Share

Bab 69

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-05-31 18:53:06

Emma langsung menggenggam bukunya lebih erat.

“Ini tugas bebas.”

“Iya.” Raka mengangguk kecil. “Makanya bebas juga buat dikritik, bukan?”

Beberapa mahasiswa mulai saling pandang. Mereka seperti menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi pada Emma dan Raka. Dosen yang mengajar, hanya berdiri diam, takut ikut campur saat itu berhubungan dengan Raka, The Crown.

Emma menatap Raka pelan.

“Silakan kritik kalau yang salah atau nggak suka dengan karangan bebasku.”

Cowok itu tertawa kecil tanpa seny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 134

    Mendengar perkataan Ibu Renata, darah Arsen seketika mendidih. Dia melangkah maju, memotong jarak di antara dengan aura mengintimidasi yang begitu berwibawa. Hilang semua gaya tengil dan acuh tak acuhnya. “Jaga bicara Anda, Ibu Renata. Emma adalah prioritas saya malam ini. Dan jika proyek itu hancur karena saya melangkah keluar dari pintu ini, maka dipastikan keluarga Ibu yang akan menanggung kerugian pertamanya.” “Arsen, tolong ... Ayahku ...” bisik Emma bingung sambil meremas lengan baju Arsen dalam keputusasaan yang dalam. Arsen hendak menerobos orang-orang suruhan Ibu Renata itu secara paksa. Namun, Ibu Renata kembali bersuara pelan, hanya cukup didengar oleh mereka bertiga. “Dokter Setiawan di ICU adalah rekanan yayasan keluarga saya, Arsen. Satu telepon dari saya, dan operasi itu tidak akan pernah dimulai sebelum kamu duduk manis di meja perundingan atas.” Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Trik kotor ini benar-benar membuatnya harus

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 133

    Emma dan Arsen pun kembali duduk di meja VIP yang penuh kemewahan itu. Tak lama kemudian, di sudut ruangan lain, Raka keluar dari lorong toilet dengan langkah santai. Dia merapikan jas elegannya, membetulkan kancing kemeja hitamnya, lalu berjalan tenang kembali ke meja jamuan keluarganya seolah tidak terjadi apa-apa. Dari kejauhan, mata tajam Raka langsung mengunci sosok Emma yang kini duduk tegak di hadapan Arsen. Raka menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan ketika melihat Emma sibuk menarik rambut tebalnya ke depan untuk menutupi tanda kepemilikan yang baru saja dia ukir di leher gadis itu. "Gue cari lo tadi karena nggak mau makanan pesanan kita cepat dingin, nanti rasanya jadi nggak enak." Emma tersenyum lembut, hatinya semakin dipenuhi rasa bersalah. Arsen terus berusaha memperlakukan Emma dengan sangat manis dan penuh perhatian. Dia bahkan sudah memesankan hidangan penutup lain, mengajak Emma mengobrol dengan santai dan selalu mendahulukan kenyamanan Emma.. “Coba

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 132

    Emma menahan napasnya yang masih tersengal-sengal, sedangkan detak jantungnya bergemuruh hebat. Dalam kepanikan yang menghimpit, jemari Emma yang gemetar mencengkeram erat kemeja Raka, menatap pria itu dengan pandangan memohon yang teramat sangat. Air matanya yang menggenang, berkilat di bawah temaram cahaya dalam ruangan itu karena rasa bersalahnya pada Arsen. “Raka ... aku mohon, lepasin aku,” bisik Emma dengan suara tercekat, hampir seperti rintihan yang mengiba. Tangannya bergerak cepat menaikkan kembali ritsleting gaun emerald green-nya, menutupi dadanya yang masih naik-turun parah karena sisa gairah. "Gue nggak takut sama Arsen," ucap Raka tegas. Tangannya siap membuka pintu dan hendak menjotos Arsen. “Jangan, Raka ... Kalau Arsen tahu kamu di sini dan liat kita kayak gini, semuanya bakal hancur! Tolong, untuk saat ini, aku butuh pengertianmu!” Raka menatap wajah pucat Emma. Rasa cemburu yang tadinya membakar akal sehatnya perlahan meredupi saat melihat ketakutan yang

