Share

2. Dendam Masa Lalu

last update Last Updated: 2026-03-01 18:29:55

Sofia membeku. Ia baru saja menyaksikan Justin memeluk erat Selena. Namun, kehadiran pria di hadapannya saat ini adalah tamparan telak yang tak kalah menyakitkan.

Riga Argantara hendak membantu Sofia bangkit, tapi tangannya langsung ditepis. Dengan susah payah Sofia bangkit sendiri. Tak ingin menunjukkan kelemahan di hadapan mantan kekasihnya.

Riga tidak memaksa. Ditatapnya wajah Sofia yang riasannya semakin kacau karena luntur. Terbit senyum miring menghina di sudut bibir Riga.

“Satu tahun pernikahan kalian ditunda, dan ini imbalan yang kau dapatkan?”

Suara Riga tidak menunjukkan simpati atau empati, tapi ini adalah ejekan untuk Sofia. Sekali lagi, Sofia menjadi pecundang, yang diselingkuhi dan ditinggalkan.

Sofia mengeratkan pegangan pada ponselnya hingga buku jarinya memutih. Ada perasaan tak nyaman, saat menyadari Riga mengetahui kehidupannya.

Mungkinkah selama ini Riga menguntitnya?

“Sudah seperti ini, apa kau masih mau menunggu sampai memergoki mereka berbagi ranjang?”

“Bukan urusanmu.” Sofia menatap tajam Riga.

Menyadari Riga tahu banyak hal, membuat Sofia merasa bodoh karena baru mengetahui jalinan asmara antara tunangan dan adik tirinya.

“Tinggalkan dia, kau berhak bahagia dengan pria yang mencintaimu.”

Sofia terkekeh sumbang, ada luka yang batin yang belum sembuh dari sorot matanya.

“Dan pria itu bukan kamu.” Sofia seolah ingin mengingatkan Riga akan dosa masa lalunya.

Belum sempat Riga membalas, taksi online yang dipesan Sofia akhirnya datang. Tidak sulit bagi Riga untuk menghentikan langkah Sofia yang tidak bisa bergerak bebas karena pakaiannya, dia mencekal lengan Sofia dengan erat.

“Jangan pernah mengganggu hidupku lagi!” ucap Sofia, meski lirih tapi terdengar tegas.

Sadar keberadaan mereka menjadi perhatian publik, dengan berat hati Riga melepaskan Sofia. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Dan dia harus kembali bersabar.

Riga menatap taksi online yang membawa Sofia semakin menjauh, hingga tidak menyadari kedatangan Denis yang memayunginya.

“Maaf Tuan, semua tidak berjalan sesuai rencana.” Denis tampak ketakutan.

“Yang penting mereka tidak jadi menikah.” Riga melangkah menuju mobilnya.

***

“Mbak.” Tanpa banyak kata, sopir taksi memberikan kotak tisu kepada Sofia.

“Terima kasih.” Sofia membersihkan wajah sekenanya.

Keheningan menyelimuti perjalanan, hingga tanpa sadar sudah tiba di rumah keluarga Aditama.

Dengan langkah gontai Sofia melangkah masuk ke rumah. Kebaya putihnya yang anggun kini tampak kusam, beberapa bagian kain batiknya terseret di lantai, mencerminkan kehancuran pemakainya.

Di ruang tamu Sofia berpapasan dengan Wira Aditama yang tampak terburu-buru mengenakan jaketnya. Sang Papa berhenti mendadak saat melihat putri sulungnya berdiri seperti mayat hidup dengan gaun pengantin.

"Dari mana saja kamu?" Wira tidak bertanya dengan nada khawatir, melainkan jengkel. Ia melirik jam tangannya. "Kau bilang mau ke rumah sakit dan memberi kabar Selena, malah kabur sendiri tanpa kabar."

“Papa mau ke rumah sakit?”

Wira terdiam, berusaha memahami suasana hati putrinya yang pernikahannya terpaksa batal.

“Tak apa, dia anak Papa juga.”

Ucapan Sofia tidak membuat Wira lega, ada sesuatu yang tidak beres. “Setelah Selena pulih, pernikahanmu dengan Justin akan segera dilangsungkan.”

