MasukSuasana di ruang makan itu begitu sunyi, hingga suara denting sendok Sasha yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang pelan. William duduk di ujung meja, sosoknya tegap dan kaku, dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Matanya tidak lepas dari sosok wanita di hadapannya sosok yang tampak begitu rapuh, seolah hembusan angin sedikit saja bisa menghancurkannya menjadi debu.William mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia melihat bagaimana tangan Sasha sedikit gemetar saat menyuapkan nasi yang telah basah oleh air mata. Ada gejolak hebat di dadanya. Ia ingin bangkit, berlutut di samping kursi Sasha, dan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Ia ingin membisikkan bahwa semua ini dilakukan demi kebaikannya, bahwa dunia di luar sana terlalu kejam untuk jiwa semurni Sasha.Namun, egonya adalah dinding beton yang tak tertembus."Habiskan," suara William memecah keheningan, dingin dan otoriter. "Jangan biarkan makanan itu terbuang
William menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosinya. Ia meraih ponsel di atas meja dan menekan nomor Hendri."Hendri," panggilnya saat panggilan tersambung."Iya, Pak?""Pastikan Ibu Mirna tidak benar-benar mengunci pintu kamar Arlan. Beri tahu dia, jika Sasha masuk untuk melihat anaknya di malam hari, biarkan saja. Tapi jangan sampai dia tahu itu atas perintahku. Jika dia bertanya, katakan itu kelalaian Mirna yang lupa mengunci pintu."Hendri terdiam sejenak di ujung telepon, memahami kerumitan emosi tuannya. "Baik, Pak. Apa ada lagi?""Kirimkan dokter pribadi keluarga besok pagi ke rumah. Katakan ini untuk pemeriksaan rutin Arlan, tapi aku ingin dokter itu juga memeriksa kondisi fisik Sasha. Pastikan dia tidak kekurangan nutrisi atau mengalami memar yang serius. Lakukan dengan diam-diam."William menutup telepon tanpa menunggu jawaban. Ia kemudian melangkah ke lemari kecil di sudut ruangan, mengambil sebuah kotak obat yang berisi salep pereda nyeri otot dan memar. Ia tahu ce
William tidak menoleh. Jari-jarinya mengetuk meja dengan irama yang membosankan. Sasha mendekat dan menatap William penuh harap.“Kamu ke manakan Ibu Lastri? Kamu jangan lupa, Will. Dia yang selama ini menjaga anak kita.”Kali ini William menoleh, menaikan dagu Sasha yang penuh kemarahan itu."Dia ahli pertolongan pertama dan perawat anak bersertifikat. Dia akan memastikan Arlan mendapatkan apa yang dibutuhkannya tanpa ada... gangguan. Dan Lastri, dia sudha seharusnya tahu tempat di mana seharusnya dia tinggal""Seharusnya? Kamu menganggapnya gangguan? Di mana? APa kau membawanya kembali ke desa?" Sasha kaget."Cinta saja tidak cukup untuk menjaga seseorang tetap hidup, Sasha. Kompetensi yang dibutuhkan," William akhirnya menatapnya. "Dan saat ini, aku tidak memercayai kompetensimu sebagai seorang ibu juga Lastri yang lemah itu."Tangan William yang tadinya hanya menyentuh dagu Sasha, kini bergerak naik, mencengkeram rahang nya dengan tekanan yang menuntut kepatuhan. Ketakutan dan am
Arlan sudah diperbolehkan pulang dari ruma sakit setelah 1 minggu di sana. Setelah malam Sasha hampir membuat Arlan celaka, William mendiamkannya. Benar benar sikap yang membuat William bingung.“Kita akan pulang ke mana?” tanya Sasha dan William memilih mengabaukannya. Dia membantu Arlan bangkit dan langsung menggendongnya.“Hendri, pengasuh sudah siap?” tanya William justru pada Hendri.“Sudah, Pak.”Pengasuh? Pikiran Sasha langsung ke mana mana. “William, kita gak butuh pengasuh. Aku bisa_”“Yang di depan mata saja kamu bisa lengah dan hampir mencelakai anakku. Tidak menutup kemungkinan kamu akan bertindah lebih bodoh lagi.” William mengatakan hal itu dengan dingin lalu keluar dari ruang rawat Arlan.Sasha mematung di tengah ruangan yang mendadak terasa hampa. Kata-kata William barusan bukan sekadar teguran. itu adalah vonis dan perkataan yang menyata hati seorang ibbu,"Anakku," katanya. Bukan "anak kita." Dalam satu kalimat dingin itu, William telah menarik garis pemisah yang
