Mag-log inSebuah bisikan yang teramat lirih, hampir menyerupai helaan napas yang patah, akhirnya lolos dari bibir pucat Sofia yang bergerak sedikit. Bersamaan dengan itu, seiring dengan setitik air mata hangat yang meluncur di sudut matanya, kelopak mata Sofia perlahan terangkat. Manik mata Sofia kembali terbuka, menatap dunia yang kini mewujud pada sosok suaminya yang tampak berantakan, dengan mata sembab yang menatapnya dengan binar syok sekaligus kelegaan yang tak terhingga. Pria yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi dirinya dan anak mereka. “Sofia...” Suara Riga tercekat di tenggorokan. Ia menatap tidak percaya pada sepasang manik mata yang kini tengah berkedip sayu ke arahnya. Selama beberapa detik, Riga mematung, tubuhnya gemetar hebat karena takut jika apa yang dilihatnya hanyalah halusinasi akibat rasa frustrasi dan kelelahan yang teramat sangat. Demi memasti
Di tengah kesunyian ruang ICU yang dingin, jemari Sofia yang berada dalam genggaman erat Riga tiba-tiba memberikan gerakan halus. Kelopak mata Sofia bergerak-gerak kecil, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih terselimuti kabut pasca-operasi. Kesadarannya masih mengambang, namun di dalam benak Sofia yang paling dalam, kilasan memori beberapa bulan ke belakang justru berputar dengan begitu jernih. Semua tentang Riga. Pria yang kini sedang terisak di sisi ranjangnya. Dalam ketidaksadarannya, Sofia seperti ditarik kembali ke dalam kamar apartemen mereka di Singapura. Bagaimana suaminya itu mengorbankan seluruh ego dan kenyamanan hidupnya demi merawat dirinya. Riga, seorang CEO tertinggi Nexus yang biasanya dilayani dan ditakuti di dunia bisnis, rela membagi waktu dan energinya secara ekstrem. Sofia ingat betul visualisasi Riga yang duduk di meja sudut kamar dengan laptop menyala, meng
“Istri Anda adalah wanita yang sangat kuat, Mr. Baskara. Dia sudah membuktikannya selama berbulan-bulan ini,” ujar Profesor Tan. Suaranya yang lembut meredam gemuruh panik di kepala Riga, mencoba menambal retakan di dinding pertahanan pria itu. Profesor Tan menepuk bahu Riga sekilas, memberikan binar simpati yang tulus. “Sekarang, tugas medis ada di tangan kami. Tugas Anda adalah tetap kuat untuk dia dan putra kecil Anda yang sedang menunggu di NICU. Anda boleh menjenguk Mrs. Sofia begitu dia dipindahkan ke ICU beberapa saat lagi.” Riga mengangguk samar. Hanya gerakan refleks yang kosong. Putra kecilnya. Kata itu berdengung aneh di telinganya. Profesor Tan sengaja menyebut anak itu berulang kali, Riga tahu. Sebuah taktik psikologis agar Riga ingat bahwa di tengah badai yang nyaris merenggut Sofia, ada satu nyawa lagi yang menuntut tanggung jawabnya. Ada nyawa yang saat ini juga sedang megap-megap bertaruh nyawa di ruang NIC
Riga duduk di kursi tunggu koridor yang sunyi. Suasana rumah sakit yang senyap membuat detak jantungnya sendiri terdengar begitu bising. Tatap mata Riga terpaku lurus pada lampu merah yang menyala di atas pintu ruang operasi. Dalam keheningan itu, pikiran Riga mendadak melayang, berputar kembali pada memori beberapa bulan ke belakang, merekam setiap jengkal perjuangan Sofia selama menjalani strict bed rest total di apartemen Singapura. Ia ingat bagaimana Sofia menghabiskan hari-harinya hanya di atas ranjang. Ingatannya tertuju pada satu malam yang paling menguras emosi mereka, saat Sofia terbangun dengan panik dan menangis tergugu di pelukannya. Kondisi fisiknya yang terlampau lemah dan perutnya yang semakin membesar, Sofia beberapa kali tidak sengaja mengompol di atas kasur karena tubuhnya tidak bisa bergerak cepat menuju kamar mandi. Saat itu Sofia menangis histeris, merasa sangat bersalah, malu, dan m