“Saya tidak ingin menikah dengan Justin. Selamanya.”

“Apa?” Suara melengking itu bukan berasal dari Wira, tapi Hesti, istrinya. “Ini hanya penundaan sementara, jangan banyak drama.”

“Seharusnya ini tidak menjadi masalah besar. Ingat Sofia, selama setahun ini Justin sudah mendampingimu melewati masa-masa sulit setelah kecelakaan itu. Kau berutang budi padanya!” Wira mengingatkan Sofia semua kebaikan Justin selama ini.

Bekas luka di perut Sofia terasa berdenyut mendengar kata 'kecelakaan'. Ada sesal yang menghunjam.

Mengapa tadi tidak merekam pembicaraan Justin dan Selena yang bisa dia jadikan bukti?

Namun, menyebut nama Selena, rasanya tidak mungkin. Sofia yakin, papanya pasti akan membela putri kesayangannya itu. Selena terlalu suci dan polos bagi Wira.

“Maaf… saya tidak bisa melanjutkan semua ini. Kami tidak saling mencintai,” lirih Sofia.

“Apa perhatian Justin selama ini belum membuktikan cintanya padamu. Kamu mau bukti seperti apa lagi?”

Sofia menggeleng pelan. “Tidak ada yang perlu dibuktikan. Saya memikirkan ini dengan matang, ini yang terbaik untuk kami berdua.”

“Sofia!” Suara Wira mulai meninggi. “Kau tahu betapa penting arti pernikahanmu dengan Justin?”

“Jika tujuan Papa adalah merger Aditama Jaya dan Baskara Energy… saya rasa Selena bisa menggantikan posisi saya. Dia juga anak Papa, kan? Dia akan sangat bahagia menerima posisi itu.”

“Omong kosong apa ini?” Hesti pun mulai tersulut emosi mendengar ucapan putrinya. “Wira! Kau sudah berjanji tentang siapa yang akan menikah dengan Justin. Jangan pernah kau mengingkarinya.”

“Kau dengar itu Sofia? Pernikahanmu dengan Justin harus tetap terlaksana, apa pun yang terjadi.”

Suara dering ponsel membuat kalimat Wita terjeda, di layar terpampang nama Ratih, istri keduanya. “Kita bicarakan lagi besok, papa ke rumah sakit dulu.”

Wira bergegas pergi, meninggalkan istri dan anaknya. Suasana hatinya semakin buruk, bukan hanya tentang Selena yang kecelakaan, tapi juga pernikahan Sofia dengan Justin. Jika sampai pernikahan ini gagal, rencana merger dua perusahaan dipastikan gagal juga.

Hesti menatap kepergian suaminya dengan tatap dingin penuh cemburu dan luka.

“Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Hesti sambil melangkah mendekati putrinya. “Justin menerimamu apa adanya, ingat itu.”

Hati Sofia terasa diiris saat sang mama mengingatkan tentang kondisi tubuhnya pascakecelakaan.

“Justin tidak mencintaiku, Ma,” jawab Sofia terdengar nelangsa. “Dia… mencintai Selena.”

Hesti terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat dingin terukir di bibirnya. “Mama sudah tahu sejak lama, Sofia.”

Sofia mengerutkan dahinya, terkejut mendengar ucapan mamanya.

“Sejak kecil, Selena sudah tertarik pada Justin.”

“Jika Mama sudah tahu, mengapa Mama memaksaku untuk menikah dengan Justin?”

Hesti menatap putrinya dengan sorot mata yang tajam. “Karena mama ingin… Selena merasakan sakitnya harus dipisahkan dari pria yang dia cintai. Seperti apa yang mama rasakan akibat perbuatan ibunya.”

Sofia menggeleng, menyadari Hesti tidak sedang melindunginya. Sungguh tak pernah Sofia duga, sang mama mendorongnya memasuki mahligai tanpa cinta, yang hanya memberi luka. Dan itu semua, untuk balas dendam masa lalu yang menyakitkan.

