로그인Juliet falls in love with Mia her sister's husband. Mia is critically ill and is unaware of their affair. Juliet doesn't know she is dating her sister's husband. When she learns the truth, it shatters her but she's still fallen for Jansen, Mia's husband. She is confused whether to consider her feelings for Jansen or to let him go.
더 보기“Kenapa gak mau pergi ke sekolah?”
Suara datar nan tegas milik seorang wanita yang sedang menatapnya tanpa berkedip tidak membuat sedikitpun Langit takut, bahkan terlihat santai.
“Aku malas bertemu teman-teman di sekolah, Mi!” Langit menjawabnya tanpa beban sedikitpun. Bibirnya mencembik dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Bocah tampan itu belum selesai meluapkan isi hatinya pada Aluna. “Kemarin, Bu Guru suruh gambar anggota keluarga, tapi gambar aku beda sendiri dari teman-temanku karena cuman ada gambar aku sama Mami saja.”
“Terus, masalahnya dimana?” Merasa itu hal yang wajar bagi Aluna. “Di dunia ini, gak hanya kamu koq yang punya gambar seperti itu, jadi gak usah dibikin alasan deh!” Aluna tidak mau menerima begitu saja ucapan Langit meski dalam hatinya merutuki dirinya sendiri yang tidak peka dengan maksud Langit.
Langit mendengkus, wajahnya langsung tertunduk lemah dengan suara bergetar ia berucap. “Mereka bilang aku anak haram dan gak punya Papi.”
Jleb.
Hati Aluna seperti teriris ujung pisau yang tajam. Andai ia berada di posisi Langit, pasti yang bisa dilakukan hanya meneteskan airmata meratapi kesedihannya, tak peduli akan membuatnya malu nantinya.
Sesaat kemudian, Aluna hanya menghela napas berat sebelum menghembuskannya perlahan.
“Sudah Mami bilang kalau Papi sudah meninggal, bilang aja begitu!”
Jahat, Aluna akui hal itu, setidaknya Langit tidak akan bertanya lagi dan lagi. Ibu satu anak ini memang sudah mengangap laki-laki itu tidak ada dalam kehidupannya bersama sang putra.
“Tapi … kenapa Mami selalu gak mau ajak aku ke makamnya Papi.”
Sialnya, Langit selalu memiliki seribu cara untuk menjawab ucapan Aluna.
“Jangan bilang kalau Mami sudah bohong kan!” Langit merasa kalau Aluna sedang membohonginya.
Aluna bangkit berdiri, pembicaraan ini sudah menyita waktunya. Tatapannya datar, menatap wajah tampan yang semakin hari sudah semakin pintar menjawab ucapannya.
“Oke, terserah kamu mau sekolah atau tidak!” Aluna menyeret kakinya keluar kamar, namun sampai di batas pintu dia membalikkan badannya untuk menatap sang putra. “Dan, Mami pastikan mulai besok kamu tidak perlu datang ke sekolah karena … Mami akan pindahkan kamu ke luar negeri.”
Wajah Langit, seketika memucat mendengar ucapan Aluna. Bukan tidak mungkin wanita yang melahirkannya itu akan menepati ucapannya. Dan itu artinya, kesempatan Langit untuk bertemu dengan sang Papi akan semakin kecil, meski ia tidak tahu dimana keberadaan laki-laki itu.
***
Pada akhirnya, Aluna yang memenangkan perdebatan dengan Langit. Terbukti, putra itu mau berangkat ke sekolah meski dengan wajah yang kesal. Beberapa saat kemudian, kendaraan roda empat itu sudah keluar dari halaman rumah. Rumah minimalis yang Aluna beli dari menjual rumah peninggalan sang Papa. Wanita itu sengaja pindah ke luar kota dari rumah yang sebelumnya agar mantan suaminya tidak bisa menemukannya.
Sepanjang perjalanan, wajah Langit tampak murung. Aluna berkali-kali menghela, sebenarnya merasa kasihan juga dengan Langit yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ayah. Tapi buat Aluna itu yang terbaik daripada batinnya akan tersiksa dengan pernikahan tanpa cinta yang pada akhirnya akan menyakiti hati orang lain.
Tak terasa, lamunan Aluna harus terhenti saat suara Langit menyadarkannya. “Mi, sudah sampai!”
“Ah, iya, Sayang!” jawab Aluna lantas membelokkan mobilnya ke gerbang sekolahan, beruntung tidak sampai kelewatan tadi. Kalau tidak ia harus akan putar balik nanti.
