Share

Bab 84

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 22:45:26

"Ayah?"

Emma menahan napas.

"Apakah itu kata pertama yang aku ucapkan?"

Pak Bagas menghela napas panjang dan menggangguk pelan. Matanya menerawang ke langit-langit kamar rumah sakit yang putih dan kosong.

Pak Bagas tersenyum bahagia. Masih teringat bagaimana gadis kecil itu memanggilnya Ayah.

"Ayah tidak tahu kenapa kamu memanggil Ayah dengan sebutan itu. Mungkin kamu setengah sadar atau bermimpi. Tapi waktu kamu bilang itu—" suara Pak Bagas retak di tepinya, "—Ayah merasa seperti ada sesuatu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 173

    Emma tertegun. Lidahnya seketika kelu. Biasanya dia selalu menganggap kalimat godaan Arsen cuma angin lalu, tapi malam ini, tatapan mata pria itu begitu tajam, dalam, dan dipenuhi sinar ketulusan tanpa topeng."Kamu salah makan apa, Arsen?" canda Emma mencoba mengusir gejolak aneh dalam dadanya.Arsen meraih kedua tangan Emma, menggenggamnya erat lalu mengusap punggung tangan gadis itu dengan jemarinya yang hangat dan sedikit gemetar. "Please, jawab aku, Emma ..." bisik Arsen parau, membuat Emma menarik napas panjang."Atau setidaknya kita mencoba dulu. Gue tahu lo ragu gara-gara jejak playboy gue, tapi kasih gue kesempatan buat ngebuktiin semuanya ke lo kalau gue serius." Emma menatap Arsen lurus-lurus, mencari kepalsuan di balik mata pria itu. Namun, yang dia temukan hanyalah kejujuran dan ketakutan akan penolakan.Rasa ragu yang selama ini membentengi hati Emma perlahan runtuh. Toh selama ini, Arsen selalu ada untuknya.Akhirnya Emma mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyum tip

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 172

    "Pak Kumis, totalnya berapa semuanya?" tanya Kai seraya merogoh dompet tebal dari saku celananya, pasrah menghadapi kekalahannya dalam taruhan sambal malam itu. Pak Kumis menghitung cepat sambil tersenyum lebar. "Tiga porsi bakso urat super pedas, tiga teh botol, sama kerupuk lima, totalnya jadi seratus dua puluh ribu aja, Mas." Kai menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan dengan raut wajah yang merengut konyol. "Kembaliannya ambil aja, Pak, hitung-hitung tip buat kuah baksonya yang sukses bikin lambung gue bergejolak." Arsen yang berdiri di sebelah Kai tertawa lepas sambil menepuk-nepuk perutnya yang kenyang. "Makasih ya, Kai. Makan malam gratis dari kekalahan tragis lo emang terasa sepuluh kali lebih nikmat." "Diem lo, Sen! Awas aja ntar di mobil gue, lo ngeluh mules," sungut Kai, berjalan memimpin ke luar warung bakso menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Setelah keluar dari warung dan melangkah menuju area parkir, Arsen tiba-tiba mempercepat langkahnya. Dia meran

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 171

    Suasana makan di warung Pak Kumis berlangsung sangat seru dan penuh gelak tawa. Kai dan Arsen yang biasanya tampil necis dan dingin di lingkungan kampus, kini sibuk mengusap keringat di dahi mereka yang bercucuran deras gara-gara kuah bakso super pedas."Aduh, nikmat bange emang nih bakso aplagi kuahnyat!" seru Emma gembira, menyantap baksonya dengan lahap. Bibirnya yang semula pink alami kini berubah merona merah, basah, dan agak merekah akibat efek rasa pedas yang membakar.Arsen yang sedang mengunyah bakso mendadak menghentikan gerakannya. Pandangannya mengunci lurus pada wajah Emma, khususnya pada bibir ranum gadis itu yang berkilau terkena kuah pedas dan memerah sempurna.Pemuda itu menelan salivanya dengan susah payah. pikirannya mendadak melayang ke mana-mana. Dadanya berdesir hebat, membayangkan betapa hangat dan nikmatnya jika dia bisa melumat bibir merona itu sekarang juga, menyesap rasa pedas dan manis yang menyatu di sana."Arsen? Kok malah melamun?" tegur Emma sambil m