Hesti menatap Sofia dengan sorot mata setajam. “Kau adalah putriku, satu-satunya anak Wira yang lahir dari pernikahan yang sah. Dan tugasmu adalah memastikan wanita itu dan anaknya tidak pernah mendapatkan apa pun yang mereka inginkan. Termasuk Justin.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Dekapan Mantan: Suami Kontrakku Pewaris yang Terbuang   8. Di Antara Pilihan-pilihan Buruk

    Sofia meletakkan selembar catatan berisi poin-poin perjanjian di hadapan Bara. Pengacara muda itu menghentikan gerakan penanya. Matanya menyipit, membaca baris demi baris dengan dahi berkerut.“Tolong buatkan draft perjanjian untuk memastikan tidak ada celah bagi pria itu untuk menuntut lebih.” Meski terdengar tenang, tapi ada getar lelah yang tidak bisa Sofia sembunyikan.Bara mendongak, menatap sahabat sekaligus klien setianya itu dengan tatapan tak percaya. “Sofia, apa ini? Pernikahan kontrak? Dua tahun?”“Ya.”“Riga Argantara?” Suara Bara meninggi. Terkejut, tapi sadar mengapa Sofia tidak mau menyebut nama pria itu. “Kau yakin?”Sofia hanya mengangguk.“Aku tahu, ditinggalkan saat menjelang akad pasti sangat menyakitkan dan memalukan. Tapi apa harus bertindak sejauh ini? Apa yang membuatmu tidak bisa memaafkan Justin, bukankah dia sudah minta maaf dan akan segera menikahimu setelah Selena sembuh.”Sofia membuka mulutnya lalu tertutup lagi, seolah bingung untuk bercerita.“Masalahn

  • Dalam Dekapan Mantan: Suami Kontrakku Pewaris yang Terbuang   7. Kontrak Seumur Hidup

    “Simpan saja kertas itu,” ucap Sofia dengan tegas dan sikap yang dingin seperti biasanya. Ia tidak ingin lagi terlihat rapuh. “Mungkin kau sehat secara fisik, tapi itu tidak menghapus fakta bahwa kau pernah mengkhianatiku.”Sofia bangkit, menyampirkan tas di bahunya, siap untuk mengakhiri drama ini selamanya. Namun, suara bariton Riga kembali menghentikannya, kali ini dengan nada yang lebih dingin dan penuh perhitungan.“Dua kali pernikahanmu harus batal, kau yakin Justin benar-benar menginginkanmu?” Riga menyesap kopinya tanpa menoleh ke Sofia.Langkah Sofia terhenti, tapi detak jantungnya berpacu. “Selama ini kau memata-mataiku?”“Ya,” jawab Riga tanpa jeda dan rasa bersalah. Tak ada yang perlu ditutupi lagi. “Sejak perjodohanmu dengan Justin diumumkan.”“Gila. Kau benar-benar sudah gila, Riga.”“Kamu yang gila, membiarkan dirimu menjadi tumbal.”Sofia terdiam, tidak menampik tuduhan itu.“Aku tahu perjodohanmu dengan Justin bukan tentang cinta. Tapi tentang Baskara Energy yang di a

  • Dalam Dekapan Mantan: Suami Kontrakku Pewaris yang Terbuang   6. Tantangan Hidup Baru

    Meski tidur larut malam, Sofia tetap bangun pagi seperti biasanya.Betapa terkejutnya Sofia, saat mengetahui tak sampai empat jam setelah tombol submit ditekan, sebuah email masuk.“Nexus Gateway?”Sofia mencoba mengingat-ingat. Nama itu terasa asing namun berkuasa. Sebuah raksasa baru di dunia teknologi finansial yang tiba-tiba membukakan pintu lebar-lebar untuknya dengan tawaran kontrak yang sangat menggiurkan.Sofia tahu ini tidak wajar. Tapi, rasa putus asa untuk lepas dari cengkeraman Wira dan Justin jauh lebih besar daripada rasa curiganya.Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, kini Sofia sudah berdiri di depan Gedung Nexus Gateway. Sofia melangkah masuk, memaksakan kepalanya tegak meski bekas tamparan semalam masih menyisakan rona tipis yang ia tutupi dengan concealer tebal.Di lantai teratas, Gerry, asisten pribadi Riga, menempelkan ponsel ke telinganya dengan wajah cemas. Panggilan itu langsung diangkat pada nada kedua.“Bos, target sudah di lobi. Dia sedang menuju ru