Dari gerbang tadi, Aluna menuju ke parkiran untuk para pengantar. Meski kadang Langit tidak ingin Aluna mengantarnya sampai kelas, tetapi sang Mami hanya ingin memastikan kalau putranya itu benar-benar akan mengikuti pelajaran di sekolah.
Sudah beberapa kali wali kelasnya mengatakan kalau Langit kerap kali meninggalkan kelas dan menghabiskan waktu di kantin sekolah. Mengingat hal itu rasanya Aluna ingin menghukum Langit. Tapi lagi-lagi Langit membalas ucapan Aluna karena ia bosan dan pelajaran itu sudah ia kuasai.
“Mi, sudah sampai sini aja, ya!” Langit mencegah langkah Aluna yang ingin menyapa jajaran gugu-guru yang sedang menyambut muridnya di depan lobi sekolah. “Tuh, sudah ada Miss Ana,” tunjuk Langit pada wali kelas sekaligus guru kelasnya.
“Ayo jalan, Mami mau ketemu Miss Ana.” Aluna mengabaikan keinginan Langit, wanita itu terus berjalan dan mendekati wali kelasnya Langit. “Selamat Pagi, Miss?” sapanya sambil mengangguk pelan dan jangan tanyakan Langit, karena anaknya itu sudah berlari pergi meninggalkan Aluna. Di tempatnya Aluna hanya bisa berdecak sambil mengelengkan kepalanya, kenapa putranya itu begitu tidak sopannya sampai tidak berpamitan padanya.
Miss Ana menyematkan senyuman ramah lalu balas mengangguk. “Sudah, tidak apa-apa, Bunda. Mungkin dia sedang ingin bermain dengan teman-temannya.” Seolah paham apa yang sedang dikeluhkan oleh wanita di depannya ini.
“Iya, Miss,” jawab Aluna, sedikit kecewa dengan sikap Langit yang menurutnya tidak sopan.
Sesaat kemudian, ada obrolan sedikit mengenai sikap Langit yang Miss Ana rasa perlu disampaikan pada Aluna. Tidak kaget, Aluna mendengarkan dengan serius dan sesekali menganggukan kepalanya tanda dirinya paham.
“Baik, nanti coba saya bicara pelan-pelan dengan Langit masalah itu, Miss!”
“Terima kasih, atas bantuannya,” balas Miss Ana. “Langit anak yang cerdas, saya cuman khawatir akan mempengaruhi nilai akademiknya kalau tidak segera di atasi.” Tidak ada maksud untuk mendikte Aluna, karena Miss Ana benar-benar peduli dengan Langit.
“Baik, kalau begitu saya permisi dulu, Miss.” Setelah dirasa tidak ada lagi yang diobrolkan Aluna segera undur diri. Ibu satu anak itu menyempatkan menyapa beberapa guru yang sedang berdiri di dekat Miss Ana sembari mengangguk sopan.
Aluna melirik pergelangan tangannya, sepertinya sudah sangat mepet sekali waktu yang tersisa. Ia takut terlambat sampai di kampus. Tangannya merogoh tas yang tersampir di pundak, mencari keberadaan ponselnya, mengabari kalau terlambat beberapa menit.
“Aluna!”
Aluna menghentikan langkahnya, ada rasa yang tidak mampu ia jabarkan dan hanya jantungnya yang berdetak kencang. Tidak bertemu selama tujuh tahun, bukan berarti Aluna lupa suara itu. Sekuat tenaga ia paksakan tubuhnya untuk membalik untuk memastikan seseorang tersebut.
“Dok-ter!” suara Aluna terbata, meskipun ingin sekali ia berlari menjauh tapi ia sadar moment seperti itu suatu saat pasti akan terjadi. Dan mungkin saat ini ia sudah tidak bisa menghindarinya lagi.
“Kamu tidak berubah, masih tetap memanggilku, Dokter!” sinis sang pria yang masih saja tampan dan semakin terlihat dewasa. “Anak kamu sekolah disini ju-”
“Papi! Ayo, masuk ke sekolah baruku!”
Atensi Aluna sontak menunduk dan bertemu tatap dengan gadis kecil yang berada dalam genggaman laki-laki tersebut. Darah Aluna berdesir, ada rasa tidak rela ketika pria itu dipanggil Papi dan bukan oleh putranya. Namun, ia bisa apa sekarang. Tujuh tahun mungkin telah merubah segalanya dan satu yang pasti, ia tidak bisa merubah kenyataan saat ini. Kalau waktu itu ia tidak keras kepala dan mau menuruti keinginan pria ini pasti mereka telah menjadi keluarga yang bahagia sekarang.
“Iya, bentar!”
“Tante ini siapa?” tanya gadis kecil itu.
