Share

bab 149

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-03-29 22:57:33

“Mama, tadi aku gambar ini.”

Arlan menunjukkan gambar keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, nenek dan dirinya. Sasha tersenyum melihatnya.

“Ini siapa?”

“Papa.”

“Kok gelap wajahnya?” tanya Sasha.

“Habis Arlan gak tau wajah Papa gimana. Mama gak kasih tahu.”

Sasha hanya mengusap kepala Arlan, lalu meletakkan kertas gambar itu.

“Arlan mau makan apa? Biar mama siapkan,” kilah Sasha mengalihkan topik. Dia selalu kesal jika Arlan sudah berbicara tentang ayahnya.

“Arlan gak lapar,” lirih Arlan yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 300

    William menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia menatap ayahnya, menilai kesungguhan di balik kalimat tersebut. "Bagus. Aku menghargai profesionalisme Papa kali ini. Hari Senin depan aku akan mulai melakukan kunjungan lapangan pertama ke lokasi proyek.""Aku tidak meragukan kapasitas analisismu, Nak," ujar Aditama, menggunakan kata 'Nak' dengan nada yang sangat hati-hati, seolah takut kata itu akan memicu penolakan kembali dari putranya. Namun, William memilih untuk membiarkannya lewat begitu saja tanpa protes.Jamuan malam itu akhirnya selesai saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Hujan gerimis di luar telah mereda, menyisakan hawa sejuk yang menyegarkan udara malam. Ketika mereka semua berdiri di selasar luar restoran untuk berpamitan, Kirana langsung memeluk Sasha dengan erat."Mbak Sasha, sampai ketemu minggu depan, ya! Kita harus meluangkan waktu berdua untuk fitting kebaya putihnya. Aku mau lihat Mbak Sasha jadi pengantin paling cantik di pelataran hijau nanti," bi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 299

    Setelah badai ketegangan itu mereda, atmosfer di dalam ruangan privat tersebut perlahan-lahan kembali menemukan ritme yang lebih manusiawi. Desi, yang sejak tadi duduk mendampingi Aditama, menarik napas dalam-dalam.Meskipun kalimat pembuka tentang prosesi siraman dan kehadiran adik-adik tirinya Nadia dan Nadin sempat memicu penolakan keras dari William, wanita itu memilih untuk tidak memperkeruh suasana. Sebagai seorang istri yang paham betul posisi rumitnya di tengah pusaran trauma masa lalu William, Desi menunjukkan kedewasaan dengan memberikan anggukan kecil penuh pengertian ke arah Sasha. Wanita itu jelas sudah Aditama Briefing agar tidak berbuat yang aneh aneh ketika bertemu William. "Jika itu bisa membuat hari bahagia kalian berjalan dengan tenang, Tante tidak keberatan, Liam," ujar Desi dengan suara yang tenang, memposisikan dirinya dengan bijak tanpa nada tersinggung. "Yang terpenting bagi kami adalah melihat kalian bahagia."William tidak membalas kalimat Desi. Ia hanya mer

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 298 Desi Kirana

    Kirana menoleh ke arah William, mendapati tatapan beku dari sang kakak. Alih-alih merasa terintimidasi atau sakit hati seperti kebanyakan orang yang menghadapi kedisipilan William, gadis yang sempat mengenyam pendidikan di Australia itu justru melebarkan senyumannya. Ia sangat memahami karakter kakaknya yang terluka oleh masa lalu. Baginya, sikap dingin William jauh lebih baik daripada kemarahan yang meledak-ledak. Setidaknya, William bersedia duduk di satu meja dengannya malam ini, dan sejak kepulangannya dari Ausy, Kirana memang mendambakan hubungan persaudaraan yang nyata."Mas Liam masih hobi pasang muka dosen penguji, ya," canda Kirana tanpa beban sambil mengambil tempat duduk di seberang William, tepat di samping Aditama yang kini sudah duduk dengan tenang. "Tapi enggak apa-apa, aku tahu Mas Liam sebenarnya senang aku datang, kan?"William tidak menyahut gurauan adiknya. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap Aditama dan istri baru ayahnya bergantian sebelum akhirnya membuka s

