Beranda / Romansa / Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar / Bab 95: Mual yang Mengguncang

Share

Bab 95: Mual yang Mengguncang

Penulis: Vanilla_Nilla
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 21:48:19

Beberapa menit setelah Revan dan Alyssa pergi, suasana butik kembali tenang. Maura masih berdiri di dekat etalase, memandang mobil Revan yang menghilang di ujung jalan. Adegan tadi saat Revan melepaskan rangkulan Alyssa dengan dingin, membuat pikirannya semakin kacau.

'Kenapa Revan begitu kasar padanya? Dan Alyssa... kenapa dia tak marah padaku?' Pertanyaan-pertanyaan itu berputar seperti badai di kepalanya.

Tiba-tiba, gelombang mual datang menggila. Perut Maura bergejolak hebat, seperti ada yang berontak di dalamnya.

"Hooeek ... hoeek ..." Suara muntah kering keluar dari mulutnya, tangannya memegang perut erat-erat. Kepalanya terasa pusing berputar, pandangannya kabur sejenak. Ia tersandung mundur, memegang meja resepsionis agar tak jatuh. Tubuhnya panas dingin, keringat dingin membasahi dahi.

'Apa ini? Kenapa aku mual-mual begini?' batin Maura berpacu, mual ini terasa berbeda, lebih dalam, seperti rahasia tubuhnya sendiri yang mulai memberontak.

Diva, yang sedang merapikan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 112: Kegagalan yang Tak Terduga

    "Tidak apa-apa, aku hanya sedang mengucapkan selamat kepada Maura," kata Revan dengan nada yang tenang, mencoba menutupi kekagetannya saat melihat Nabila tiba-tiba muncul. Matanya tetap terpaku pada gadis muda itu, seolah mencoba membaca apa yang ada di dalam pikirannya. "Oh begitu ya," jawab Nabila dengan suara yang sedikit serak. Ia menghela napas perlahan, mencoba menenangkan diri yang masih bergetar. "Tante Cornelia menyuruh kita untuk makan malam. Sudah ada banyak hidangan yang sudah disiapkan." "Baiklah, kami akan turun sebentar lagi," jawab Maura dengan cepat, merasa bahwa suasana sudah menjadi tidak nyaman. Ia tidak bisa menghindari rasa cemas yang muncul setiap kali melihat wajah Nabila yang penuh dengan emosi tersembunyi. Mereka beranjak dari lorong dan menuju ruang makan yang luas. Meja makan kayu besar sudah dihiasi dengan indah, lengkap dengan lilin kecil yang menyala dan hidangan lezat yang menggugah selera — dari sup krim jagung hingga ikan bakar yang masih mengelua

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 111: Rahasia di Balik Cahaya Bulan

    Maura, Cornelia, Alyssa, dan Revan sedang berada di ruang keluarga yang hangat dan penuh dengan dekorasi bunga segar. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit menerangi ruangan dengan cahaya yang hangat. Cornelia duduk di sofa tengah dengan wajah yang bersinar bahagia, sementara Alyssa duduk di sisinya, tangan terlipat rapi di pangkuannya. Maura duduk di sofa berlawanan dengan Alyssa, sementara Revan masih berdiri di dekat jendela, memandang jauh ke luar tanpa fokus pada sesuatu tertentu. "Mama sangat bahagia mendengar kehamilanmu, Maura," ucap Cornelia dengan suara yang penuh kegembiraan, menepuk tangan Maura dengan lembut. "Bukan hanya itu, Mama juga sangat bahagia akhirnya sebentar lagi Alyssa dan Revan akan segera menikah." Cornelia menoleh ke arah Alyssa, wajahnya terpampang senyum hangat. "Alyssa sudah seperti anak perempuan bagiku, selalu sopan dan perhatian. Tante yakin kamu akan menjadi istri yang baik untuk Revan." "Iya, Tante. Aku juga sangat bahagia dengan