“Ah, ini …,” ucapan laki-laki ini terhenti ketika mendengar suara lembut seorang wanita yang sudah berdiri di sampingnya sambil memeluk lengannya.
tbc
Mia's eyes grew wide as plate and she gasped feeling stunned staring at the noodles drooping on her dress. Her dress was moistened with the pasta sauce.The customers seated in the same row as Mia's table glanced over their shoulders staring at Mia and observing the stains on her dress.Juliet felt jittery seeing Mia covered in noodles and she apologized with a soft voice, "I'm so sorry I didn't mean to."Mia's face contorted and she screeched, "sorry? Or you did this on purpose.""I'm sorry Mia. If I hadn't been clumsy your dress would be okay. Please accept that it was just an accident.""You splash my order on me and you are requesting to me to take it as just an accident? How dare you tell me that? My dress is damaged and you cannot tell me to take it as just an accident. You have no right to make demands!" Mia screamed."I know your dress looks horrible but splashing the pasta on you is unintentional."Mia folded her arms and she smirked as an image of her spilling grease on the
Juliet crouched on a sofa resting her hand on her cheek pondering over the rent of her apartment soon expiring and how she is going to pay her rent. She approached several organizations requesting for a job. She also submitted her credentials and still, she did not receive any feedback. It's like they are all ignoring her on purpose. A manager of an organization she went to for an interview complained that she cannot be employed and when she asked why he explained that it is because of the viral video on-line of Mia at her birthday party accusing her of being a mistress. And that she may distract the male employees.Juliet felt insulted and embarrassed she stormed out of the Manager's office. And ever since that day, she quitted job hunting.It was a luminous Friday afternoon. Hailey arrived at Juliet's apartment. She approached the entrances to the sitting room. She noticed the door opened and she strode in.Her heels clicked on the floor as she walked across the room. Juliet listene
Jansen grasped her arms and he screamed at her face, "of course I don't want Isabella to lose her mother that's why I want you to undergo the surgery so you can recover and have more time to live with us because I cannot handle the thought of losing you. I'm afraid that I'll wake up the next morning and see your corpse lying besides me. It's that important that you live. I'm afraid that I won't have enough time to love you and to spend time with you. So I want you to undergo the surgery for our sakes. I don't want you to die hon." Tears were forming in his eyes. They obstructed his vision and spewed on his cheeks.Mia sniffed and she shook her head, "I can't. I can't do it. I can't take the risk of losing you and Isabella. What if I don't survive the surgery? What if the last time we see each other is when you escort me to the operating room? I'm too scared to die. I don't wanna. Stop telling me to undergo the surgery." "Okay hon. If it'll make you feel alright, " Jansen clasped her
Several minutes after, Jansen arrived at Mia's ward. He pushed the door open. Mia listened to the door hissing and she turned slowly and stares at the door. She glances at Jansen striding in. Jansen's lips curled into a smile seeing her awake.He halts besides her and he pecked her on her forehead, "hon how are you feeling?""Where did you go to Jansen? I opened my eyes and you were gone. How long did you leave?" Mia's face contorted in anger."I wanted to grab a snack. I was famished. Anyways Mia, I bumped into Hailey on my way here and I think that Juliet is unwell. I want you to check on her to know if she's safe.""What the hell is my business with Juliet?" Mia screeched, "and how is it your business if she is unwell? I thought she no longer matters to you since I'm your legal wife. I thought she is now a thing of your past.""I know I don't have anything to do with her anymore but what's wrong with worrying about her if she is not okay?""I don't care if she is not okay and you s
"I know you enjoyed my husband!" Mia screamed, "I know you were having a good time with him, with my man!""Forgive me sister. I had no clue at all that he is your husband.""Liar!" Mia screeched, "I saw the way you two looked at each other at your party, you even flirted with him. You didn't act surp
It clocked 6:09 in the frosty dusk. Mia moved slightly on her bed, she unhurriedly opened her eyes. She has been asleep since an hour. Mia specked a figure of a person in a sparkling white dress standing besides her. Her vision was blurry and she blinked thrice till her sight got clearer and she pee
Juliet and Jansen looked deeply into each other's eyes and they drifted from each other's arms gently. Jansen glanced at Juliet attempting to walk away and he grasped her wrist and pulled her towards him. Juliet yanked her hand from his grip, a frown was settling on her face."We have to talk right n
In the glowing incandescent dawning. Jansen arrived Juliet's apartment. He parked his car by the gate and he was dialling Juliet's number. Juliet stepped outside the gate in a pair of jet-black jeans and a red blouse to head towards a grocery store. She listened to her phone vibrating audibly and sh
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
리뷰