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 297

    "Draf kontrak akhir untuk posisi konsultan akan dikirimkan ke email pribadimu besok pagi, William. Semua klausul tentang independensi risetmu sudah disesuaikan," ujar Aditama, suaranya kini terdengar lebih datar, namun tidak lagi sedingin sebelumnya. "Dan mengenai... pesta di pelataran hijau itu, beri tahu aku tanggal pastinya. Aku akan datang sebagai seorang kakek yang ingin melihat cucunya memakai beskap."William hanya mengangguk pelan, memberikan sebuah penghormatan yang proporsional. Tidak terlalu tunduk, namun cukup sopan untuk mencairkan sisa-sisa gunung es di antara mereka. "Terima kasih. Aku akan mengirimkan detailnya setelah berdiskusi dengan Sasha."Aditama berbalik dan berjalan keluar dari Kedai Teh Akasia. Deting lonceng di atas pintu kaca kedai menandai kepergian sang patriark. Begitu bayangan ayahnya menghilang di balik keramaian jalanan Kota Lama, William menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia mengembuskan napas panjang yang selama ini tertahan di rongga dadanya. Rasa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 296

    William menurunkan Arlan kembali ke atas rumput, membiarkan bocah itu kembali bermain dengan mainannya. Ia kemudian melangkah mendekati Sasha, meraih kedua pundak istrinya, dan menatap langsung ke dalam mata cokelat yang selalu menjadi rumah baginya."Semuanya selesai, Sha. Benar-benar selesai dengan cara yang kita inginkan," bisik William, sebuah senyuman tulus merekah di bibirnya. "Dia menerima semua syaratku tentang posisi konsultan itu. Dan... aku sudah memberi tahunya tentang rencana dream wedding kita."Sasha menahan napas sejenak, kedua tangannya naik menyentuh dada William. "Lalu? Apa katanya? Apa dia marah karena kita tidak memakai konsep mewah yang dia sukai?""Dia sempat menawarkan ballroom hotel bintang lima dan relasi bisnisnya," William menjawabnya pelan, mengingat kembali ekspresi kaget ayahnya tadi. "Tapi aku menolaknya secara langsung. Aku katakan padanya bahwa kita hanya ingin pelataran hijau yang asri, anyaman bambu, kebaya sederhana, dan Arlan sebagai pembawa cinci

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 295

    "Di pesta itu nanti, Papa diundang sebagai seorang kakek dan seorang ayah, bukan sebagai pimpinan Aditama Group. Jika Papa bisa menghormati konsep kesederhanaan dan batasan yang kami buat, pintu kami akan selalu terbuka. Tapi jika Papa membawa satu saja bidak catur politikmu ke dalam taman kami... aku tidak akan ragu untuk membatalkan semua kerja sama profesional kita, termasuk posisi konsultan di Distrik Barat itu."Aditama menatap putranya lama sekali, mencoba mencari sisa-sisa anak remaja yang dulu bisa ia kendalikan dengan satu bentakan. Namun, yang ia temukan di hadapannya hari ini adalah seorang pria utuh, seorang suami yang protektif, dan seorang ayah yang bijaksana.Perlahan, sebuah senyuman tipis yang sangat jarang terlihat muncul di bibir Aditama. Ia mengangguk pelan, sebuah gestur menyerah yang teramat langka dari sang patriark. "Kedai Teh Akasia, Kota Lama... dan pernikahan di pelataran hijau. Kamu benar-benar tahu cara mendefinisikan ulang arti sebuah kemenangan, William.

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 267

    Dentum musik berdentum keras, menggetarkan lantai marmer sebuah klub malam eksklusif di kawasan SCBD Jakarta. Lampu strobo berwarna ungu dan merah neon berputar liar, memotong kabut tipis dari mesin asap yang memenuhi ruangan VVIP di lantai dua.Di tengah sofa beludru merah yang melingkar, Raka dud

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 264

    Sudah kubilang jangan pernah menyentuh wilayahku, Aditama," desis William. Suaranya begitu rendah, dingin, dan sarat akan ancaman mematikan. Genggamannya pada pergelangan tangan Sasha terasa erat namun berhati-hati agar tidak menyakiti wanita itu, seolah-olah ia sedang memegang satu-satunya harta

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 263

    "Jangan-jangan keluarga William keberatan dengan keberadaanku... atau lebih buruk lagi, keberadaan Arlan?" Kini batinnya berkecamuk, meremas pinggiran ponsel hingga buku-buku jarinya memutih. Dugaan itu menghantam benak Sasha bak godam berat, menyisakan rasa sesak yang seketika memenuhi rongga da

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 261

    Perjalanan dari kantor pusat Wijaya Group menuju ke kediaman pribadinya memakan waktu lebih singkat dari biasanya. Supir pribadi William memacu mobil sedan mewah itu membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata, dikawal oleh dua mobil SUV hitam di depan dan belakangnya sebagai protok

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status