  • Dalam Dekapan Mantan: Suami Kontrakku Pewaris yang Terbuang   5. Takdir yang Menuntun

    Bukan tanpa alasan Wira memberi syarat agar Sofia harus sudah menikah dalam waktu satu bulan.Investor dan dewan komisaris membutuhkan kepastian dan stabilitas keluarga Aditama. Siapa pun suaminya, yang penting Sofia terikat dalam pernikahan yang sah secara hukum untuk mengamankan posisi saham.Selain itu, Wira sangat mengetahui kehidupan pribadi putri sulungnya. Sofia tidak memiliki teman, baik laki-laki maupun perempuan. Saat masih kecil dia fokus belajar, dan sekarang fokus pada perusahaan.Hanya satu teman laki-laki Sofia yang Wira kenal, Bara. Tapi Wira sangat yakin putrinya mustahil menikah dengan sahabatnya yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.“Sebenarnya Papa ada dendam apa dengan kelahiranku di dunia?” Suara Sofia bergetar, bukan karena takut, tapi amarah yang sudah lama mengendap. “Mengapa Papa sangat ingin menghancurkan hidupku?”Wira terdiam mendengarkan kalimat pedas dan sorot mata tajam putrinya yang terasa menelanjangi nurani. Sebagai orang tua dia sadar terlalu

  • Dalam Dekapan Mantan: Suami Kontrakku Pewaris yang Terbuang   4. Syarat Berat

    Ucapan Sofia bukan sekadar penolakan yang menginjak harga diri, tapi badai yang akan menghancurkan semua rencana Justin.Cinta Justin memang untuk Selena yang mampu menjadi candu dan pelampiasan hasratnya. Sebagai pengusaha, dia realistis cinta tidak mampu membayar utang dan memperbesar perusahaannya, dan menikah dengan Sofia adalah kesepakatan yang sangat menguntungkan.“Hubungan kita tidak bisa dilanjutkan,” ucap Sofia dengan nada datar, tatap matanya dingin pada buket bunga pemberian Justin yang terlihat layaknya sampah.“Kenapa?” Justin menatap dengan wajah memelas. “Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian kemarin. Semua terjadi begitu cepat, aku tidak mungkin membiarkan Selena terluka di pinggir jalan… karena dia adikmu.” Demi sebuah tujuan besar, Justin rela merendahkan harga dirinya.Sofia tersenyum menyeringai dengan tatapan tajam, semakin muak dengan kepalsuan Justin. “Kau tidak capek terus bersandiwara?”Justin terdiam, menyadari Sofia tidak main-main dengan ucapannya.“Hub

  • Dalam Dekapan Mantan: Suami Kontrakku Pewaris yang Terbuang   3. Setelah Dua Kali Ditunda

    “Selena...” Wira langsung menghambur, memeluk putrinya. “Mana yang sakit?”Selena, yang masih bersandar di dada Justin, melepaskan pelukan pria itu perlahan. Ia menyambut pelukan papanya dengan wajah yang sengaja dibuat lesu.“Selena baik-baik saja, Pa. Untung tadi ada Kak Justin yang menolong.”Wira menghela napas lega, mengusap puncak kepala Selena berkali-kali memastikan keadaannya baik-baik saja.Setelah yakin Selena aman, tatapan Wira beralih pada Justin yang berdiri di sisi ranjang. Tak ada kilat curiga, tak ada pertanyaan mengapa calon menantunya itu justru berada di rumah sakit, bukan pelaminan. Baginya, kehadiran Justin adalah bentuk kepedulian yang wajar.“Justin, kebetulan kau di sini,” ujar Wira, dengan suara kembali berat dan berwibawa. “Tadi Sofia bilang dia akan ke rumah sakit dan memberi kabar. Tapi dia tidak memberi kabar apa pun, pulang-pulang bilang ingin membatalkan pernikahan kalian. Selamanya.”Rahang Justin mengeras sesaat, namun ia segera memasang raut wajah pr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status