“Kamu bagaimana sih. Aku sudah susah susah mengeluarkan kamu dari penjara, ternyata kamu nggak ada gunanya,” berang Clarissa.Raka menyulut serutu dari tangannya, lalu mengepulkan asap ke depan wajah Clarissa.“Brengsek!” geram Clarisa yang justru seperti tidak didengarkan.“Memangnya aku tak tahu kalau kamu keluarkan aku dari penjara karena pakai uang penggelapan perusahaan Pak William?”“Lalu kenapa? Tanpa uang haram itu, mana mungkin aku bisa mengeluarkanmu dan oleh karena itu, kamu harus berguna bagiku.”Raka terlihat santai, dia mengeluarkan ponsel yang masih menyimpan rekaman video gudang kantor William. “Hahahaha, bagus. Ini baru permulaaan,” ucap Clarissa merasa bangga. Dia kira, Raka melakukan itu karena dendam pada William juga. Namun, Raka bukan melakukannya karena itu. “Semua ini yang kau inginkan kan?”“Tentu, tapi bukan hanya itu. Aku ingin Sasha menderita. Kamu harus habisi anaknya agar aku bisa melihat William dan Sasha menangis darah. Mereka udah bikin aku kehilang
Sasha berlari menyusuri lorong rumah sakit yang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Paru-parunya terasa terbakar, namun rasa sesak di dadanya jauh lebih menyakitkan. Bayangan monitor jantung Arlan yang berbunyi terus menghantui pikirannya.Saat ia sampai di depan pintu kamar VVIP, langkahnya terhenti. Pintu itu terbuka lebar. Dua orang penjaga baru berdiri kaku di sana, dan suasana di dalam ruangan tampak jauh lebih mencekam.Sasha masuk dengan napas tersengal. Ia melihat William berdiri di samping ranjang Arlan, membelakanginya. Bahu pria itu tampak tegang, sementara tangannya yang berdarah mencengkeram besi ranjang hingga memutih."Arlan..." bisik Sasha, mendekat dengan kaki gemetar.Sasha merasa lega melihat dada kecil putranya masih naik turun secara teratur, namun kelegaan itu sirna saat William berbalik. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan yang meluap-luap, melainkan kekosongan yang jauh lebih menakutkan."Dokter baru saja keluar," suara William terdengar datar, namun
Sasha menarik tangannya dengan sentakan kasar, seolah sentuhan Adrian adalah api yang membakar kulitnya. Ia mematung, menatap jemari Adrian yang masih berada di dekat gesper sabuk pengamannya dengan tatapan penuh kewaspadaan. Suasana di dalam kabin mobil yang tadinya terasa hangat dan protektif, se
Suasana di kantor Distributor Sentosa Abadi terasa lebih tenang, seolah badai kecemasan semalam tersapu oleh hujan deras. Sasha datang lebih awal, menyeduh teh hangat untuk meredakan mual paginya, dan langsung berkutat dengan laporan piutang yang belum selesai.Pukul sepuluh tepat, pintu kantor ter
Sasha mematikan lampu kamar setelah Bu Lastri keluar. Hanya lampu kecil di sudut ruangan yang dibiarkannya menyala, menciptakan cahaya temaram yang menenangkan.Ia kembali berbaring, satu tangan mengusap perutnya yang mulai terasa berat.“Jangan nakal ya, Nak. Ibu masih harus kerja besok,” gumamnya
Langkah Sasha keluar dari kantor Distributor Sentosa Abadi terasa lebih ringan daripada saat ia masuk tadi. Sinar matahari sore di kota kabupaten itu tidak lagi terasa menyengat, melainkan hangat dan menjanjikan.Sesampainya di rumah kontrakan, aroma tumis kangkung dan tempe goreng menyambutnya. Bu







