MasukMaura perlahan turun dari taksi, membayar ongkos dengan tangan yang sedikit gemetar. Setelah sopir taksi mengangkat tangan sebagai ucapan selamat malam dan kemudian mengemudi menjauh, dia menoleh dan berjalan pelan ke arah Revan. Langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya, meskipun hati masih berdebar kencang seperti akan keluar dari dada. "Kak ... kamu ngapain di sini?" tanya Maura dengan suara lembut yang hanya bisa terdengar di antara hembusan angin malam. Matanya tidak bisa lepas dari wajah Revan yang terpapar cahaya lampu pagar dengan lembut. Revan sedikit mengangkat bahu, kemudian menjauhkan tangannya dari saku celananya. "Aku hanya ingin bertemu dengamu," jawabnya dengan nada yang dalam dan penuh dengan makna. Ia melangkah satu langkah mendekat, membuat jarak antara mereka semakin menyempit. "Setelah kejadian tadi malam, aku tidak bisa tinggal diam dan hanya berpikir tentangmu." Maura mengerutkan kening dengan tatapan penuh kebingungan. "Tapi kamu tahu dari siapa rumahku?
Setelah Maura membawa Nabila keluar dari ruangan, Revan langsung mengeluarkan Alyssa dari ruang tamu menuju teras belakang yang sunyi. Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka, namun tidak mampu mendinginkan amarah yang sedang meluap di dalam diri Alyssa — atau kemarahan Revan yang baru saja muncul ke permukaan. "Kenapa kamu berkata kasar pada Nabila?!" hardik Revan dengan suara yang mengguntur, wajahnya memerah karena kemarahan. Matanya yang biasanya tenang kini membara seperti bara api, menatap Alyssa dengan penuh ketidaksetujuan. "Dia baru saja pingsan dan dalam kondisi yang sangat lemah, tapi kamu bahkan berani menarik rambutnya dan hampir menamparnya!" Alyssa menoleh, tidak mau melihat wajah Revan yang sedang marah padanya. "Dia sudah mengaku hamil dan menyatakan kalau anaknya adalah milikmu! Bagaimana mungkin aku tidak kesal?!" ucapnya dengan suara yang sama kerasnya, tubuhnya menggigil karena emosi yang mendalam. "Kalau kamu tidak marah, itu bukan berarti aku juga harus d
"Jangan pernah menampar Nabila!" kata Maura dengan suara yang tegas dan penuh dengan keyakinan, tangan kanannya dengan cepat menghalangi tangan Alyssa yang hampir mengenai wajah Nabila. Matanya yang biasanya lembut kini menunjukkan ketegasan yang jarang terlihat. "Eeeh!" Alyssa kesal, ia dengan kasar menepis tangan Maura. Wajahnya merah membara karena kemarahan yang meluap. "Kalau saja dia bukan adikmu, aku sudah membunuhnya!" serunya dengan suara yang mengguntur, membuat seluruh ruangan terasa semakin tegang. "Silakan saja kalau kamu bisa," tantang Maura yang tidak ada rasa takutnya sama sekali. Ia berdiri tepat di depan Nabila, seperti ingin melindungi gadis muda itu. "Tapi kamu harus tahu bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, Alyssa. Jangan sampai kamu menyesal karena melakukan sesuatu yang tidak bisa kamu ubah lagi." Alyssa terpana dengan jawaban Maura, matanya melotot tidak percaya. "Kamu ...?" ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Kamu membela adik sialanmu ini
Nabila keluar dari kamar dengan langkah yang goyah, tubuhnya masih terasa lemah setelah pingsan tadi. Ia melihat semua orang telah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan — ada kekhawatiran, namun juga rasa penasaran yang jelas terpampang di wajah mereka. Pandangan matanya perlahan jatuh pada Cornelia yang duduk di sofa, tangan terlipat rapi di pangkuannya sambil memperhatikannya dengan seksama. Air mata Nabila tak bisa dibendung lagi, luruh begitu saja membasahi wajahnya yang masih pucat. Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas, gadis itu tidak punya kekuatan untuk berdiri lagi. "Dokter Reza bilang kamu hamil," ucap Cornelia dengan suara yang tenang namun penuh dengan kekerasan. Matanya yang biasanya lembut kini tampak tajam seperti pisau. "Kenapa begitu? Siapa ayah dari anakmu itu? Jangan kau sembunyikan dari kami, Nabila." Lutut Nabila terasa lemas seketika, tubuhnya pun bergetar hebat sebelum akhirnya luruh ke lantai yang dingin. "Maafkan aku, Tante ..." ujarnya dengan
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang mengucapkan selamat kepada Maura," kata Revan dengan nada yang tenang, mencoba menutupi kekagetannya saat melihat Nabila tiba-tiba muncul. Matanya tetap terpaku pada gadis muda itu, seolah mencoba membaca apa yang ada di dalam pikirannya. "Oh begitu ya," jawab Nabila dengan suara yang sedikit serak. Ia menghela napas perlahan, mencoba menenangkan diri yang masih bergetar. "Tante Cornelia menyuruh kita untuk makan malam. Sudah ada banyak hidangan yang sudah disiapkan." "Baiklah, kami akan turun sebentar lagi," jawab Maura dengan cepat, merasa bahwa suasana sudah menjadi tidak nyaman. Ia tidak bisa menghindari rasa cemas yang muncul setiap kali melihat wajah Nabila yang penuh dengan emosi tersembunyi. Mereka beranjak dari lorong dan menuju ruang makan yang luas. Meja makan kayu besar sudah dihiasi dengan indah, lengkap dengan lilin kecil yang menyala dan hidangan lezat yang menggugah selera — dari sup krim jagung hingga ikan bakar yang masih mengelua
Maura, Cornelia, Alyssa, dan Revan sedang berada di ruang keluarga yang hangat dan penuh dengan dekorasi bunga segar. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit menerangi ruangan dengan cahaya yang hangat. Cornelia duduk di sofa tengah dengan wajah yang bersinar bahagia, sementara Alyssa duduk di sisinya, tangan terlipat rapi di pangkuannya. Maura duduk di sofa berlawanan dengan Alyssa, sementara Revan masih berdiri di dekat jendela, memandang jauh ke luar tanpa fokus pada sesuatu tertentu. "Mama sangat bahagia mendengar kehamilanmu, Maura," ucap Cornelia dengan suara yang penuh kegembiraan, menepuk tangan Maura dengan lembut. "Bukan hanya itu, Mama juga sangat bahagia akhirnya sebentar lagi Alyssa dan Revan akan segera menikah." Cornelia menoleh ke arah Alyssa, wajahnya terpampang senyum hangat. "Alyssa sudah seperti anak perempuan bagiku, selalu sopan dan perhatian. Tante yakin kamu akan menjadi istri yang baik untuk Revan." "Iya, Tante. Aku juga sangat bahagia dengan







