Startseite / Romansa / Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar / Bab 82 : Harapan yang Menyakitkan

Teilen

Bab 82 : Harapan yang Menyakitkan

last update Zuletzt aktualisiert: 19.12.2025 22:23:48

Setelah pertemuannya dengan Usman beberapa hari lalu, tubuh Cornelia terasa sangat lelah, ia terus saja memikirkan perjodohan Revan dan Alyssa, ia takut bahwa semua rencananya akan hancur dan Revan akan menolak terus.

Cornelia melangkah perlahan menuju ruang tamu, tapi kakinya terasa goyah. "Rena!" panggilnya dengan suara lemah ke arah dapur.

Rena yang sedang membersihkan peralatan makan di dapur mendengar panggilan dari Cornelia. Ia pun langsung berlari keluar, wajahnya terlihat khawatir ketika melihat Cornelia. "Iya, Nyonya?"

Cornelia duduk pelan di sofa, dadanya terasa sesak. "Tolong buatkan aku teh hangat, ya. Aku sedang tidak enak badan."

"Baik, Nyonya," jawab Rena dengan cepat. Tapi sebelum dia kembali ke dapur, matanya melihat tubuh Cornelia yang limbung, wajah yang pucat dan kering. Dia mendekat lagi, tangannya menopang bahu Cornelia. "Nyonya, Anda tidak apa-apa? Tubuh Anda terlihat goyah. Biar saya bantu Anda ke kamar, biar lebih nyaman berbaring."

Cornelia hanya bisa m
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 106: Pertemuan Setelah Malam Itu

    Hari berikutnya, Revan mengunjungi rumah Alyssa tepat setelah matahari mulai menyemburkan sinarnya ke langit. Udara pagi masih segar, tapi dia merasa tubuhnya terasa panas dan gelisah. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Alyssa membukanya dengan wajah yang masih sedikit pucat. Tanpa berkata apa-apa, dia mengizinkan Revan masuk ke ruang tamu. Revan berdiri di tengah ruangan, tidak berani duduk. Matanya menunduk, seolah tidak punya keberanian untuk melihat wajah Alyssa. "Aku mau minta maaf, Alyssa," ucapnya dengan suara rendah. "Untuk meninggalkanmu begitu saja di hari pertunangan kita. Itu tidak benar dan aku menyadari betapa salahku." Alyssa menutup pintu dengan perlahan, kemudian berdiri di hadapan Revan dengan jarak yang cukup jauh. Matanya tajam, penuh dengan emosi yang sudah menumpuk selama beberapa hari. "Kamu minta maaf karena merasa bersalah padaku, atau karena kamu harus meninggalkanku demi Maura? Apakah itu karena yang paling dalam di hatimu memang hanya padanya?" Revan

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 105: Permintaan Alyssa

    Malam telah menyelimuti rumah baru Maura dengan selimut kegelapan yang dalam. Cahaya lampu taman di halaman hanya menerangi sebagian kecil area depan pintu, membuat sudut-sudut rumah terlihat semakin sunyi. Maura sedang duduk di sofa ruang tamu, sambil menatap layar televisi yang menyala tapi tidak ada yang ia lihat. Tiba-tiba, suara bel berbunyi dengan keras, membuat Maura terkejut hingga tubuhnya sedikit melompat. Pasalnya hari sudah gelap, atau mungkin itu Dimas yang pulang, pikirnya sambil menghela napas lega. Tanpa berlama-lama, ia pun bangkit dari sofa dan bergegas menuju pintu. Tangannya terulur meraih gagang pintu kayu yang hangat karena terkena sinar lampu ruangan, tapi saat pintu terbuka lebar, ia terkesiap. Di depan dia berdiri Alyssa, wanita itu mengenakan baju warna cream dengan rok hitam, rambutnya terurai rapi di pundaknya. Wajahnya terlihat pucat di bawah cahaya lampu taman, dan matanya penuh dengan emosi yang tidak bisa Maura tebak. "Alyssa?" ucap Maura dengan su

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 104: Mual yang Mencurigakan

