Mag-log inMaura mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, darahnya terasa berdesir cepat seiring matanya yang tak bisa lepas dari pemandangan itu. Suaminya, lelaki yang selalu ia banggakan, yang dulu ia perjuangkan mati-matian, tengah bercinta dengan wanita lain. Dan yang paling menusuk jantungnya, wanita itu adalah adik sepupunya sendiri.
“Sejak kapan mereka bermain di belakangku?” “Sudah lama,” jawab Revan. Sontak Maura menoleh, menatap lelaki itu tak percaya. “Kamu tahu?” Revan menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Aku sudah tahu. Aku tak sengaja memergoki mereka dulu.” “K-Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku?” “Aku sudah mengingatkanmu berkali-kali, Maura. Tapi kamu selalu mengacuhkan perkataanku. Kamu terlalu percaya pada dia.” Benar, Revan memang seringkali menasihatinya, mengingatkannya tentang sikap Dimas yang mulai berubah, sering pulang terlambat, terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan Maura selalu membela Dimas, selalu menolak untuk curiga. Namun kini, melihat semuanya dengan mata kepala sendiri, ada sesuatu yang hancur di dalam dirinya. Dimas, lelaki yang selama ini ia kagumi, ternyata tidak sebaik yang ia bayangkan. “Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak ingin melabrak mereka?” tanya Revan, nada suaranya terdengar tak sabar melihat Maura hanya berdiri terpaku. “Ini bukan waktunya.” Revan menatapnya tidak percaya. “Tidak waktunya? Maura, kamu baru saja melihat mereka berdua ….” “Aku tahu!” potong Maura. “Aku tahu apa yang aku lihat barusan! Tapi kalau aku melabrak mereka sekarang, itu hanya akan membuatku terlihat menyedihkan. Aku tidak ingin mereka berpikir aku datang jauh-jauh hanya untuk memohon belas kasihan.” “Tapi …” “Dimas sudah mengkhianatiku. Aku tidak akan menangis dan merengek di hadapannya. Hal yang harus aku lakukan sekarang adalah membuat mereka hancur … sehancur-hancurnya.” Suara Maura terdengar dingin, ada bara amarah yang membara di dalamnya. Revan terdiam sejenak, terkejut melihat perubahan sikap Maura. “Apa yang ingin kamu lakukan?” tanyanya hati-hati. Maura menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras kuat. “Aku akan membalasnya.” “Dengan cara apa?” Revan mendekat, mencoba membaca isi pikiran wanita itu. Perlahan, Maura menoleh ke arah Revan. Pandangan matanya menusuk, tidak lagi sekadar istri yang disakiti, tapi seorang perempuan yang siap menyerang balik. *** Setelah kejadian kemarin, Maura memutuskan untuk tidak lagi membiarkan pikirannya dipenuhi bayangan Dimas. Tidak ada lagi air mata yang layak ia jatuhkan untuk seorang pria yang sudah mengkhianatinya. Menangisi seseorang yang tidak pantas hanya akan membuatnya terlihat lemah, dan ia muak merasa lemah. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah satu hal, membalas semua luka yang Dimas berikan, menghancurkan hidupnya seperti Dimas menghancurkan hatinya. Namun sebelum semua itu dimulai, ia ingin membersihkan diri. Tubuhnya lengket oleh keringat, dan mandi adalah cara terbaik untuk menghapus rasa penat sekaligus menenangkan pikirannya. Maura melangkah menuju kamar mandi. Tapi begitu memutar kran wastafel, tak ada setetes air pun yang keluar. “Kok mati?” gumamnya kesal. Ia mencoba memutar kran shower, hasilnya sama. Air benar-benar tak mengalir. Rasa jengkel bercampur lelah membuatnya mendengkus keras. Dengan handuk masih tersampir di bahunya, ia keluar kamar, niatnya mencari Revan untuk menanyakan kenapa air mati. Langkahnya terburu-buru, rambutnya sudah terikat asal, dan wajahnya masih merah karena emosi yang belum reda. Di ruang tengah, Revan yang sedang duduk di sofa menoleh cepat begitu mendengar suara pintu terbuka. Alisnya terangkat melihat Maura keluar hanya dengan pakaian rumah dan handuk di bahu. “Ada apa?” tanya Revan pelan. “Airnya mati. Aku mau mandi malah nggak bisa. Kenapa sih?” Nada kesal Maura terdengar jelas. Revan bangkit berdiri. “Mungkin pompa airnya mati. Biar aku cek dulu. Kalau kamu mau mandi, pakai saja kamar mandiku, di sana masih banyak air.” Maura hanya mengangguk singkat, menyilangkan tangan di dada. Frustrasi yang sedari tadi ia tahan kembali mendesak keluar. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah cepat menuju kamar Revan. Pintu kamar itu terbuka dengan bunyi kecil. Begitu masuk, Maura sempat tertegun. Meski kamar seorang pria, tempat itu begitu rapi. Seprai ranjang tertata tanpa satu pun kerutan, aroma wangi sabun bercampur harum kayu dari pengharum ruangan menyambutnya. Ia tahu sejak dulu Revan memang tipe lelaki yang suka kebersihan, tapi melihat langsung kamarnya seperti ini membuatnya sedikit kagum. Tatapannya sempat berhenti pada rak buku di sudut ruangan. Ada beberapa buku tentang bisnis, motivasi, juga satu-dua novel yang membuatnya mengernyit heran. Revan selalu terlihat cuek, tapi ternyata ia punya sisi yang berbeda. Maura meletakkan handuk di tepi ranjang, lalu masuk ke kamar mandi. Suara air yang mengalir akhirnya menenangkan kepalanya yang riuh oleh amarah dan kecewa. Beberapa menit kemudian, setelah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, Maura buru-buru melangkah menuju kamarnya. Handuk putih yang melilit tubuhnya menjadi satu-satunya penghalang antara kulitnya dan udara dingin. Ia baru ingat, baju ganti tertinggal di kamar. Begitu tiba di kamar, langkahnya terhenti mendadak. Napasnya tercekat melihat Revan berdiri di sana, memegang sesuatu yang seharusnya tersembunyi rapat di bawah tempat tidurnya, alat yang selama ini hanya berani ia gunakan di saat kesepian. “Kak Revan! Apa yang kamu lakukan?” suara Maura terdengar tajam, meski ada nada panik di dalamnya. Revan berdiri tegak, memegang benda itu dengan heran. “Aku cuma mau pastikan air di kamar kamu sudah nyala ... tapi aku menemukan ini di bawah ranjangmu.” Tatapan Maura membeku. Wajahnya memanas, bukan hanya karena malu, tapi juga karena merasa privasinya diusik. “Itu ... itu bukan urusan Kakak,” suaranya melemah karena gugup. Revan melangkah mendekat, matanya menatap lurus ke arah Maura. “Maura ... kamu menggunakan benda ini? Untuk ... memuaskan dirimu?” Bibir Maura kaku, tak sanggup langsung menjawab. Ia hanya bisa memeluk handuknya lebih erat sambil menunduk. “A-aku ...” napas Maura memburu. “Kak Revan, tolong kembalikan itu.” Suasana kamar mendadak hening, hanya terdengar napas mereka yang saling bertabrakan. Revan menatapnya cukup lama, ia ingin membaca semua luka dan kesepian yang Maura simpan sendiri. “Kenapa kamu sampai harus melakukan ini, Maura?” suara Revan terdengar rendah. “Apa kamu ... sudah sebegitu kesepiannya?” Mata Maura memerah. Pertanyaan itu menusuk terlalu dalam, tepat di titik rapuh yang selama ini ia sembunyikan. “Ya,” jawabnya pelan. “Aku kesepian. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Dimas menyentuhku.” “Kamu tidak pantas merasakan kesepian seperti ini,” ucap Revan lirih. Revan perlahan menurunkan benda itu, meletakkannya di meja. Pandangannya melembut, ada amarah yang tertahan dalam tatapannya. “Dimas benar-benar brengsek. Membiarkanmu sendirian di rumah, lalu bersenang-senang dengan wanita lain di belakangmu?” suara Revan terdengar tajam. “Kamu pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari ini, Maura. Kenapa kamu tidak menceraikannya saja?” lanjut Revan yang dipenuhi oleh emosi. “Kamu juga berhak bahagia. Kamu tidak harus terus bertahan di pernikahan yang hanya membuatmu menderita.” Maura menunduk. “Aku ... aku belum siap. Semua ini terlalu cepat. Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.” Revan menarik napas panjang, menahan diri untuk tidak mendorong Maura lebih jauh. Pandangannya melembut, tapi nada suaranya tetap tegas. “Kalau kamu belum siap, setidaknya jangan biarkan dirimu terus disakiti. Jangan biarkan dia merasa bisa memperlakukanmu seperti ini. Maura, kamu juga berhak bahagia. Dan kalau Dimas tidak bisa membahagiakanmu ...” Revan menatap Maura lekat, suaranya pun ikut merendah. “Aku bisa.” Maura sontak mengangkat wajahnya, matanya melebar menatap Revan. “Dengan ... cara apa?” Revan melangkah mendekat, perlahan, seakan memberi Maura waktu untuk mundur jika ia mau. Namun Maura tetap tak berkutik, tubuhnya menegang, jantungnya berdegup cepat. Tangan Revan terangkat, jari-jarinya menyentuh lembut bahu Maura yang terbuka, kulitnya masih lembap oleh sisa air mandi. Sentuhan itu membuat Maura menahan napas. “Dengan cara ini,” bisik Revan pelan, jemarinya bergerak pelan di sepanjang bahu hingga membuat Maura merinding. “Dengan membuatmu merasa hidup lagi ... membuatmu merasa diinginkan, bukan diabaikan.” Maura memejamkan mata sesaat, mencoba menahan gejolak perasaan yang campur aduk, ada sebuah rasa asing yang membuat jantungnya berdetak tak terkendali. “Revan ...” suara Maura begitu lirih, ia memohon. “Jangan ….” Namun Revan tidak menarik tangannya, hanya menatap Maura dengan sorot mata serius. “Kamu boleh marah, kamu boleh menolak. Tapi jangan terus-terusan menyiksa dirimu sendiri, Maura. Kamu berhak merasakan apa itu dicintai.” Saat jarak di antara mereka kian menipis dan bibir hampir bersentuhan, suara bariton Dimas tiba-tiba terdengar dari luar. “Maura ….”Hari berikutnya, Revan mengunjungi rumah Alyssa tepat setelah matahari mulai menyemburkan sinarnya ke langit. Udara pagi masih segar, tapi dia merasa tubuhnya terasa panas dan gelisah. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Alyssa membukanya dengan wajah yang masih sedikit pucat. Tanpa berkata apa-apa, dia mengizinkan Revan masuk ke ruang tamu. Revan berdiri di tengah ruangan, tidak berani duduk. Matanya menunduk, seolah tidak punya keberanian untuk melihat wajah Alyssa. "Aku mau minta maaf, Alyssa," ucapnya dengan suara rendah. "Untuk meninggalkanmu begitu saja di hari pertunangan kita. Itu tidak benar dan aku menyadari betapa salahku." Alyssa menutup pintu dengan perlahan, kemudian berdiri di hadapan Revan dengan jarak yang cukup jauh. Matanya tajam, penuh dengan emosi yang sudah menumpuk selama beberapa hari. "Kamu minta maaf karena merasa bersalah padaku, atau karena kamu harus meninggalkanku demi Maura? Apakah itu karena yang paling dalam di hatimu memang hanya padanya?" Revan
Malam telah menyelimuti rumah baru Maura dengan selimut kegelapan yang dalam. Cahaya lampu taman di halaman hanya menerangi sebagian kecil area depan pintu, membuat sudut-sudut rumah terlihat semakin sunyi. Maura sedang duduk di sofa ruang tamu, sambil menatap layar televisi yang menyala tapi tidak ada yang ia lihat. Tiba-tiba, suara bel berbunyi dengan keras, membuat Maura terkejut hingga tubuhnya sedikit melompat. Pasalnya hari sudah gelap, atau mungkin itu Dimas yang pulang, pikirnya sambil menghela napas lega. Tanpa berlama-lama, ia pun bangkit dari sofa dan bergegas menuju pintu. Tangannya terulur meraih gagang pintu kayu yang hangat karena terkena sinar lampu ruangan, tapi saat pintu terbuka lebar, ia terkesiap. Di depan dia berdiri Alyssa, wanita itu mengenakan baju warna cream dengan rok hitam, rambutnya terurai rapi di pundaknya. Wajahnya terlihat pucat di bawah cahaya lampu taman, dan matanya penuh dengan emosi yang tidak bisa Maura tebak. "Alyssa?" ucap Maura dengan su
