Share

bab 16

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-01-02 23:56:35

"Mulai detik ini," bisik William di bibir Sasha, "berhenti memikirkan dia saat kamu bersama saya. Atau saya akan pastikan dia tahu persis apa yang sedang dilakukan pacar kesayangannya ini setiap malam."

Sasha menahan napas. Ancaman itu nyata.

William melepaskan cengkeramannya kasar, lalu berbalik menjauh. "Pergi mandi. Bersihkan dirimu. Kamu bau keringat dan air mata. Saya benci bau keputusasaan."

William berjalan menuju minibar, menuangkan whiskey ke dalam gelas kristal, mengabaikan Sasha yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 155

    "Kemiskinan bukan alasan untuk merampas seorang anak dari ibunya!” suara Sasha bergetar, tertahan di antara isak tangis yang mulai pecah. Ia berdiri tegak, meski kakinya terasa seperti jeli di hadapan tatapan tajam William yang menghunjam.William tersenyum menang, sebuah suara penuh amarah yang menyayat udara dingin di ruang ICU tersebut. "Lalu apa alasanmu? Cinta? Cinta tidak membayar tagihan rumah sakit ini, Sasha. Cinta tidak menyediakan sumsum tulang belakang yang baru saja aku berikan. Kau menyebutnya perampasan, aku menyebutnya hutang."Ia memutar roda kursi rodanya sedikit, mendekat ke arah ranjang Arlan yang masih terlelap dalam pengaruh sisa pembiusan. Matanya yang dingin sesaat melunak ketika menatap bocah itu, namun kembali membeku saat ia mendongak menatap Sasha."Kau memalsukan kematianmu, menghilang selama bertahun-tahun, dan membiarkan darah dagingku tumbuh di lingkungan yang bahkan tidak layak untuk anjing peliharaanku. Kau pikir aku akan membiarkannya kembali ke sana

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 154

    Prosedur transplantasi pada Arlan sedang berjalan, Pak William. Anda harus istirahat," ujar seorang perawat.Namun, William bukanlah pria yang mudah diperintah. Dengan keras kepala, ia meminta kursi roda. Ia menolak untuk tetap berbaring sementara ada sebuah nyawa yang kini membawa bagian dari dirinya di tubuh lain.Malam telah larut ketika William, dengan wajah pucat dan keringat dingin di dahi, didorong oleh perawat menuju ruang perawatan Arlan. Di sana, Sasha sedang duduk di samping ranjang, menggenggam tangan kecil yang terpasang infus.Arlan masih belum sepenuhnya sadar. Wajah bocah itu sangat pucat, hampir menyatu dengan warna sprei rumah sakit. Namun, alat pemantau jantung di sampingnya menunjukkan irama yang lebih stabil dari sebelumnya."Sasha," panggil William lirih.Sasha menoleh, terkejut melihat William sudah berada di sana dengan kursi roda. Ia segera berdiri dan mendekat. "Pak, Anda seharusnya istirahat. Dokter bilang Anda kehilangan banyak energi.""Diamlah," potong W

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 153

    Sasha mengikuti langkah lebar William keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Lorong gedung fakultas yang sepi di sore hari itu terasa begitu panjang. Setiap langkah kaki William yang terburu-buru seolah-olah sedang mengejar waktu yang hilang selama lima tahun, sekaligus melarikan diri dari ketegangan intim yang baru saja meledak di antara mereka.Di dalam lift, keheningan kembali menyergap. William berdiri tegak, menatap angka-angka yang bergerak turun di layar digital dengan rahang yang mengeras. Ia sama sekali tidak menoleh pada Sasha, seolah-olah sentuhan panas di atas meja kerja tadi hanyalah sebuah halusinasi sesaat yang memalukan."Rumah Sakit Medika. Lantai empat, bangsal anak," suara Sasha memecah kesunyian, nyaris berbisik.William hanya mengangguk singkat, kunci mobil di tangannya berdenting pelan.Begitu sampai di parkiran, William membukakan pintu mobil SUV hitamnya dengan gerakan kasar. Sepanjang perjalanan, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, menyalip

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 152

    "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya William. “Maaf, Pak. Saya…”“Saya pikir kamu sudah mati. Ternyata, kamu dan ayahmu sama saja. Penipu!” Suara William terdengar rendah, datar, namun ada getaran keterkejutan yang gagal ia sembunyikan sepenuhnya. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata maaf. Hanya nada interogasi yang masih sama arogannya seperti dulu. Bahkan sengaja menggunakan sikap arogansinya agar Sasha takut padanya.Sasha mengepalkan tangannya di samping tubuh, kuku-kukunya memutih karena menekan telapak tangan. "Maaf jika saya mengganggu, saya tidak akan datang jika ini bukan masalah hidup dan mati, Pak."William mengangkat sebelah alisnya, sebuah seringai tipis yang dingin muncul di sudut bibirnya. "Hidup dan mati? Dramatis sekali, Sasha. Setelah menghilang tanpa kabar dan memutus semua akses, sekarang kau muncul di depan ruanganku bicara soal tragedi?"Ia memberi isyarat kepada asisten dosennya untuk pergi, lalu beralih kembali pada Sasha. "Masuklah. Aku tidak ingin

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 151

    "Aku tahu, Bu. Aku tahu," rintih Sasha.“Kamu harus kuat, demi Arlan. Ibu yakin semua akan baik-baik saja.”Sasha mengusap wajahnya, matanya merah dan sembap. Cahaya lampu neon di koridor rumah sakit memantul di lantai keramik yang dingin, menciptakan suasana yang kian mencekam. "Ibu tahu sendiri... aku bahkan tidak ingin Arlan tahu wajahnya. Bagaimana mungkin aku harus menyeret pria itu kembali ke hidup kami?""Ini soal nyawa, Sasha!" suara Lastri mulai melunak, membujuk Sasha meski tertahan oleh keheningan bangsal. "Arlan butuh sumsum itu. Kalau hasil tesmu tidak cocok, siapa lagi yang kita punya? Kamu mau membiarkan bocah itu layu hanya karena kamu terlalu takut menghadapi masa lalu?"Sasha terdiam. Kata-kata Lastri menghantamnya lebih keras daripada diagnosis dokter. Ia menoleh ke arah bangsal, melihat tubuh kecil Arlan yang terbaring lemah dengan selang infus yang tampak terlalu besar untuk tangannya yang mungil. Dada Arlan naik turun dengan napas yang pendek dan berat."Aku ak

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 150

    Di dalam taksi online yang mereka pesan dengan terburu-buru, Sasha memeluk Arlan erat-erat. Kepala Arlan bersandar di dadanya, terasa begitu panas hingga menembus kaus yang dikenakan Sasha. Sepanjang jalan, Sasha terus membisikkan doa, namun pikirannya terus kembali pada gambar krayon tadi sore."Ma..." Arlan membuka matanya sedikit, namun pandangannya kosong. "Dingin... Arlan dingin...""Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi sampai rumah sakit," Sasha mencium kening Arlan berkali-kali, berusaha menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan.Sesampainya di Unit Gawat Darurat (UGD), perawat segera mengambil tindakan. Arlan dipasangi infus dan diberikan obat melalui dubur untuk menurunkan demamnya dengan cepat. Sasha hanya bisa berdiri di sudut ruangan, meremas tangannya sendiri hingga buku-bukunya memutih.Lastri mendekati Sasha, merangkul bahu Sasha yang berguncang karena tangis yang ditahan. "Dia akan baik-baik saja, Sha. Arlan anak yang kuat.""Aku takut, Bu. Aku takut kalau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status