    Nabila menutup mulutnya, berusaha menahan gelombang mual yang datang tiba-tiba. Ia melihat tatapan kaget Maura, lalu berusaha tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Kak, mungkin aku hanya masuk angin karena semalaman menjaga Kakak," kilahnya, suaranya sedikit bergetar. Maura mengerutkan kening, menatap Nabila skeptis. Ia tahu betul bagaimana rasanya mual karena kehamilan. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. "Ya sudah, kamu istirahat saja." "Iya, Kak, tapi aku ada kelas sore ini," jawab Nabila, masih berusaha terlihat baik-baik saja. "Tapi kamu kelihatan tidak sehat." Maura bersikeras, mengamati wajah Nabila yang pucat. Nabila melangkah mendekat, menggenggam tangan Maura erat. "Kakak tenang saja, aku tidak apa-apa, mungkin aku hanya kecapean saja karena belum tidur," katanya, mencoba meyakinkan Maura dan dirinya sendiri. Maura menghela napas, melepaskan genggaman Nabila perlahan. "Ya sudah, tapi kamu harus tetap jaga kesehatan, ya." "Baik, Kak, Kakak juga. Aku perg

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 103: Amarah Cornelia

    Pagi menyingsing dengan sinar matahari yang menyusup melalui tirai tebal rumah besar keluarga Revan. Ia baru saja pulang dari rumah sakit, jas tuxedonya kusut, matanya merah karena kurang tidur. Ia baru saja menutup pintu kamar mandi setelah mandi cepat ketika pintu kamarnya dibanting terbuka. Cornelia berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam karena amarah. Gaun tidurnya yang biasanya rapi kini acak-acakan, rambutnya yang selalu tersisir sempurna berantakan. "Revan! Kamu berani-beraninya pulang pagi-pagi begini setelah apa yang kamu lakukan semalam?!" teriaknya, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Revan menoleh, wajahnya tetap tenang meski hatinya bergejolak. "Mama ..." "Jangan panggil Mama dengan nada seolah kamu tidak bersalah!" potong Cornelia kasar, melangkah mendekat sambil menunjuk wajah Revan. "Kamu tinggalkan pesta pertunanganmu sendiri! Di depan semua tamu! Di depan Alyssa dan ayahnya! Kamu serahkan cincin itu dan pergi begitu saja seperti orang gila! Apa yang

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 102: Rahasia yang Terungkap

    Maura membuka bibirnya, hendak mengucapkan sesuatu, hendak mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia pendam, kebenaran tentang perasaannya, tentang rahasia besar yang bersarang di rahimnya. Namun, tiba-tiba suster masuk ke dalam ruangan, menginterupsi momen intim mereka. Revan dan Maura terkesiap, segera menjauhkan diri satu sama lain. Suster itu tersenyum ramah, membawa sebuah papan catatan di tangannya. "Selamat malam, Bu Maura. Bagaimana perasaan Anda?" Ia melangkah mendekat, matanya meneliti grafik di papan. "Saya perlu mengecek kondisi Anda sebentar." Maura mengangguk, napasnya masih terengah. Ia melirik Revan yang berdiri kaku di sisi ranjang, wajahnya tegang. Suster itu memeriksa infus Maura, lalu menatapnya dengan senyum penuh arti. "Ibu Maura, kondisi Anda mulai membaik. Namun, Anda harus lebih banyak beristirahat dan tidak terlalu stres. Kehamilan Anda masih sangat muda, jadi perlu perhatian ekstra." Mendengar itu, Revan kaget. Tubuhnya menegang, matanya membelalak,

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 101: Gairah yang Melampaui Batas

    Bibir Maura merekah, seolah mengundang, dan Revan tak menyia-nyiakannya. Ia terus saja melumatnya, merasakan manisnya bibir itu, kelembutan yang memabukkan, aroma Maura yang memabukkan indranya. Awalnya, ciuman itu lembut, sebuah sentuhan rindu yang lama terpendam, ungkapan maaf tanpa kata. Namun, semakin lama, sentuhan itu semakin menuntut, semakin dalam, meminta balasan yang lebih dari sekadar pasif. Revan menangkup wajah Maura dengan kedua tangannya, ibu jarinya membelai pipi Maura yang basah oleh air mata. Ia memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman, lidahnya menyusup masuk, menjelajahi setiap inci rongga mulut Maura. Sebuah erangan pelan lolos dari bibir Maura. Tangannya yang semula pasif kini bergerak, melingkar ke leher Revan, menariknya mendekat, seolah ingin tenggelam dalam ciuman itu. Napas mereka memburu, berpadu dalam irama yang semakin cepat. Maura merasakan getaran arus listrik menjalar ke seluruh tubuhnya, melupakan sejenak rasa pusing dan mual yang tadi menyerang

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status