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 170

    Mobil pun melaju meninggalkan area parkir kampus yang makin sepi. Di dalam mobil, hening sejenak sebelum Emma yang duduk di samping Kai menoleh ke belakang, menatap Arsen yang sedang bersandar santai. "Kamu laper kan, Arsen?" tanya Emma. "Kok tahu sih? Iya, aku laper banget, Emma. Dari siang cuma ganjal sosis panggang doang," jawab Arsen sambil memasang raut wajah memelas. Nafsu makan pemuda itu sudah melampui nafsu makan manusia normal. Camilan yang biasanya tersedia dalam tas, kini sudah habis tak tersisa. "Kak Kai, mumpung kita lewat daerah tempat sekolah SMA-ku yang dulu, mampir ke Warung Bakso Pak Kumis yuk!" usul Emma dengan mata berbinar-binar. "Wah boleh tuh. Enak ya makanan di sana?" "Super duper enak, menurutku. Lagian, aku kangen banget makan bakso urat super pedas di sana." Kai langsung menoleh sekilas ke arah adiknya dengan senyuman hangat. "Boleh banget, Dek! Aku juga cicip dan nemenin kamu makan bakso langganan kamu itu.""Asik! Makasih, Kak.""Tapi ingetin

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 169

    "Apaan sih? Berisik banget!" ucap Arsen sinis. "Arsen! Lo beneran udah dibutakan sama cewek ini?!""Buta? Sejak kapan gue buta gara-gara Emma?""Dulu lo di The Crown paling rasional, sekarang lo mau-mau aja dituntun kayak kerbau dicocok hidungnya!" sentak Olivia kesal. Arsen menaikkan sebelah alisnya, tersenyum amat tipis. "Daripada dituntun sama iri dengki kayak lo? Upgrading otak itu gratis loh, Oliv." "Brengsek lo," maki Olivia. "Lah, kok malah maki gue. Eh, harusnya dari kemarin lo coba, biar nggak usah bayar orang lima juta cuma buat ngerusak acara yang ujung-ujungnya tetep sukses besar." "Lo ..." Olivia menganga, kehabisan kata-kata saat sindiran pedas itu menghantam gengsinya telak. Emma akhirnya melangkah maju, menatap Olivia dengan raut tenang. "Olivia, daripada kamu habis energi marah-marah di parkiran yang berdebu ini," bisik Emma lembut, tapi intonasinya penuh penekanan. "Apa maksudmu?" balas Alicia tajam. Dia tidak suka Emma mengintimidasi Olivia sahabatnya. "K

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 168

    "Gue baru aja ngobrol sama Dekan lima menit yang lalu, Olivia," ujar Arsen santai, tapi tiap katanya menusuk bagai belati. Dia lalu berdiri si samping Emma dan Kai Alicia tertawa terbahak-bahak seolah Emma, Arsen dan Kai adalah badut-badut lucu yang sedang menghiburnya. "Hah! Silakan tertawa sepuasnya selama lo masih bisa. Bukti rekaman suara mahasiswa sewaan lo yang ngaku disuap lima juta sama lo udah masuk ke meja komite kampus." "Nggak percaya gue. Lagak banget, sok dekat ama dekan aja lo," ejek Noami meremehkan ucapan Arsen. "Emang dekan mau ngapain kalau lo ngobrol sama dia, Arsen?" Bibir Alicia yang seperti habis disengat lebah atau salah pakai suntikan silikon, semakin monyong saat dia mencibir ke arah Arsen. "Hmm, kasih tahu nggak ya?" ucap Arsen dengan gaya menggoda. "Alaaaaah! Bilang aja lo omong besar." Arsen menarik napas panjang, lalu menatap ketiga gadis itu. "Dengar ya. Gue udah serahkan semua bukti ke komita kampus. Sebentar lagi kalian akan mendapat kejutan d

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 69

    Emma langsung menggenggam bukunya lebih erat. “Ini tugas bebas.” “Iya.” Raka mengangguk kecil. “Makanya bebas juga buat dikritik, bukan?” Beberapa mahasiswa mulai saling pandang. Mereka seperti menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi pada Emma dan Raka. Dosen yang mengajar, hanya berdiri diam,

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 63

    Kening Kai langsung berkerut. Biasanya file seperti itu hanya berisi catatan sensitif siswa. Entah masalah keluarga. Psikologis. Masalah kriminal. Atau sesuatu yang tidak boleh diketahui publik. Rasa penasaran Kai langsung memuncak. “Emma, lo sebenarnya siapa sih?” Tanpa berpikir pa

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 52

    Sinar matahari menyusup lemah melalui celah tirai kain tipis, seakan memaksa Emma untuk membuka mata. Gadis itumengerang pelan, tubuhnya terasa pegalAlarm ponselnya sudah berbunyi untuk ketiga kalinya. Mata Emma terasa berat, seperti ada pasir yang menumpuk di kelopak. Ia memaksa diri duduk, men

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 49

    “Saya tidak berniat mendekati siapa pun di luar tugas saya sebagai guru les, Tante. Yang tadi… hanya kesalahpahaman.»"Oh ya? Semoga benar hanya kesalahpahaman," ucap Renata sinis sambil membuat tanda kutip dua dengan jemarinya yang lentik dan terawat."Tante, saya menghargai keluarga ini karena te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status