Masuk"Tidak apa-apa, aku hanya sedang mengucapkan selamat kepada Maura," kata Revan dengan nada yang tenang, mencoba menutupi kekagetannya saat melihat Nabila tiba-tiba muncul. Matanya tetap terpaku pada gadis muda itu, seolah mencoba membaca apa yang ada di dalam pikirannya. "Oh begitu ya," jawab Nabila dengan suara yang sedikit serak. Ia menghela napas perlahan, mencoba menenangkan diri yang masih bergetar. "Tante Cornelia menyuruh kita untuk makan malam. Sudah ada banyak hidangan yang sudah disiapkan." "Baiklah, kami akan turun sebentar lagi," jawab Maura dengan cepat, merasa bahwa suasana sudah menjadi tidak nyaman. Ia tidak bisa menghindari rasa cemas yang muncul setiap kali melihat wajah Nabila yang penuh dengan emosi tersembunyi. Mereka beranjak dari lorong dan menuju ruang makan yang luas. Meja makan kayu besar sudah dihiasi dengan indah, lengkap dengan lilin kecil yang menyala dan hidangan lezat yang menggugah selera — dari sup krim jagung hingga ikan bakar yang masih mengelua
Maura, Cornelia, Alyssa, dan Revan sedang berada di ruang keluarga yang hangat dan penuh dengan dekorasi bunga segar. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit menerangi ruangan dengan cahaya yang hangat. Cornelia duduk di sofa tengah dengan wajah yang bersinar bahagia, sementara Alyssa duduk di sisinya, tangan terlipat rapi di pangkuannya. Maura duduk di sofa berlawanan dengan Alyssa, sementara Revan masih berdiri di dekat jendela, memandang jauh ke luar tanpa fokus pada sesuatu tertentu. "Mama sangat bahagia mendengar kehamilanmu, Maura," ucap Cornelia dengan suara yang penuh kegembiraan, menepuk tangan Maura dengan lembut. "Bukan hanya itu, Mama juga sangat bahagia akhirnya sebentar lagi Alyssa dan Revan akan segera menikah." Cornelia menoleh ke arah Alyssa, wajahnya terpampang senyum hangat. "Alyssa sudah seperti anak perempuan bagiku, selalu sopan dan perhatian. Tante yakin kamu akan menjadi istri yang baik untuk Revan." "Iya, Tante. Aku juga sangat bahagia dengan
"Aku hamil anakmu, Kak Dimas! Kamu harus tanggung jawab padaku dan anak ini!" ucap Nabila dengan suara yang mulai terisak, air mata sudah mulai mengalir di pipinya yang pucat. Dia melihat Dimas dengan tatapan penuh harapan, berharap pria itu akan menerima kebenaran dan mengambil tanggung jawabnya. Dimas mundur satu langkah, wajahnya penuh dengan kemarahan yang muncul begitu saja. Matanya menjadi merah dan bibirnya bergetar. "Jangan bodoh, Nabila!" serunya dengan suara yang menggelegar di teras sepi itu. "Aku selalu bilang padamu untuk minum obat setelah kita melakukannya! Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali agar tidak sampai seperti ini. Apa kamu tidak meminumnya?" Nabila menggoyangkan kepalanya dengan kuat, tangannya mulai menggigil. "Aku sudah minum obat seperti yang kamu katakan, Kak Dimas! Tapi ... tapi obat itu tidak bekerja. Aku tidak tahu kenapa bisa terjadi seperti ini!" Dimas menghela napas dengan sangat dalam, tangannya menyambar rambutnya dengan frustasi. Dia berjala
Dimas menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan menjadi sunyi mendadak, "Aku dan Maura ... kami … akan memiliki anak." Deg! Semua orang kaget. Cornelia membuka mulut lebar tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Alyssa terkejut hingga tubuhnya sedikit melompat dari tempat duduknya. Bahkan Revan — pria yang biasanya menjaga ekspresi wajahnya dengan baik — kini wajahnya memucat dan mata melotot tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar. Bisa-bisanya Dimas mengklaim bahwa itu adalah anaknya! Nabila pun tidak luput dari kejutan. Tubuhnya menjadi kaku seketika, tangan yang sedang menggenggam ujung bajunya terhenti. Dia sudah mengetahui bahwa dirinya tengah hamil anak Dimas, tapi belum siap memberitahukan pada pria itu — bahkan dalam setiap kesempatan mereka berhubungan, Dimas selalu berkata bahwa ia adalah satu-satunya yang dicintainya. Tapi kini kenapa semuanya seperti ini? Bagaimana mungkin Maura juga tengah hamil anak Dimas padahal mereka sud
"Aku ..." Maura berkata dengan suara gemetar, lidahnya seperti terkunci dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata lain. Hatinya berdebar kencang, pikirannya berpacu mencari alasan yang tepat. Terlalu jelas dalam benaknya — dia dan Dimas sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri, bahkan sudah berbulan-bulan mereka tidur terpisah dan menghindari sentuhan fisik satu sama lain. Bagaimana dia bisa menjelaskan bahwa anak di dalam rahimnya bukan dari suaminya? "Kenapa kamu tidak bilang sama aku, Maura?" "Mas, aku bisa jelasin," ucap Maura dengan hati-hati, tubuhnya sudah bergetar hebat. Dia ingin menjawab dengan jujur, tapi kata-kata itu seperti terkunci di dalam dadanya yang sesak. Namun Maura kaget saat Dimas tiba-tiba menelungkupinya erat, pelukannya hangat dan membuat tubuhnya terasa lebih stabil. "Kamu tahu aku sangat senang mendengar ini, Sayang. Akhirnya kita akan punya anak." Apa maksudnya? gumam Maura dalam hati, wajahnya terlihat begitu bingung terhadap ucapan Dimas. Dia mer
Fajar menyingsing, memecah kegelapan malam dengan warna jingga yang lembut menyebar di ufuk timur. Dimas baru pulang kerja pagi harinya, setelah semalaman lembur di kantor mengurus masalah proyek yang mendadak mengalami kendala di lokasi. Tubuhnya terasa sangat lelah, tulang-tulangnya seperti diberi beban berat, matanya perih karena mengantuk, dan pikirannya dipenuhi kekesalan terhadap situasi yang tidak kunjung membaik. Ia membuka pintu rumah dengan kunci yang terasa dingin di tangannya, lalu masuk ke dalam rumah yang terasa sepi dan sunyi. Udara di dalam rumah masih dingin, AC bekerja dengan stabil mengeluarkan udara sejuk. Dimas melepas sepatunya dengan susah payah, lalu melangkah ke arah ruang tamu. Saat ia sampai di sana, matanya yang sudah mulai kabur karena kantuk tiba-tiba terfokus pada sesuatu yang janggal di atas meja kopi kayu yang selalu rapi. Sebuah buket mawar merah segar tergeletak di sana, kelopaknya masih basah oleh embun pagi yang belum kering, dan di sampingnya ad