Nabila menutup mulutnya, berusaha menahan gelombang mual yang datang tiba-tiba. Ia melihat tatapan kaget Maura, lalu berusaha tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Kak, mungkin aku hanya masuk angin karena semalaman menjaga Kakak," kilahnya, suaranya sedikit bergetar. Maura mengerutkan kening, menatap Nabila skeptis. Ia tahu betul bagaimana rasanya mual karena kehamilan. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. "Ya sudah, kamu istirahat saja." "Iya, Kak, tapi aku ada kelas sore ini," jawab Nabila, masih berusaha terlihat baik-baik saja. "Tapi kamu kelihatan tidak sehat." Maura bersikeras, mengamati wajah Nabila yang pucat. Nabila melangkah mendekat, menggenggam tangan Maura erat. "Kakak tenang saja, aku tidak apa-apa, mungkin aku hanya kecapean saja karena belum tidur," katanya, mencoba meyakinkan Maura dan dirinya sendiri. Maura menghela napas, melepaskan genggaman Nabila perlahan. "Ya sudah, tapi kamu harus tetap jaga kesehatan, ya." "Baik, Kak, Kakak juga. Aku perg
Pagi menyingsing dengan sinar matahari yang menyusup melalui tirai tebal rumah besar keluarga Revan. Ia baru saja pulang dari rumah sakit, jas tuxedonya kusut, matanya merah karena kurang tidur. Ia baru saja menutup pintu kamar mandi setelah mandi cepat ketika pintu kamarnya dibanting terbuka. Cornelia berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam karena amarah. Gaun tidurnya yang biasanya rapi kini acak-acakan, rambutnya yang selalu tersisir sempurna berantakan. "Revan! Kamu berani-beraninya pulang pagi-pagi begini setelah apa yang kamu lakukan semalam?!" teriaknya, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Revan menoleh, wajahnya tetap tenang meski hatinya bergejolak. "Mama ..." "Jangan panggil Mama dengan nada seolah kamu tidak bersalah!" potong Cornelia kasar, melangkah mendekat sambil menunjuk wajah Revan. "Kamu tinggalkan pesta pertunanganmu sendiri! Di depan semua tamu! Di depan Alyssa dan ayahnya! Kamu serahkan cincin itu dan pergi begitu saja seperti orang gila! Apa yang
Maura membuka bibirnya, hendak mengucapkan sesuatu, hendak mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia pendam, kebenaran tentang perasaannya, tentang rahasia besar yang bersarang di rahimnya. Namun, tiba-tiba suster masuk ke dalam ruangan, menginterupsi momen intim mereka. Revan dan Maura terkesiap, segera menjauhkan diri satu sama lain. Suster itu tersenyum ramah, membawa sebuah papan catatan di tangannya. "Selamat malam, Bu Maura. Bagaimana perasaan Anda?" Ia melangkah mendekat, matanya meneliti grafik di papan. "Saya perlu mengecek kondisi Anda sebentar." Maura mengangguk, napasnya masih terengah. Ia melirik Revan yang berdiri kaku di sisi ranjang, wajahnya tegang. Suster itu memeriksa infus Maura, lalu menatapnya dengan senyum penuh arti. "Ibu Maura, kondisi Anda mulai membaik. Namun, Anda harus lebih banyak beristirahat dan tidak terlalu stres. Kehamilan Anda masih sangat muda, jadi perlu perhatian ekstra." Mendengar itu, Revan kaget. Tubuhnya menegang, matanya membelalak,
Bibir Maura merekah, seolah mengundang, dan Revan tak menyia-nyiakannya. Ia terus saja melumatnya, merasakan manisnya bibir itu, kelembutan yang memabukkan, aroma Maura yang memabukkan indranya. Awalnya, ciuman itu lembut, sebuah sentuhan rindu yang lama terpendam, ungkapan maaf tanpa kata. Namun, semakin lama, sentuhan itu semakin menuntut, semakin dalam, meminta balasan yang lebih dari sekadar pasif. Revan menangkup wajah Maura dengan kedua tangannya, ibu jarinya membelai pipi Maura yang basah oleh air mata. Ia memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman, lidahnya menyusup masuk, menjelajahi setiap inci rongga mulut Maura. Sebuah erangan pelan lolos dari bibir Maura. Tangannya yang semula pasif kini bergerak, melingkar ke leher Revan, menariknya mendekat, seolah ingin tenggelam dalam ciuman itu. Napas mereka memburu, berpadu dalam irama yang semakin cepat. Maura merasakan getaran arus listrik menjalar ke seluruh tubuhnya, melupakan sejenak rasa pusing dan mual yang tadi menyerang