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 131

    Arsen menatap kepergian Emma ke toilet dengan pandangan tidak tidak rela. Jujur, semua yang dia lakukan sekarang ini bukan sandiwara lagi atau sekedar cari perhatian. Dia sudah jatuh hati pada Emma. Malam ini, sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak mengecup Emma. Arsen harus hati-hati. Tipe gadis seperti Emma sangat sulit ditaklukkan. Emma melangkah dengan ragu menyusuri karpet tebal restoran, menuju lorong remang di sebelah kanan yang mengarah ke area toilet VIP. Begitu dia melangkah masuk ke dalam lorong yang sepi dari riuk pikuk area makan utama, atmosfer mendadak berubah dingin dan mencekam. Lorong itu berhiaskan dinding marmer gelap dengan pencahayaan temaram. Gadis itu menghentikan langkahnya di depan pintu toilet, jantungnya berdegup gila. “Raka ...?” bisiknya pelan ke arah kegelapan lorong. Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah tangan berurat yang sangat kuat tiba-tiba menyambar pinggang Emma dari balik bayangan pintu darurat. Pintu tebal berlapis pereda

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 130

    "Hmm, nggak tahu nih, tenggorokanku tiba-tiba kering banget," elak Emma. Bukannya marah, Arsen justru memasang raut wajah yang mendadak muram. Dia bersedekap dada, menyandarkan punggungnya pada kursi mewah restoran dengan bibir yang sedikit ditarik ke bawah, sebuah gestur berpura-pura ngambek yang dikemas dengan sangat tampan dan mempesona. “Lo sama sekali nggak fokus sama gue dari tadi, Emma,” bisik Arsen dengan nada bicara yang dibuat agak lesu dan kecewa. “Padahal gue udah usahain semuanya buat malam ini. Lo lebih milih liat ponsel daripada natap cowok yang udah ada di depan lo.” Emma tersentak, rasa bersalah seketika melingkupi dadanya. Dia sadar, Arsen baru saja menyelamatkan nyawa ayahnya beberapa jam lalu. Mengabaikan Arsen demi teror pesan Raka adalah tindakan yang sangat tidak tahu diri. “Maaf, Arsen ... bukan gitu maksudku,” ujar Emma panik, buru-buru meletakkan ponselnya di dalam tasnya.. Dia menjangkau jemari Arsen di atas meja, mengusapnya perlahan dengan raut memoho

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 129

    Di sana, di sebuah meja panjang berukir mewah, berkumpul beberapa orang tua berpenampilan sangat elit dan berwibawa, ada Raka. Cowok itu tampaknya sedang menghadiri acara makan malam formal atau pertemuan bisnis penting bersama keluarganya. Kedua orang tuanya juga ada di sana. Hanya Lilis yang tak terlihat. Raka tidak lagi mengenakan jaket kulit hitam jalanannya yang biasa, melainkan kemeja formal hitam yang dipadukan dengan setelan jas desainer yang sangat elegan, membuat auranya terlihat berkali-kali lipat lebih mengintimidasi. Namun, yang membuat darah Emma mendadak membeku hingga ke ujung jari adalah tatapan mata Raka. Cowok itu tidak sedang mendengarkan obrolan di mejanya. Dia sedang menatap Emma dengan sangat tajam dari kejauhan. Rahang Raka mengeras seperti sedang menggeretakkan giginya sendiri, dan sepasang mata tajamnya menyala oleh kombinasi antara amarah yang meledak, rasa dikhianati, dan cemburu yang luar biasa hebat. Raka menatap bagaimana gaun emerald green seksi i

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 22

    Emma menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang sekali lagi—lebih dalam, lebih teratur. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih bisa berdiri, masih bisa berjalan, masih bisa menghadapi semuanya.Perlahan, kakinya melangkah menuruni undukan t

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 21

    Keputusan itu tak menunggu lama untuk diberitahukan kepada Emma.Kini, ia kembali duduk di tempat yang sama, dengan punggung tegak menegang. Kedua tangannya menggenggam erat, menguatkan dirinya sendiri untuk mendengar hal yang paling buruk sekalipun.Di hadapannya, dosen dan para staf berjejer deng

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 20

    Ruang Kemahasiswaan terasa lebih dingin dari biasanya. Emma duduk di salah satu kursi, punggungnya tegak, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Di depannya, meja panjang membentang, memisahkan dirinya dengan Naomi, Olivia, Alicia dan mahasiswa-mahasiswi yang ikut dalam perang saling melempar m

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 19

    Beberapa orang langsung bergerak mendekati Emma. Kursi bergeser kasar, suara langkah tergesa mengelilingi Emma. Suasana yang tadinya cuma panas berubah jadi seperti menunggu ledakan besar. Mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun, yang terjadi sebaliknya, Emma bukannya mundur. Ia tidak l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status