’t match the storm inside each of their chests.Elena stood in the dim room, breathing unevenly, her heartbeat loud enough that she wondered if they could hear it too.Victor remained near the door, as if crossing the room meant crossing a
Leo didn't force his way in. After a few more frantic rattles of the doorknob and some colorful cursing, his footsteps retreated down the hallway.Julian wasted no time. "Get dressed," he ordered, his voice tight, pulling Maya from behind the tall bookshelves where he’d shoved her. "And for God's s
The smell of his cologne musky, expensive, and intoxicating filled her senses. Maya looked up into his eyes, seeing the raw desire burning there, and something in her snapped. Chloe was thousands of miles away, and Maya was tired of being good.She reached up, her fingers tangling in his dark hair,
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.