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 110: Kemarahan Nabila

    "Aku hamil anakmu, Kak Dimas! Kamu harus tanggung jawab padaku dan anak ini!" ucap Nabila dengan suara yang mulai terisak, air mata sudah mulai mengalir di pipinya yang pucat. Dia melihat Dimas dengan tatapan penuh harapan, berharap pria itu akan menerima kebenaran dan mengambil tanggung jawabnya. Dimas mundur satu langkah, wajahnya penuh dengan kemarahan yang muncul begitu saja. Matanya menjadi merah dan bibirnya bergetar. "Jangan bodoh, Nabila!" serunya dengan suara yang menggelegar di teras sepi itu. "Aku selalu bilang padamu untuk minum obat setelah kita melakukannya! Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali agar tidak sampai seperti ini. Apa kamu tidak meminumnya?" Nabila menggoyangkan kepalanya dengan kuat, tangannya mulai menggigil. "Aku sudah minum obat seperti yang kamu katakan, Kak Dimas! Tapi ... tapi obat itu tidak bekerja. Aku tidak tahu kenapa bisa terjadi seperti ini!" Dimas menghela napas dengan sangat dalam, tangannya menyambar rambutnya dengan frustasi. Dia berjala

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 109 : Meminta Hak

    Dimas menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan menjadi sunyi mendadak, "Aku dan Maura ... kami … akan memiliki anak." Deg! Semua orang kaget. Cornelia membuka mulut lebar tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Alyssa terkejut hingga tubuhnya sedikit melompat dari tempat duduknya. Bahkan Revan — pria yang biasanya menjaga ekspresi wajahnya dengan baik — kini wajahnya memucat dan mata melotot tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar. Bisa-bisanya Dimas mengklaim bahwa itu adalah anaknya! Nabila pun tidak luput dari kejutan. Tubuhnya menjadi kaku seketika, tangan yang sedang menggenggam ujung bajunya terhenti. Dia sudah mengetahui bahwa dirinya tengah hamil anak Dimas, tapi belum siap memberitahukan pada pria itu — bahkan dalam setiap kesempatan mereka berhubungan, Dimas selalu berkata bahwa ia adalah satu-satunya yang dicintainya. Tapi kini kenapa semuanya seperti ini? Bagaimana mungkin Maura juga tengah hamil anak Dimas padahal mereka sud

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 108 : Saat Kebenaran Belum Berani Bicara

    "Aku ..." Maura berkata dengan suara gemetar, lidahnya seperti terkunci dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata lain. Hatinya berdebar kencang, pikirannya berpacu mencari alasan yang tepat. Terlalu jelas dalam benaknya — dia dan Dimas sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri, bahkan sudah berbulan-bulan mereka tidur terpisah dan menghindari sentuhan fisik satu sama lain. Bagaimana dia bisa menjelaskan bahwa anak di dalam rahimnya bukan dari suaminya? "Kenapa kamu tidak bilang sama aku, Maura?" "Mas, aku bisa jelasin," ucap Maura dengan hati-hati, tubuhnya sudah bergetar hebat. Dia ingin menjawab dengan jujur, tapi kata-kata itu seperti terkunci di dalam dadanya yang sesak. Namun Maura kaget saat Dimas tiba-tiba menelungkupinya erat, pelukannya hangat dan membuat tubuhnya terasa lebih stabil. "Kamu tahu aku sangat senang mendengar ini, Sayang. Akhirnya kita akan punya anak." Apa maksudnya? gumam Maura dalam hati, wajahnya terlihat begitu bingung terhadap ucapan Dimas. Dia mer

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 107 : Buket Pagi dan Sebuah Kebenaran

    Fajar menyingsing, memecah kegelapan malam dengan warna jingga yang lembut menyebar di ufuk timur. Dimas baru pulang kerja pagi harinya, setelah semalaman lembur di kantor mengurus masalah proyek yang mendadak mengalami kendala di lokasi. Tubuhnya terasa sangat lelah, tulang-tulangnya seperti diberi beban berat, matanya perih karena mengantuk, dan pikirannya dipenuhi kekesalan terhadap situasi yang tidak kunjung membaik. Ia membuka pintu rumah dengan kunci yang terasa dingin di tangannya, lalu masuk ke dalam rumah yang terasa sepi dan sunyi. Udara di dalam rumah masih dingin, AC bekerja dengan stabil mengeluarkan udara sejuk. Dimas melepas sepatunya dengan susah payah, lalu melangkah ke arah ruang tamu. Saat ia sampai di sana, matanya yang sudah mulai kabur karena kantuk tiba-tiba terfokus pada sesuatu yang janggal di atas meja kopi kayu yang selalu rapi. Sebuah buket mawar merah segar tergeletak di sana, kelopaknya masih basah oleh embun pagi yang belum kering, dan di sampingnya ad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status