Sesuai dengan keputusan darurat yang diambil, Profesor Tan tidak membuang waktu. Langkah medis pertama yang paling krusial segera dilakukan hari itu juga. Sofia langsung dipindahkan ke ruang tindakan khusus untuk mendapatkan suntikan kortikosteroid dosis pertama guna mematangkan paru-paru janinnya. Suntikan ini sangat penting agar saat operasi caesar darurat dilakukan nanti, bayi mereka bisa langsung bernapas sendiri tanpa ketergantungan ekstrem pada alat bantu. Selain itu, dosis obat antihipertensi Sofia disesuaikan kembali, dan cairan infus mulai dialirkan ke pembuluh darahnya untuk menjaga stabilitas hemodinamik serta mencegah terjadinya kejang akibat preeklamsia. Di dalam ruang tindakan yang bernuansa semi-steril itu, Riga berdiri setia di sisi brankar Sofia. Tangannya menggenggam erat jemari sang istri, sementara tangan satunya lagi perlahan mengusap keringat dingin yang bercucuran di dahi Sofia. Wa
Sebelum Sofia tenggelam dalam kesalahpahaman yang menghancurkan hatinya, suara Riga kembali terdengar. Kali ini bernada serak, bergetar menahan emosi yang mendalam. "Tolong Mama berikan kompensasi atau uang yang layak untuk Maya. Katakan padanya, itu sebagai ucapan terima kasih dariku... karena kata-katanya waktu itu telah menyadarkanku. Dia yang membuatku tersadar untuk bangkit dan memperjuangkan anakku sendiri." Sofia membeku, air mata yang menetes di pipinya kini tertahan. Ia meremas dadanya yang terasa sesak, terus mendengarkan. "Mama tahu sendiri... Sofia begitu antusias dengan kehamilan ini, Ma," lanjut Riga dengan suara yang mulai gemetar, setitik air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. "Dia tersenyum seolah tidak ada ancaman apa pun, padahal ginjal tunggalnya sedang bertaruh nyawa di dalam sana. Aku berutang budi pada Maya karena jika bukan karena dia, aku mungkin sudah memaksa Sofia
“Simpan saja kertas itu,” ucap Sofia dengan tegas dan sikap yang dingin seperti biasanya. Ia tidak ingin lagi terlihat rapuh. “Mungkin kau sehat secara fisik, tapi itu tidak menghapus fakta bahwa kau pernah mengkhianatiku.” Sofia bangkit, menyampirkan tas di bahunya, siap untuk mengakhiri drama i
Meski tidur larut malam, Sofia tetap bangun pagi seperti biasanya. Betapa terkejutnya Sofia, saat mengetahui tak sampai empat jam setelah tombol submit ditekan, sebuah email masuk. “Nexus Gateway?” Sofia mencoba mengingat-ingat. Nama itu terasa asing namun berkuasa. Sebuah raksasa baru di dunia t
Sofia membeku. Ia baru saja menyaksikan Justin memeluk erat Selena. Namun, kehadiran pria di hadapannya saat ini adalah tamparan telak yang tak kalah menyakitkan. Riga Argantara hendak membantu Sofia bangkit, tapi tangannya langsung ditepis. Dengan susah payah Sofia bangkit sendiri. Tak ingin men
“Mbak Sofia, apakah pengantin pria masih lama datangnya?” Pria paruh baya itu berkali-kali melihat jam di pergelangan tangannya. Penghulu yang akan menikahkan Sofia dan Justin bertanya dengan hati-hati, berusaha tidak menambah beban Sofia, di tengah puluhan tamu yang mulai berbisik-bisik. Sofia







